Pasar Prambanan Akan Dikembangkan Sebagai Obyek Wisata

Sleman – Pembangunan tahap pertama rehab pasar Prambanan telah dimulai tahun 2013 lalu. Saat ini telah terbangun satu blok yang dulu sebagai pasar burung di sebelah selatan, bangunan ini telah menelan anggaran sebesar Rp8 miliar lebih dari APBD Provinsi Rp4,7 miliar dan Kabupaten.

Rencana ke depan pasar Prambanan yang mempunyai luas sekitar meter persegi tersebut, akan dibuat tiga lantai dengan beberapa kelengkapan di antaranya akan dibangun taman kuliner yang menjajakan makanan di lantai 3 dengan view yang sangat mempesona.

Yaitu sebelah utara Gunung Merapi, dan candi Prambanan sesekali terlihat pesawat terbang melintas, sebelah timur langsung ke stasiun kereta api Prambanan, dan sebelah selatan Candi Boko. Disamping itu juga dibangun fasilitas umum seperti Mushola dan MCK.

Pembangunan tahap kedua ini akan merelokasikan pedagang sebelah bangunan yang baru akan dipindah ke pasar hewan yang sekarang digunakan untuk pasar ayam di sebelah barat Pasar induk sekitar bulan Mei.

Hal ini disampaikan Nia, Kasi pengembangan Dinas Pasar Kabupaten Sleman didampingi staf dan pengurus paguyuban Pasar Prambanan saat menerima kunjungan kerja Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Kamis (6/3).

Samsul Bakri, SE. MM Ketua Komisi B didampingi anggota Komisi, Jaka Purwanta, Subandi, Farchan Hariem, SE dan Endri Nugaraha mengatakan, bahwa dengan dibangunnya pasar Prambanan ini diharapkan tetap terjaga stabilitas pedagang sampai pada relokasi pada tempat penampungan sementara jangan sampai pedagang merasa dirugikan.

Sementara Sigit, Wakil paguyuban pasar Prambanan, didampingi Pengurus Zainudin Ketua dan Sulistyo Sekretaris, dalam keterangannya mengatakan bahwa pedagang yang jumlahnya sekitar 600 orang, sedangkan yang menjadi prioritas adalah pedagang lama.

Menurut keterangannya pedagang sebagian besar dari luar prambanan mencapai 60%, sedangkan warga Prambanan hanya sekitar 10%.




Ratusan Botol Minuman Keras Disita Satpol PP Sleman

Sleman – Puluhan  botol miras hasil operasi selama tiga hari sejak Senin hingga Rabu (3-5/3), telah berhasil diamankan tim gabungan Satpol, Polres Sleman, dan Penyidik pegawai Negeri Sipil.  Operasi Miras tersebut dipimpin oleh Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Kabupaten Sleman Drs. Fathoni Budi Prabowo.

Fathoni Budi Prabowo menjelaskan, penertiban tersebut dilakukan dalam rangka penegakan Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang Pelarangan, Penjualan dan Penggunaan Minuman beralkohol.

Menurutnya, operasi yang berlangsung pada  Senin (3/3)  menyisir dua tempat di wilayah Turi, yaitu sebuah mini market  dimana ditemukan 42 kaleng Bir Bintang dan 17 kaleng Guines,   sementara di sebuah warung di daerah  Purwobinangun ditemukan  lima botol Anggur Kolesom dan satu Anggur Merah.

“Yang menarik penjualan Anggur Kolesom tersebut biasanya dikomsumsi petani untuk obat pegel dan penghangat badan,” katanya.

Sementara, operasi yang berlangsung, Selasa (4/3), katanya,  menyisir beberapa toko dan warung di wilayah Depok, ditemukan 25 botol miras, yang terdiri tiga botol Topi Miring, 12 botol Anggur Merah dan 10 botol Anggur Kolesom.

Ia mengungkapkan, selama operasi dua hari didapat barang bukti sebanyakn 84 botol miras.

“Yang jelas dalam operasi miras tersebut berjalan lancar tanpa ada perlawanan dari penjual, dan  hal tersebut berkat kerjasama dan persiapan yang matang. Para petugas juga dilengkapi dengan surat tugas dan  adanya Perda nomor 3 tahun 2007 yang mengatur ketentuan penjualan miras,” katanya.

Ia mengungkapkan, dalam pasal 5 perda tersebut menyebutkan bahwa setiap orang atau badan dilarang menjual langsung minuman beralkohol golongan A, kecuali hotel melati dan hotel berbintang serta diskotik, bar, karaoke, restoran dan kafe yang menyatu dengan kawasaan hotel. Kemudian bar, pub dan kafe dan restoran dengan tanda talam kencana dan selaka.




Pagelaran “Kali” Pertunjukkan Berkelas Dunia Di Cangkringan

Sleman – Para pengunjung yang memadati halaman kantor Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, berdiam dalam gelap selama 75 menit untuk melihat sebuah karya yang bertemakan “without contraries there is no progression” permenungan William Blake.

Bambang N Karim, sutradara sekaligus media artis Pagelaran “Kali” telah menyulap halaman kantor kecamatan menjadi panggung seni karya instalasi berkelas dunia.

Melalui Pagelaran “Kali”, Bambang telah menampilkan suguhan tari, musik dan efek multimedia yang disebutnya sebagai interdiciplinary art dalam suatu kesatuan cerita yang utuh, menyentuh dan menginspirasi.

Keberhasilan Pagelaran “Kali” dalam mengemas sebuah  pertunjukkan interdiciplinary art merupakan hasil perpaduan kerja tim kreatif Bambang N Karim yang terdiri dari Agung Gunawan sebagai director of movement, Deasylina Da Ari sebagai principal dancer , dan  Johan Aditama sebagai director of music.

Sebanyak  75 orang anak yang terdiri dari para penari dan musisi dari Sanggar Pradapa Loka Bakti Pacitan, mempersembahkan 12 repertoar  “Kali”. Jalinan cerita yang terpisah dirangkai dalam satu untaian gerak dan visual yang sarat makna.

Para pengunjung diajak untuk merenungkan nilai-nilai kehidupan dan pengunjung dibebaskan untuk menafsirkan maknanya. Tema-tema berat hasil dari beberapa kutipan sastrawan ini berhasil diterjemahkan ke dalam suatu karya seni yang apik dan sangat menyentuh.

Pagelaran “Kali” yang dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dan Board Member of Australia Indonesia Institute, Andrew Donovan, telah menjadi suatu suguhan istimewa bagi masyarakat Cangkringan, dan sekitarnya.

Pagelaran “Kali” sebagai kolaborasi seni antara Indonesia dan Australia menjadi awal hubungan yang indah bagi dua negara khususnya di bidang pengembangan seni kontemporer.

Hal ini sesuai dengan  yang diungkapkan oleh Andrew Donovan dalam sambutannya. Andrew juga begitu terkesan dengan antusiasme dan kebaikan masyarakat Cangkringan Sleman.

Sedangkan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu menyampaikan bahwa melalui acara Pagelaran “Kali” yang ditampilkan di Cangkringan ini telah membuktikan bahwa Sleman mampu menjadi wadah kreativitas bagi para seniman.