Sleman Kembangkan Budidaya Perikanan Sistem Kelompok

Sleman – Kabupaten Sleman telah mengembangkan budidaya perikanan dengan sistem kelompok. Hal ini dibahas dalam pertemuan rutin tiga bulanan bidang perikanan, yang dilakukan oleh kelompok petani ikan, asosiasi, dan pengusaha bidang perikanan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pertemuan ini merupakan forum terbuka yang membahas bidang perikanan. Melalui pertemuan ini, diharapkan dapat menjadi sarana silaturahmi dan ajang berdiskusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani ikan dan mendorong peningkatan produksi perikanan.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Bupati Sleman Sri Purnomo hari ini, Kamis (27/3), menghadiri pertemuan tiga bulanan bidang perikanan Kabupaten Sleman, yang berlangsung di Gancahan Sidomulyo Godaen.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Direktorat Perbenihan Kementarin Kalutan dan Perikanan Sri Wuryaningsih, Ketua DPRD Sleman Koeswanto, SIP, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Andung Prihadi Santoso,, Kabid Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kabupaten Sleman Ir. Suparmono, MM.

Potensi pertanian di Kabupaten Sleman masih cukup tinggi. Meskipun struktur perekonomian Sleman telah mengarah pada sektor tersier, namun sektor primer, yakni pertanian, masih menjadi andalan kontributor PDRB kabupaten Sleman dan sumber pendapatan dari 15,03% masyarakat Sleman.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya mengatakan bahwa prioritas revitalisasi pertanian dan kehutanan ditujukan untuk pemantapan ketahanan pangan masyarakat. Terlebih karena  kemakmuran suatu daerah hanya dapat dicapai jika masyarakat mampu berswasembada pangan.

Oleh karena itu, revitalisasi pertanian dan kehutanan diupayakan dengan peningkatan produktivitas, kualitas hasil pertanian dan pengembangan distribusi, yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sri Purnomo menambahkan bahwa salah satu upaya untuk  meningkatkan produktivitas pangan berkualitas adalah melalui  budidaya ikan. Untuk mengoptimalkan pengembangan budidaya perikanan, pembinaan petani ikan di Sleman dilakukan dengan sistem kelompok.

“Dengan sistem tersebut, maka pelaksanaan transfer  pengetahunan dan transfer teknologi dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien,” katanya.

Untuk memajukan potensi perikanan, Pemkab Sleman memberikan bantuan dana penguatan modal. Pada tahun 2013 yang lalu Pemkab Sleman telah menggulirkan dana sebesar Rp4,5 miliar dari APBD Sleman, atau meningkat 2,77% dari tahun 2012.

Sementara menyinggung soal dana hibah, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyampaikan bahwa hibah hanya diberikan sekali. Kalau kelompok membutuhkan modal sebagai usaha pengembangan tentunya harus membentuk koperasi untuk kegiatan usaha penambahan modal.

Diharapkan pula petani atau kelompok harus mampu menangkap peluang usaha bisnis yang menguntungkan.




Produksi Cacing Sutera Diharapkan Penuhi Kebutuhan Pakan Ikan DIY

Sleman –  Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo ikut menyaksikan panen perdana Cacing Sutera di Dusun Gancahan Desa Sidomulyo Godean, Sleman, Kamis (27/3). Asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta di Gancahan telah berhasil melakukan panen perdana hasil budidayanya.

Perlu diketahui bahwa permintaan cacing sutera sangat tinggi, terlebih pada musim penghujan harga cacing sutera melonjak dua kali lipat karena ekosistem cacing sutera di saluran air  hilang akibat tersapu air.

Salah satu pakan alami dan yang paling banyak digunakan maupun diperjualbelikan dalam budidaya ikan, adalah cacing sutera. Menilik potensi perikanan darat di Kabupaten Sleman yang begitu besar, tentunya juga memberikan dampak positif bagi usaha budidaya pakan ikan termasuk di antaranya budidaya cacing sutera.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X berpesan agar petani jangan tergantung pada pakan hasil pabrikan. Dengan tingginya harga pakan ikan maka petani diharapkan mampu membuat pakan, tentu dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang terjangkau.

“Kalau petani mampu membuat/memproduksi pakan ikan sendiri, maka pengeluaran dapat lebih ditekan,” kata Sri Sultan.

Lebih lanjut disampaikan Sri Sultan bahwa kalau permintaan pakan lebih besar tentunya harganya bisa lebih murah, bukan malah harganya dinaikan.

Keberadaan asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk benih ikan lele dan Gurami. Dengan terpenuhinya kebutuhan cacing sutera, maka diharapkan perkembangan perikanan darat di DIY akan lebaih baik lagi.

Pada kesempatan tersebut, bupati mengimbau para petani ikan untuk dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan di luar keahlian dalam budidaya perikanan. Melalui budidaya cacing sutera, saya yakin dapat meningkatkan pendapatan para petani guna memajukan kesejahteraan.

“Para petani harus memiliki orientasi pasar dalam usaha budidaya perikanan,” katanya menegaskan.

Perwakilan Asosiasi Cacing Sutera Yogyakarta, Suhardi, melaporkan bahwa kebutuhan cacing sutera di DIY masih banyak hingga peluang untuk pengembangan cacing Sutera masih terbuka lebar.

Suhardi menambahkan bahwa untuk budidaya cacing sutera tersebut menempati lahan seluas 1 Ha dan sudah terisi 60%. Keuntungan atau hasil yang diperoleh dari budidaya cacing sutera ini sangat besar.

Sebagai contoh dengan lahan yang hanya 300 m² mampu menghasilkan cacing Sutera 4-7 liter. Dengan lahan seluas 1 ha tersebut maka diharapkan akan mampu menambah ketersediaan kebutuhan pakan benih lele dan Gurami di DIY.




Warga Kabupaten Sleman Ubah Limbah Jadi Pupuk Organik

Sleman – Banyaknya limbah hayati di lingkungan sekitar menumbuhkan ide bagi warga Kabupaten Sleman, dari sejumlah komunitas peduli lingkungan, untuk mengubahnya menjadi pupuk organik. Bahan baku hayati tersebut, difermentasi menjadi pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia.

Warga Dusun Karanggawang, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman, Winarta, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (25/3),  mengungkapkan bahwa komunitas warga membuat pupuk organik menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan alam. Pupuk organik dari limbah hayati merupakan pengganti pupuk kimia, yang memiliki dampak merusak lingkungan.

Misalnya, bahan limbah tulang sapi, dapat digunakan untuk mengganti pupuk kimia TSP. Tulang sapi digunakan karena banyak mengandung fospor. Kerang dan cangkang telur yang sudah difermentasi,  juga dapat mengganti pupuk TSP sekaligus menetralisasi keasaman tanah.

Sejumlah bahan baku hayati seperti ikan lele, mujaer, tulang sapi, batang brotowali, kerang, dan cangkang telur, dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Lele dan mujaer difermentasi dengan menggunakan gula aren untuk mengganti pupuk urea. Gula aren digunakan sebagai makanan mikroba dan menyedot nutrisi bahan hayati.

Fermentasi batang brotowali dapat mengganti pupuk KCL. Tanaman brotowali mengandung kalium tinggi. Batang brotowali juga dapat diganti daun tanaman yang memiliki rasa pahit seperti buah mojo.

Cara pembuatan pupuk organik dari bahan hayati tersebut, yaitu dengan mencampur semua bahan baku limbah hayati dengan gula aren ke dalam toples untuk difermentasikan. Proses fermentasi membutuhkan waktu hingga selama tujuh hari untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bahan limbah yang berasal dari tanaman juga dapat digunakan sebagai pupuk dan nutrisi lahan ataupun ternak. Seperti limbah bunga jantung pisang yang dapat digunakan untuk menetralisasi unsur kimia lahan pertanian. Selain itu, temu lawak juga dapat digunakan untuk menambah nafsu makan ternak.

Winarta mengakui bahwa hasil fermentasi hayati yang dilakukan warga belum diperiksa kandungan unsur haranya di laboratorium. Namun, pembuatan pupuk organik tersebut sudah diuji dan dipakai oleh komunitas. Menurut warga, pupuk organik dapat memacu pertumbuhan tanaman dan ternak.




Biji Salak Pondoh Sleman Jadi Serbuk Minuman

Sleman –  Biji salak pondoh, di tangan warga Dusun Donoasih, bisa diubah menjadi minuman alternatif pengganti kopi. Bahkan minuman dari serbuk biji salak pondoh tersebut diklaim memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh, di antaranya dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat.

Pembuatan serbuk biji salak pondoh sebagai pengganti kopi bermula dari informasi yang didapatkan warga dari internet. Warga Dusun Donoasih, Supriyono (60 tahun), mengatakan warga setempat kemudian mengumpulkan biji salak pondoh yang banyak terdapat di lingkungan sekitar.

Wilayah Kecamatan Turi merupakan sentra pertanian salak pondoh. “Biasanya biji salak hanya dibuang, tapi sekarang kami manfaatkan sebagai bahan minuman,” kata Supriyono, saat ditemui di kediamannya, di Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Selasa (25/3).

Langkah untuk membuat serbuk tersebut dimulai dengan memotong kecil-kecil biji salak. Kemudian potongan biji salak tersebut digongseng (sangrai) selama dua jam, lalu didinginkan. Setelah dingin, biji salak ditumbuk. Hasil tumbukan biji salak kemudian disaring. Tara, serbuk biji salak pun siap dibuat untuk campuran minuman bersama gula.

Sedikitnya dibutuhkan 1 kilogram biji salak untuk membuat 1 ons serbuk. Warga Donoasih menjual serbuk biji salak dengan harga per ons dan untuk setiap kilogram.

Manfaat serbuk biji salak pondoh, diakui Supriyono, belum dibuktikan dengan penelitian laboratorium. Namun, warga mengklaim minuman biji salak pondok dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat. “Warga dusun sini yang merasakan,” ujar Supriyono.

Proses produksi serbuk biji salak masih dilakukan secara manual. Karena itu, anggota perkumpulan PKK setempat, Arlina, mengungkapkan warga hanya dapat memproduksi 5 kg serbuk biji salak dalam satu hari.

Saat ini, produk serbuk biji salak yang dihasilkan warga Dusun Donoasih juga masih dalam proses pengajuan izin dari Dinas Kesehatan. Pemasaran produk serbuk biji salak saat ini baru berdasarkan pesanan dan dilakukan dari mulut ke mulut.

“Kami belum berani jual luas karena belum memiliki izin,” ungkap Surpiyono yang telah memproduksi serbuk biji salak selama setahun terakhir bersama warga.

Selain minuman serbuk biji salak, warga Donoasih juga memproduksi makanan olahan lain dari bahan salak, seperti dodol dan wajik salak. Kedua jenis makanan olahan tersebut masih dipasarkan sesuai pesanan. Menurut anggota PKK setempat, Susi Rahmadaniar, makanan olahan tersebut dibuat dari salak pondoh yang dipanen warga sekitar.




Warga Kabupaten Sleman Ubah Limbah Jadi Pupuk Organik

Sleman – Banyaknya limbah hayati di lingkungan sekitar menumbuhkan ide bagi warga Kabupaten Sleman, dari sejumlah komunitas peduli lingkungan, untuk mengubahnya menjadi pupuk organik. Bahan baku hayati tersebut, difermentasi menjadi pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia.

Warga Dusun Karanggawang, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman, Winarta, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (25/3),  mengungkapkan bahwa komunitas warga membuat pupuk organik menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan alam. Pupuk organik dari limbah hayati merupakan pengganti pupuk kimia, yang memiliki dampak merusak lingkungan.

Misalnya, bahan limbah tulang sapi, dapat digunakan untuk mengganti pupuk kimia TSP. Tulang sapi digunakan karena banyak mengandung fospor. Kerang dan cangkang telur yang sudah difermentasi,  juga dapat mengganti pupuk TSP sekaligus menetralisasi keasaman tanah.

Sejumlah bahan baku hayati seperti ikan lele, mujaer, tulang sapi, batang brotowali, kerang, dan cangkang telur, dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Lele dan mujaer difermentasi dengan menggunakan gula aren untuk mengganti pupuk urea. Gula aren digunakan sebagai makanan mikroba dan menyedot nutrisi bahan hayati.

Fermentasi batang brotowali dapat mengganti pupuk KCL. Tanaman brotowali mengandung kalium tinggi. Batang brotowali juga dapat diganti daun tanaman yang memiliki rasa pahit seperti buah mojo.

Cara pembuatan pupuk organik dari bahan hayati tersebut, yaitu dengan mencampur semua bahan baku limbah hayati dengan gula aren ke dalam toples untuk difermentasikan. Proses fermentasi membutuhkan waktu hingga selama tujuh hari untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bahan limbah yang berasal dari tanaman juga dapat digunakan sebagai pupuk dan nutrisi lahan ataupun ternak. Seperti limbah bunga jantung pisang yang dapat digunakan untuk menetralisasi unsur kimia lahan pertanian. Selain itu, temu lawak juga dapat digunakan untuk menambah nafsu makan ternak.

Winarta mengakui bahwa hasil fermentasi hayati yang dilakukan warga belum diperiksa kandungan unsur haranya di laboratorium. Namun, pembuatan pupuk organik tersebut sudah diuji dan dipakai oleh komunitas. Menurut warga, pupuk organik dapat memacu pertumbuhan tanaman dan ternak.