Semangat Gotong Royong Sebagai Jati Diri Masyarakat

211_20140624024535Sleman – Semangat gotong royong sebagai salah satu jati diri masyarakat Kabupaten Sleman, merupakan kearifan lokal yang menjadi salah satu modal pembangunan yang memiliki peran sangat penting dalam upaya akselerasi pembangunan di wilayah Kabupaten Sleman.

“Kearifan lokal ini tercermin dalam pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong di desa-desa dan segenap pelosok di Kabupaten Sleman,” kata Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dalam pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat XI, Harganas XXI, dan Kesatuan Gerak PKK XLII, di Balai Desa Balecatur Gamping Sleman, Rabu (25/6).

Peran serta aktif masyarakat Sleman dalam berkontribusi terhadap pembangunan di wilayah sangat besar, yang tercermin dari terus meningkatnya swadaya masyarakat.

Nilai penyerapan swadaya masyarakat tahun 2013 yang lalu mencapai Rp 48,59 miliar lebih. Pada tahun 2013 juga telah didistribusikan bantuan aspal sebanyak drum senilai Rp 4,35 miliar lebih. Sedangkan pada tahun 2014 ini, dialokasikan drum untuk memenuhi pengajuan proposal yang diajukan pada taun 2013 yang lalu.

“Saya berharap, stimulan ini dapat mendorong tingkat swadaya dan bergotong royong masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungannya secara mandiri,” kata Sri Purnomo.

Terkait dengan peringatan Hari Keluarga yang ke 21, Pemkab Sleman terus berupaya meningkatkan kualitas keluarga masyarakat Sleman, melalui keterpaduan kebijakan dan pelaksanaan program di berbagai bidang.

Upaya ini berhasil meningkatkan pembangunan dan pelayanan kesehatan untuk mewujudkan capaian kesehatan masyarakat Sleman yang dapat dilihat dari indikator rata-rata usia harapan hidup yang mencapai rata-rata 75,32 tahun, di atas rata-rata provinsi 74 tahun dan nasional 70,6 tahun.

Angka kematian bayi per kelahiran hidup sebesar 4,57 yang lebih baik dibandingkan dengan angka Provinsi sebesar 16 dan angka nasional sebesar 34 per kelahiran hidup.

Pada tahun 2013 angka kematian ibu (AKI) melahirkan  sebesar 63,27 per kelahiran. Sedangkan persentase gizi buruk balita  sebesar 0,45% masih lebih baik dibanding provinsi sebesar 0,68% dan nasional sebesar 4,9%. Berdasarkan registrasi penduduk tahun 2013, pertumbuhan penduduk pada tahun 2013 mencapai 1,30% turun 0,01% dari tahun 2012.

Kondisi tersebut masih terhitung relatif sangat tinggi, dan merupakan tanggungjawab kita bersama untuk mengendalikan jumlah penduduk terutama dari angka kelahiran melalui peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program keluarga berencana.

Sementara itu pada 2012, jumlah warga miskin terdata keluarga atau 15,85 dari total penduduk, sedangkan pada akhir tahun 2013, didata sebanyak keluarga atau 13,89 persen. Dari angka tersebut terdapat penurunan jumlah keluarga miskin sebesar 1,96%.

Bupari Sri Purnomo mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sleman, swasta,  institusi Pendidikan serta instansi pemerintah, BUMN, BUMD bersama-sama meningkatkan keterpaduan, kebersamaan dan kepeduliannya untuk membantu memberdayakan dan mengentaskan keluarga miskin di Kabupaten Sleman.

“Baik itu melalui peningkatan keterampilan, akses permodalan, pendampingan usaha dan juga penguatan mental spiritual,” katanya.

Menyangkut dalam memperingati Hari Kesatuan Gerak PKK. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kita semua mengenai peran keluarga, lebih khususnya peran ibu-ibu, peran perempuan, dalam membangun keluarga yang sehat dan sejahtera.

Bupati Sri Purnomo juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan, kepada para ibu dan kaum perempuan, para penggiat PKK di seluruh wilayah Kabupaten Sleman, yang tanpa lelah dengan penuh semangat dan dedikasi, melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut Sri Purnomo didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Sleman, Ketua DPRD dan Kepala Badan KB juga memberikan berbagai hadiah dan trophy kejuaraan bidang KB, PKK, dan kesehatan.




Upacara Adat Tuk Si Bedug Digelar

Sleman – Upacara  adat Tuk Si Bedug kembali akan diselenggarakan masyarakat Desa Margodadi Seyegan, Sleman, Jumat (27/6) besok di Lapangan Mranggen Margodadi Sleman.

Ketua Panitia, Benny Sujendro kepada wartawan di Sleman, Rabu (25/6), mengatakan, upacara adat Tuk Si Bedug diselenggarakan untuk melestarikan nilai-nilai budaya bangsa yang adiluhung sekaligus sebagai wahana apresiasi dan revitalisasi masyarakat, khususnya generasi muda terhadap seni tradisi dan budaya lokal.

Rangkaian upacara adat Tuk Si Bedug dimulai pada Selasa (24/6), pukul WIB berupa pentas Campursari “Mardi Irama” Margodadi Seyegan, kemudian hari Rabu (25/6) pukul WIB pentas Koes Ploes-an, dan Kamis (26/6), pukul WIB berupa pementasan Wayang Kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Sancoko.

Puncak upacara adat Tuk Si Bedug berupa Kirab Budaya sejauh 3 kilometer pada hari Jumat (27/6), mulai pukul WIB yang melibatkan Bregada Sunan Kalijaga Mranggen Margodadi, Bregada Tambakboyo Ngino Margoagung, Bregada Asem Gede Krapyak Margoagung, Bregada SD Gendengan, Drumband SMK 17 Seyegan, Kelompok Tani dari 16 padukuhan se-Kecamatan Seyegan, Bregada Perangkat Kecamatan dan Desa se Kecamatan Seyegan.

Di pertengahan kirab budaya di Petilasan Sunan Kalijaga di Dusun Grogol Margodadi diselenggarakan upacara pemidangan, dilanjutkan dengan penyebaran udik-udik. Kirab dilanjutkan menuju Lapangan Mranggen Margodadi dan dilanjutkan dengan display peserta kirab.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa upacara adat Tuk Si Bedug telah menjadi kalender event yang sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan wisatawan dari berbagai kalangan.




Bupati Ajak Warga Sukseskan Pilpres

211_20140624022121Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengajak seluruh warga Sleman untuk mensukseskan Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 9 Juli 2014 mendatang. Diharapkan warga Sleman semangat dan antusias mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memberikan suaranya seseuai hati nurani untuk capres-cawapres. Kendati nanti pilihan berbeda, namun warga tetap harus bersatu demi pembangunan Indonesia, khususnya di wilayah Sleman.

“Persatuan dan kerukunan antarwarga harus terus dijaga. Hal itu untuk mendukung proses pembangunan yang bermanfaat bagi warga sendiri. Jangan ada permusuhan, karena itu warga wajib bersatupadu,” kata Sri Purnomo di hadapan puluhan warga Perengkembang, Gamping, Sleman saat meresmikan jembatan Kontheng Asri, Rabu (25/6).

Dengan telah selesainya pembangunan jembatan seluas 7 meter x 3 meter itu, Sri Purnomo sangat mengapresiasi hasil kerja warga. Pembangunan jembatan dan sarana umum lain telah membuktikan persatuan warga Perengkembang sangat tinggi, termasuk semangat untuk membangun wilayahnya patut diacungi jempol. Hal itu terlihat dari dana swadaya masyarakat yang cukup besar.

Harapan ke depan, jembatan ini akan mendukung roda perekonomian dan aktivas warga di Perengkembang. Untuk itu, seluruh warga wajib menjaga dan merawat. Termasuk mempertahankan lingkungan asri dan sejuk ini.

Sementara Kepala Dukuh Perengkembang, Suhadi mengatakan, pembangunan jembatan itu didukung oleh dana gotong – royong  2013 dari Pemkab Sleman sebesar Rp7,6 juta. Sedangkan dana swadaya masyarakat sebanyak Rp31 juta, sehingga total dana yang diserap Rp38,5 juta.




Kepala Desa Di Sleman Diminta Dukung Program KB

Seman, InfoPublik – Rata-rata laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sleman selama lima tahun terakhir mencapai 1,23 persen, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman saat ini masih berupaya menekan angka tersebut.

Pemkab Sleman tetap mengandalikan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Selain Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemberdayaan Perempuan (KBPMPP), Pemkab Sleman juga mengandalkan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di tingkat desa.

“Para Kepala desa di Sleman diharapkan mampu mendukung terlaksananya program KB. Dukungan tersebut dapat berupa perencanaan kegiatan dan anggaran melalui APBDes,” kata Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Dra Sudarningsih MSi di Sleman, Senin (23/6).

Menurut Sudarningsih, demi mencapai kesuksesan program KB, ditambahkan Sudarningsih, para kepala desa di Sleman mendapatkan pelatihan khusus. Mereka kemudian diharapkan mampu merencanakan, mengusulkan, dan melaksanakan kegiatan yang mendukung program KB melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Dikatakan Sudarningsih keterlibatan perangkat desa dalam pengusulan perencanaan kegiatan dan anggaran desa yang mengusung program kependudukan tentunya dapat membantu percepatan program kependudukan dan KB dan pembangunan keluarga KKBPK.

”Program KB yang dicanangkan oleh Pemkab Sleman bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk,” katanya.




Pesanan Kue Wingko Mulai Meningkat Jelang Puasa

211_20140622102655Sleman – Momen puasa Ramadhan dan Lebaran menjadi kesempatan yang menggembirakan bagi pengusaha makanan ringan bahkan sejumlah makanan khas mulai laris dipesan. Tak terkecuali kue wingko yang diproduksi industri rumahan di Perum Puri Indah Jl Godean km 9 Ngentak Margoluwih Seyegan, Sleman.

Saat dikunjungi, Senin (23/6), pengusaha wingko “Kelapa Gading” Ny Rusmiati membenarkan mulai meningkatnya pesanan kue yang berbahan baku kelapa, tepung ketan dan gula pasir ini.

“Pada hari-hari biasa bisa berproduksi hingga biji perhari. Sedangkan hari-hari tertentu seperti menjelang puasa dan lebaran, produksi meningkat dan bisa mencapai biji perhari,” kata Ny Rusmiati di tempat usahanya.

Sedang untuk harga, menurut Ny Rusmiati, tidak dinaikkan. Tiap biji tetap , sedang untuk 1 dos berisi 10 biji dijual dengan harga , sementara dos berisi 50 biji seharga . “Harga ini sama, baik untuk pembeli eceran maupun pembeli grosir (kulakan),” katanya.

Diakui Ny Rusmiati, proses pembuatan wingko membutuhkan waktu cukup lama. Mulai dari kelapa diparut, kemudian di “uleni” dengan tepung ketan gula pasir dan tambah garam, baru adonan dicetak dan dipanggang.

Proses pemarutan sendiri memakan waktu 6 jam, sejak pukul WIB hingga pukul WIB. Pembuatan wingko untuk hari Jumat hingga Minggu bisa dilakukan hingga 2 kali pembuatan tergantung pesanan pembeli.

“Wingko ini bisa bertahan 6-7 hari dan dipasarkan hingga Wonosari, Bantul dan Kulonprogo. Pembeli banyak yang datang kangsung ke Klaci maupun memesan melalui online karena saya juga menjual secara online,” kata Ny Rusmiati.