11 Tahun LKJ Sekar Pangawikan

Mengakrabi dan menumbuhkembangkan tradisi budaya bukan hal mudah. Hanya dengan ketekunan, kesabaran, dan kesadaran kita bisa melestarikan tradisi luhur bangsa. Dengan memetri (melestarikan-red) tradisi kita berharap bangsa ini tetap bisa menjadi maju tanpa meninggalkan jati diri.

Demikian pesan Ketua Lembaga Kebudayaan Jawa (LKJ) Sekar Pangawikan, R. Bambang Nursinggih saat peringatan 11 tahun lembaga itu Sabtu (14/3/2020) di Ndalem Sastrosudarmo, Desa Wisata Budaya Rajek Wetan, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Hadir dalam peringatan itu beberapa desa wisata yang menjadi binaan LKJ Sekar Pangawikan, jaringan kerja, dan warga Rajek Wetan.

Selama sebelas tahun, lanjutnya, Sekar Pangawikan tak henti menumbuhkembangkan tradisi budaya terkait beragam upacara.

“Secara tidak langsung kami menggerakkan budaya literasi. Dalam setiap gurit atau mantra, kami mengajak warga untuk mencintai budaya. Literasi itu tak hanya membaca dan menulis tetapi juga pandang dan dengar. Dengan sekar Macapat, hal itu bisa lebih mudah diterima masyarakat pedesaan,” tandas Bambang Nursinggih.

Sementara itu, Wakil Ketua LKJ Sekar Pangawikan selaku Ketua Panitia Peringatan, Wahjudi Djaja, melaporkan proses kelahiran dan pertumbuhan LKJ Sekar Pangawikan saat didirikan sebelas tahun silam. “Bergerak dalam nuansa tradisi budaya Jawa di saat zaman sedang berubah, memerlukan kelapangan dada dan kesadaran bersama. Budaya adalah ruh bangsa sehingga menjadi kewajiban anak-anak bangsa untuk menjaga kelestarian dan perkembangannya,” katanya.

LKJ Sekar Pangawikan, sambungnya, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mempercayai lembaga ini untuk ikut andil dalam mengenalkan nilai keutamaan budaya Jawa kepada masyarakat dan generasi muda. “Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada pengelola Desa Wisata Budaya Rajek Wetan yang memberikan salah satu ruang di Ndalem Sastrosudarmo sebagai Sanggar Sekar Pangawikan. Ini merupakan energi besar bagi kami,” imbuhnya.

Peringatan diisi dengan pergelaran Tari Pawiyatan Sastrosudarman dan penampilan gamelan dari Kelompok Bermain Among Putro Ngemplak. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh R. Bambang Nursinggih dan diberikan kepada Suharno mewakili pengelola Dewi Rawe. (KIM Mlati/Yoko)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts