Menjelang Lebaran Dinas Hubkominfo Beri Kuota Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB)

IMG_5646Sleman – Dinas Hubkominfo membatasi pengujian kendaraan bermotor (PKB) dengan kuota 110 per hari selama menjelang lebaran, Selasa (22/07).

Pada hari biasa rata – rata kendaraan peserta PKB bisa mencapai 90 – 100 kendaran bermotor. Sedangkan, pada hari menjelang lebaran peserta PKB bisa mencapai 110 lebih kendaraan bermotor.

Pengujian kendaraan bermotor dilayani oleh 13 orang petugas dari Dinas Hubkominfo. Proses pengujian kendaraan bermotor meliputi 3 tahapan. Tahap pertama PKB yaitu, Uji Emisi Gas Buang meliputi pengecekan klakson, wiper, lampu depan, lampu belakang, lampu sign dan gas buang. Tahap kedua PKB, Break Tester meliputi pengecekan berat kendaraan, uji kecepatan, kincup roda depan, dan uji efisiensi rem. Tahap ketiga PKB, Uji Suspensi meliputi kedalaman alur ban dan pemeriksaan komponen bagian bawah kendaraan.

Pada libur lebaran nanti, pelayanan pengujian kendaraan bermotor juga diliburkan sejak hari Sabtu tanggal 26 Juli 2014 sampai dengan Senin tanggal 04 Agustus 2014.***




3 Bulan Udang Galah Padi Bisa Dipanen

Sleman – Setelah dipelihara selama 3 bulan oleh petani muda yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Muda Samberembe Candibinangun Pakem, udang galah yang ditebar dilahan Percontohan UGADI (udang galah padi),  28 April 2014 lalu sudah dipanen Rabu (23/7). Panen perdana dilakukan oleh Dirjend   Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, DR Ir Slamet Subiyakto MSi bersama Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam IX, serta Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI.

Setelah dilakukan penimbangan udang galah dan ubinan untuk hasil tanaman padi, diperoleh hasil untuk lahan seluas 800 m2 dengan tebar benur 7000 ekor menghasilkan 1,2 ton udang galah. Sementara untuk produksi padi mencapai 6,6 ton  EKP/ha diatas rata-rata 6,4 s/d 6,5 ton EKP/ha. Produksi udang galah dan peningkatan produksi padi ini menurut Dirjend perlu dicontoh dan dikembangkan di daerah lain secara lebih luas dan menjadi budidaya yang berkelanjutan.

“Program ini terbukti pula dapat menekan hama tanaman serta hama tikus tidak ada dan kotoran ikan menjadi sumber pupuk organik,” kata Slamet Subiyakto. Selain itu karena yang mengelola anak-anak muda maka dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat urbanisasi. Mengingat harga udang galah cukup tinggi mencapai Rp 70 ribu/kg dapat meningkatkan pendapatan petani dengan asumsi hasil panenan padi untuk kebutuhan makan sehari-hari dan hasil udang galah bisa untuk beli motor dan bangun rumah.

Sementara Sri Purnomo mengatakan produksi perikanan Sleman ini telah memberikan kontribusi sebesar 28% dari produksi perikanan DIY yang mencapai 70 ribu ton setiap tahunnya.  Sementara itu kebutuhan produksi ikan di DIY mencapai 70 ribu ton sehingga, DIY mengalami defisit sekitar 20 ribu ton yang harus didatangkan dari luar wilayah DIY.

Oleh karena itu ke depan, usaha budidaya perikanan  dapat menjadi sektor usaha  unggulan di Kabupaten Sleman. Hal ini mengingat potensi usaha perikanan di Sleman cukup besar dan sangat potensial untuk lebih dikembangkan lagi. Budidaya Udang Galah Padi ini, tentu akan semakin meningkatkan kapasitas produksi perikanan menjadikan produk perikanan Sleman semakin beragam.

Jika selama ini, produksi perikanan Sleman didominasi oleh komuditas Nila, Lele dan gurami, kedepan udang galah dapat melengkapi keanekaragaman produk perikanan Sleman. Selain itu, model Udang Galah Padi ini, diharapkan dapat menjawab persoalan yang selama ini dihadapi yakni perikanan dan pertanian tanaman pangan, bagikan dua sisi mata uang. Jika perikanan yang dikembangkan, pasti akan mempengaruhi produktifitas sektor pertanian tanaman pangan.

Namun demikian, model pola budidaya Udang Galah Padi ini, dapat menjawab persoalan tersebut. Dengan model ini, diharapkan antara perikanan ikan dan budidaya tanaman pangan menjadi sinergi. Petani dapat bersama-semama membudidayakan udang sekaligus menanam padi. Keberhasilan ini tentunya dapat semakin memantapkan upaya dalam menguatkan ketahanan pangan di Kabupaten Sleman.  Program UGADI ini juga untuk mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigasi.

Usai panen juga dilanjutkan dengan dialog petani dengan Slamet Subiyakto mengenai permasalahan percontohan UGADI.***




Pasar Lebaran Sindumartani Ngemplak, 200 KK Dapat Sembako Murah

Sleman – Sebanyak 200 KK miskin di Desa Sindumartani Ngemplak mendapatkan paket sembako dengan harga murah. Paket sembako yang dijual dengan harga sangat murah tersebut diberikan bagi KK Miskin agar pada lebaran nanti bisa menikmati hari lebaran layaknya keluarga mampu. 

Dua  ratus paket sembako tersebut terdiri 7 macam barang yaitu beras 2 kg dijual hanya dengan harga Rp ,  sedang harga umum sekitar Rp , roti kaleng dijual dengan harga Rp , di pasaran harganya Rp an, gula pasir 1 kg dijual dengan harga Rp , teh 2 bungkus dijual Rp 2000, kecap 1 botol dijual Rp 1000, sirup dijual Rp 3000 di pasaran mencapai Rp an dan minyak goreng dijual harga Rp 3000.

Mereka yang mendapatkan dan bisa membeli sembako tersebut dari KK miskin yang telah mendapatkan nomor yang diberikan oleh pemerintah desa Sindumartani. Disamping mendapatkan sembako dengan harga murah 200 KK miskin tersebut  juga bisa mendapatkan barang layak pakai dengan harga sangat murah yang terdiri antara lain peralatan dapur, pecah belah juga peralatan olahraga seperti raket.

Selain mendapatkan barang tersebut juga masih mendapatkan bendera merah putih yang diharapkan bisa dipasang didepan rumah masing-masing pada tanggal 14 – 18 Agustus 2014 nanti. Khusus barang layak pakai yang dijual dengan harga sangat murah tersebut dalam sekejap habis dibeli masyarakat.

Pasar lebaran/ pasar murah di Sindumartani tersebut dibuka ketua umum HUT ke 69 Kemerdekaan RI tahun 2014 Drs Mardiyana MSi, yang ditandai dengan penyerahan sembako secara simbolis kepada dua KK miskin.

Sementara  Mardiyana pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pasar lebaran dengan harga muraah tersebut diperuntukkan KK miskin di Desa Sindumartani Ngemplak. Dengan pasar lebaran dengan harga murah tersebut diharapkan masyarakat yang kurang mampu bisa menikmati Hari Raya Idul Fitri nanti yang jatuh tanggal 28 Juli 2014. Lebih lanjut disampaikan bahwa hasil dari penjualan sembako murah tersebut tidak kembali ke kas, namun dibelikan barang lagi untuk dijual kepada keluarga miskin di tempat lain.

Hadir pada kesempatan tersebut Camat Ngemplak Mustain Aminun SH, Kepala Desa Sindumartani.***




Transaksi di Kantor Pegadaian Meningkat

Sleman – Menjelang lebaran, transaksi di kantor Pegadaian cenderung mengalami peningkatan. Transaksi didominasi masyarakat yang hendak menebus barang, dibandingkan yang menggadaikan. Seperti yang terjadi di Kantor Pegadaian Unit Prambanan. Jika biasanya transaksi hanya berkisr Rp 50-60 juta perhari, dalam dua pekan terakhir melonjak menjadi Rp 120 juta. Sedangkan untuk pencairan lebih rendah, yakni Rp 100 juta perhari.
“Keraiaman mulai terasa dalam dua pekan terakhir. Didominasi masyarakat yang menebus barang. Kondisi ini memang selalu terjadi setiap lebaran. Mungkin masyarakat ingin ketika lebaran nanti sudah mengenakan perhiasan,” kata Pengelola Kantor Unit Pegadaian Prambanan Andreas Wratsongko, kemarin.

Sebenarnya untuk jumlah transasi perharinya sulit diprediksi. Namun dalam lebaran, memang didominasi masyarakat yang menebus dibandingkan yang menggadaikan. Nasabah yang menjadi langganan Kantor Unit Pegadaian sendiri, didominasi pedagang dan petani. Mengenai jenis barang yang digadaikan, didominasi logam mulia yang mencapai 70 persen dari total semuanya. Hal serupa juga terjadi di Kantor Pegadaian Cabang Kentungan. Bahkan peningkatan transaksi sudah terjadi sejak awal puasa mencapai 100 persen. Jika dalam bulan Juni, rata-rata nilai transaksi berkisar Rp 150 juta perhari, sekarang meningkat menjadi Rp 200juta per hari.

Jika di Unit Prambanan nasabah didominasi pedagang dan petani, untuk Cabang Kentungan cenderung merata. Bahkan juga ada beberapa mahasiswa. “Mereka rata-rata menitipkan barang ke pegadaian selama ditinggal mudik lebaran. Kami prediksi puncak transaksi terjadi pada H-3 lebaran,” kata Kepala Kantor Cabang Pegadaian Kentungan, Nirawan Hadi.

Peningkatan serupa, juga terjadi di lima kantor unit pegadaian yang ada di wilayahnya yang didominasi nasabah memiliki usaha. Rata-rata mereka menggadaikan barang untuk membayar Tunjangan Hari Raya (THR) karyawan.