Petani Sleman Didorong Kembangkan Pertanian Organik

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan KehutananKabupaten Sleman selalu mendorong para petani di Sleman agar beralih dari penggunaan pola pertanian tradisional kepola pertanian organik. Demikian antara lain dikatakan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi di Sleman, Jumat (26/9).

Dikatakan Widi bahwa  hasil pertanian organik memiliki pasaran yang lebih luas. Alasannya, hasil pertanian dengan cara modern itu saat ini menjadi kriteria utama bagi pasar internasional khususnya untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS). “Kami tidak berorientasi mencari-cari pasar, tetapi memang pasar kami yang sebelumnya sudah ada menghendaki hasil pertanianorganik,” kata Widi.

Menurut Widi, sebagian besar petani di Kabupaten Sleman sesungguhnya telah mengembangkan pola pertanian alami yang antara lain dengan mengedepankan penggunaan pupuk alami. Namun cara itu belum cukup signifikan menembus pasar internasional karena belum bisa dikatakan berpola organik. Pola organik bukan hanya menggunakan pupuk organik atau alamisaja, tapi juga mencakup prosesnya yang menggunakan cara modern serta bersertifikat organik. Selain memperluas pasar petani di Sleman, diharapkan juga dapat mendukung masyarakat lokal khususnya di DIY untuk lebih memprioritaskan makanan berbahan sayur-sayuran organik.

“Tentu kami juga akan melakukan edukasi bagi masyarakat DIY dulu untuk memperkuat pasar tanaman organik di tingkat lokal,” kata Widi.




Pendapatan Petani Ikan Sleman Terbesar Nasional

2609 SLEMAN KELOMPOK IKANSleman – Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Subiyakto menilai perkembangan budi daya perikanan di Kabupaten Sleman sangat luar biasa, dan pendapatan para petani ikan Sleman ternyata paling tinggi secara nasional.

“Kami sangat mengapreasi, karena begitu kompak dan banyak jumlah petani ikan yang ada di Kabupaten Sleman dan pendapatan petani ikan paling tinggi secara nasional sesuai catatan BPS tahun 2013,” kata Slamet Subiyakto pada pertemuan rutin tiga bulan sekali Kelompok Petani Ikan bersama Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman di Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Rejeki Dusun Pugeran Maguwoharjo Sleman, kemarin.

 Menurut Slamet diharapkan dalam mengelola budi daya ikan/kelompok selalu membuat catatatan, memilih Induk yang berkualitas, sehingga mendapatkan benih ikan yang baik. Selain itupetani ikan harus lebih efektif dalam memberikan makan ikan seghingga meningkatkan hasil produksi ikan. Sementara Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Rejeki Sarjonomengatakan, KPI Mina Rejeki berdiri sejak 1996 dengan jumlah anggota delapan orang serta luas lahan hanya 80 meter persegi dan sampai 2014 sudah mencapai 70 orang, mengelola lahan perikanan sampai meter per segi.

“Sampai sekarang sudah dapat menyediakan atau mengasilkan 15 ton per bulan ikan konsumsi untuk kebutuhan pasar lokal,” katanya.

Sedang  epala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan pada musim kemarau ini atau pancaroba dimana air untuk pengairan kolam yang debitnya sangat terbatas atau berkurang, agar para petani ikan dapat memanfatkan air.

“Kolam perikanan supaya dapat memilih budidaya ikan yang tahan terhadap cuaca panas, jangan sampai menebar bibit ikan yang terlalu banyak untuk menghindari kerugian apabila sulit mendapatkan air,” kata Widi.  Namun lanjutnya untuk wilayah yang melimpah debit airnya, agar dapat meningkatkan produksi hasil ikan dan menambahkan lahan kosong yang belum dimanfaatkan untuk dijadikan lahan perikanan ataupun peritanian, sehingga menambah kesejahteraan petani.




Perpusnas “Roadshow” ke Kabupaten Sleman

IMG_7697Sleman – Perpustakaan Nasional melakukan “roadshow” perpustakaan di Kabupaten Sleman untuk menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat. “Kegiatan `roadshow` kami lakukan di sejumlah provinsi di Indonesia, dan sekarang giliran Kabupaten Sleman menjadi tuan rumah `roadshow` perpustakaan nasional ini,” kata staf Perpustakaan Nasional Lucia Damayanti di Sleman, kemarin. 

Menurut Lucia, Perpusnas memiliki kebijakan untuk mewujudkan perpustakaan merata di 33 provinsi, 436 kabupaten dan kota, 125 kecamatan dan desa di seluruh tersebut merupakan bentuk revitalisasi nilai minat baca. Ke depannya akan diupayakan agar perpustakaan diwujudkan dalam bentuk digital sehingga dapat lebih mudah diakses melalui telepon selular atau komputer. Sedang Kepala Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman, Sri Hartati mengatakan Perpustakaan Kabupaten Sleman senantiasa menggalakkan minat baca melalui pengembangan perpustakaan desa,perpustakaan sekolah dan perpustakaan komunitas.

“Terlebih lagi Sleman merupakan kota pendidikan sehingga perpustakaan memegang peranan penting sebagai sumber informasi, pusat teknologi, pusat kebudayaan, tempat penelitian dan tempat rekreasi. Selain itu diperlukan layanan jemput bola melalui perpustakaan keliling dan internet keliling yang memberikan pelayanan hingga daerah pelosok,” katanya.

Dikatakan Sri Hartati dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat di perpustakaan Sleman telah melakukan kegiatan dan inovasi seperti inovasi internet gratis, pengembangan perpustakaan desa, pengembangan minat dan bakat siswa dan wisata pustaka bekerjasama dengan SD dan TK. Roadshow ini juga dimeriahkan dengan kehadiran Yessi Gusman,selebritis yang saat ini menjadi penggiat perpustakaan dan pendiri taman bacaan.

Menurut Yessi Gusman, generasi muda saat ini perlu diberikan kesempatan mengembangkan kemampuannya dengan pemenuhan fasilitas termasuk diantaranya kelengkapan koleksi literature yang salah satunya bisa didapatkan di perpustakaan. Dengan demikian anak memiliki kebebasan berekspresi sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan masing-masing.