Ngaglik – UPT Pendidikan, Forum PAUD, dan Kecamatan Ngaglik membuat langkah yang cerdas dalam upaya mengurangi dan membatasi terjadinya pelanggaran kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Kecamatan Ngaglik dengan menyelenggarakan Sosialisasi Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Senin (30/10).

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Ngaglik mewakili Camat Ngaglik, sangat  menyambut baik dan mengapresiasi diadakannya Sosialisasi Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak bagi para Guru PAUD/KB, TK, dan SD se-Kecamatan Ngaglik.

Diikuti oleh 80 peserta, sosialisasi ini diharapkan bisa mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungannya masing-masing sehingga Kecamatan Ngaglik dapat terhindar berbagai hal terkait kekerasan.

Dalam kesempatan ini hadir pula Sarjimin sebagai Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Ngaglik yang dalam sambutannya menyampaikan apa yang disampaikan Bapak Presiden Jokowi bahwa Indonesia ketinggalan dalam bidang pendidikan.

Ketinggalan di sini maksudnya adalah dalam sistem maka perlu adanya perubahan sistem, yang mana dulu mengarahkan menjadi pekerja, buruh, dan pegawai, ke depan diarahkan untuk menjadi pimpinan, pemilik, dan bos. Ini agar dapat membuka lapangan kerja sehingga sumber daya alam yang melimpah bisa dikelola oleh sumber daya manusia yang tangguh

Sarjimin menambahkan bahwa anak bisa merencanakan masa depan dengan cara membuat pohon cita-cita. Untuk mencapai cita-cita ini juga harus perlu pendampingan yang maksimal dari orang tua dan sekolah dalam memberikan ilmu, keterampilan dan mengarahkan cita-cita.

Dalam sosialisasi ini juga menghadirkan narasumber praktisi psikologi Kecamatan Ngaglik, Tri Novita Herdalena, yang akan membahas tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Menurut Novita memang ada peningkatan kasus kekerasan di Kecamatan Ngaglik. Oleh karena itu, dengan sosialisasi ini diharapkan para guru berbagai tingkatan bisa membantu pencegahan di lingkungannya masing-masing. Sebab, menurut Novita jika sudah terjadi kasus maka akan sulit dan lama penanganannya karena ada 3 hal yang terkena yaitu korban, pelaku, dan saksi mata. Untuk mencari penyelesaian sangat sulit membutuhkan keahlian tersendiri perlu kolaborasi antar instansi lembaga terkait.

Pada akhir sesi diisi pakar psikologi dari UGM, Novi Chandra yang mengkritisi tentang setting pendidikan Indonesia yakni setting manajemen kelas yang terasa tidak adil dan tidak sosial. Dituturkan Novi, setting kelas yang baik adalah melingkar sehingga semua merasa adil dan bisa tatap muka langsung dan aksesnya sama.

Novi menyampaikan pula soal lingkungan sekolah yang kurang diperhatikan misalnya WC kotor, gelap, tersembunyi, ini akan terjadi hal yang tidak kita inginkan bersama. Selain itu, mengenai etika. Di sekolah harus ada kode etik atau tata tertib sekolah dan semua guru, murid, orang tua harus paham tata tertib tersebut agar menimbulkan kepercayaan dan penghargaan terhadap sesama. (Suripto)

Print Friendly, PDF & Email