Jamaah Haji Sleman Mulai Berangkat 9 September

Sleman – Berdasarkan data sementara yang ada di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman, tahun 2014 ini terdapat 924 calon jamaah haji yang akan diberangkatkan dari Kabupaten Sleman. Jamaah tersebut akan diberangkatkan dalam lima kloter, pemberangkatan kloter pertama akan mulai tanggal 9 September 2014 mendatang.

“Karena terkait kuota maka jumlah jamaah masih bisa bertambah hingga H-10 pemberangkatan kloter pertama. Penambahan kuota tersebut jika dalam pelunasan tahap pertama ada yang belum terpenuhi, akan dibuka tahap kedua sesuai nomor urut,” kata Kepala Kantor Kemenag Sleman, Lutfi Hamid, kemarin. Adapun lima kloter yang membawa calon jamaah haji asal Kabupaten Sleman adalah kloter 23, 24, 26, 27, dan 29. Hanya kloter 23 yang murni diisi oleh warga Sleman, sementara 4 kloter berikutnya digabungkan dengan calon jamaah asal Bantul, Jogja, Kulonprogo, dan Jawa Tengah.

Dikatakan Lurfi, pemberangkatan dilakukan dalam tiga hari. Kloter 23 dengan rombongan 367 calon jamaah asal Sleman berangkat pada 9 September pagi, dilanjutkan kloter 24 pada sore harinya dengan rombongan 155 orang. Kemudian pada 10 September pagi, 255 orang diberangkatkan. Kloter 27 dan 29 akan diberangkatkan pada 11 September pagi. Kloter 27 membawa 96 orang, sementara kloter terakhir hanya membawa 51 orang.

Menurut Lutfi, berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mempersiapkan calon jamaah haji. Seperti mengadakan latihan manasik haji yang dijadwalkan dilakukan sebanyak 10 kali. Terkait penyebaran virus ebola, Lutfi mengaku Kantor Kemenag Sleman belum mendapat instruksi khusus dari pemerintah pusat bagaimana tindak lanjutnya. Namun, seperti biasa dilakukan, calon jamaah haji mendapatkan fasilitas vaksin meningitis dari Puskesmas di kecamatanmasing-masing.




Pemkab Sleman Pantau Imbas Kenaikan LPG 12 Kg

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) akan melakukan pemantauan terhadap rencana kenaikan harga LPG 12 kilogram tersebut. Salah satunya agar tidak terjadi migrasi besar-besar dari masyarakat yang semula pengguna gas 12 kilogram lantas memilih beralih ke gas 3 kilogram.

Menurut Kabid Pengembangan Dinas SDAEM Sleman, Purwoko  hingga kini belum mendapat pemberitahuan secara resmi dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementrian ESDM terkait rencana kenaikan ini. Sebab menurutnya, kenaikan harga LPG 12 kilogram tersebut merupakan rencana dari Pertamina. Terkait naik atau tidaknya, tetap harus mendapat persetujuan dari pemerintah.

“Tapi kami tetap melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan mengajukan penambahan kuota gas 3 kilogram kepada Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIY. Hal tersebut agar mengganggu masyarakat yang selama ini menjadi sasaran dari gas 3 kilogram,” kata Purwoko, Senin (18/8).

Purwoko mengharapkan, rencana kenaikan ini tidak membuat panik masyarakat. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Dimana banyak pedagang yang mengalami kerugian akibat dibatalkannya kenaikan gas 12 kilogram. Padahal mereka sudah terlalu membeli dalam jumlah besar dengan harga lama.***




Seribu Bendera Warnai Upacara di Kaki Gunung Merapi

bendera

Sleman – Suasana berbeda tampak pada upacara memperingati HUT Republik Indonesia ke-69 yang dilaksanakan di kaki gunung Merapi, tepatnya di area Bungker Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.

Cuaca yang cerah, dengan latar Gunung Merapi yang kokoh terpasang 1000 bendera berjejer rapi di sepanjang kali adem, dan di ujung sudah terpasang satu bendera merah putih raksasa.

Lebih dari 200 orang mengelilingi bendera raksasa dalam upacara yang bertajuk Seribu Cita Satu Indonesia. Dengan sound system seadanya dan area yang tidak rata, para peserta tampak khidmat mengikuti jalannya upacara.

Penanggung jawab Seribu Cita Satu Indonesia, Markus winarto, memaparkan aksi pemasangan 1000 bendera tersebut merupakan pengungkapan 1000 keragaman, suku, bangsa dan bahasa yang ada di RI.

“Bangsa kita merupakan wadah bagi keanekargaman baik manusia ataupun alam yang harus kita lestarikan dan kita banggakan” ujarnya.***




Dinkes Sleman Sosialisasi Virus Ebola pada Calon Haji

Sleman – Jamaah calon haji asal Kabupaten Sleman mendapat sosialisasi mengenai penyakit ebola yang telah mewabah di benua Afrika. Jamaah mendapat informasi mengenai cara antisipasi dan menghindari penyakit ebola selama melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi. 

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini Mkes mengungkapkan sosialisasi tentang ebola diberikan kepada jamaah calon haji sebagai upaya antisipasi. Sosialisasi diberikan saat manasik haji massal di Masjid Agung Sleman pekan ini. “Paling tidak mereka tahu ebola itu apa dan bagaimana upayanya agar tidak terkena,” kata Linda, kemarin.

Vaksin yang diberikan kepada jamaah hanya untuk meningitis. Vaksin meningitis sudah diberikan ke jamaah calhaj mulai pekan ini. Linda, sapa akrabnya, mengungkapkan belum ada vaksin ebola di dunia.

Untuk menghindari penyebaran ebola, jamaah calon haji Sleman diminta untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Mereka harus menghindari penderita karena ebola disebarkan melalui kontak langsung dari sekret dan kotoran pasien. “Kalau ada penderita, pasti ada warning,” ujarnya.

Selama melaksanakan ibadah haji, jamaah diminta untuk memakai alat pelindung diri seperti masker dan mencuci tangan dengan sabun. Daya tahan tubuh dinilai harus dijaga dengan tidak berlebihan beraktivitas. “Kalau perlu ditambah multivitamin dan menjaga agar tidak kelelahan,” ungkap Linda.

Meski ada ancaman ebola, Dinkes Sleman tidak menambah petugas kesehatan untuk haji tahun ini. Linda mengatakan tenaga kesehatan yang ada akan dioptimalkan dengan pelatihan mengenai ebola. “Kami juga berkoordinasi dengan Kementrian Kesehatan melalui Dinkes Provinsi untuk penanggulangan ebola untuk jamaah,” kata Linda.

Sementara itu, jumlah calon haji sementara dari Kabupaten Sleman tahun ini mencapai 924 orang. Menurut Kepala Kantor Kementrian Agama Sleman, Lutfi  Hamid, pihaknya belum melakukan tindakan spesifik untuk menanggulangi penyebaran ebola. “Tindakan spesifik belum ada, tapi jamaah mendapat fasilitas imunisasi meningitis di masing-masing kecamatan melalui puskesmas,” ujarnya.

Penambahan tenaga kesehatan juga belum dilakukan. Sementara, terkait jumlah jamaah haji yang berusia lanjut, Lutfi mengaku belum ada identifikasi. Hal ini karena jumlah calon haji masih mungkin bertambah dengan masih adanya waktu untuk pelunasan ongkos naik haji.***




Bupati Serahkan Remisi Napi Cebongan dan Lapas Narkoba

Sleman – Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bersama unsur Pimpinan Daerah dan pejabat Sleman, seusai upacara peringatan detik2 Proklamasi 1945 di lapangan Denggung, memberikan remisi kepada warga binaan lembaga pemasyarakatan Narkotika kelas IIA Jogja dan  Lapas Kelas  IIB Cebongan Sleman secara simbolis, Minggu (17/8).

Dalam laporannya Kepala lapas Sleman Supriyanto mengatakan bahwa Lapas Sleman pada saat ini memiliki warga binaan 268 orang, yang seharusnya kapasitas lapas hanya 163 orang, yang mendapat remisi 158 orang. Sementara warga binaan Lapas narkotika dengan kapasitas 474 orang di huni 201 orang yang mendapat remisi 148 orang.

Menurut Supriyanto  pemberian remisi diberikan sebagai salah satu sarana mewujudkan tujuan sistem pemasyarakatan yaitu membentuk napi yang menjadi manusia yang sadar akan kesalahannya, taat kepada hukum, tidak mengulangi perbuatannya, serta mampu berintergasi kembali secara sehat dan bahagia lahir batin.

Sementara itu Menteri Hukum dan HAM dalam sambutan yang dibacakan Bupati Sleman Sri Purnomo  mengatakan remisi merupakan instrumen yang dapat mendorong narapidana untuk berperilaku baik selama menjalani pidana.

Karena, remisi hanya akan diberikan kepada narapidana yang berkelakuan baik. Mereka yang melakukan pelanggaran peraturan tata tertib tidak akan mendapatkan remisi. Manfaat lanjutan dari pemberian remisi adalah dapat mengurangi tingkat hunian Lapas/Rutan yang semakin tinggi.

Remisi akan mempercepat seseorang narapidana untuk keluar dari Lapas/Rutan, sehingga populasi Lapas/Rutan pun akan semakin cepat berkurang. Pemberian remisi bukanlah suatu bentuk kemudahan-kemudahan bagi warga binaan untuk dapat cepat bebas, tetapi merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memotivasi diri, sehingga dapat mendorong warga binaan kembali memilih jalan kebenaran.***