Warga Kabupaten Sleman Ubah Limbah Jadi Pupuk Organik

Sleman – Banyaknya limbah hayati di lingkungan sekitar menumbuhkan ide bagi warga Kabupaten Sleman, dari sejumlah komunitas peduli lingkungan, untuk mengubahnya menjadi pupuk organik. Bahan baku hayati tersebut, difermentasi menjadi pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia.

Warga Dusun Karanggawang, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman, Winarta, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (25/3),  mengungkapkan bahwa komunitas warga membuat pupuk organik menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan alam. Pupuk organik dari limbah hayati merupakan pengganti pupuk kimia, yang memiliki dampak merusak lingkungan.

Misalnya, bahan limbah tulang sapi, dapat digunakan untuk mengganti pupuk kimia TSP. Tulang sapi digunakan karena banyak mengandung fospor. Kerang dan cangkang telur yang sudah difermentasi,  juga dapat mengganti pupuk TSP sekaligus menetralisasi keasaman tanah.

Sejumlah bahan baku hayati seperti ikan lele, mujaer, tulang sapi, batang brotowali, kerang, dan cangkang telur, dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Lele dan mujaer difermentasi dengan menggunakan gula aren untuk mengganti pupuk urea. Gula aren digunakan sebagai makanan mikroba dan menyedot nutrisi bahan hayati.

Fermentasi batang brotowali dapat mengganti pupuk KCL. Tanaman brotowali mengandung kalium tinggi. Batang brotowali juga dapat diganti daun tanaman yang memiliki rasa pahit seperti buah mojo.

Cara pembuatan pupuk organik dari bahan hayati tersebut, yaitu dengan mencampur semua bahan baku limbah hayati dengan gula aren ke dalam toples untuk difermentasikan. Proses fermentasi membutuhkan waktu hingga selama tujuh hari untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bahan limbah yang berasal dari tanaman juga dapat digunakan sebagai pupuk dan nutrisi lahan ataupun ternak. Seperti limbah bunga jantung pisang yang dapat digunakan untuk menetralisasi unsur kimia lahan pertanian. Selain itu, temu lawak juga dapat digunakan untuk menambah nafsu makan ternak.

Winarta mengakui bahwa hasil fermentasi hayati yang dilakukan warga belum diperiksa kandungan unsur haranya di laboratorium. Namun, pembuatan pupuk organik tersebut sudah diuji dan dipakai oleh komunitas. Menurut warga, pupuk organik dapat memacu pertumbuhan tanaman dan ternak.




Biji Salak Pondoh Sleman Jadi Serbuk Minuman

Sleman –  Biji salak pondoh, di tangan warga Dusun Donoasih, bisa diubah menjadi minuman alternatif pengganti kopi. Bahkan minuman dari serbuk biji salak pondoh tersebut diklaim memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh, di antaranya dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat.

Pembuatan serbuk biji salak pondoh sebagai pengganti kopi bermula dari informasi yang didapatkan warga dari internet. Warga Dusun Donoasih, Supriyono (60 tahun), mengatakan warga setempat kemudian mengumpulkan biji salak pondoh yang banyak terdapat di lingkungan sekitar.

Wilayah Kecamatan Turi merupakan sentra pertanian salak pondoh. “Biasanya biji salak hanya dibuang, tapi sekarang kami manfaatkan sebagai bahan minuman,” kata Supriyono, saat ditemui di kediamannya, di Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Selasa (25/3).

Langkah untuk membuat serbuk tersebut dimulai dengan memotong kecil-kecil biji salak. Kemudian potongan biji salak tersebut digongseng (sangrai) selama dua jam, lalu didinginkan. Setelah dingin, biji salak ditumbuk. Hasil tumbukan biji salak kemudian disaring. Tara, serbuk biji salak pun siap dibuat untuk campuran minuman bersama gula.

Sedikitnya dibutuhkan 1 kilogram biji salak untuk membuat 1 ons serbuk. Warga Donoasih menjual serbuk biji salak dengan harga per ons dan untuk setiap kilogram.

Manfaat serbuk biji salak pondoh, diakui Supriyono, belum dibuktikan dengan penelitian laboratorium. Namun, warga mengklaim minuman biji salak pondok dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat. “Warga dusun sini yang merasakan,” ujar Supriyono.

Proses produksi serbuk biji salak masih dilakukan secara manual. Karena itu, anggota perkumpulan PKK setempat, Arlina, mengungkapkan warga hanya dapat memproduksi 5 kg serbuk biji salak dalam satu hari.

Saat ini, produk serbuk biji salak yang dihasilkan warga Dusun Donoasih juga masih dalam proses pengajuan izin dari Dinas Kesehatan. Pemasaran produk serbuk biji salak saat ini baru berdasarkan pesanan dan dilakukan dari mulut ke mulut.

“Kami belum berani jual luas karena belum memiliki izin,” ungkap Surpiyono yang telah memproduksi serbuk biji salak selama setahun terakhir bersama warga.

Selain minuman serbuk biji salak, warga Donoasih juga memproduksi makanan olahan lain dari bahan salak, seperti dodol dan wajik salak. Kedua jenis makanan olahan tersebut masih dipasarkan sesuai pesanan. Menurut anggota PKK setempat, Susi Rahmadaniar, makanan olahan tersebut dibuat dari salak pondoh yang dipanen warga sekitar.




Warga Kabupaten Sleman Ubah Limbah Jadi Pupuk Organik

Sleman – Banyaknya limbah hayati di lingkungan sekitar menumbuhkan ide bagi warga Kabupaten Sleman, dari sejumlah komunitas peduli lingkungan, untuk mengubahnya menjadi pupuk organik. Bahan baku hayati tersebut, difermentasi menjadi pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia.

Warga Dusun Karanggawang, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman, Winarta, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (25/3),  mengungkapkan bahwa komunitas warga membuat pupuk organik menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan alam. Pupuk organik dari limbah hayati merupakan pengganti pupuk kimia, yang memiliki dampak merusak lingkungan.

Misalnya, bahan limbah tulang sapi, dapat digunakan untuk mengganti pupuk kimia TSP. Tulang sapi digunakan karena banyak mengandung fospor. Kerang dan cangkang telur yang sudah difermentasi,  juga dapat mengganti pupuk TSP sekaligus menetralisasi keasaman tanah.

Sejumlah bahan baku hayati seperti ikan lele, mujaer, tulang sapi, batang brotowali, kerang, dan cangkang telur, dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Lele dan mujaer difermentasi dengan menggunakan gula aren untuk mengganti pupuk urea. Gula aren digunakan sebagai makanan mikroba dan menyedot nutrisi bahan hayati.

Fermentasi batang brotowali dapat mengganti pupuk KCL. Tanaman brotowali mengandung kalium tinggi. Batang brotowali juga dapat diganti daun tanaman yang memiliki rasa pahit seperti buah mojo.

Cara pembuatan pupuk organik dari bahan hayati tersebut, yaitu dengan mencampur semua bahan baku limbah hayati dengan gula aren ke dalam toples untuk difermentasikan. Proses fermentasi membutuhkan waktu hingga selama tujuh hari untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bahan limbah yang berasal dari tanaman juga dapat digunakan sebagai pupuk dan nutrisi lahan ataupun ternak. Seperti limbah bunga jantung pisang yang dapat digunakan untuk menetralisasi unsur kimia lahan pertanian. Selain itu, temu lawak juga dapat digunakan untuk menambah nafsu makan ternak.

Winarta mengakui bahwa hasil fermentasi hayati yang dilakukan warga belum diperiksa kandungan unsur haranya di laboratorium. Namun, pembuatan pupuk organik tersebut sudah diuji dan dipakai oleh komunitas. Menurut warga, pupuk organik dapat memacu pertumbuhan tanaman dan ternak.




Dinas Dikpora Sleman Alokasikan Rp2,4 Miliar Untuk Selenggarakan UN

Sleman – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sleman telah melakukan berbagai persiapan untuk pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat, akan digelar pada 14-16 April mendatang, kata Kepala Disdikpora  Kabupaten Sleman, Arif Haryono, Rabu (26/3).

Sebagai wujud komitmen dan dukungan terhadap penyelenggaraan ujian nasional di Sleman, Dinas Dikpora Kabupaten Sleman telah mengalokasikan anggaran hingga sebesar Rp2,4 miliar.

Angka ini juga termasuk anggaran untuk latihan ujian selama tiga kali untuk setiap jenjang (SD, SMP dan SMA sederajat) baik sekolah negeri maupun swasta.

Menurut Arif Haryono, Dinas Dikpora Kabupaten Sleman akan mendistribusikan soal ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA sederajat secara serentak. Distribusi akan dilakukan satu hari sebelum pelaksanaan ujian. Selain demi keamanan dan kerahasiaan, distribusi serentak dilakukan karena armada transportasi yang tersedia juga terbatas.

Arif Haryono mengatakan bahwa distribusi soal akan dilakukan secara serentak melalui kelompok kerja (pokja). Distribusi soal UN akan dilakukan sembilan pokja untuk tingkat SMK dan SMA. Arif Haryono juga menjelaskan bahwa saat ini Dinas Dikpora Kabupaten Sleman telah selesai menyiapkan data peserta dan pengawas.

Untuk jenjang SMA, jumlah peserta ujian mencapai siswa dari 56 sekolah. Para peserta UN akan mengikuti ujian di 44 sekolah karena pelaksaan UN di 12 sekolah digabungkan. Dinas Dikpora Kabupaten Sleman menyediakan 582 orang untuk mengawasi UN SMA.

Sementara untuk ujian nasional tingkat SMK akan diikuti siswa dari 54 sekolah. Namun, penyelenggara UN hanya 48 SMK. “Ujian di enam sekolah bergabung dengan sekolah lain karena belum akreditasi,” ujar Arif, dan menambahkan, sebanyak 782 orang disiapkan menjadi pengawas ujian SMK.

Persiapan UN tingkat SD dan SMP juga sudah disiapkan Dinas Dikpora Kabupaten Sleman. Jumlah peserta UN SD Sleman mencapai siswa dari 518 SD. Sementara, jumlah peserta ujian SMP mencapai siswa dari 131 sekolah. Ujian nasional tingkat SD akan digelar 19-21 Mei 2014. Sementara, UN SMP akan digelar 5-8 Mei mendatang.

Bagi peserta yang berkebutuhan khusus seperti tuna netra, Arif mengatakan penyelenggara ujian telah menyiapkan soal dengan huruf braille. Saat ini terdata sebanyak enam siswa tingkat SMA akan mengikuti ujian dengan soal huruf braille tersebut. Mereka akan mengikuti ujian dengan tambahan waktu mengerjakan soal 45 menit.

Penyelenggaraan ujian tingkat SD tahun ini telah berubah menjadi ujian sekolah. Soal ujian tidak lagi berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Arif mengatakan Dinas Pendidikan Provinsi akan menyediakan soal ujian untuk jenjang SD. “Untuk soal Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA proporsi soal ujian 25 persen dari pemerintah pusat dan 75 persen disusun daerah,” ungkapnya.




Jagung Crispy Bangunkerto Jadi Produk Unggulan UUPKS DIY

Sleman – Satu lagi jenis produk makanan yang menjadi unggulan di Kabupaten Sleman, yaitu jagung crispy dari Bangunkerto. Meski belum terkenal, produk jagung crispy cukup menjanjikan hasil yang lumayan dan ditetapkan menjadi produk unggulan UUPKS di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Usahanya memang masih dikerjakan secara manual dengan peralatan sederhana tetapi ternyata hasilnya cukup menggembirakan bahkan bisa berinovasi dengan produk yang dihasilkannya.

Ya itulah produk jagung crispy yang dibuat oleh Titik Kuswandari warga Dusun Ngablak Desa Bangunkerto Turi, Kabupaten Sleman. Bahkan jagung cripsy produksi Titik ini telah ditetapkan sebagai produk makanan unggulan UUPKS DIY.

“Ya sejak tanggal 22 Februari 2014, jagung cripsy produksi saya sudah ditetapkan menjadi produk unggulan UUPKS di DIY,” kata Titik, kepada tim Humas Kabupaten Sleman dan wartawan di tempat usahanya, Selasa (25/3) kemarin.

Jagung cripsy produksi Titik, memang termasuk makanan sehat karena dibuat tanpa bahan pengawet dengan bahan baku jagung manis, terigu, telur dan mentega.

“Kami membuat secara manual jagung manis diblender kemudian dicampur dengan terigu, mentega dan telur dibuat adonan dan kemudian dibuat lempengan, sebelum digoreng,” kata Titik.

Dengan jumlah tenaga sebanyak 3 sampai 4 orang, bisa memproduksi 10 sampai 25 kg jagung crispy sehingga perbulan produknya antara 2 sampai 3 kwintal.

“Dengan hasil produksi seperti itu omset penjualan bisa mencapai Rp6 juta per bulan dan kalau orderan lagi banyak omsetnya bisa lebih dari Rp 6 juta,” kata Titik.

Dikatakan Titik, usaha pembuatan jagung crispynya ini mulai dibuat sejak tahun 2008 dan semakin berkembang dengan inovasi baru hingga saat ini. Selain rasa original (gurih) varian rasa jagung crispy ada yang pedes dan manis. Dan varian terbaru adalah jagung crispy daun katuk yang diperuntukkan bagi ibu-ibu yang menyusui.

“Jagung crispy daun katuk ini banyak dijadikan contoh makanan oleh petugas Puskesmas di Turi terutama bagi ibu-ibu menyusui,” tuturnya.

Selama ini, lanjut Titik, produknya yang diberi label Adhista Snack Jagung Crispy juga sudah mendapat sertifikat dari Dinas Kesehatan dan label halal masih dalam proses ini sudah banyak dijumpai di beberapa toko dan supermarket di DIY.

Sementara untuk bahan baku jagung manis diakui Titik diambil dari Magelang dan Klaten. Untuk jagung manis dipilih yang belum terlalu tua dan tidak terlalu muda sehingga prosesnya lebih mudah dan hasil cripsynya juga lebih enak.