Pawai Andong Hias Meriahkan Puncak Peringatan Hari Kartini Di Sleman

pawai

Sleman – Puncak kegiatan peringatan Hari Kartini ini jatuh pada hari, Sabtu (26/4), secara bersamaan sekolah taman kanak-kanak (TK) di Kabupaten Sleman menyelenggarakan berbagai acara dan kegiatan, seperti bakti sosial, lomba busana adat hingga pawai andong hias.

TK Negeri 1 Sleman menyelenggarakan  lomba keluwesan. Para siswa mengenakan pakaian adat dari beberapa daerah di Indonesia. Tujuannya untuk mengajarkan anak untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam perbedaan, sekaligus menanamkan anak untuk mencintai adat istiadat dan budaya Indonesia.

“Lomba keluwesan dengan pakaian adat nasional, selain mengajarkan anak untuk percara diri, cara ini akan menanamkan kecintaan terhadap seni budaya Indonesia,” ungkap Waldjito SH, Ketua Panita Peringatan Hari Kartini TK Negeri 1 Sleman di sela-sela lomba.

Ada setidaknya 200 siswa dari tujuh kelas TK Negeri 1 Sleman unjuk kebolehan. Di hadapan dewan juri, wali siswa dan penonton mereka beraksi untuk meraih juara.

Kegiatan Kartinian yang mengambil tema ‘Dengan Semangat Kartini Kita Tumbuhkan Kepedulian terhadap Sesama’ ini sebelumnya sejak tanggal 21 April lalu telah dilakukan berbagai kegiatan, di antaranya kunjungan ke Panti Cacat Ganda Sayap Ibu di Kalasan Sleman dan Panti Asuhan Bayi Yayasan Gotong Royong di Niten Sewon Bantul.

Dalam bakti sosial tersebut diserahkan bantuan kebutuhan panti maupun bantuan uang santunan.

“Lewat bakti sosial kita juga ingin menumbuhkan jiwa sosial anak didik dan menumbuhkan jiwa sosial. Kegiatan ini akan menjadi bekal anak ketika dewasa nanti,” jelas Waljito.

Sementara itu, TK Karitas, Nandan, Sariharjo, Ngaglik menggelar acara pawai andong hias. Sebanyak 67 siswa mengenakan berbagai macam busana adat nusantara ikut serta berpawai menaiki andong.

Menurut Kepala Sekolah TK Karitas, Yustina Sulistyowati, , pawai andong hias ini bertujuan untuk mengenalkan sekaligus melestarikan kendaraan tradisional andong atau kereta kuda kepada anak-anak.

“Dalam usia mereka, anak-anak akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan dengan gembira dan unsur bermain. Pawai andong hias adalah upaya mengenalkan aneka ragam budaya seperti pakaian adat dan kendaraan tradisional kepada anak,” tuturnya.

Sebanyak 14 andong yang telah dihias dengan balon dan kertas pita warna-warni berpawai menempuh rute sepanjang 5km. Satu andong dinaiki lima orang penumpang cilik bersama pendamping guru atau orang tuanya. Para peserta tampak bergembira dan menikmati perjalanan naik andong menyusuri jalan protokol hingga pedesaan.

Meski dikawal mobil polisi, rombongan pawai andong hias sempat membuat macet ruas jalan Jalan Monjali. Namun demikian pawai andong hias berjalan dengan lancar dan meriah




30 Finalis Jalani Karantina Pembekalan Dimas Diajeng

 Sleman – Setelah terpilih menjadi 30 finalis Dimas Diajeng Kabupaten Sleman 2014, para peserta kemudian mengikuti rangkaian kegiatan, di antaranya masa pembekalan dan karantina, untuk membentuk mental yang kuat serta mengajarkan finalis untuk berdisiplin membagi waktu.

 “Pembekalan tersebut, dilaksanakan selama satu bulan dari bulan April hingga Mei 2014,” kata Ketua Panitia Pemilihan Dimas Diajeng Sleman (PDDS) 2014, Dimas Tio, Sabtu (26/4).

Para finalis yang terdiri 15 Dimas dan 15 Diajeng itu diminta menghasilkan event pariwisata guna meningkatkan jumlah pengunjung dan memperkenalkan lokasi pariwisata di Sleman.

Dikatakan Dimas Tio, mereka dibagi tiga kelompok dan harus membuat event dengan modal nol rupiah. Namun program ini akan dilaksanakan pada 9-11 Mei 2014. Adapun ketiga program tersebut yakni Jejag Tirto, Gowes Go Fun Go Smart dan Sleman Temple Run.

Untuk masa karantina diadakan 13-16 Mei di Savita Inn Hotel Ngaglik Sleman. Sedangkan Malam Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014 akan dilaksanakan di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga pada 16 Mei 2014.

Sementara Kabid Pemasaran dan Pariwisata Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Dra Nur Hadiyati menjelaskan bahwa PDDS 2014 merupakan kerjasama antara Ikatan Dimas Diajeng Sleman dengan Disbudpar Sleman.

Harapannya, pemuda dan pemudi Sleman dapat menjadi agen promosi pariwisata di Sleman dan lebih mengenal budaya di Sleman. “Yang terpenting, Dimas Diajeng Sleman ini bisa membawa nama baik dan potensi Sleman ke ranah nasional,” katanya.




Setiap Tahun Satgas Anti Narkoba Di Sleman Selalu Dievaluasi

Sleman – Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu SS Mhum mengatakan setiap tahun sekali  Satgas anti narkoba di Kabupaten  Sleman menjalani evaluasi. Dan tahap awal  evaluasi dilaksanakan  di tiga dusun yang terletak di wilayah Kalasan, Berbah, dan Depok.

“Tahun ini evaluasi satgas dilaksanakan di tingkat dusun, sekaligus mendorong desa yang sudah punya satgas desa untuk membentuk satgas dusun,” kata Yuni Satia Rahayu, Sabtu (26/4).

Menurut  Yuni,  semakin banyak orang yang terlibat dalam kampanye antinarkoba, perlindungan terhadap orang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba juga akan lebih baik.

Berbagai usaha yang selama ini dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman ternyata dianggap tidak cukup ampuh untuk menanggulangi problem penyalahgunaan narkoba.

“Warga harus membantu penolakan terhadap narkoba. Pengawasan terhadap pengedar juga akan semakin ketat karena dibantu warga,” kata Yuni.

Gerakan antinarkoba di kalangan masyarakat, dinilai justru mengambil peran paling penting.  Apalagi Sleman ini wilayah pendidikan. Banyak yang datang untuk belajar dan mereka itu target peredaran adanya pengawasan masyarakat, pencegahan maupun penanganan kasus terkait narkoba diharapkan menjadi lebih maksimal.

Sementara itu Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman Drs Kuntandi mengatakan, adanya kelompok masyarakat peduli narkoba bertujuan memproteksi wilayah tersebut dari ancaman narkoba. Kader dibekali dengan pemahaman tentang narkoba sehingga sangat membantu pemerintah menciptakan masyarakat bersih narkoba.

Menurut Kuntandi data terakhir menyebutkan prevalensi pengguna narkoba di Sleman mencapai 2,8%. Dominasinya masih pada kalangan pelajar dan mahasiswa. Dikatakan pula, kelompok peduli narkoba baik ditingkat desa maupun dusun efektif membantu kerja pemerintah dalam penanganan kasus narkoba.

Dari 86 desa di Sleman, hanya 18 desa yang telah memiliki Satuan Petugas (Satgas) Antinarkoba. Sementara di tingkat dusun juga baru 17 dusun yang membentuk Satgas.




Setiap Tahun Satgas Anti Narkoba Di Sleman Selalu Dievaluasi

Sleman – Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu SS Mhum mengatakan setiap tahun sekali  Satgas anti narkoba di Kabupaten  Sleman menjalani evaluasi. Dan tahap awal  evaluasi dilaksanakan  di tiga dusun yang terletak di wilayah Kalasan, Berbah, dan Depok.

“Tahun ini evaluasi satgas dilaksanakan di tingkat dusun, sekaligus mendorong desa yang sudah punya satgas desa untuk membentuk satgas dusun,” kata Yuni Satia Rahayu, Sabtu (26/4).

Menurut  Yuni,  semakin banyak orang yang terlibat dalam kampanye antinarkoba, perlindungan terhadap orang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba juga akan lebih baik.

Berbagai usaha yang selama ini dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman ternyata dianggap tidak cukup ampuh untuk menanggulangi problem penyalahgunaan narkoba.

“Warga harus membantu penolakan terhadap narkoba. Pengawasan terhadap pengedar juga akan semakin ketat karena dibantu warga,” kata Yuni.

Gerakan antinarkoba di kalangan masyarakat, dinilai justru mengambil peran paling penting.  Apalagi Sleman ini wilayah pendidikan. Banyak yang datang untuk belajar dan mereka itu target peredaran adanya pengawasan masyarakat, pencegahan maupun penanganan kasus terkait narkoba diharapkan menjadi lebih maksimal.

Sementara itu Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman Drs Kuntandi mengatakan, adanya kelompok masyarakat peduli narkoba bertujuan memproteksi wilayah tersebut dari ancaman narkoba. Kader dibekali dengan pemahaman tentang narkoba sehingga sangat membantu pemerintah menciptakan masyarakat bersih narkoba.

Menurut Kuntandi data terakhir menyebutkan prevalensi pengguna narkoba di Sleman mencapai 2,8%. Dominasinya masih pada kalangan pelajar dan mahasiswa. Dikatakan pula, kelompok peduli narkoba baik ditingkat desa maupun dusun efektif membantu kerja pemerintah dalam penanganan kasus narkoba.

Dari 86 desa di Sleman, hanya 18 desa yang telah memiliki Satuan Petugas (Satgas) Antinarkoba. Sementara di tingkat dusun juga baru 17 dusun yang membentuk Satgas.