14.590 Siswa SD Di Sleman Ikuti Ujian Nasional

SLEMAN – Sebanyak siswa SD se Kabupaten Sleman secara serentak mulai mengikuti ujian nasional (UN), Senin (19/5), dan dari jumlah tersebut 486 di antaranya merupakan siswa Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta. UN akan berlangsung selama 3 hari dari 19-21 Mei 2014.

Untuk hari Senin (19/5) mata pelajaran Bahasa Indonesia, hari Selasa (20/5) untuk mata pelajaran  Matematikan, dan hari Rabu (21/5) untuk mata pelajaran IPA, sementara hari Kamis (22/5) khusus untuk pendidikan Agama.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Sleman Arif Haryono SH, ketika mendampingi Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI melakukan pantauan UN di sejumlah SD di Kabupaten Sleman, Senin (19/5).

Ikut mendampingi dalam pantauan tersebut antara lain Asekda Bidang Pembangunan Dra Suyamsih, Kepala Bagian Humas Dra Endah SW MPA, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman Drs Lukfi Hamid MAg.

Bupati Sri Purnomo di sela-sela melakukan pantauan di sejumlah SD tersebut menyampaikan bahwa keberhasilan UN dapat diukur dalam dua kriteria, yaitu keberhasilan penyelenggaraan dan keberhasilan hasil UN itu sendiri.

Artinya pelaksanaan UN dapat berhasil apabila dalam pelaksanaannya tidak mengalami hambatan yang berarti, baik dari segi kertas soal, lembar jawaban dan tidak adanya kebocoran dan berjalan sesuai dengan ketentuan. Sementara keberhasilan  yang kedua dapat dilihat dari tingkat kelulusannya peserta UN nanti.

Menurut Sri Purnomo bahwa selama pelaksanaan UN hari pertama tidak dijumpai permasalahan baik lembar soal maupun lembar jawaban, termasuk kualitas kertasnya sudah memenuhi standar. Harapannya agar peserta UN tingkat SD tersebut dapat mengerjakan soal dengan baik, penuh konsentrasi dengan tingkat kelulusannya tinggi baik nilai maupun tingkat kelulusannya.

Saat berdialog dengan siswa SD Sendangharjo Minggir, Bupati Sri Purnomo berharap siswa agar mengerjakan soal UN dengan tenang dan jujur dan nantinya bisa lulus dengan predikat nilai yang baik termasuk bisa lulus 100 %.

Sementara ketika berada di SD Susukan Seyegan, Sri Purnomo mendapat laporan dari Kepala Sekolah Sungkono SPd bahwa ada salah satu ruangan kelas IV terpaksa tidak dipakai akibat kondisi yang tidak memungkinkan karena atapnya sudah rapuh dan membahayakan keamanan siswa bila dipaksa dipakai.

Berkaitan dengan hal tersebut, siswa kelas IV yang menempati ruangan tersebut terpaksa digabung dengan siswa kelas IV  yang lain, kebetulan untuk siswa kelas IV ada dua kelas.

Hingga jumlah siswanya kelas IV menjadi lebih banyak mengingat dua ruangan digabung menjadi satu sehingga tidak sesuai lagi dengan kapasitas siswanya.

Selain itu, di SDN Susukan juga terdapat 2 ruang yang keluasan kelasnya tidak memenuhi standar murid. Menanggapi hal ini Arif Haryono menyampaikan bahwa rehab SD Susukan telah dilakukan sebelum otonomi daerah tahun 2000 lalu dan saat ini kondisinya sudah mulai rusak dan perlu perbaikan.

Melihat hal ini, Sri Purnomo meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga memprioritaskan rehab SD Susukan tersebut agar tidak membahayakan lagi bagi kegiatan belajar mengajar.

Sejumlah sekolah  dasar yang sempat dipantau Bupati antara lain SD Cebongan Mlati di SD tersebut peserta UN sebanyak 72 siswa semuanya dapat mengikuti UN.

Di SD Susukan Seyegan dengan jumlah peserta UN sebanyak 42 siswa semuanya dapat mengikuti UN.

Pantauan berikutnya dilakuakan di SD Balangan I, dan Madrasah Ibtidaiyah NU Margokaton Seyegan jumlah peserta UN hanya 11 siswa dan semuanya dapat mengikuti UN. Sementara di SD Kanisius Minggir jumlah peserta UN ada 30 siswa serta di SD Muhammdiyah Turgenen (Ngijon) peserta UN ada 52 siswa.




Sistem Pengumuman SMA/SMK Diserahkan Ke Sekolah Masing-Masing

Sleman – Pengumuman ujian nasional (UN) SMK/SMA diumumkan Selasa (20/5), bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2014, sementara sistem pengumumannya diserahkan kepada kebijakan sekolah masing-masing.

Yakni, ada yang diumumkan di papan pengumuman sekolah, diundang orangtua siswa, dan ada yang memakai sarana internet.

“Tingkat kelulusan tahun ini untuk SMK lulus 100 % dan untuk SMA ada 1 siswa yang tidak lulus,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sleman Arif Haryono SH di kantornya, Senin (19/5).

Menurut Arif, berdasarkan data yang ada  untuk tahun Ajaran 2013-2014 jumlah peserta ujian SMA  siswa dari 56 sekolah. Untuk ujian nasional tingkat SMK  diikuti siswa dari 54 sekolah.

Sementara itu, peserta yang berkebutuhan khusus seperti tuna netra mendapatkan soal dengan huruf braille. Sebanyak 6 siswa SMA terdata mengerjakan soal dengan huruf braille.

Pelaksanaan untuk SMK,  7 siswa tidak dapat mengikuti UN, dengan keterangan 4 siswa mengundurkan diri dan 3 karena sakit, sementara untuk SMA ada 4  siswa yang tidak dapat mengikuti UN dengan keterangan 3 sakit  dan 1 tanpa keterangan.

Secara terpisah, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengucapkan selamat kepada para siswa yang berhasil lulus UN dan berharap bagi yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semoga dapat diterima ditempat yang diinginkan dan bagi yang mau langsung bekerja semoga dapat diterima ditempat kerja yang diinginkan pula.

Sementara yang mau berwiraswasta harapannya semoga dapat sukses. “Bagi yang tidak lulus jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan mengikuti UN tahun yang akan datang,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo  juga mengimbau kepada para siswa yang lulus untuk tidak meluapkan kegembiraan secara berlebihan, baik dengan corat-coret baju maupun konvoi kendaraan bermotor, yang hanya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Sebaiknya diiisi dengan kegiatan yang positif seperti kegiatan bakti sosial dan lainnya.

Menanggapi imbauan Bupati ini, Arif Haryono mengatakan pihak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Sleman telah memberikan surat edaran kepada Kepala Sekolah dan Polres Sleman. Agar para Kepala Sekolah dapat mengendalikan siswa untuk tidak corat-coret baju seragam, dan sebaiknya bisa dikumpulkan untuk kegiatan bhakti sosial bagi yang membutuhkan.

Kepala Sekolah juga diharapkan dapat mengendalikan siswa untuk tidak melakukan konvoi kendaraan bermotor, namun demikian apabila memang siswa menginginkan adanya konvoi dengan kendaraan bermotor agar mematuhi tata tertib berlalulintas dan pihak sekolah mendampingi.

Serta minta bantuan pihak kepolisian untuk dapat mengawal agar berjalan tertib dan tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan orang lain maupun siswa sendiri.




5.000 Warga Sindumartani Berada Di Daerah Ancaman Lahar Hujan

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan perlu disadari bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan.

Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

“Saat ini terdapat kurang lebih jiwa penduduk Sindumartani yang berada di daerah ancaman lahar hujan,” kata Sri Purnomo, Senin (19/5), saat berlangsungnya gladi lapang penanggulangan bencana .

Menurut Sri Purnomo, gladi lapang penanggulangan bencana menggambarkan bagaimana hiruk pikuknya masyarakat dalam menghadapi bencana lahar dingin dari Gunung Merapi. Dengan melibatkan puluhan relawan dan ratusan masyarakat  melakukan simulasi layaknya terjadi bencana sungguhan.

Suasana simulasi seakan seperti terjadi bencana sungguhan, karena banyak warga yang mengikuti gladi menangis. Beberapa dari mereka saat dijumpai usai simulasi menyampaikan bahwa mereka teringat akan kejadian bencana tahun 2010 yang lalu.

Sebagian dari peserta simulasi mengalami kejadian tersebut secara langsung, bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Dalam simulasi tersebut, banyak kejadian yang menggambarkan kepanikan dan sibuknya masyarakat untuk menyelamatkan diri, bahkan juga menyelamatkan harta benda yang bisa dibawa, termasuk hewan peliharaan.

Ditambahkan Sri Purnomo, gladi lapang memang sudah seharusnya dilaksanakan secara periodik mengingat Gunung Merapi mengalami perubahan perilaku, sehingga kesiapan dan kewaspadaan menjadi hal yang utama dalam menghadapi bencana.

Peran masyarakat dalam mitigasi bencana menjadi sangat penting, karena masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha
pengurangan resiko bencana.

Agar memberikan manfaat yang optimal, rencana mitigasi harus mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat. Hal ini karena kedua aspek tersebut merupakan faktor penentu dalam keberhasilan upaya pengurangan resiko bencana.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa untuk pembangunan jalur evakuasi, BNPB mengalokasikan dana total Rp20,75 miliar untuk Pemkab Sleman yang diperuntukan bagi 4 ruas jalan jalur evakuasi,    dan Sri Purnomo berharap pembangunan ruas jalan tersebut dapat dimulai pengerjaannya pada bulan Juni 2014 dan selesai secepatnya