Kecamatan di Sleman Tetap Layani Administrasi Kependudukan

Sleman – Kecamatan se-Kabupaten Sleman tetap siap memberikan pelayanan administrasi kependudukan selama waktu cuti bersama Lebaran 2014 untuk memudahkan masyarakat terutama perantau yang mudik. 

“Diharapkan seluruh kecamatan mengatur piket kecamatan agar pelayanan administrasi kependudukan tidak terhenti dan masyarakat perantau yang mudik dapat memanfaatkan waktu liburan untuk mengurus adminstrasi kependudukannya dapat terlayani dengan baik,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, kemarin. Menurut Sri Purnomo, para camat diminta untuk menginformasikan pada pemerintahan desa soal pelayanan administrasi kependudukan selama libur lebaran ini. “Yang jelas selama cuti bersama masyarakat masih dapat terlayani, tentu waktunya juga terbatas tidak seperti kalau jam kerja biasa,” katanya.

Camat Tempel Wildan Solichin mengatakan, selama cuti lebaran 30 Juli hingga 1 Agustus untuk kecamatan tetap memberikan pelayanan sampai pukul WIB dengan sistim piket satu hari rata-rata tujuh orang.

Sementara untuk kecamatan Gamping cuti bersama juga tetap melayani loket pelayanan umum dari pukul hingga WIB dan dilayani dua orang.”Dan untuk desa di Kecamatan Gamping menyesuaikan kecamatan,” kata Camat Gamping, Drs Priyo Handoyo. ***




Fly Over Jombor Mulai Ramai

flay overSleman – Memasuki H+3 Lebaran, Kamis (31/7), arus lalu-lintas di fly over Jombor mulai ramai. Nampak beberapa kendaraan plat nomor Jakarta berderet naik ke jalan layang untuk menuju Magelang atau Purworejo.

Santoso, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Fly Over Jombor menyatakan, rekayasa arus lalin yang diberlakukan di simpang empat tersebut sudah efektif mengurai kemacetan. “Setelah koordinasi dengan berbagai pihak, akhirnya ditentukan pengaturan arus lalu-lintas seperti saat ini. Ternyata, memang efektif mengurai kemacetan,” ujarnya.

Dari pantauan banyak kendaraan ber-plat nomor Jakarta maupun luar daerah yang naik ke fly over Jombor. Sesuai petunjuk rambu-rambu lalu-lintas, kendaraan luar daerah tersebut langsung menuju arah Magelang atau Purworejo sesuai dengan tujuannya.

Bagi kendaraan dari arah Solo yang hendak menuju Magelang atau Purworejo, dapat langsung naik ke fly over. Namun semua kendaraan tetap dihimbau untuk berhati-hati karena lajur di fly over tersebut dibagi dua arah.




Batik Parijoto Salak, Oleh-Oleh Libur Lebaran

3107 SLEMANSleman – Libur Lebaran kali ini banyak dimanfaatkan para pemudik untuk berwisata dan berburu oleh – oleh. Jika ingin mencari oleh-oleh khas Sleman yang berbeda dan menarik, ada alternatif lain cobalah datang ke Dusun Plapangan Desa Pandowoharjo Sleman. Di dusun yang tak jauh dari pusat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sleman ini, pemudik bisa mendapatkan batik bermotif sinom parijoto salak karya Kelompok Batik Ayu Arimbi.

Motif karya warga Pakem yang menjadi pemenang lomba desain batik Sleman tahun 2012, Susilo Radi Yunianto, tersebut memang terinsipirasi tanaman parijoto, tanaman dedaunan yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan. Adapun perajin yang mengupayakan kerajinan ini ialah kumpulan ibu-ibu rumah tangga di Plapangan. Di lokasi tersebut, tersedia batik cap dan tulis yang dapat menjadi pilihan.

“Kalau batik tulis itu lama dan harganya lebih mahal. Batik cap lebih terjangkau masyarakat,” kata Sri Arumiyati, Ketua Kelompok Batik Ayu Arimbi, Kamis (31/7). Meski hanya batik cap, Sri menjamin konsumen akan menemukan keunikan tersendiri. Coletan warnanya membedakannya dengan batik cap pada umumnya. Prosesnya pun hampir mirip dengan batik tulis, seperti beberapa corak yang harus diperjelas dengan lilin sebelum diwarnai.

“Itu biar memberikan warna lain pada coletannya,” tambah Tatik Susilowati, wakil ketua Kelompok Batik Ayu Arimbi. Selama ini lanjut Sri, tak ada strategi khusus dalam promosi produk kelompok binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Sleman tersebut. Mereka hanyamengandalkan pameran yang disele Hanya melalui pameran-pameran yang diselengarakan Pemkab Sleman. Namun, ternyata itu sangatmenguntungkan. Batik sinom parijoto salak itu jadi favorit pejabat Pemkab Sleman sebagai oleh-oleh bagi tamu luar daerah. “Jadinya produk ini sudah sampai luar Jawa. Ada yang ke Kalimantan, Bali, dan Padang,” tutur Sri.

Dalam sehari, Sri mengatakan kelompoknya mampu membuat batik cap sebanyak 8 lembar dengan ukuran masing-masing 2,5 meter. “Kalau cuma warna dasaran, bisa 50 lembar per hari. Kalau batik tulisnya lama, bisa satu bulan cuma selembar,” ungkap Sri. Batik-batik karya ibu-ibu di Plalangan ini bisa cukup terjangkau untuk masuk daftar oleh-oleh liburan di Jogja. Batik cap dijual dengan kisaran harga Rp hingga Rp per lembarnya.  Batik tulis dijual mulai Rp .  “Sangat terjangkau karena batik tulis bisa mencapai jutaan rupiah setelah masuk butik,” tambah Sri.




Mata Air Bebeng akan Dinormalisasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan melakukan normalisasi mata air Sungai Bebeng yang berada di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Pasalnya mata air itu mengalami penurunan debit secara signifikan pasca erupsi Merapi bahkan diperparah dengan musim kemarau.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Ir Sapto Winarno menjelaskan, normalisasi mata air akan dilakukan pada Agustus 2014 mendatang. Normalisasi Bebeng dilakukan dengan menelusuri saluran pipa air yang terpendam material erupsi, serta mencari kemudian membuka berbagai titik saluran mata air yang tertutup material erupsi Merapi.

“Yang terkena dampak erupsi selain Bebeng juga [mata air] Umbulwadon [Kepuharjo]. Tapi yang Umbulwadon sudah dinormalisasi jadi sudah lancar. Kami usahakan Bebeng segera ditangani paling tidak setelah Lebaran ini,” katanya, kemarin.

Mata air Bebeng memang menjadi tumpuan hidup warga Glagaharjo. Saat ini pihaknya masih mengupayakan agar warga tidak kekurangan air bersih seperti memberikan dropping air.

Untuk melakukan normalisasi mata air, pihaknya menggandeng paguyuban pengelola mata air Bebeng. Karena, mata air tersebut dikelola oleh masyarakat, ada yang dari warga Glagaharjo, Cangkringan dan juga Balerante, Kemalang, Klaten.

Dari hasil observasi, pihaknya sudah menemukan titik-titik yang akan dilakukan normalisasi. Langkah yang akan segera ditempuh yaitu memecah batu yang menutupi dan merusak jaringan pipa besi yang teraliri air. Dari dekat hulu mata air ditemukan batu besar yang menekan pipa besi, sehingga diyakini menjadi penyebab menurunnya debit air.

Jika mata air utama sudah diketemukan maka akan dibangun pelindung demi kelancaran mata air. “Karena dengan tertekannya pipa besi itu, debit air berkurang, awalnya mencapai 56 liter per detik, kini turun menjadi 30 liter per detik,” ujarnya.***




Masyarakat Diminta Waspada Penularan ISPA

Sleman – Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi kasus yang paling sering terjadi pasca lebaran. Tingginya mobilitas dianggap berpotensi memicu ISPA yang penularannya melalui virus.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, pada musim arus mudik hingga arus balik tahun lalu, tercatat kasus ISPA. Gejalanya secara umum adalah deman, batuk, dan pilek yang tidak lebih dari 14 hari.

“Untuk mencegah penularan, perhatikan etika saat batuk dan bersin. Mulut dan hidung juga sebaiknya ditutup dengan masker,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Rabu (30/7).

Selain ISPA, penyakin lain yang rawan pasca lebaran berkaitan dengan pola makan yang berubah dan pencernaan. Setidaknya tahun lalu terjadi kasus hipertensi dan 624 kasus gangguan perut dan maag.

“Hipertensi misalnya, itu juga berhubungan dengan pola makan. Mereka yang punya riwayat darah tinggi hendaknya menjaga diri dari makanan yang bisa memicu kambuhnya penyakit ini,” kata Linda. Menurut Linda tercatat ada 543 orang yang tahun lalu memeriksakan diri ke Puskesmas-Puskesmas di Sleman akibat kelelahan.

“Kemungkinan besar disebabkan lelah perjalanan mudik, banyaknya kunjungan sanak saudara, dan mobilitas yang memang meningkat,” ujarnya.

Masa lebaran tahun lalu juga diwarnai dengan 489 kasus gangguan kulit. “Kalau kejadian luar biasanya ada varisela atau cacar air pada 3 pasien,” tambah Linda.

Oleh karena itu Linda menghimbau masyarakat agar tetap memperhatikan kebersihan lingkungan, pola makan, istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.