Logistik Pilpres Mulai Proses Pengepakan

Sleman – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman mulai proses pengepakan logistik untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Wakil Presiden (Pilwapres) 9 Juli nanti. Pengepakan memakan waktu tiga hari dan akan berakhir, Jumat (4/7).

Pengepakan melibatkan petugas PPK dan PPS. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok disesuikan dengan daerah masing-masing. Anggota KPU Sleman Divisi Logistik, Keuangan, Rumah Tangga dan Umur, Aswino Wardhana mengungkapkan dalam Pileg lalu KPU melibatkan petugas honorer dalam proses pengepakan logistik. Namun kali ini, KPU memilih melibatkan petugas PPK dan PPS. Alasannya karena mereka yang tahu kebutuhan di masing-masing daerah.

“Jadi PPK dari Kecamatan Kalasan, mereka mendapat tugas untuk mengepaki logistik untuk daerah Kalasan. Begitu juga dengan petugas dari kecamatan lainnya. Harapannya dengan melibatkan PPK dan PPS  dalam pengepakan, mereka dapat lebih teliti dalam menghitung kebutuhan logistik di daerahnya masing-masing,” kata Aswino, kemarin.




Sleman Buka Posko Keluhan Terkait Harga Sembako

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman membuka posko pengaduan keluhan masyarakat terkait kemungkinan adanya kenaikan harga sembilan bahan kebutuhan pokok menjelang Lebaran.“Untuk menampung keluhan masyarakat terkait kenaikan harga sembako menjelang Lebaran, telah dibuka pos pengaduan di Dinas Perindusterian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr. Sunartono , Jumat (4/7).

Menurut Sunartono, posko pengaduan ini siap menerima keluhan masyarakat terkait kenaikan harga maupun terkait persediaan sembilan kebutuhan pokok atau sembako di masyarakat. “Keluhan yang masuk akan kami tindak lanjuti, jika kenaikan harga sudah tidak wajar maka akan kami lakuan operasi pasar, termasuk juga bila terjadi kelangkaan persediaan sembako,” katanya.

Untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah akan dilakukan pasar murah atau pasar lebaran di Dinas Perindusterian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman. “Pasar murah ini direncanakan akan dilaksanakan pada 14 Juli 2014 dengan menyediakan paket sembako dengan harga di bawah pasaran,” kata Sunartono.

Dikatakan Sunartono, ada kemungkinan Pemkab Sleman melakukan operasi kalau ada spekulan yang nakal dan mempermainkan harga maupun menimbun stok sembako. “Kalau ada spekulan yang nakal maka akan dilakukan teguran hingga dicabut izinnya,” katanya.

Diakui Sunartono pihaknya juga berupaya menjamin barang juga aman sampai ke konsumen. Akan dilakukan pantauan dan operasi di pasar bersama badan BPPOM. Di tingkat konsumen perlu meyakinkan untuk tidak perlu khawatir ketersediaan sembako dan tidak perlu melakukan aksi borong dan menimbun barang.

“Oleh karena itu kepada masyarakat disarankan tidak perlu berlebihan dalam mengkonsumsi,” tutur Sunartono.




Bulan Puasa Sehari Bisa Masak 3 Kwintal Ketela Untuk Dibuat Slondok

0407 SLEMAN SLONDOK(2)Sleman – Bulan puasa Ramadan hingga Lebaran memang menjadi berkah tersendiri bagi industri rumahan seperti usaha pembuatan makanan ringan slondok milik Saiman Hardisumarno warga Dusun Kules Desa Sumberadi Mlati Sleman.  Pada bulan puasa ini produknya slondoknya meningkat tajam.

“Jika hari – hari biasa saya memasak ketela untuk pembuatan slondok 2 kwintal  tetapi sekarang ini meningkat menjadi 3 kwintal ketela per hari,” kata Saiman ketika menerima rombongan prestour
wartawan dan Humas Sleman, kemarin. Dikatakan Saiman dari bahan baku ketela sebanyak 3 kwintal tersebut setelah diolah akan menjadi makanan slondok sekitar 30 sampai 33 persennya.

Dijelaskan Saiman, proses pembuatan slondoknya memang tidak sulit yaitu setelah ketela dikupas, dicuci kemudian direbus. Setelah direbus dihancurkan dan dibumbui dengan bawang dan garam baru kemudian dibentuk bulat – bulat dan dijemur.

“Untuk membuat slondok yang gurih dan renyah memang dipilih ketela yang baik dan selama ini saya hanya menggunakan ketela dari daerah Kecamatan Turi,” kata Saiman yang dalam usahanya dibantu
istri, anak dan 7 orang tenaga kerjanya.

Hanya saja kalau terpaksa menggunakan ketela dari luar Turi didatangkan dari Wonosono dan Temanggung yang memiliki kualitas ketela yang sama dengan hasil ketela dari Turi. Diakui Saiman, usaha pembuatan slondok yang sudah digeluti selama 25 tahun ini memang kadang menemui kendala masalah pengeringan, apalagi kalau musim hujan. Karena itu Saiman ingin sekali membeli alat pengering. Sebab untuk mengeringkan slondok membutuhkan waktu 7 jam dengan cuaca panas.

“Selama ini saya hanya memproduksi slondok rasa bawang, kalau mau buat varian rasa lain belum direkomendasi dari Dinas Perindustrian karena warna slondok akan berbeda dengan yang rasa bawang kuning kecoklatan,” kata Saiman.

Untuk slondok produknya ditambahkan Saiman dijual di pasar Godean dan tinggal menyetorkan ke pedagang langganannya. Untuk 1 kg slondok produknya dijual Rp 25 ribu per kg. Dan saat ini produksi ditingkatkan karena banyak pesanan di hari Lebaran.




Masyarakat Diminta Saling Menghormati Dalam Perbedaan

Sleman, InfoPublik – Menyikapi panasnya suhu politik dan kampanye dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) saat ini, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI berharap agar masyarakat saling menghormati dalam perbedaan, adanya perbedaan dalam demokrasi adalah hal yang biasa, semuanya untuk menuju kebaikan. “Termasuk perbedaan dalam memilih, siapapun yang terpilih kita harus menghormati dan yang terpenting jangan ada dendam semua harus didukung,” kata Sri Purnomo ketika menghadiri Tarawih Keliling (tarling) putaran keempat yang berlangsung di Masjid Al Huda Bibis Lumbungrejo Tempel Sleman, Rabu (2/7) malam.

Selanjutnya dikatakan Sri Purnomo bahwa untuk bisa kembali mengunjungi masjid yang sama dalam tarling diperlukan waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun karena banyaknya masjid yang ada di Kabupaten Sleman. Sedangkan satu tahun paling baanyak melakukan tarling hanya 20 an kali dan satu Kecamatan hanya satu kali dapat menerima kunjungan tarling kabupaten.

Ditambahkan pula bahwa di bulan Ramadan ini Sri Purnomo meminta masyarakat untuk memperbanyak berbuat amal kebaikan, karena di bulan Ramadan ini pula banyak ampunan dari Allah SWT. Sri Purnomo juga menyinggung megahnya Masjid Al Huda, dengan megahnya masjid tersebut diminta agar kegiatan di masjid lebih ditingkatkan lagi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat yang Islami.

Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo juga menyerahkan bantuan total senilai Rp 11,55 juta yang terdiri bantuan Pemda Rp 3,5 juta, BAZ  Rp 3 juta, Kecamatan Turi Rp 1 juta, Desa Rp , PDAM Sleman Rp , dan infaq saat tarling sejumlah Rp 2 juta serta Muskaf Al’Quran, Iqro, Rukuh (dari Kemenag) dan diterima Ketua Takmir Masjid Ahyari yang juga Kadus setempat.

Sementara Jadiyo dari KUA Tempel dalam tausiahnya menyampaikan bahwa puasa hanya sarana untuk menjadi orang yang bertaqwa, hingga untuk menjadi taqwa perlu proses. Sedang orang yang dalam hidupnya baik dapat dilihat setelah mati, matinya bagaimana. Sementara orang Khusnul Hayat adalah orang yang dimasa hidupnya penuh kebaikan, dan khusnul khotimah adalah yang tadinya kurang baik bisa menjadi baik. Yang penting menurut Jadiyo kalau ada orang yang tidak baik agar
dimintakan Hidayah pada Allah SWT.




Permohonan Sertifikat PPIRT Meningkat

Sleman– Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman setiap menjelang Lebaran kebanjiran permohonan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga ( SPP-IRT) yang merupakan  jaminan tertulis diberikan oleh Bupati terhadap Pangan Produksi Industri Rumah Tangga (PPIRT) di Wilayah kerjanya setelah memenuhi persyaratan dalam rangka peredaran Pangan, Sertifikat PPIRT diwajibkan bagi semua produk pangan olahan yang diperjualbelikan, sertifikat tersebut merupakan upaya untuk memberikan perlindungan pada konsumen. Demikian disampaikan Kabag Humas Sleman, Dra Endah SW kepada wartawan dikantornya, Kamis (3/7).

Menurut Endah, untuk tahun 2013 jumlah pemohon sertifikat PPIRT di Kabupaten Sleman ada 145  industri rumahan yang bersertifikat. Sedangkan untuk tahun 2014 bulan Januari sampai dengan Mei tahun 2014 sudah menerbitkan 52 sertifikat,  sedangkan memasuki bulan  Juni di awal bulan Puasa ada peningkatan hampir 100 % dari bulan sebelumnya yaitu sebanyak 25 pemohon.

Olahan pangan yang diajukan untuk mendapatkan sertifikat PPIRT tidak boleh berupa susu dan hasil olahannya, daging, ikan, unggas dan hasil olahan memerlukan proses dan penyimpanan beku, pangan bayi, minuman berakhohol, air minum dalam kemasan, pangan lain yang memenuhi Persyaratan SNI. Dijelaskan Endah, persyaratan untuk  mendapatkan  sertifikat PPIRT yaitu foto copi KTP Sleman yang masih berlaku, pas foto pemohon ukuran 3 x 4 CM  4 lembar,  data perjenis makanan atau minuman, rancangan label @ 2 lembar per jenis makanan, denah/peta ke lokasi produksi 1 lembar dan fotokopi hasil pemeriksaan laboratorium kualitas air yang dipergunakan.

Bagi pemohon yang dinyatakan memenuhi persyaratan selanjutnya mengikuti penyuluhan keamanan olahan. Penyuluhan ini dilakukan apabila telah memenuhi peserta 40 s/d 50 orang  pemohon. Setelah penyuluhan, akan dilakukan peninjauan lokasi/tempat  makanan olahan  tersebut diolah/dibuat. Untuk tahap I sudah dilaksanakan pada bulan Mei sedangkan untuk permohonan Tahap II akan dilaksanakan pada bulan Agustus.

“Pengurusan PIRT tidak dikenakan biaya, biaya hanya dikenakan untuk pemeriksaan Laboratorium  air yang digunakan, pengurusan PIRT cukup mudah dan pemohon datang langsung ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman,” kata Endah.

Masa berlaku sertifikat PIRT selama 5 tahun, perubahan pemilik penanggung jawab PIRT serta sertifikat hilang/rusak harus dilaporkan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.***