Tujuh Siswa Tuna Netra Ikuti UN

Sleman, InfoPublik – Sebanyak tujuh siswa tuna netra mengikuti Ujian Nasional (UN) di MAN Maguwoharjo Depok Sleman, Senin (14/4). Dalam pelaksanaannya tujuh siswa tersebut  dibagi dalam dua ruangan, sesuai dengan jurusan masing-masing.

Ketujuh siswa ini mengerjakan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di ruangan IX dan X. Mereka tampak serius mendengarkan soal yang dibacakan guru, sedangkan dua pengawas duduk di kursi depan kelas.

Kepala Sekolah MAN Maguwoharjo, Drs Aris Fu’ad mengungkapkan, untuk peserta tuna netra memang soalnya dibacakan oleh guru pendamping. Meskipun disediakan soal dengan huruf braille, pihak sekolah sudah mengajukan permohonan ke Kanwil Dikpora DIY agar soal bisa dibacakan saja.

Menurut Aris, ada beberapa pertimbangan mengapa sekolah meminta soalnya dibacakan. Selama tiga tahun mereka belajar di MAN, para siswa ini lebih familiar jika soal atau materi pelajaran dibacakan.

“Selain itu, mereka juga lebih akrab dengan audio dibandingkan membaca huruf braille. Tapi mereka tetap bisa membaca dengan huruf braille, termasuk disediakan soal ujiannya,” kata Aris.

Secara keseluruhan di MAN Maguwoharjo ada 141 siswa dari tiga jurusan, IPA, IPS dan keagamaan. Selain itu, sekolah juga mendapat tambahan empat siswa dari sekolah lain.




201 Pelajar SMA/SMK/MK Di Sleman Ikut Seleksi Calon Paskibraka

Sleman, – Sebanyak 201 pelajar kelas X dan XI SMA/SMK/MA Negeri/Swasta yang lolos seleksi tingkat wilayah, mengikuti pemilihan calon Paskibraka Kabupaten Sleman. Sebelumnya total peserta tingkat wilayah Timur, Tengah dan Barat yang mengikuti seleksi sebanyak 500 pelajar. Pembukaan pemilihan calon Paskibraka ditandai dengan pengalungan nomor peserta secara simbolis kepada 2 pelajar putra putri oleh Sekda Kabupaten Sleman dr. Sunartono, Mkes, didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sleman Arif Haryono, SH, di Aula Unit I Pemkab Sleman, Senin (14/4). Sunartono mengatakan bahwa seleksi calon anggota Paskibraka Sleman ini merupakan upaya pengkaderan anggota Paskibraka dalam mewujudkan generasi yang berwawasan kebangsaan. Seleksi Paskibraka juga untuk menanamkan jiwa perjuangan, disiplin dan ksatria. ”Hanya siswa-siswi yang memenuhi syarat, yang terpilih dalam melaksanakan tugas kenegaraan sebagai pengibar dan penurun bendera Merah Putih, dalam rangkaian peringatan HUT RI di Kabupaten Sleman,” kata Sunartono. Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Sleman Arief Haryono menjelaskan bahwa seleksi ini nantinya untuk memilih 4 orang peserta putra dan 4 orang peserta putri untuk dikirim wakil pemilihan calon Paskibraka tingkat nasional. Targetnya salah satu calon dapat lolos ke tingkat nasional. Selain itu, seleksi juga dilakukan untuk memilih 18 orang putra dan 18 orang putri untuk dilatih menjadi Paskibraka Kabupaten Sleman dengan cadangan masing-masing 3 putra dan 3 putri. Pemilihan akan dilakukan selama 3 hari, mulai hari ini Senin (14/4) hingga Rabu (16/4) dengan materi tes tertulis, tes kesehatan dan postur tubuh, tes kesemaptaan jasmani, tes ketrampilan baris berbaris, tes wawancara meliputi mental dan ideology, kepribadian, pengetahuan umum dan kedaerahan, ketrampilan khusus meliputi penguasaan bahasa Inggris, seni budaya dan olahraga serta teknologi informasi.




30 Finalis Dimas Diajeng Sleman Melaju Babak Grand Final

Sleman, – Sleman saat ini telah berhasil memperoleh 30 orang dimas diajeng hasil seleksi tahun 2014. Kepastian 30 dimas diajeng Kabupaten Sleman ini diumumkan dalam acara Sugeng Rawuh Party, di Pusat Kuliner Jogja Paradise Jalan Magelang Sinduadi Mlati, Sleman, Jumat (11/4).

Dimas Tio, selaku ketua pelaksana, mengatakan walaupun sempat diguyur hujan namun acara yang dilaksanakan out door ini masih dapat berlangsung dan cukup meriah.

Dari 114 pendaftar telah diadakan tes meliputi dua tahap, yakni administrasi dan tertulis, serta wawancara. Seleksi dimas diajeng bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman dilakukan cukup ketat mengingat tujuan diadakannya pemilihan ini adalah untuk mencari generasi muda yang berkarakter, peduli dan berprestasi.

Acara Sugeng Rawuh Party, menurut Dimas Tio, merupakan bagian dari rangkaian acara untuk menyambut kehadiran 30 finalis sebagai anggota keluarga ikatan dimas diajeng Sleman.

Acara ini merupakan terobosan baru untuk mengumumkan siapa saja yang terpilih menjadi finalis, agar semua semifinalis pun bisa merasakan euphoria pemilihan. Selanjutnya nanti akan dipilih yang menjadi juara 1 s/d 5.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Ir. Ayu Laksmidewi, TP. MM mengungkapkan pemilihan dimas diajeng Sleman ini merupakan upaya untuk mendidik generasi muda secara dini, agar menjadi generasi yang memiliki kesadaran dan ketahanan budaya yang tinggi.

Disamping itu, ke depan dimas diajeng Sleman juga diharapkan dapat menjadi generasi yang mampu mengemban sebagai duta wisata dan budaya yang benar-benar dinamis, penuh semangat dan dedikasi terhadap kemajuan Kabupaten Sleman.

Adapun untuk 15 dimas Sleman yakni Ade Dwi Saputra, Agus Salim, Arif zudi Winarto, Dimitri Dairi, Eko Setiawan, Emanuel Nung Agoton, Endy Agustian, Fahrizal Fauzi Aldino fajar wijanarko, Muh Amri Zakarzi, Rico Survival Subaidi, Rivo Riyarno, Sapta Abimanyu, Susilo, Tri Nurusan fadhillah.

Sementara 15 diajeng Sleman yakni Acintyas Widaning, Ahla Sabila, Anisa Yunas, Ariyanti Dyah Maharani, Desiyana Adityawati, Dorothea Gecella Putri, Galuh Santika, Gestina Novitasari, Kadenza Adatya Tamara, Nefertiti Yunizare, Honika Tiara Cintya, Rizky Annisa, Wulansari, Wurning Wandeha Larasukma.

Para finalis yang terpilih akan menjalani pembekalan yang sangat intens yang berupa workshop dan briefing, pemotretan, table manner, bakti sosial, kunjungan media partner, outbound, presentasi dan famtrip.

Sebelum malam Grand Final yang akan dilangsungkan tanggal 16 Mei 2014 di Gedung Serba Guna UIN Yogyakarta, para finalis diwajibkan untuk menjalani karantina selama 4 (empat) hari.




Soal UN Di Kabupaten Sleman Dijaga 24 Jam

Sleman,  – Untuk menjaga keamanan soal UN di Kabupaten Sleman, petugas dari kepolisian bersama petugas pokja melakukan pengamanan pintu secara berlapis. Hal ini sebagai langkah untuk mencegah kebocoran soal.

Ketua Pokja 3 Kabupaten Sleman Dra Hermintarsih mengatakan, untuk pengamaan dilakukan petugas pokja bersama kepolisian 24 jam. Untuk petugas pokja setiap shiftnya 8 jam ada 3 petugas. “Sedangkan untuk petugas kepolisian setiap shif 12 jam ada 2 petugas,” ujarnya di sela-sela pengamanan, Minggu (13/4).

Terkait soal UN, disebutnya Sabtu (12/4) sudah sampai ke Pokja 3 di SMAN 1 Sleman. Jumlah soal tersebut sesuai dengan jumlah peserta UN yakni siswa dan disimpan di gudang SMAN 1 Sleman dengan pengamanan dua lapis yang dijaga ketat pihak petugas pokja maupun kepolisian.

“Satu kunci saya bawa dan pintu yang lain dibawa polisi. Sehingga untuk membuka pintu harus bersama-sama dan baru akan kita buka pagi harinya sebelum pelaksanaan UN dilakukan. Dengan pengamanan berlapis ini akan menjamin tak ada kebocoran soal,” tegas Hermintarsih.




Pengawas UN SMA/SMK Di Sleman Lebih Banyak Dari Perguruan Tinggi

Sleman, – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH mengatakan, pada pelaksanaan Ujian  Nasional (UN) tahun ini, jumlah pengawas UN yang berasal dari perguruan tinggi lebih banyak dari tahun sebelumnya.

“Tahun lalu setiap sekolah hanya satu, sekarang didasarkan pada jumlah ruangan,” kata Arif di kantornya, Jumat (11/4).

Menurut Arif, kalau sekolah punya ruangan [ujian] satu sampai tiga akan punya satu pengawas dari perguruan tinggi. Kalau jumlah ruangannya empat sampai 10 pengawasnya dua, dan seterusnya.

Secara keseluruhan, Disdikpora Sleman menyiapkan 582 pengawas UN SMA dan 782 pengawas UN SMK. Pengawas dari perguruan tinggi di Sleman diwakili oleh pihak Universitas Gadjah Mada. Sementara pengawas dari tingkat sekolah akan dilakukan secara silang.

“Pengawas dari sekolah lain tidak akan membantu siswa. Diharapkan ada asas objektivitas,” kata Arif.

Selain itu, Disdikpora juga akan membuka posko UN guna mendukung kelancaran program tersebut. “Apa saja bisa dilaporkan masyarakat dan siapapun yang menemukan pelanggaran selama UN berlangsung,” ungkap Arif Haryono.

Laporan pengaduan yang masuk ke posko akan ditindaklanjuti dengan melihat porsi kewenangan penanganan.

“Kami lihat dulu apakah itu kewenangan sekolah, pokja, atau Disdik Provinsi,” kata Arif.

Arif  memaparkan, tahun lalu tidak ada laporan terkait pelanggaran, hanya laporan bahwa beberapa siswa berhalangan mengikuti ujian.

Arif juga  berharap hasil UN tahun ini lebih optimal. Hal tersebut mengacu pada angka kelulusan tahun 2013 yang terbilang tinggi. SMA lulus 99,88 persen dan SMK 99,97 persen.

Sementara soal distribusi soal UN dikatakan Arif soal UN tingkat SMA sederajat di Kabupaten Sleman didistribusikan secara serentak melalui kelompok kerja (pokja) atau sub rayon, Sabtu (12/4).

“Di Sleman terdapat lima pokja untuk SMK dan empat pokja untuk SMA yang tersebar di wilayah Kecamatan Depok, Kalasan, Ngaglik, Sleman, Tempel, dan Godean,” kata Arif.

Sekolah yang ditunjuk sebagai pokja antara lain SMA Negeri 1 Godean, SMK Negeri 1 Godean, SMA Negeri 1 Sleman, SMA Negeri 2 Ngaglik, SMA Negeri 1 Kalasan, SMK Negeri 1 Kalasan, SMK Negeri 1 Tempel, SMK Negeri 1 Depok, dan SMK Negeri 2 Depok. Soal akan dijaga ketat oleh pihak kepolisian.