Tahun 2014, Sleman Implementasikan SiMaya

Sleman – Pemkab Sleman menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan teknis bagi admin dan pengguna aplikasi SiMaya selama dua hari, Rabu hingga Kamis,  23-24 April 2014. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama Pemkab Sleman dengan Direktorat E-Goverment Kementerian Kominfo RI.

Acara yang  diselenggarakan di aula lantai 3 kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman ini dibuka oleh Sekretaris Daerah, dr. Sunartono, dan diikuti oleh 120 peserta dari seluruh SKPD di lingkungan Pemkab Sleman.

Sunartono mengatakan, penyelenggaraan acara pelatihan dan bimtek ini terkait dengan rencana Pemkab Sleman untuk mengimplementasikan SiMaya mulai tahun 2014 ini. Dengan penerapan SiMaya ini, maka aparatur di lingkungan Pemkab Sleman harus siap dengan teknologi dan digitalisasi.

 Oleh karena itu, para peserta bimtek diharapkan mampu menguasai operasional aplikasi SiMaya sehingga dapat menerapkannya di SKPD masing-masing.

SiMaya adalah aplikasi administrasi perkantoran maya dengan digitalisasi kegiatan perkantoran konvensional yang selama ini digunakan. Aplikasi SiMaya dan dapat diakses dari manapun dan kapanpun.

Penerapan SiMaya diharapkan dapat mendukung kinerja organisasi di lingkungan Pemkab Sleman, meningkatkan efisiensi waktu dan menghemat biaya bagi SKPD. Kepada tim dari Direktorat E-Government, Sunartono menyatakan dukungan dan komitmennya untuk menerapkan dengan baik SiMaya di Kabupaten Sleman.




Hasil Penghitungan Suara Pileg 2014 Kabupaten Sleman

Sleman, InfoPublik – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memimpin perolehan suara di wilayah Kabupaten Sleman, baik pada pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten, DPRD Provinsi, maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Hasil tersebut dapat diketahui berdasarkan pemantauan rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman, Senin (21/4) lalu.

PDIP selalu mendapatkan suara terbanyak di setiap daerah pemilihan. Di DPRD kabupaten, partai berlambang banteng tersebut meraih suara, sementara di tingkat provinsi, mereka memimpin dengan perolehan suara. Kemudian pada pemilihan anggota DPR RI, PDIP mendapat dukungan dari pemilih.

DPC PDIP Sleman cukup merasa bangga dengan kemenangan yang diperolehnya. Ketua DPC PDIP Sleman, Rendradi Suprihandoko SH MHum bahkan telah mengungkapkan bahwa 12 kursi sudah pasti diduduki kadernya di DPRD kabupaten dan 2 kursi di DPRD Provinsi. “Kami masih memiliki pemilih ideologis,” katanya.

Di bawah PDIP, Partai Amanat Nasional (PAN) masih patut diperhitungkan.  PAN memperoleh suara pada pemilihan anggota DPRD kabupaten, sementara di tingkat propinsi mereka mampu meraih suara.

“Di DPRD Sleman kami mendapat 6 kursi,” kata Ir Rohman Agus Sukamta, Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PAN Sleman. Pada pemilihan anggota DPR RI, PAN meraih suara.

“Partai yang masuk lima besar di antaranya PDIP, PAN, Gerindra, Golkar, dan PKS,” kata Ketua KPUD Sleman, Ahmad Shidqi. “Kalau untuk siapa caleg (calon legislatif) yang lolos, kami belum bisa memberikan secara rinci,” katanya.

Pada pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mutlak memimpin. Di Sleman, Hemas meraih suara. Jumlah tersebut jauh  dibandingkan perolehan calon anggota DPD RI di urutan kedua, Hafidh Asrom, yang mendapat suara.




Desa Wisata Gabugan Tawarkan Wisata Alam Pedesaan

Sleman – Desa Wisata Gabugan adalah sebuah wisata pedesaan yang terletak di Kecamatan Turi Sleman di bawah kaki Gunung Merapi dengan nuansa kehidupan masyarakat desa yang masih kental menjunjung nilai tradisi masyarakat Jawa.

Desa wisata Gabugan memberikan suasana rekreasi yang berbeda dari wisata pada umumnya, sehingga pengunjung benar-benar merasakan kehidupan di alam pedesaan yang nyaman, sejuk, panorama alam pegunungan dan berbaur dengan kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Desa wisata Gabugan terletak di antara obyek wisata Borobudur dan Prambanan, dari pusat Kota Jogja sekitar 17 km ke arah utara atau ke arah agro wisata Salak Turi. Dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota,” kata Sujatmiko Tri Atmojo, Ketua Pengurus Desa Wisata Gabugan Turi Sleman, Rabu (23/4).

Menurut Sujatmiko, ada beberapa fasilitas di Desa Wisata Gabugan di antaranya, Pendopo, yaitu bangunan dengan arsitektur Jawa berbentuk Joglo Sinom, memiliki daya tampung 150 orang. Bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, dapat juga digunakan sebagai tempat meeting, pertemuan keluarga, gathering perusahaan, hajatan maupun acara-acara yang lain.

Tersedia pula sekitar 60 rumah/homestay (penginapan) sebagai alternatif akomodasi saat liburan, dengan daya tampung 250 hingga 300 orang.  Di sini wisatawan dapat berbaur dengan masyarakat.

Ada pula perkebunan salak, yang merupakan wahana belajar bagi pengunjung untuk lebih mengenal berbagai jenis salak dan cara budidayanya. Salak Gading Ayu merupakan salak varietas lokal asli Desa Wisata Gabugan yang pada masa lalu digunakan sebagai buah pisowanan bagi raja.

Potensi lainnya di Desa Wisata Gabugan adalah pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya. Bidang pertanian, kegiatan ini sangat cocok sebagai wisata studi, dimana pengunjung akan berkenalan langsung dengan alam untuk mempelajari cara bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan, pemanfaatan lahan sampai dengan pemetikan hasil pertanian.

“Untuk perikanan, sangat pas bagi Anda yang jenuh dengan aktifitas sehari-hari. Memancing, menangkap ikan, menikmati hasil tangkapan adalah paket yang kami tawarkan,” kata Sujatmiko.

Di Desa Wisata Gabungan ada peternakan, dengan mengenalkan jiwa wirausaha beternak puyuh.  Di sini diperkenalkan mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan pemanfaat limbah ternak.

Berbagai kesenian dan ketrampilan yang masih dilestarikan masyarakat desa, yaitu karawitan, jathilan, dolanan anak, membatik, janur dan handy craft (miniatur pohon salak). Pengunjung dapat berinteraksi langsung untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut.

Kegiatan tracking atau lintas desa bisa untuk menikmati suasana alam pedesaan dengan dipandu oleh pemandu lokal menelusuri perkampungan, areal persawahan dan kebun, sungai dengan durasi 1 sampai 1,5 jam.

Kuliner (makanan dan ninuman tradisional), menyuguhkan berbagai macam makanan tradisional thiwul, slondok, mangut lele, sego megono dan berbagai olahan salak diantaranya dodol salak, keripik salak, manisan salak, dan wedang salak.

Masyarakat Gabugan masih menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan. Merti bumi (dua tahun sekali), Kenduri (hari-hari besar), Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Mitoni (tujuh bulan kehamilan pertama), Selapanan (bayi usia 35 hari), Midodaren (malam pernikahan), dan Tahlil.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tersedia taman bacaan masyarakat (perpustakaan), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan posyandu bagi balita setiap bulan.




Desa Wisata Gabugan Tawarkan Wisata Alam Pedesaan

Sleman – Desa Wisata Gabugan adalah sebuah wisata pedesaan yang terletak di Kecamatan Turi Sleman di bawah kaki Gunung Merapi dengan nuansa kehidupan masyarakat desa yang masih kental menjunjung nilai tradisi masyarakat Jawa.

Desa wisata Gabugan memberikan suasana rekreasi yang berbeda dari wisata pada umumnya, sehingga pengunjung benar-benar merasakan kehidupan di alam pedesaan yang nyaman, sejuk, panorama alam pegunungan dan berbaur dengan kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Desa wisata Gabugan terletak di antara obyek wisata Borobudur dan Prambanan, dari pusat Kota Jogja sekitar 17 km ke arah utara atau ke arah agro wisata Salak Turi. Dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota,” kata Sujatmiko Tri Atmojo, Ketua Pengurus Desa Wisata Gabugan Turi Sleman, Rabu (23/4).

Menurut Sujatmiko, ada beberapa fasilitas di Desa Wisata Gabugan di antaranya, Pendopo, yaitu bangunan dengan arsitektur Jawa berbentuk Joglo Sinom, memiliki daya tampung 150 orang. Bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, dapat juga digunakan sebagai tempat meeting, pertemuan keluarga, gathering perusahaan, hajatan maupun acara-acara yang lain.

Tersedia pula sekitar 60 rumah/homestay (penginapan) sebagai alternatif akomodasi saat liburan, dengan daya tampung 250 hingga 300 orang.  Di sini wisatawan dapat berbaur dengan masyarakat.

Ada pula perkebunan salak, yang merupakan wahana belajar bagi pengunjung untuk lebih mengenal berbagai jenis salak dan cara budidayanya. Salak Gading Ayu merupakan salak varietas lokal asli Desa Wisata Gabugan yang pada masa lalu digunakan sebagai buah pisowanan bagi raja.

Potensi lainnya di Desa Wisata Gabugan adalah pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya. Bidang pertanian, kegiatan ini sangat cocok sebagai wisata studi, dimana pengunjung akan berkenalan langsung dengan alam untuk mempelajari cara bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan, pemanfaatan lahan sampai dengan pemetikan hasil pertanian.

“Untuk perikanan, sangat pas bagi Anda yang jenuh dengan aktifitas sehari-hari. Memancing, menangkap ikan, menikmati hasil tangkapan adalah paket yang kami tawarkan,” kata Sujatmiko.

Di Desa Wisata Gabungan ada peternakan, dengan mengenalkan jiwa wirausaha beternak puyuh.  Di sini diperkenalkan mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan pemanfaat limbah ternak.

Berbagai kesenian dan ketrampilan yang masih dilestarikan masyarakat desa, yaitu karawitan, jathilan, dolanan anak, membatik, janur dan handy craft (miniatur pohon salak). Pengunjung dapat berinteraksi langsung untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut.

Kegiatan tracking atau lintas desa bisa untuk menikmati suasana alam pedesaan dengan dipandu oleh pemandu lokal menelusuri perkampungan, areal persawahan dan kebun, sungai dengan durasi 1 sampai 1,5 jam.

Kuliner (makanan dan ninuman tradisional), menyuguhkan berbagai macam makanan tradisional thiwul, slondok, mangut lele, sego megono dan berbagai olahan salak diantaranya dodol salak, keripik salak, manisan salak, dan wedang salak.

Masyarakat Gabugan masih menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan. Merti bumi (dua tahun sekali), Kenduri (hari-hari besar), Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Mitoni (tujuh bulan kehamilan pertama), Selapanan (bayi usia 35 hari), Midodaren (malam pernikahan), dan Tahlil.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tersedia taman bacaan masyarakat (perpustakaan), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan posyandu bagi balita setiap bulan.