Lantik Pejabat, Bupati Minta Peningkatan Kinerja

Sleman, InfoPublik – Bupati Sri Purnomo meminta Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) yang baru, mampu membenahi, meningkatkan pelayanan dan mebina UKM binaan di Kabupaten Sleman.

Selain itu Sri Purnomo meminta  Kepala Disperindagkop meningkatkan kontrol kualitas produk-produk yang dihasilkan Kabupaten Sleman serta melakukan inovasi produk sehingga produk-produk agar dapat bersaing, terlebih pada  tahun 2015, akan menghadapi penerapan Era Perdagangan Bebas ASEAN.

Bupati Sleman menyampaikan hal itu pada acara  pelantikan pejabat eselon II, III, dan IV di lingkungan pemerintah Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas,  Kamis (24/4) kemarin.

Sebanyak 49 pejabat yang dilantik, terdiri dari dua pejabat eselon IIB,  lima pejabat eselon IIIA, 14 orang pejabat eselon IIIB, 23 orang pejabat eselon IVA, dan empat orang eselon pejabat eselon IVB.

Pada kesempatan itu buapti mengatakan, keberadaan UKM dan usaha ekonomi kreatif yang begitu berkembang pesat di Sleman, diperlukan pendataan dan juga penataan yang lebih baik. Menurutnya, keberadaannya merupakan sarana penggerak roda perekonomian masyarakat.

“Disperindagkop juga harus mampu mengembangkan jejaring  pasar dan kerjasama dengan berbagai institusi atau lembaga yang memiliki kepedulian dengan eksistensi produk lokal dan  pasar tradisional,” katanya.

Sri Purnomo juga mengimbau Kepala Dinas Pendapatan yang baru untuk senantiasa berkoordinasi  dan bersinergi dengan SKPD lainnya didalam melakukan penarikan retribusi dan pajaknya, agar upaya penataan, penegakan aturan dan peningkatan pendapatan tidak  menimbulkan permasalahan baru, terutama dalam  pegendaliannya.

Sri Purnomo mencontohkan, para PKL yang berada di luar lokasi yang legal ketika ditertibkan seringkali merasa sudah berada di areal yang berijin, karena merasa  telah membayar retribusi sampah  setiap harinya.

Dua pejabat eselon IIB yang dilantik adalah Drs. Pustopo yang sebelumnya menjabat Sekertaris Dinas Perindustrian dan Koperasi dan Kiswaya, SE, yang sebelumnya menjabat sekertaris Dinas Pendapatan Daerah.  Pustopo dilantik menjadi Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi dan Harda Kiswaya dilantik menjadi Kepala dinas Pendapatan Daerah.




APJI Sleman Siap Perkuat Sektor Pariwisata

Sleman  – Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) Cabang Sleman menyatakan kesiapannya untuk secara total mendukung dan memperkuat pengembangan sektor pariwisata di DIY, khususnya Sleman.

Untuk itu, pihaknya siap untuk bersinergi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.  APJI mengharapkan adanya dukungan fasilitasi dari pemerintah daerah, sehingga dalam perjalanannya dapat seiring sejalan untuk secara bersama-sama memajukan sektor pariwisata.

Hal ini disampaikan Ketua APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 Sri Wahyuni Dewi bersama dengan 15 jajaran pengurusnya saat beraudiensi dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Rabu (23/4) lalu.

Sri Wahyu Dewi menambahkan, jajaran kepengurusan APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 adalah Pelindung Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Dewan Penasehat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Perindagkop, Kepala Dinas Perijinan, dan Kepala Dinas Tenaga Kerja.

Kemudian Ketua Sri Wahyuni Dewi, Sekretaris Herwatie, Wakil Sekretaris Iwan Susanto dan Sri Rudatiningsih, Bendahara Wahyu Purwaningsih, Wakil Bendahara Intan Kusuma dan Dewi Ratnawati.

Untuk operasional organisasi dilengkapi dengan bidang-bidang, di antaranya bidang humas, bidang organisasi, bidang pembinaan daerah, bidang pelayananindustri dan peningkatan kualitas usaha, bidang peningkatan kualitas SDM, bidang insidentil, bidang ekonomi dan kemitraan dan bidang pendidikan dan sosial. Saat ini APJI Cabang Sleman memiliki anggota sebanyak 44 anggota.

Menurut Sri Wahyuni Dewi, pengemasan kuliner yang dilakukan secara profesional diharapkan dapat mendukung keberadaan sektor pariwisata, justru memberikan warna dan kenangan tersendiri bagi wisatawan.

Saat ini, katanya, prospek pengembangan kuliner cukup bagus sehingga melalui sinergitas dengan sektor pariwisata akan dapat berikembang dengan lebih baik lagi yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, mengingat pengurus APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 belum diresmikan, maka pihaknya sekaligus meminta agar dapat diagendakan pengukuhan dan pelantikan oleh jajaran pemerintah daerah.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM yang didampingi oleh Sekretaris Dinas Dra Sri Winarti, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dra Shavitri Nurmala Dewi MA, Kepala Seksi Dokinfo Pariwisata Wasita SS MAP dan jajaran lainnya, mengungkapkan bahwa jasa boga dan pariwisata merupakan komponen yang saling memperkuat satu sama lain.

Peluang pengembangan jasa boga dan kuliner sangat terbuka luas terlebih lagi apabila dikaitkan dengan sektor pariwisata. Oleh karenanya diharapkan komunitas jasa boga yang tergabung komunitas APJI agar dapat meningkatkan kreatifitas dalam pengembangannya.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan potensi bahan-bahan lokal yang dikemas dengan menarik dan berkualitas tinggi. Sleman memiliki potensi makanan tradisional yang cukup besar sehingga apabila dikemas secara profesional tentu akan memiliki nilai jual yang tinggi, memiliki kenangan dan menjadikan daya dukung terhadap sektor pariwisata.




KUB Sleman Sajikan Wisata Kuliner Kopi Merapi

Sleman – Kelompok Usaha Bersama “Kebun Makmur” di Dusun Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merintis usaha wisata kuliner yang menyajikan kopi khas lereng Gunung Merapi.

“Kedai kopi ini mulai beroperasi sejak Februari 2012, dan buka dari pukul hingga pukul WIB untuk hari-hari biasa, sedangkan pada malam Minggu bisa buka hingga pukul WIB,” kata Ketua KUB `Kebun Makmur` Samijo., belum lama ini.

Ia mengatakan, menu yang ditawarkan bervariasi, mulai kopi tubruk, kopi jahe, hingga kopi susu segar.

“Untuk kebutuhan susu sapi segar, KUB `Kebun Makmur` bekerja sama dengan Koperasi Susu `Sarono Makmur` Pakem. Tidak hanya memproduksi dan membuka kedai, kami juga membuka wisata kuliner dan pengolahan kopi tradisional,” katanya.

Menurut dia, meskipun dilanda erupsi Gunung Merapi pada 2010, namun simpanan kopi yang berada di Kebun Sawungan sebanyak dua ton masih utuh, hanya kopi yang berada di Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, dan peralatannya yang terbakar.

“Simpanan kopi dua ton ini yang sekarang diolah menjadi kopi bubuk, karena kopi yang masih segar harus mengalami masa penyimpanan selama dua hingga tiga tahun untuk menghilangkan rasa `langu`,” katanya.

Samijo juga mengatakan saat ini luas kebun kopi di Kabupaten Sleman 200 hektar, dan yang dapat dipanen baru 115 hektare, karena tanaman yang lain masih muda, dan belum berproduksi. Sedangkan rata-rata produksi 3,4 kwintal wose kering per
hektar.

Produksi kopi bubuk yang dihasilkan KUB `Kebun Makmur` mencapai satu kwintal per bulan. Kopi bubuk ini sebagian merupakan pesanan kafe-kafe yang ada di Jogja dan Bantul, sedangkan sisanya adalah untuk toko oleh-oleh.

Samijo yang memperoleh pengetahuan pengolahan kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember ini berencana memasarkan kedai kopinya melalui biro-biro wisata.

“Kami berharap usaha kopi ini terus berkembang dengan adanya produksi pabrikan, sehingga kesejahteraan petani kopi di Sleman semakin meningkat,” katanya.




Pemkab Sleman Alokasikan Rp 1,137 Miliar Untuk Pugar 108 Rumah Tak Layak Huni

Sleman – Berdasarkan data 2013, sebanyak ribuan rumah atau tepatnya rumah di Kabupaten Sleman dianggap tidak layak huni. Namun demikian anggaran yang ada belum cukup untuk melakukan renovasi seluruhnya.

“Ini masih akan divalidasi lagi karena kadang ada kegiatan bantuan dari pihak swasta dan CSR,” ungkap Jenu Santosa, Kepala Bidang Perumahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Kamis (24/4) kemarin.

Pemilik rumah tidak layak huni bisa mengajukan proposal untuk direnovasi pemerintah dengan persetujuan dari desa dan kecamatan. Sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 1/2013, proposal harus diajukan satu tahun sebelumnya.

Dari pengajuan proposal pada 2012, sebanyak 116 rumah kemudian direnovasi Pemkab Sleman pada 2013. Sementara berdasarkan pengajuan tahun lalu, tahun ini akan ada 108 rumah yang menjadi sasaran program renovasi.

“Anggaran dari APBD sekitar Rp1,137 miliar,” kata Jenu Santosa.

Setiap rumah, maksimal mendapat bantuan senilai Rp11 juta. “Gambaran kasarnya misal atap sudah bocor atau strukturnya yang membahayakan bagi penghuni. Lalu dinding dan bambu atau sudah tembok tapi keadaannya sudah memprihatinkan,” jelas Jenu Santosa.

Ditambahkan, syarat rumah yang dianggap tak layak huni sehingga perlu mendapat bantuan juga dilihat dari sisi kesehatan, penerangan, dan sanitasi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 22/2008, ditargetkan pada 2025 ketersediaan rumah layak huni bagi masyarakat sudah 100 persen layak.

“Ini kan tinggal sepuluh tahun lagi. Kalau ada rumah tidak layak huni, berarti kami harus menuntaskan sekitar rumah per tahun,” ujar Jenu Santosa.

Kendati demikian lanjutnya, target itu dianggap memberatkan, mengingat terbatasnya anggaran yang dimiliki setiap daerah.

“Ini masih akan dibahas lagi, kalau memang ingin begitu, setidaknya ada bantuan dari pusat agar bisa untuk rumah per tahun,” tambahnya.




Bupati Sleman Terima Penghargaan Dari Presiden

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menerima tanda kehormatan Samkaryanugraha Parasamya Purna Karya Nugraha dari Presiden RI. Tanda kehormatan diserahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono bertepatan dengan peringatan hari otonomi daerah ke XVIII 2014 di Istana Negara, Jumat (25/4).

Tanda kehormatan ini diterima Bupati Sleman atas prestasinya selama tiga tahun berturut-turut menjadi yang terbaik di Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Pada malam harinya (Jumat malam) juga diadakan malam apresiasi kinerja pemerintahan daerah serta ramah tamah dengan Wakil Presiden RI Boediono di Hotel Sahid Raya Jakarta.

Usai menerima penghargaan, Sri Purnomo mengatakan bahwa penghargaan dari Presiden ini menunjukkan bukti kesungguhan dalam bekerja secara profesional dan terukur aparat birokrasi/SKPD Pemkab Sleman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sri Purnomo juga menyatakan penghargaan ini juga sebag)ai kado istimewa Hari Jadi Sleman ke-98 tahun 2014 ini.

Ada tiga Kabupaten yang menerima penghargaan sama yakni Kabupaten Sleman, Pacitan dan Jombang. Untuk kota diterima Kota Jogja, Cimahi, Tangerang dan Depok.

“Penghargaan ini memberikan semangat kepada jajaran SKPD untuk terus meningkatkan pelayanan bagi kesejahteraan seluruh  masyarakat Sleman. Penilaian dan pemberian penghargaan ini baru pertama dilaksanakan sejak era reformasi,” tutur Sri Purnomo.