Bupati Launching Dana Sosial PNPM Mandiri Pedesaan di Berbah

jalan santaiSleman – Bupati Sleman, Drs  Sri Purnomo MSI didampingi Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu SS MHum mengibarkan bendera start jalan santai dalam rangka penutupan rangkaian kegiatan  HUT ke 69 RI sekaligus launching dana sosial PNPM Mandiri Pedesaan di Berbah, kemarin. Gerak jalan diikuti oleh siswa-siswi sekolah SD, SMP, SMA/SMK beserta warga masyarakat Kecamatan Berbah dengan memperebutkan berbagai doorprize seperti TV, sepeda, kipas angin dan lainnya.

Sri Purnomo kemudian melaunching dana sosial UPK PNPM Mandiri Pedesaan yang ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan selokan. Dalam kesempatan tersebut Sri Purnomo menyampaikan bahwa pembangunan berbagai sarana dan prasarana di pedesaan harus ada peningkatan jika dibandingkan sebelum adanya PNPM.

Sri Purnomo juga menyampaikan bahwa nantinya di tahun 2015, dana-dana yang turun ke desa akan lebih banyak lagi sehingga masyarakat juga harus terdorong untuk makin meningkatkan kelembagaan yang harus semakin diperkuat. Sri Purnomo juga memberikan penghargaan kepada perempuan mandiri dan tangguh kepada 4 orang perempuan yang terbukti memiliki kemauan yang kuat untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Melalui usahanya, mereka telah berhasil dan menginspirasi perempuan-perempuan di lingkungannya.

“Saya berharap masyarakat untuk tidak menyerahkan semuanya kepada program pemerintah karena Pemkab Sleman hanya dapat membantu plesterisasi dengan dana Rp 1 juta per rumah yang diwujudkan dalam bentuk 10 sak semen dan 2 rit pasir,” kata Sri Purnomo. Menurut Sri Purnomo dana tersebut masih kurang untuk membuat lantai atau memplester tembok namun setidaknya itu untuk memotivasi masyarakat untuk secara mandiri melakukan pembangunan.

Pada tahun 2014, alokasi dana  Rp 51 juta akan digunakan untuk kegiatan lantainisasi dan plesterisasi tembok dengan sasaran 49 rumah tangga miskin yang juga merupakan anggota SPP UPK (Simpan pinjam khusus perempuan Unit Pengelola Kegiatan) Berbah.

Yuni berharap dalam setiap upaya pembangunan di desa ini selalu terjalin koordinasi yang baik, sejak di TPK dusun hingga TPK desa.




Haris Ditunjuk Jadi Ketua DPRD, Tapi Belum Terima Surat

Sleman – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP DIY mengumumkan Haris Sugiharta sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman periode 2014-2019, Jumat (12/9) lalu. Meski demikian, Haris justru mengaku belum mendapat pemberitahuan resmi apapun.

Dikonfirmasi terkait kabar tersebut, Haris Sugiharta mengaku sudah menerima ucapan selamat dari Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Sleman, Rendradi Suprihandoko SH MHum. Namun, dia masih akan menunggu surat keputusan resmi dari partai.

“Saya sudah dapat kabar, tapi lebih mantap kalau sudah menerima surat resminya,” kata Haris Sugiharta, kemarin.

Haris melanjutkan, setelah menerima SK, dia pun menunggu arahan partai sebelum menentukan langkah politiknya. Namun, dia menyatakan akan langsung melaksanakan tanggungjawab dan tugasnya setelah penetapan pimpinan definitif.

“Kami harus segera membentuk alat kelengkapan dewan agar bisa segera membahas pencairan APBD Perubahan, dan APBD murni 2015,” tutur Haris.




Dinas Budpar Gelar Festival Kethoprak

IMG_6651Sleman – Untuk menjaga kelestarian budaya lokal, khususnya kethoprak, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Sleman menyelenggarakan Festival Kethoprak yang diikuti oleh 17 Kecamatan se Kabupaten Sleman. Pembukaan telah dilaksanakan oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dan akan berlangsung dari tanggal 10 hingga 18 September 2014 di lapangan Parkir Denggung Sleman. 

“Tiap malam dipentaskan 2 grup dan masing-masing menampilkan pentas selama 1 jam. Adapun jadwal pementasam untuk tanggal 10 hari pertama Moyudan dan Prambanan, hari kedua Minggir dan Seyegan, hari ketiga Cangkringan dan Kalasan, hari ke empat Sleman dan Pakem, hari ke lima Ngaglik dan Gamping, hari ke enam Godean dan Turi, hari ke tujuh Ngemplak dan Berbah, hari ke delapan Tempel dan Mlati dan terakhir Depok,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Endah SW dikantornya, Senin (15/9).

Sementara Sri Purnomo mengatakan melalui festival kethoprak ini, masyarakat Sleman, terutama dikalangan generasi mudanya akan semakin merasa “handarbeni” dan bangga terhadap budaya sendiri. “Selama ini generasi muda kita lebih mengenal buaya-budaya kontemporer yang sebagian besar merupakan produk budaya asing,” kata Sri Purnomo.

Melalui festival kethoprak ini lanjutnya para seniman kethoprak di kecamatan dituntut untuk menunjukkan dan mengembangkan kreativitasnya, sehingga kethoprak yang disajikannya mampu menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya. Diharapkan melalui festival kethoprak ini muncul bibit-bibit seniman kethoprak baru untuk menghindari terputusnya regenerasi seniman kethoprak di Sleman.

“Kecamatan sebagai pusat perkembangan dan pelestarian budaya merupakan upaya yang harus terus menerus dilakukan secara berkesinambungan mengingat upaya tersebut juga merupakan dukungan terhadap keistimewaan Jogja,” tambah Sri Purnomo.




Jelang Idul Adha Waspadai Hewan Ternak dari Luar Daerah

Sleman – Mendekati Hari Raya Idul Adha, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengingatkan masyarakat Sleman agar lebih berhati-hati jika membeli hewan ternak dari luar daerah. Pasalnya, tahun lalu banyak yang kecewa karena menemukan cacing hati pada hewan ternak yang disembelih saat hari raya Idul Adha.

“Pedagangnya memang lokal, tetapi sapinya ambil dari luar Sleman dan inilah yang kadang – kadang susah dikendalikan karena banyaknya permintaan hewan kurban,” kata Widi Sutikno, kemarin.

Dikatakan Widi meskipun hewan kurban ada cacing hati dan dagingnya layak dikonsumsi tetapi masyarakat tetap dihimbau agar meningkatkan kewaspadaanya. Menurut Widi, lebih baik membeli ternak lokal karena terjamin kualitasnya. Imbauan serupa juga ditujukan bagi peternak yang hendak menjual hewan ternaknya. Konsumen juga harus lebih jeli jika melihat hewan ternak yang lesu dan tidak lincah gerakannya.

“Biasanya, peternak sudah paham daerah mana yang perlu diwaspadai terhadap penjualan hewan kurban ini,” tutur Widi.

Menjelang Idul Adha, Widi menyatakan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk memantau sejumlah lokasi yang biasa jadi pasar tiban. Hal itu juga sebagai antisipasi peredaran ternak, terutama dari luar daerah.

“Titik-titiknya nanti sangat tersebar, misalnya di Jalan Kaliurang, Ngemplak, Kalasan, dan wilayah lain,” katanya.

Bekerjasama dengan Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) di setiap kecamatan, tim juga sudah mulai sosialisasi ke masyarakat mengenai kesehatan hewan dan kebersihan lokasi penyembelihan. Penggunaan kantong plastik berwarna hitam juga harus dihindari dan sebaiknya memilih plastik putih.

Sebenarnya paling bagus itu pakai daun, tapi kan tidak mungkin kalau dagingnya banyak dan sering dikirim ke luar daerah. Jika terpaksa pakai plastik, gunakan yang berwarna putih,” kata Widi.




Alih Fungsi Lahan di Sleman Dibatasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya mengurangi alih fungsi lahan agar tidak semakin meluas. Upaya pengurangan alih fungsi lahan itu setidaknya dilakukan  dalam satu tahu peralihan lahan pertanian  tidak boleh lebih dari 100 hektar. “Guna mendukung langkah tersebut, dibuat regulasi  sedemikian kompleks yang ternyata berdampak jika pengajuan izin di Kabupaten Sleman  termasuk rumit,” kata Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, kemarin.

Menurut Sri Purnomo, berdasarkan data 2013 di Kabupaten Sleman terdapat 24 ribu hektar lahan pertanian.  Jumlah ini masih membuat Kabupaten Sleman mengalami surplus padi 107 ribu ton.  Sedangkan periode Januari-Juni 2014, surplus beras di Kabupaten Sleman mencapai 126 ribu  ton.

Dikatakan Sri Purnomo, data tersebut berdasarkan perhitungan ketika musim panen. Jumlah jelas akan turun  ketika memasuki musim kemarau. “Meski demikian, kami masih tetap bisa surplus,” kata  Sri Purnomo.

Ditambahkan Sri Purnomo, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 19 Tahun 2011 tentang izin peruntukan tanah, diatur  tentang mekanisme pengeringan dan pemanfaatan tanah. Peraturan tersebut dibuat dengan  tujuan untuk menata pembangunan perumahan yang ada di Kabupaten Sleman.

Dijelaskan Sri Purnomo, bahwa  pemerintah ketika akan mendirikan bangunan, seperti puskesmas, rumah sakit dan  fasilitas lainnya juga tetap harus berpegang pada aturan yang ada. Tidak lalu asal saja, sebab  peraturan tersebut dibuat untuk semua pihak baik itu pemerintah, swasta maupun perorangan.