Asosiasi Gurame Seyegan Adakan Lomba Masakan Gurame

Sleman – Memeriahkan HUT ke-2 Asosiasi Gurame Sejahtera Seyegan diadakan lomba gede-gedeangurame dan lomba masakan gurame. Acara diadakan di halaman Balai Desa Margodadi Seyegan, Kamis (17/4) lalu.

Lomba dan perayaan HUT dihadiri Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, Kepala Bidang Perikanan, Camat Seyegan dan Kades Margodadi.

Bupati menyempatkan diri melihat-lihat hasil masakan gurame, ada yang di sate, asam manis, bakar dengan aneka rasa. Juga melihat bibit gurame serta gurame seberat 6 kg yang dipelihara selama 10 tahun.

Tampil sebagai juara I gurame milik Sarjuni Barak Margoluwih Seyegan seberat 6,6 kg, juara II gurame milik Mujiyo seberat 4,7 kg, dan juara III milik Harjono seberat 4,4 kg. Sementara untuk lomba masakan ikan gurame juara I dari Warung makan Klasik, juara II Ibu Sarjuni dan juara III Ibu Sri Sumarsih.

Peringatan ulang tahun asosiasi juga ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Sleman kemudian diserahkan kepada ketua asosiasi Subandi dan pembagian hadiah lomba.

Menurut Subandi, Ketua Asosiasi Gurame Sejahtera, organisasi ini berdiri sejak 17 April 2012 awalnya hanya 29 anggota namun saat ini sudah mencapai 136 anggota yang dibagi dalam 4 segmen yakni pemijahan, pembibitan sebesar silet, pembibitan sebesar tapel, dan pembesaran.

Untuk segmen I ada 22 anggota dengan 93 kolam dan indukan 505 paket (satu paket 1 jantan 4 betina), dan produksi telur . Segmen 2 dengan 25 anggota memiliki 90 kolam dan bibit mencapai ekor. Segmen 3 anggoat 7 orang dengan 27 kolam dan bibit ikan dan segmen 4 dengan 18 anggota memiliki 90 kolam dan ikan konsumsi yang ada 9,5 ton. Untuk tahun 2013 produksi telur mencapai 26 juta telur dengan 216 indukan.

Bupati Sleman dalam kesempatan ini mengatakan kebutuhan untuk konsumsi ikan gurame makin lama makin meningkat dan saat ini belum dapat disuply dari luar daerah.

Namun dengan semangat dan kerja keras petani Sleman, Bupati mengaku optimis bahwa suatu saat nanti, kebutuhan konsumsi gurame Sleman dapat disuply dari petani Sleman sendiri.




Bupati Lepas Kontingen Porwada Sleman

Sleman – Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI melepas kontingen atlet Porwada Sleman yang akan bertanding dalam Porwada DIY pada tanggal 21 – 27 April 2014. Pelepasan kontingen yang ditandai dengan penyerahan jaket dan panji-panji Sleman berlangsung di Aula Lantai III Pemkab Sleman, Senin (21/4).

Hadir dalam pelepasan kontingan Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu SS MHum, Ketua DPRD Sleman Koeswanto dan dari KONI Sleman.

“Kami juga menyambut baik kekompakan dari kontingen Porwada Sleman dalam menghadapi Porwada DIY. Untuk itu kami minta atlet Porwada Sleman yang juga membawa nama Kabupaten Sleman bisa bermain maksimal dan penuh semangat. Sehingga gelar juara umum yang dipegang atlet Porwada Sleman bisa dipertahankan,” kata Sri Purnomo.

Ia juga berharap kesempatan pertandingan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, di tengah-tengah kesibukan para wartawan dalam menjalankan tugasnya sebagai jurnalis sekaligus sebagai atlet yang bisa meraih prestasi di bidang olahraga.

Ketua Kontingen Porwada Sleman, Hasto Sutadi, mengatakan atlet Porwada dari Kabupaten Sleman berjumlah sekitar 60 atlet. Kontingen Porwada Sleman akan mengikuti 10 cabang olahraga (cabor) di antaranya sepakbola, futsal, bulutangkis, voly, catur, tenis, tenis meja, atletik, brige dan bilyar.




Penurunan Tingkat Kemiskinan Di Sleman Belum Merata

Sleman – Tingkat kemiskinan Kabupaten Sleman pada 2013 tercatat menurun dari 15,85 persen menjadi 13,89 persen. Namun, penurunan kemiskinan tersebut belum merata di tingkat kecamatan.

Penurunan kemiskinan di Kecamatan Cangkringan tercatat paling signifikan dibandingkan kecamatan lain. Tingkat kemiskinan Cangkringan menurun dari 47,48 persen menjadi 21,42 persen.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Penanganan Kemiskinan Badan KB, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemberdayaan Perempuan Sleman, Sigit Endarto, di tempat kerjanya, Senin (21/4).

Sigit Endarto mengungkapkan penurunan kemiskinan signifikan di Cangkringan lebih disebabkan oleh program pemulihan pasca erupsi Gunung Merapi.

“Untuk tingkat kemiskinan  2012, data yang dipakai tahun 2011 saat Cangkringan baru menjadi korban erupsi Merapi, sementara tingkat kemiskinan 2013 mengambil data 2012 yang sudah pulih,” ungkapnya.

Tingkat kemiskinan di kecamatan lain yang relatif tidak terkena dampak bencana hanya turun paling tinggi di level 5,61 persen. Tingkat kemiskinan tersebut dimiliki Kecamatan Sleman yang pada 2012 mencatat kemiskinan 24,92 persen.

Kemudian di bawah angka tersebut, Kecamatan Ngemplak mencatat penurunan tingkat kemiskinan 5,17 persen dari 14,76 persen menjadi 9,59 persen.

Sementara itu, penurunan tingkat kemiskinan yang paling rendah dicatat Kecamatan Depok. Tingkat kemiskinan Depok turun 0,27 persen menjadi 4,08 persen pada 2013. Jumlah keluarga miskin di Depok bertambah dari KK menjadi 1572 KK. Penambahan itu seiring dengan penambahan jumlah penduduk dari KK menjadi KK.

Sigit mengakui penurunan tingkat kemiskinan bervariasi karena menurunkan kemiskinan tidak mudah. Dia menilai peningkatan kesejahteraan melibatkan banyak faktor selain kebutuhan dasar. Faktor tersebut antara lain pendidikan, kesehatan hingga lapangan pekerjaan.




Penguatan Kelembagaan TPK Untuk Turunkan Angka Kemiskinan Di Sleman

Sleman – Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu mengatakan, Pemkab Sleman menguatkan kelembagaan Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) untuk lebih menekan angka kemiskinan,  dengan mengucurkan dana Rp10 juta selama setahun untuk TPK tingkat kecamatan, dan  masing-masing menerima Rp3 juta dan Rp1,2 juta untuk  tingkat desa dan padukuhan.

Menurutnya, dana penanggulangan kemiskinan di Sleman juga ditambah dari anggaran Pagu Indikatif Usulan Kecamatan (PIK).

“Tahun ini, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mengucurkan dana Rp19,86 miliar untuk pendampingan program PNPM yang bertujuan menurunkan angka kemiskinan,” kata Yuni Satia saat menerima tim penilai UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) DIY, Kamis (17/4), di Bokesan, Sindumartani, Ngaglik.

Dikatakan, pendataan tingkat kemiskinan pada 2013 memakai indikator yang berbeda dari 2012. Pendataan tingkat kemiskinan pada 2013 menggunakan basis rumah tangga untuk menyamakan pendataan Badan Pusat Statistik (BPS).

Sementara, pendataan 2012 masih menggunakan indikator yang diatur dalam peraturan Bupati no 21 tahun 2008. Perbedaan indikator tersebut menghasilkan angka kemiskinan yang berbeda.

Diungkapkan, untuk menurunkan kembali angka kemiskinan, Pemkab Sleman juga membuat profil kemiskinan hingga tingkat rumah tangga. Profil kemiskinan akan menjadi dasar bagi TPK untuk membuat kegiatan dan kerjasama dengan pihak luar.




KPU Sleman Plenokan Hasil Rekapitulasi Pemilu

Sleman– Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten tahun 2014, di Aula Bappeda Kabupaten Sleman pada hari  Sabtu dan Minggu (19-20/4).

Pleno pada  hari pertama, ada 3 daerah pemilihan (Dapil) yang direkapitulasi, yakni Dapil 1, Dapil 2 dan Dapil 2. Dapil 1 meliputi Kecamatan Sleman, Tempel dan Turi. Dapil 2 meliputi Kecamatan Ngaglik, Pakem dan Cangkringan. Sedangkan Dapil 3 untuk Kecamatan Prambanan, Kalasan dan Ngemplak.

Sedang pada hari Minggu (20/4), rekapitulasi untuk Dapil 4, Dapil 5 dan Dapil 6. Dapil 4 meliputi Kecamatan Depok dan Berbah. Dapil 5 meliputi Kecamatan Gamping dan Mlati. Terakhir Dapil 6 meliputi Kecamatan Godean, Moyudan, Minggir dan Seyegan.

Sementara Ketua KPU Sleman, Ahmad Shidqi mengungkapkan, rekapitulasi ini bukan untuk menentukan siapa saja yang akan menjadi anggota DPRD Kabupaten periode 2014-2019. Tapi untuk mencocokkan jumlah suara dari PPK.

 “Penetapan caleg terpilih dilakukan setelah proses rekapitulasi di tingkat pusat selesai,” kata Ahmad.