Kelompok Perikanan Kronggahan Juara Nasional Pembesaran Ikan

Sleman – Kelompok Perikanan “Tegal Makmur” Dusun Kronggahan Desa Trihanggo Kecamatan Gamping Sleman, berhasil meraih juara nasional perikanan bidang pembesaran ikan pada tahun 2013.

“Atas prestasinya itu, kelompok perikanan tersebut berhasil mendapatkan hadiah uang sebesar Rp24,9 juta,” kata Sekretaris Kelompok Perikanan Tegal Makmur Kronggahan Trihanggo Gamping, Paijo, di Sleman, Senin (24/3).

Kelompok perikanan yang berdiri sejak tahun 2008 ini, hingga sekarang sudah bisa berkembang cukup pesat dan telah berprestasi beberapa kali di tingkat Kecamatan, Kabupaten maupun Provinsi. Dan terakhir berhasil meraih juara nasional bidang pembesaran ikan di tahun 2013.

Menurut Paijo, hingga saat ini jumlah anggota kelompoknya sudah mencapai 40 orang dengan jumlah kolam 90 petak yang berada di areal seluas 1,8 hektare. “Selama ini kelompok kita mengadakan pembesaran ikan mulai dari bibit dan dibesarkan selama 5 bulan sudah siap dijual untuk konsumsi,” kata Paijo.

Untuk penjualan ikan komsumsi tidak perlu repot, karena pembeli sudah datang sehingga tidak mengalami kesulitan. Untuk melakukan pembelian bibit ikan juga tidak masalah karena dari Sleman sudah tersedia banyak.

“Bibit ikan per kg nya dengan jumlah 80 sampai 90 ekor, sedang untuk ikan konsumsi harganya per kg,” kata Paijo.

Dikatakan Paijo dalam sebulan rata-rata hasil produksi ikannya mencapai 1 ton (ikan siap konsumsi). Berdasarkan laporan anggota kelompok selama tahun 2013 lalu kelompok bisa menjual ikan konsumsi sebanyak 18 ton. Karena itu dengan perkembangan kelompok ikan ini, anggota semakin semangat.

“Dengan prestasi tingkat nasional membuat kita lebih semangat dan hadiah yang kita peroleh akan digunakan untuk membuat balai pertemuan,” tutur Paijo.




Koperasi Di Sleman Tunjukkan Trend Peningkatan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tetap mendorong aktivitas koperasi untuk menyangga kegiatan ekonomi masyarakat, dalam upayanya menumbuhkan ekonomi kerakyatan.

Perkembangan perkoperasian di Kabupaten Sleman terlihat dari jumlah koperasi yang ada, menunjukkan trend yang semakin meningkat, yaitu 598 koperasi pada tahun 2010 menjadi 623 koperasi pada tahun 2013.

“Jumlah koperasi aktif, juga meningkat dari 526 koperasi pada tahun 2010 menjadi 573 pada tahun 2013. Jumlah anggota semakin meningkat dari orang pada tahun 2010 menjadi orang pada tahun 2013,” kata Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Sleman, Senin (24/3).

Menurut Sri Purnomo dari hasil usaha koperasi juga mengalami peningkatan. Dilihat dari jumlah modal sendiri mengalami peningkatan, yaitu dari Rp142,56 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp 255,38 miliar pada tahun 2013.

Jumlah volume usaha sebesar Rp20,09 miliar pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp972,77 miliar pada tahun 2013. Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar  Rp15,89 miliar pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp22,14 miliar pada tahun 2013.




Boyong Tirta Kautaman Tandai Hari Air Dunia Ke 22 Di Sleman

211_20140324123201

Sleman – Peringatan Hari Air Dunia ke-22, Sabtu (22/3) di Kabupaten Sleman sekaligus menjadi momen pencanangan ”Boyong Tirto Kautaman”. Hal ini di maksudkan agar masyarakat mampu menjadi pengelola air yang merupakan anugrah alam.

“Air harus dimanfaatkan bersama sehingga ketenteraman hidup dapat dicapai melalui pengelolaan air yang benar dan tepat,” kata  Bupati Sleman Sri Purnomo saat memperingati Hari Air Dunia di Embung Kali Aji di Wonokerto Turi Sabtu (22/3).

Kegiatan peringatan sebelumya didahului dengan sarasehan dan dilanjutkan dengan penyerahan dua buah kendi berisi air bersih yang dikirab oleh Bregodo Prajurit Simo Merapi kepada Bupati dan Ketua DPRD Sleman, serta penebaran benih ikan nila di embung Kaliaji dan penanaman pohon buah-buahan di sekitar embung.

Pemkab Sleman senantiasa berupaya untuk mengelola sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

Sejalan dengan tema Hari Air Dunia ke-22, yaitu water and energy, Pemkab Sleman juga berupaya untuk meningkatkan daya dukung lingkungan melalui upaya konservasi sumber daya air.

Di Kabupaten Sleman saat ini sudah terdapat 14 embung yang berfungsi dengan baik, dan telah dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan dan pariwisata. Bahkan nantinya dapat dikembangkan menjadi salah satu sumber air minum pedesaan. Kedepan, Sleman akan menambah 11 embung lagi dan telah mempunyai digarap DED pembangunannya.

Saat ini, sumber air di lereng Merapi dimanfaatkan oleh banyak orang, tidak hanya sebagai air bersih namun juga untuk pertanian, perikanan bahkan air minum dalam kemasan.

Oleh karenanya, tidak boleh ada kelompok masyarakat yang memonopoli sumber daya air ini karena pada hakekatnya sumber daya air ini adalah milik bersama sehingga semua kepentingan masyarakat harus bisa terpenuhi secara adil dan merata.

Selain konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, Kabupaten Sleman juga berupaya untuk mengendalikan dampak negatif dari sumber daya air yang berlebih. Dampak erupsi Merapi tahun 2010 lalu masih dirasakan dampaknya oleh sebagian kecil masyarakat petani di Sleman.

Saat ini ini terdapat 182 sumber mata air di Kabupaten Sleman. Namun masih terdapat bendung irigasi yang belum dapat diperbaiki, termasuk tanggul sungai yang mengkhawatirkan jika terjadi banjir  lahar dingin.

Sejumlah daerah irigasi/bendung dan pada tahun 2013, telah dbangun dan diperbaiki sebanyak 150 bendung. Pada tahun 2014 ini akan dibangun/diperbaiki sebanyak 92 buah.

Upaya lain yang kami lakukan adalah menjaga kualitas sumber daya air dengan tidak membuang limbah baik limbah padat maupun limbah cair ke sumber-sumber air seperti sungai, saluran irigasi, embung dan lain sebagainya.

Saat ini Pemkab Sleman juga telah menyusun Perda pengelolaan air tanah  yang saat ini tengah dalam pembahasan dengan DPRD, yang didalamnya terdiri dari 4 esensi, yaitu konservasi, pendayagunaan, pengendalian dan penyusunan sistem informasi air tanah.

Dalam perda tersebut, disebutkan bahwa hotel-hotel di Sleman diharapkan dapat menggunakan air PDAM sebagai upaya pendayagunaan, sedangkan air tanah/sumur hanya digunakan untuk mensuplai air bila terjadi gangguan pada jaringan PDAM.

Upaya-upaya tersebut diatas memerlukan komitmen bersama oleh seluruh komponen masyarakat dan institusi pemerintah bukan hanya Pemkab dan masyarakat Sleman namun juga Pemkab dan masyarakat lain yang berada di wilayah DIY.

Pemkab Sleman juga mengajak untuk bersama-sama memperbaki dan melakukan konservasi Lereng Merapi sehingga sumber-sumber air di lereng Merapi dapat dipertahankan.




Bupati Sleman Ingatkan Warga Jaga Kerukunan

Sleman– Dalam rangka mensyukuri hasil bumi dan berterimakasih kepada Allah SWT, masyarakat Celungan Sumberagung Moyudan, Kabupaten Sleman,  mengadakan upacara adat dengan puncak rangkaiannya pada hari Sabtu (22/3).

Masyarakat pedukuhan Celungan mengadakan pagelaran wayang semalam suntuk bersama Ki Dalang Rusmadi dari Kulonprogo dengan lakon Bayu Perwita Sari. Kegiatan tersebut, dihadiri Bupati Sleman dan jajarannya, anggota DPRD Sleman, Camat  dan Muspika Moyudan.

Acara ini juga ditonton oleh masyarakat Celungan dan sekitarnya. Tak kurang dari 600 orang penonton ikut menikmati pagelaran wayang semalam suntuk tersebut.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam kesempatan itu, menyampaikan bahwa kita perlu belajar dari pesan-pesan moral yang banyak disampaikan dalam cerita atau lakon dalam pewayangan.

Seperti dalam lakon yang diambil dalam pagelaran wayang kali ini, masyarakat dapat merenungi arti perjuangan dalam memperoleh cita-cita namun tetap memperhatikan kesejahteraan sesama.

Diingatkan bahwa saat ini sudah memasuki masa kampanye pemilu. Masyarakat hendaknya tetap menjaga iklim kebersamaan dan kerukunan. Perbedaan dalam pilihan harus ditanggapi secara dewasa dan tidak perlu terjadi konflik sosial dalam masyarakat.




DBD Masih Jadi Ancaman Bagi Masyarakat Sleman

Sleman – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman bagi warga Kabupaten Sleman, meskipun musim penghujan hampir berakhir.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyebutkan, selama tiga bulan terakhir tercatat sebanyak 126 warga terserang DBD di 17 kecamatan wilayah Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman dr. Mafilindati Nuraini, mengakui wilayah dengan penderita DBD terbanyak belum berubah dari data tahun lalu. Namun, wilayah endemik DBD berada di hampir semua kecamatan di Kabupaten Sleman.

“Pemberantasan DBD harus dilakukan secara berkesinambungan, karena kalau tidak, akan terjadi terus,” katanya, seperti dikutip Media Center Kabupaten Sleman, Senin (24/3).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sleman, jumlah penderita DBD tahun ini terbanyak terjadi pada Januari lalu dengan 67 pasien. Angka tersebut menurun pada Februari dengan jumlah penderita DBD mencapai 49 orang. Dari jumlah penderita tersebut tidak ada penderita DBD yang meninggal.

Kecamatan Kalasan, Gamping, dan Godean memiliki jumlah penderita DBD tertinggi. Hingga 17 Maret, penderita DBD di Kecamatan Kalasan mencapai 27 orang.

Sementara, Gamping dan Godean mencatat jumlah penderita DBD masing-masing sebanyak 23 orang dan 16 orang. Jumlah penderita tersebut disusul Kecamatan Mlati dan Depok sebanyak 14 orang dan 11 orang.

Upaya pencegahan DBD yang dinilai paling efektif dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Namun, usaha tersebut hanya dapat berhasil jika diikuti masyarakat secara mandiri. Pola hidup sehat dan selalu membersihkan tandon air dinilai perlu dilakukan terus menerus.

Selain kampanye PSN, Dinas Kesehatan menyediakan larvasida di 25 puskesmas untuk masyarakat. Saat ini, masih ada 260 kilogram larvasida yang dapat diambil ke puskesmas. Masyarakat bisa mendapatkan larvasida secara gratis.

Mafilindati mengatakan warga setempat perlu mengantisipasi masa peralihan musim hujan dan musim kemarau atau pancaroba. Saat kelembaban tinggi, nyamuk mudah berkembang biak.

Kondisi tersebut terjadi pada tahun lalu dimana DBD mencapai 723 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada 2012 yang mencapai 236 kasus DBD.