Peringatan Hari Anak Nasional Di Sleman Diisi Dengan Gelar Permainan Tradisional

dolanan-300x199Sleman – Peringatan Puncak  Hari Anak Nasional tahun 2014 diselenggarakan di lapangan Pemkab Sleman dimeriahkan dengan berbagai lomba dan atraksi oleh anak anak sekolah di . Tema peringatan kali ini yaitu Ciptakan Lingkungan Kondusif Perlindungan dan Tumbuh Kembang anak . Peringatan dimeriahkan dengan berbagai lomba mewarnai untuk TK, dan SD klas I s/d III dengan jumlah peserta 700 anak TK/SD.  Juga diselenggarakan pameran yang diisi oleh BNN mengenai contoh Narkoba dan Bahanya, Konseling Bimbingan Bagi Remaja, Pembinaan Bagi anak-anak Kebutuhan khusus (SLB ).

Pameran ditinjau langsung oleh Bupati, Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan Sleman, Ketua Tim Penggerak PKK dan KBPMPP dilanjutkan dengan acara Pembukaan  oleh Bupati Sleman dengan Pemotongan dan Pelepasan Balon.  Dalam laporannnya, Kepala Badan KBPMPP Ibu dr. Nurulhayah, menyampaikan bahwa peringatan hari anak Nasional tersebut dapat meningkatkan semangat anak-anak Sleman untuk terus belajar menjadi putera-puteri terbaik bangsa.

Selanjutnya Bupati Sleman dalam sambutannya menjelaskan bahwa tema yang diambil sangat sesuai dengan kegiatan yaitu, gelar pelestarian permainan tradisional.  Permainan anak tradisional yang ada dapat memberikan edukasi kepada anak-anak pada usianya, sehingga tumbuh kembang fisik dan mental anak menjadi lebih baik. Bupati Juga menyerahkan secara Simbolis Akte Kelahiran, Bantuan Panti Asuhan, Anak Korban Kekerasan, dan Kaca mata.
Acara diisi oleh SLB Tegal Harapan, SLB Daya Ananda dengan menampikan seni Hadroh dan Musik elekton dan mendapatkan aplaus dari semua hadirin dan penonton. Selanjutnya yaitu  Pentas Cerita Wayang oleh Rafael Raga Budi P dari SD Kanisius  Minggir, Cerita Wayang Anoman Obong Bonifasius Hardo Priyo W Dari SDN Model Ngemplak, Gerakan Etika Berlalulintas dan Parodi dokter kecil  Oleh SD Percobaan 3 Pakem, Dolalan anak oleh SD N Depok, dan Dolanan Enggrang oleh anak-anak.***



Gelar Budaya Nusantara di Anjungan Jogja TMII

Sleman – Pemerintah Provinsi DIY bekerjasama dengan Pemkab Sleman dan Manajemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menyelenggarakan Gelar Budaya Nusantara di Anjungan Jogja hari Sabtu (6/9) malam. 

Sebagai  host penyelenggaraan Gelar Budaya Nusantara, Pemkab Sleman menyajikan pementasan tari peksi kapti ( burung punglor) yang menceritakan gerak-gerik fauna khas Sleman, juga tari reog. Keprajuritan yang menggambarkan perjuangan tentara Kerajaan Mataram sebelum Pemerintah Jogja  berdiri serta Sendratari dengan judul Kasampurnaning Dumadi, yang  menceritakan perjalanan dan nilai hidup yakni kebesaran cinta,  kemarahan dan kebenaran. Drama tersebut merupakan bagian dari cerita  mahabarata.

“Pagelaran seni tersebut telah memukau 700 orang tamu yang hadir. Tamu Undangan menikmati tarian hingga acara selesai. Dianatara tamu yang hadir adalah  Para Duta Besar, Rektor Institut Seni Jakarta, koordinator anjungan dan museum, tokoh masyarakat,” kata Kabag Humas Sleman Dra Endah SW dikantornya, Senin (8/9)

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang hadir dalam pagelaran tersebut  menyampaikan  bahwa pasca erupsi Merapi,masyarakat Sleman telah bangkit dan kembali dapat menjalankan kehidupan sosial dan perekonomian secara normal. Bahkan masyarakat lereng Metapi telah mengembangkang aktivitas wisata,  salah satunya volcano tour yang mampu memberikan penghasilan.

Menurut Sri Purnomo, Sleman memiliki keindahan alam, kekayaan budaya, sumber daya manusia dan juga kearifan lokal yang mampu memberikan semangat dan tatanan nilai  bagi masyatakat, untuk hidup berdampingan dengan gunung Merapi. Untuk itu Sri Purnomo mengharapkan gelar budaya nusantara sajian Pemkab Sleman mampu memberikan informasi awal potensi budaya, wisata dan produk kerajinan masyatakat Sleman dan mempersilahkan para duta besar menginformasikanya kepada masyarakat di negaranya.

Sedangkan Gubernur DIY dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Biro Administrasi Pembangunan,  Hendar Susilowati SH menyampaikan bahwa Pembangunan kebudayaan di DIY ditujukan untuk melindungi dan mengembangkan kebudayaan, membentuk identitas diri masyarakat serta memanfaatkan kebudayaan sebagai potensi ekonomi kreatif yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, pertumbuhan, ekonomi serta mengentaskan kemiskinan. Pemerintah DIY senantiasa mendukung kreasi masyarakat dalam kegiatan kegiatan berbasis kebudayaan.

Gelar Budaya Nusantara merupakan sarana yang strategis untuk mengenal potensi budaya dan pariwisata kabupaten Sleman yang adi luhung, serta mempromosikan potensi kerajinan dan kuliner.

Sigit Gunarjo, mewakili Dirut  TMII mengatakan sesuai dengan harapan UNESCO TMII telah melakukan pengembangan – pengembanga  khsusnya dalam pelestarian budaya bangsa dengan kegiatan-kegiatan promosi potensi daerah sehingga memberikan kontribusi ke pada pengenalan potensi kedaerahan di Indonesia.

Untuk itu dibutuhkan dukungan dan peran serta dari segenap pihak seperti pemerintah daerah melalui anjungan-anjungan  daerah dengan kerjasama yg baik dalam penyelenggaraan setiap kegiatan yg dilaksanakan terutama dlm pengembangan kualitas acara sehingga mampu secara nyata dinikmati oleh masyarakat luas terutama sebagai daya tarik bagi wisatawan.

Gelar Budaya Nusantara tersebut juga dilengkapi dengan pameran produk UKM yang dibuka langsung oleh Ketua Dekranas Kabupaten Sleman, Ny Kustini Sri Purnomo dan sajian makanan khas Sleman jadah tempe, salak dan berbagai aneka olahan salak.




Dilengkapi Film Dokumenter, Angka Kunjungan MGM Terus Meningkat

Sleman – Angka kunjungan ke Museum Gunungapi  Merapi (MGM) Sleman terus meningkat setiap tahun. Hal ini menjadi bukti bahwa wisata museum masih bisa diandalkan khususnya di Kabupaten Sleman.

“Pada tahun 2010, akibat erupsi Merapi kunjungan MGM hanya orang. Namun jumlahnya terus membaik hingga tahun 2013 tercatat orang,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, kemarin.

Menurut Sri Purnomo peningkatan kunjungan ke MGM ini juga bisa dilihat  hingga bulan Agustus 2014, sudah terdapat orang berkunjung ke MGM. Untuk itu Sri Purnomo optimis angka kunjungan tahun 2014 ini akan lebih tinggi dibanding sebelum. Sebab, kini MGM juga telah dilengkapi film dokumenter terbaru berjudul Mahaguru Merapi yang launchingnya baru dilakukan beberapa hari lalu.

“Film ini bisa jadi salah satu upaya strategis untuk menarik wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing untuk  datang dan melihat MGM,” tutur Sri Purnomo.

Sementara menurut Kepala UPT MGM, Drs Suharno, MGM  rata-rata dikunjungi 300-400 orang per hari baik itu kunjungan rombongan maupun keluarga termasuk wisatawan asing. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa meningkat hingga 500 orang.

“Yang datang ke MGM kebanyakan bukan pengunjung spontan, tapi sudah terencana seperti kegiatan studi tur dari sekolah-sekolah,” kata Suharno.