Sleman – Hujan yang turun ditengah musim kemarau akhir – akhir ini diperkirakan dapat mengakibatkan munculnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman meningkat. Untuk itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman kembali mengingatkan masyarakat Sleman untuk rutin memberantas sarang nyamuk dengan memutus siklus hidup nyamuk sejak dari jentik dan telur.
“Untuk memutus siklus hidup nyamuk tidak sekedar menguras dan menutup tandon air saja dan itu tidak cukup,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes kepada wartawan di Sleman, kemarin.
Menurut Linda bak air jangan hanya dikuras, tapi harus disikat untuk membersihkan telur nyamuk. Kalau cuma dikuras, telurnya masih bisa berkembang setelah diisi air lagi dan dalam dua hari telur sudah menetas menjadi nyamuk. Dikatakan Linda partisipasi masyarakat menjadi penentu utama pemberantasan nyamuk penyebab DBD. Jika mengalami gejala, masyarakat juga diminta aktif segera memeriksakan diri.
“Jika badan kena panas mendadak selama dua hari, warga harus periksa dan darahnya dicek di laboratorium. Jadi kita langsung tahu DBD atau bukan,” kata Linda.
Beberapa kecamatan di Sleman memang diketahui menjadi daerah rawan DBD karena kondisi wilayahnya yang padat penduduk. Perangkat desa dan kecamatan sudah diminta aktif. Linda juga mengingatkan warga sekitar demi efektivitas gerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Imbauan yang kembali disampaikan Dinkes Sleman tersebut terkait adanya peningkatan kewaspadaan DBD akibat cuaca yang tidak menentu beberapa pekan terakhir.
“Kami terus terang khawatir dengan penyakit endemis DBD karena adanya hujan dan cerah beberapa hari. Keadaan ini kondusif untuk perkembangbiakan nyamuk,” tutur Linda.
Berdasarkan catatan yang ada di Dinas Kesehatan tahun 2014 ini sampai tanggal 17 Juli tercatat sudah ada 324 kasus DBD. Dari kasus tersebut 3 korban diantaranya meninggal dunia. “Ketiga korban meninggal karena DBD itu berasal dari Kecamatan Godean dan Berbah,” kata Linda.
Adanya korban meninggal dunia ini lanjut LInda karena pasien tidak melakukan kontrol ke layanan kesehatan setelah diperiksa. Hal itu membuat petugas kesehatan tak bisa berbuat banyak. Tahun sebelumnya, Sleman mencatat 736 kasus DBD dengan 4 korban meninggal dunia.
Hingga kini, 5 kecamatan yang dianggap paling rawan tetap yaitu Kecamatan Gamping, Depok, Godean, Mlati, dan Kalasan. Kasus DBD di Sleman terjadi sepanjang tahun. Puncak kasus biasanya akhir hingga awal tahun.