Peserta CoV ke 8 Kunjungi Lokasi Bekas Erupsi Merapi

P_20140911_153415Sleman – Peserta Konferensi Tingkat Dunia bidang Kegunungapian atau Cities on Volcanoes ke 8 sekitar 487 orang dari 39 negara yang mempunyai gunung api mengadakan kunjungan ke beberapa tempat di Kabupaten Sleman yang terdampak erupsi Merapi tahun 2010, Kamis (11/8).

Di Sleman peserta CoV tersebut mengunjungi Dusun Bakalan Argomulyo Cangkringan yaitu bekas pemukiman penduduk yang terkena dampak erupsi Merapi 2010 lalu. Para peserta terlihat antusias melakukan observasi  dengan melihat-lihat beberapa tempat yang terkena erupsi.

Para peserta dalam observasi dampak erupsi Merapi ini dibagi 3 kelompok dan lokasi yang dikunjungi selain Dusun Bakalan Argomulyo Cangkringan, juga mengunjungi huntap Pagerjurang, dan Desa Wisata Pentingsari Cangkringan. Di Pentingsari peserta konferensi CoV dijamu makan siang oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI.

Setelah makan siang di Pentingsari, rombongan kemudian mengunjungi Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Hargobinangun Pakem Sleman.

Kemudian pada Kamis malam  Bupati Sleman juga  menghadiri gala dinner bersama peserta konferensi CoV di Open Air Theatre Ramayana Prambanan.***




Desa Miliki Peran Lakukan Pelayanan Langsung Pada Masyarakat

Sleman – Seiring dengan reformasi birokrasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman senantiasa berkomitmen untuk terus mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) di semua lini pemerintahan, dari tingkat kabupaten, Kecamatan termasuk juga penyelenggaraan Pemerintah Desa. Terlebih desa merupakan institusi pemerintahan yang memiliki peran dan tanggungjawab untuk melakukan pelayanan langsung pada masyarakat.

Demikian antara lain disampaikan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Hukum, Jazim Sumirat SH ketika menerima kunjungan para Kepala Desa Pemkab Gianyar Bali di Pemkab Sleman, kemarin. Dikatakan Jazim upaya mengimplementasikan tata kelola pemerintahan desa yang baik, Pemkab Sleman memulainya dengan wujudkan penyelenggaraan pemilihan kepala desa yang bersih, sportif, tertib dan  aman. Pada semester ke 2 tahun 2013, Pemkab Sleman telah melakukan pengisian jabatan 33 Kepala Desa, dan pada pertengahan Februari tahun 2014 ini, Pemkab Sleman juga telah melaksanakan pemilihan kepala Desa di 14 Desa.

Untuk mendukung pelaksanaan pemilihan kepala desa, Pemkab Sleman memberikan bantuan melalui APBD Sleman,  yang nilai nominalnya  disesuaikan dengan jumlah pemilih di wilayah desa tersebut. Bantuan juga diberikan dalam bentuk tunjangan penghasilan berupa TPAPD (Tunjangan Perangkat Aparatur Pemerintah Desa) untuk Kepala Desa dan perangkatnya.

“Pemkab Sleman juga memberikan alokasi dana desa (ADD) dengan mengacu pada Peraturan Bupati Nomor 23/ tentang Alokasi Dana Desa. Pemberikan ADD ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa, peningkatan kemampuan lembaga kemasyarakatan, pemerataan pembangunan dan untuk mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat,” kata Jazim.

Dijelaskan pula bahwa pada tahun 2013 Pemkab Sleman menyalurkan kurang lebih sejumlah Rp 15 miliar kepada 86 desa di 17 kecamatan di Kabupaten Sleman melalui Bank Sleman. Alokasi dana desa ini diatur untuk keperluan pemberdayaan masyarakat sebesar 70% dan sisanya digunakan untuk keperluan biaya penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).




210 Calon Haji Sleman Dilepas Sekda

Sleman – Sebanyak 157 calon haji kloter 27 SOC dan 53 calon haji kloter 29 SOC dari Kabupaten Sleman kembali diberangkatkan dan dilepas Sekda Sleman, dr H Sunartono MKes di Masjid Agung Dr Sudirohusodo, Kamis (11/9). 

Dari Sleman rombongan calon haji Kloter 27 dan 29 SOC tersebut menuju Asrama Haji Donohudan dengan menggunakan bus. Sunartono pada kesempatan berharap agar para jamaah haji untuk memanfaatkan kesempatan berhaji dengan niat untuk tujuan beribadah semata. Untuk para calon haji diharapkan dapat melaksanakan ibadah yang wajib dan sunnah dengan baik.

“Ditanah suci nanti, ibu/bapak calon haji merupakan wakil dari Kabupaten Sleman khususnya, sekaligus duta bangsa Indonesia. Agar mentaati aturan dan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi, demi kelancaran dan kemabruran ibadah haji dan menjadi contoh dan panutan bagi jamaah yang lain,” kata Sunartono.

Selain itu kedepankanlah rasa toleransi diantara jamaah haji agar  dapat beribadah dengan baik dan lancar. Sunartono juga mengingatkan pada jamaah haji untuk senantiasa menjaga kondisi fisik dan menjaga niat ibadah, dan melaksanakan petunjuk yang selama ini diberikan oleh pembimbing haji.

“Jangan segan dan malu untuk bertanya kepada petugas/pembimbing haji jika mengalami kesulitan atau kebingungan,” tambahnya.

Para calon haji juga diminta untuk tidak terpengaruh dengan hal-hal yang baru di tanah suci sehingga dapat mengganggu jalannya ibadah. Jangan pula tergoda untuk melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kualitas ibadah haji.

Apabila terdapat kesulitan, bersabarlah dan hindarilah untuk marah karena segala kendala dan masalah akan ada jalan keluarnya. Sunartono juga mengingatkan kepada calon haji Sleman, ketika berdoa di tanah suci terutama di tempat-tempat mustajabah, mohon agar masyarakat Sleman semakin diberikan kesejahteraan, ketentraman sehingga terwujud masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.***




Jamaah Calon Haji Sleman Banyak Yang Alami Hipertensi

Sleman – Hipertensi jadi penyakit yang paling banyak diderita jamaah calon haji asal Kabupaten Sleman tahun 2014 ini. Namun demikian meski banyak yang alami hipertensi namun tidak ada satu orangpun yang ditunda keberangkatannya.

“Dari 926 jamaah calon haji yang diperiksa tahap ke dua di 25 Puskesmas se Kabupaten Sleman terdapat 30,02 persen yang mengalami hipertensi dan 14,04 persen jamaah calon haji mengalami diabetes milutus dan gangguan lemak tubuh yang tidak normal pada 12,63 persen jamaah calon haji,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes di Sleman, Kamis (11/9).

Menurut Linda panggilan Mafilindati, penyebab penyakit tersebut adalah multifaktor, tapi didominasi gaya hidup dan faktor usia. “Lansia diatas 60 tahun atau lebih 60 tahun 12,42 persen, usia, dan gaya hidup termasuk pola makan serta keturunan juga  dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi,” kata Linda.

Linda menambahkan penyakit yang dialami jamaah calon haji, seperti hipertensi dan diabetes, membuat daya tahan tubuh gampang menurun. “Diabetes membuat orang lebih mudah kena penyakit lain. Kalau diabetes tapi hipertensi juga, itu rentan stroke,” tutur Linda.

Untuk pelaksanaan evaluasi kesehatan jamaah calon haji Sleman  dilakukan dua kali, yaitu pada Mei dan Agustus lalu. Hasilnya, 53 % dinyatakan bisa mandiri, 44 % dalam observasi dan 3 % harus dalam pengawasan lebih ketat. Tahun sebelumnya, hipertensi juga menjadi yang terbanyak diderita jamaah calon haji.

“Untuk mengantisipasinya kita sudah memberikan penyuluhan, misalnya memberitahu agar minum yang cukup dan jangan memaksakan aktivitas,” kata Linda.




Surono : 4 Juta Penduduk Tinggal di Daerah Rawan Gunung Api

Sleman  – Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, mengatakan sekitar 4 juta orang penduduk yang tinggal di daerah rawan gunung api di Indonesia. Meski begitu, tidak mudah untuk memaksakan mereka untuk direlokasi sehingga dibutuhkan komunikasi dan penambahan pengetahuan pada mereka dalam hal penanggulangan bencana.

“Hidup harmoni dengan alam adalah jalan untuk menjembatani kejujuran gunung api dan kemauan manusia hidup di sekitar gunung berapi. Bukan tidak boleh ditempati, tapi asal diperhitungkan risikonya,” kata Surono usai membuka Konferensi Tingkat Dunia bidang Kegunungapian atau Cities on Volcanoes ke- 8 yang berlangsung di Kampus UGM, Selasa (9/9).

Konferensi internasional ini dihadiri Sebanyak 485 ilmuwan, pengamat dan relawan dari 39 negara.  Mereka membahas berbagai pengalaman, riset dan teknologi kegunungapian, serta mitigasi bencana erupsi gunungapi yang pernah diterapkan di kota-kota di seluruh dunia.
Surono menambahkan, ilmu vulkanologi atau kegunungapian sangat dibutuhkan oleh peneliti dan pengambil kebijakan untuk mengetahui perilaku dan karakter gunung api. Namun begitu, beberapa negara yang memiliki banyak gunung api seperti Indonesia justru memiliki keterbatasan dalam iptek. Konferensi semacam ini menurutnya penting untuk meningkatkan kerjasama antar negara agar saling membantu demi kemajuan ilmu pengetahuan kegunungapian dan mitigasi bahaya gunung api.
“Kita tidak bisa merekayasa keinginan alam yang selalu berproses mencari keseimbangan baru, dampak erupsi tidak dibatasi batas wilayah. Sehingga tanggungjawab para peneliti, instansi dan masyarakat sekitar,” kata Surono.
Surono menyebutkan saat ini Indonesia memiliki 129 gunung api aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus. Tidak hanya bencana erupsi, Indonesia juga dihadapkan pada risiko bencana gempa bumi. Bahkan terhitung sejak tahun 2000, ada 12 kali kejadian bencana gempa bumi besar di seluruh dunia yang sudah menelan korban lebih dari jiwa.
“Dari 12 kejadian itu, empat diantaranya terjadi di Indonesia,” katanya.
Surono berharap agar pemerintah baru mendatang lebih memberikan perhatian dalam hal penanggulangan risiko bencana. Selain itu, dia juga berharap agar Universitas Gadjah Mada segera menjadi pusat unggulan dunia di bidang vulkanologi.  “Syukur-syukur kalo UGM juga buka jurusan vulkanologi,” ujarnya.
Dosen Jurusan Geologi sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, ., Sc., mengatakan kejadian bencana seperti gempa bumi, tsunami dan gunung berapi bisa berisiko menghancurkan perekonomian sebuah bangsa. Perguruan tinggi menurutnya harus berperan penting dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi lain dalam pendidikan, riset dan teknologi dalam menularkan pengalamannya mengatasi bencana.
“Saya harap isu kebencanaan bisa menjadi perhatian pemerintah yang baru,” katanya.
Sementara ketua International Association for Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI), Raymond Cas, mengatakan salah satu model penanggulangan bencana erupsi gunung berapi yang diterapkan di seluruh dunia saat ini adalah dengan memahami perilaku gunung api yang akan meletus.
Hal itu bisa dilakukan  lewat kemajuan pengetahuan dan teknologi, pengawasan dan observasi, sistem peringatan dini, serta komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat yang didukung media massa dan peneliti.
”Komunikasi dan informasi yang disampaikan harus seimbang. Yang tidak kalah penting pendidikan tentunya tentang bahaya risiko bencananya,” pungkasnya.