Sleman Tetapkan 4 Potensi Pengembangan

Sleman – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)Kabupaten Sleman telah menetapkan peta sistem inovasi daerah dan memilih empat potensi yang dapat dikembangkan.

“Empat potensi yang dapat dikembangkan tersebut, yaitu padi, salak pondoh, bambu, dan kambing Peranakan Etawa (PE),” kata Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, drg Intriati Yudatiningsih MKes di Sleman, kemarin.

Dikatakan Intriati jumlah kambing PE di Kabupataen Sleman berdasarkan data Juni 2014 tercatat ekor dengan produksi susu rata-rata 0,85 liter per hari.

“Adapun rencana aksi inovasi pengembangan kambing PE 2014-2019 antara lain program perbaikan teknis budi daya dengan kegiatan pemuliaan bibit kambing, pengolahan gizi pakan ternak, sertifikasi bibit ternak, dan penyediaan lahan pakan,” katanya.

Menurutnya upaya itu juga didukung dengan bantuan vakum evaporator kepada Kelompok Tani Peternak Pangestu. “Diharapkan agar kelompok petani penerima dapat menjadi lebih produktif dalam menjalankan usaha peternakan di Sleman ini,” katanya. Intriati mengatakan sektor pertanian di Kabupaten Sleman masih menjadi salah satu unggulan perekonomian.

“Berdasarkan struktur perekonomian daerah, pertanian memberikan kontribusi sebesar 12,99 persen dalam PDRB atas harga berlaku Tahun 2012, dan berdasar struktur mata pencaharian penduduk terdapat sekitar 28 persen masyarakat Sleman bergerak pada sektor tersebut,” tambah Intriati.

Untuk rencana pembangunan daerah pada masa mendatang, Pemkab Sleman telah menetapkan pembangunan sektor pertanian menjadi salah satu prioritas, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan.




Peserta dari 10 Negara Asing Meriahkan Jelajah Wisata

Sleman  – Sebanyak 12 peserta yang berasal dari 10 negara manca negara turut menyemarakkan event Jelajah Wisata bertajuk Lereng Merapi Dewi Pule 2014 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Desa Wisata Pulesari, Minggu (24/8) lalu di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi.

Ke 12 peserta asing tersebut berasal dari Madagascar, Nicaragua, Thailand, Lesotho, Uganda, Laos, Tanzania, Amerika Serikat, Inggris dan dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Selasa (26/8).

Ayu menambahkan bahwa keikutsertaan peserta manca negara merupakan bukti nyata bahwa merekapun memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap obyek wisata di Sleman. Meskipun harus menjalani jalur trekking sepanjang 9  kilometer, mereka tetap antusias dan terkesan dengan kawasan Desa Wisata Pulesari dan sekitarnya yang berada di lereng Gunung Merapi bagian selatan.

Begitu pula peserta domestik cukup merata berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sleman, bahkan banyak pula yang berasal dari kabupaten dan kota di luar Sleman diantaranya Bali, Semarang, Tangerang, Purwokerto, Bekasi, Jakarta, Banten, Magelang, Klaten, dan lainnya.

Seluruh peserta terkesan antusian dalam menjalani jalur trekking jelajah wisata tersebut. Secara keseluruhan jumlah peserta pada kegiatan ini tercatat orang.




Sleman Gunakan Pendekatan Kolektif Dalam Ketahanan Pangan

Sleman – Rancangan kebijakan pembangunan sistem ketahanan pangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menggunakan pendekatanyang merupakan wujud kerja sama kolektif pemangku kebijakan dari “Aspek-aspek pendukung tersebut antara lain ketersediaan pangan, distriusi pangan, konsumsi pangan, kewaspadaan pangan serta aspek pemberdayaan masyarakat,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Endah SW, Selasa (26/8).

Menurut Endah, kinerja pemangku kebijakan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, politik dan keamanan serta pelayanan saranana dan prasarana publik bidang transportasi, perhubungan, pengairan, pertanian dan permodalan.

“Selain itu juga dipengaruhi pelayanan kesehatan dan pendidikan, pengembangan teknologi perlindungan serta kelestarian sumber daya alam dan lingkungan,” Endah berdasarkan hal tersebut pengembangan ketahanan pangan di Kabupaten Sleman, direncanakan dan dibangun dari lima aspek utama yakni aspek kelembagaan, sumber daya alam (Lahan, Air, Pengairan), permodalan , teknologi dan budaya.

“Pemkab Sleman telah melaksanakan strategi kebijakan pengembangan ketahanan pangan melalui `Comprehensive and Strategic Planning` dan pendekatan pemberdayaan seluruh `stekholder` dalam sistem ketahanan pangan,” katanya.

Endah mengatakan, mencukupi kebutuhan seluruh komponen agroinput terdistribusi secara lancar dan proposional/merata di seluruh wilayah Kabupaten Sleman, ternyata mampu mendukung ketersediaan pangan sepanjang tahun, dengan jumlah dan kualitas terjaga serta harga terjangkau.




Asset Dana Penguatan Modal Capai Rp 54,57 Miliar

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan asset dana penguatan modal yang dkelola oleh Kantor Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal posisi per Juni 2014 sebesar Rp miliar dengan rincian APBD sebesar Rp 54,26 miliar dan APBN Rp 313,96 juta.

Sedangkan perkembangan pengelolaan dana penguatan modal di Kabupaten Sleman sampai dengan semester I (Januari sampai Juni 2014) tahun 2014, akumulasi jumlah dana penguatan modal yang telah disalurkan kepada masyarakat mencapai sebesar Rp 197,68 miliar dengan jumlah penerima dana penguatan modal sebanyak orang/kelompok/koperasi.

“Kepada para penerima  penguatan modal bahwa tidak serta merta semua permohonan bantuan dana penguatan modal dapat memperoleh bantuan. Hal ini dikarenakan telah ada aturan  peruntukan dan penggunaannya bahkan waktunya pun tidak bisa kita tentukan sesuka kita. Karena pada prinsipnya, dana bantuan yang berasal dari APBD ini juga harus mematuhi prosedur dan ketentuan yang berlaku,” kata Sri Purnomo ketika membuka membuka forkom dana penguatan modal di Grha Sarina Vidi, Selasa (26/8).

Menurut Sri Purnomo dana penguatan modal yang bersumber dari APBD ini memiliki keterbatasan dan belum menjangkau seluruh kebutuhan kelompok yang ada di 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, tidak semua pengajuan proposal otomatis akan diberikan dana karena harus dilakukan seleksi dan diverifikasi, untuk menentukan kelompok usaha yang layak mendapatkan dana penguatan modal.

Diharapkan pula agar kelompok usaha penerima dana benar-benar memanfaatkannya untuk usaha ekonomi produktif. Gunakanlah dana penguatan modal ini dengan sebaik-baiknya dan cermat serta penuh kehati-hatian. Manfaatkanlah seluruh dana yang diterima untuk mengembangkan usaha yang ditekuni, sehingga pengembangan usaha tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota kelompok.

Sri Purnomo juga berpesan kepada kelompok usaha untuk gigih dan tidak mudah menyerah. Janganlah mencontoh kelompok usaha yang tidak dapat memenuhi kewajibannya sehingga menjadi penghambat penyaluran modal kepada kelompok usaha lainnya.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa selama ini masih banyak tantangan dan kendala yang terjadi di lapangan. Selain kelompok usaha yang macet, juga disadari bahwa dana cadangan masih cukup tinggi dan belum ada kewenangan untuk Kantor Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal dalam memanfaatkan dana cadangan tersebut.

Hal ini dikarenakan hingga saat ini Kantor Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal masih berstatus BLUD bertahap dan berdasarkan Permendagri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah BLUD dengan status bertahap tidak diperbolehkan untuk melakukan investasi sehingga dana cadangan yang ada belum termanfaatkan secara optimal.




Jamaah Haji Sleman Pamitan Bupati

2608 SLEMAN PAMITAN HAJISleman – Menunaikan ibadah haji bukan hal yang mudah karena membutuhkan niat dan bekal yang cukup. Niat saja, tanpa diimbangi dengan bekal yang cukup tentu kita akan kesulitan mewujudkan niat itu.

Sebaliknya, bekal atau rejeki dari Allah SWT sudah ada, tetapi niat belum mantap dan teguh maka ibadah haji tidak akan berjalan dengan lancar. Mengingat beratnya ibadah haji yang akan dijalani, bekal yang harus dipersiapkan pun tidak cukup hanya materi, namun juga kesiapan fisik dan mental.

“Oleh karena itu kami berharap Bapak/Ibu mampu melaksanakan ibadah yang memerlukan biaya yang cukup besar dan kondisi fisik yang baik ini dengan seoptimal mungkin,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI ketika menerima pamitan jamaah haji di Pendopo rumah Dinas Bupati, Selasa (26/8).

Dikatakan Sri Purnomo pelaksanaan haji merupakan ibadah puncak atau kesempurnaan dari Rukun Islam, yang harus dilandasi dengan niat yang ikhlas dan usaha/ikhtiar sesuai dengan peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Disamping itu lanjutnya, dalam perjalanan menunaikan ibadah haji ada banyak cobaan, hambatan dan ujian. Namun demikian jika Allah SWT menghendaki bagaimana pun juga hambatan dan rintangan yang dihadapi, Allah SWT akan memudahkan dan semuanya dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, jamaah haji harus senantiasa berdoa mohon petunjuk dan kemudahan dari-Nya.

Sri Purnomo juga berpesan agar semua calon jemaah haji tetap sabar, khusuk, menjaga kesehatan, serta mematuhi semua petunjuk petugas haji baik sebelum berangkat maupun setelah berada di tanah suci.  Disampaikan pula  berdasarkan data yang ada saat ini di Tanah Suci, khususnya di Mekkah dan Madinah pada bulan Juli-September adalah bulan paling panas. Rata-rata suhu minimum antara 38C sampai 39C, dan rata-rata suhu maksimum mencapai 42C – 44C. Tetapi curah hujan masih sering terjadi meskipun sedikit jumlahnya.

Rata-rata 2 sampai 3 hari ada hujan dengan banyaknya curah hujan antara 2 dan 7 mm per bulan. .Keberangkatan jamaah haji ke tanah suci selain menjalankan ibadah juga merupakan Duta Bangsa. Untuk itu, sebagai bangsa yang berbudaya, bermartabat, serta menjunjung tinggi tata krama, para calon jamaah haji dapat menunjukkan sikap luhur tersebut di mata masyarakat dunia.

Disamping itu, dengan keteguhan iman, niat yang tulus dan mendalam serta dibarengi dengan tindakan-tindakan yang mulia dan terpuji, maka dapat menunaikan ibadah haji dengan khusyu dan pulang dapat membawa haji yang mabrur. Sedangkan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman Drs HM Lutfi Hamid MAg  menyampaikan bahwa biaya penyelenggaraan Ibadah haji tahun 1435 H/ 2014 M untuk embarkasi solo sebesar USD . Jumlah jamaah haji Kabupaten Sleman yang sudah melunasi dan memenuhi persyaratan untuk diberangkatkan 918 jamaah.

Sementara untuk pemberangkatan dan pengkloteran jamaah haji Kabupaten Sleman tahun 2014  diberangkatkan melalui embarkasi Donohudan solo dan tergabung dalam gelombang I yang terbagi dalam 4 kloter. Dalam keadaan 1 kloter utuh jamaah haji kabupaten sleman  dan 3 kloter campuran dengan jamaah haji kabupaten/kota lainnya, dengan rincian Kloter 23 SOC jumalah jamaah 366 orang akan berangkat dari Kabupaten Sleman tanggal 9 September 2014 pukul WIB dan akan kembali di Kabupaten Sleman tanggal 19 Oktober 2014 pukul WIB.

Kloter 24 SOC jumlah jamaah 154 orang akan berangkat dari Sleman tanggal 9 September 2014 pukul WIB dan kembali di Sleman tanggal 19 Oktober 2014 pukul WIB.
Berikutnya kloter 26 SOC jumlah jamaah 186 orang berangkat dari Sleman tanggal 10 September 2014 pukul WIB dan akan tiba kembali di Sleman tanggal 20 Oktober 2014 pukul WIB.

Kloter 27 SOC dengan jumlah jamaah 157 orang akan berangkat dari Sleman tanggal 11 September 2014 pukul WIB dan kembali lagi di Sleman tanggal 21 Oktober 2014 pukul WIB dan kloter 29 SOC dengan 53 jamaah haji akan berangkat dari Sleman tanggal 11 September 2014 pukul WIB dan kembali lagi di Sleman tanggal 21 Oktober 2014 pukul WIB.

Jumlah jamaah haji tersebut terdiri pria 438 orang dan wanita 480 orang. Sedang calon jamaah haji tertua Muhammad Hasanudin Bin Iman Karso yang berusia 91 tahun dari Pencar Sindumartani Ngemplak Sleman dan calon jamaah haji termuda usia 19 tahun atas nama Laila Kurnia Putri Binti Ikhsan dari PRM Sukoharjo Indah Sukoharjo Ngaglik Sleman.