Pemkab Bantu Air Bersih Warga Klumprit

DSC_5800Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI didampingi Assekda Bidang Pembangunan Dra Suyamsih MPDdan Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono DW SH dan Kabag Administrasi Pembangunan Drs Agung Armawanto, Senin (22/9) menyerahkan bantuan air bersih di wilayah pedukuhan Klumprit  Desa Wukirharjo Prambanan.

Dari 144 KK di pedukuhan Klumprit sebagian besar kekurangan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih tersebut sebagian masyarakat membeli tangki air, meskipun harganya cukup tinggi antara Rp – Rp   tetapi karena kebutuhan yang pokok masyarakat tetap membeli air.

Untuk itu dikatakan Sri Purnomo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dalam seminggu akan mendrop air sejumlah 100 tangki dengan koordinasi sepenuhnya kepada Camat Prambanan sehingga bantuan yang disalurkan dapat merata ke setiap padukuhan yang kekurangan air bersih. Menurut Camat Prambanan, Drs Abu Bakar, jumlah KK yang memerlukan air bersih di wilayahnya mencapai  KK dan yang rawan kekurangan air bersih sejumlah 2118 KK.

Sementara untuk kekeringan tahun ini sedikit mengalami penurunan kalau tahun lalu bantuan air yang disalurkan mencapai 1400 tangki saat ini hanya ditarget 1000 tangki hal ini karena sudah ada upaya penambahan jaringan air bersih ke rumah tangga dan untuk tahun-tahun mendatang akan ditambah lagi untuk jaringan ke rumah tangga.***




Gali Tanah Untuk Kolam Ikan Warga Prambanan Temukan Batuan Candi

batuSleman – Warga Dusun Pulerejo Desa Bokoharjo Kecamatan Prambanan Sleman, Untoro (33) menemukan bebatuan yang diduga merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB). Batu dengan panjang 162 sentimeter, tebal 58 sentimeter dan lebar 36 sentimeter ini pertama kali ditemukan, Rabu (17/9) lalu  sekitar pukul WIB.

Informasi yang berhasil dikumpulkan ketika itu Untoro hendak menggali tanah untuk memperdalam kolam ikan. Tiba-tiba cangkulnya mengenai sebuah batu yang cukup keras. Ketika dia lihat ternyata ada reliefnya. Temuan baru dia laporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja.

“Baru saya laporkan, Kamis (18/9) pagi. Oleh petugas, batu ini diangkat dengan pengawasan dari pihak kepolisian. Katanya mau dibawa ke Candi Prambanan. Penggalian di kolam juga saya teruskan, sebab kalau tidak menemukan batu itu pasti sudah selesai,” kata Untoro, kemarin.

Untoro sengaja menggali kolam ikan yang merupakan tanah kas desa Bokoharjo ini, karena 1 kuintal benih ikan bawah mati semua. Padahal sudah umurnya sudah 2,5 mulai dan sebentar lagi akan saya panen. Tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba mati semua.

“Tapi ya tidak tahu, apa matinya ikan ini karena ada batu candi atau tidak,” ujarnya.




Petani Moyudan Berhasil Kurangi Hama Tikus Hingga Ribuan Ekor

Sleman– Petani di Kecamatan Moyudan, Sleman memiliki cara tersendiri dalam mengatasi hama tikus. Hasilnya pun tak tanggung-tanggung, ribuan tikus tertangkap sehingga jumlah populasi hama penyerang dapat ditekan.

Ketua Kelompok Tani (KT) Gemah Ripag Sangubanyu, Khusairi mengatakan kunci mengatasi hama ini adalah kerjasama. Bersama sejumlah petani, desa ini melakukan program Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT).

“PHTT ini efektif sekali untuk mengurangi hama tikus. Kami belum menghitung secara pasti, tapi mungkin hasil panen kali ini akan lebih baik,” kata Khusairi di Dusun Sangubanyu, Desa Sumber Rahayu, Moyudan Sleman, kemarin.

Pertanian padi di lahan seluar 1,7 hektare milik KT Gemah Ripah Sangubanyu mendapat pendampingan khusus untuk program PHTT oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jogja sejak April lalu. Khusairi mengaku, kelompoknya telah menangkap ekor tikus hingag kemarin.

Ribuan tikus yang tertangkap itu memberikan harapan besar bagi Khusairi dan kawan-kawan. Pasalnya, sejak tahun 2003, panen padi di wilayah tersebut sering gagal akibat serangan hama tikus.

“Penanaman yang sebelum program ini kemarin saja gagal panen,” ujarnya.

Program PHTT diterapkan di daerah perbatasan Sleman dan Bantul. Selain KT Gemah Ripah Sangubanyu, BPTP juga mendampingi KT Giat Makarti Goser dari Desa Sumber Rahayu, Moyudan, serta KT Marsudi Lestasi Jurug dan KT Sido Dadi Jaten dari Desa Agrosari, Sedayu, Bantul.




Atasi Kekeringan Warga Prambanan Diminta Manfaatkan Dam dan Sumur Dalam

Sleman – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno mengatakan sejak beberapa tahun lalu wilayah Kecamatan Prambanan memang menjadi daerah yang dampak kekeringannya paling parah setiap musim kemarau.

“Untuk membantu mengatasi kekeringan musim kemarau ini warga yang belum terjangkau tiga sistem jaringan air bersih di Prambanan, diminta memanfaatkan dam dan sumur-sumur dalam yang telah dibangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” kata Sapto kepada wartawan di Sleman, Senin (22/9).

Dikatakan Sapto musim kemarau diperkirakan masih terjadi dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Di Prambanan lanjutnya ada dam pengendali di Dawangsari, Sambirejo. Volume airnya mencapai meter kubik dan bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Diperkirakan, airnya masih cukup sampai selesai musim kemarau nanti,” tutur Sapto.

Dibenarkan Sapto bahwa saat ini telah terjadi penurunan debit air, terlebih di Prambanan. Karena itu silahkan memanfaatkan dan mengelola sumur dalam yang sudah ada. Ada sebanyak delapan sumur dalam telah dibangun di Prambanan untuk mengantisipasi kekeringan. Sapto memaparkan kedelapan sumur tersebut dikelola warga Dusun Gedang, Kikis, Sawo, dan Sembir di Desa Sambirejo, Dusun Pereng di Desa Sumberharjo, Dusun Jontro dan Jali di Desa Gayamharjo, serta Dusun Mlakan di Desa Madurejo.

Sementara itu, tiga sistem jaringan air bersih di Prambanan secara bertahap akan dilakukan konversi energi dari solar ke listrik. Saat ini baru sistem II di Dusun Bleber Desa Sumberharjo yang energi penggerak pompanya sudah dikonversi dari solar ke listrik.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito mengungkapkan terdapat beberapa saluran yang perlu diperbaiki pada sistem jaringan air bersih di Prambanan. Misalnya sarana perpipaan di Bleber, ada kerusakan sepanjang sekitar satu kilometer karena pipanya sudah cukup tua dan aus.

Setelah perbaikan jaringan dan konversi energi selesai, ketiga sistem tersebut diharap mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar keluarga di kawasan perbukitan Prambanan. Biaya operasional pun dinilai lebih hemat jika pompa digerakkan dengan energi listrik.




Ruang Laktasi di Kantor Pemkab Sleman Belum Memadai

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengakui penyediaan ruang laktasi bagi ibu menyusui di lingkungan kantor Pemerintah Kabupaten Sleman belum memadai. Pegawai yang masih menyusui terpaksa memanfaatkan ruang seadanya saat memompa air susu ibu (ASI).

Yani, seorang PNS di kantor Pemkab Sleman mengungkapkan, terdapat ruang laktasi di tempat kerjanya. Sayangnya, kondisi ruangan tersebut tidak nyaman.

“Tempatnya kurang representatif dan tidak nyaman,” kata Yani.

Ruang laktasi di Kantor Setda Sleman memanfaatkan ruang kosong di bawah tangga. Sebelumnya, ruangan tersebut digunakan sebagai tempat ibadah.  Lantainya hanya beralasakan karpet dan terdapat sebuah tirai sebagai penutup.

“Itu jelas tidak nyaman. Privasinya kurang. Jadi kadang saya harus memompa ASI di ruang kepala bagian atau di ruang properti protokol,” papar Yani.

Penyediaan ruang laktasi diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu. Secara umum, aturan tersebut mencantumkan, pengurus tempat kerja dan penyelenggara sarana umum harus mendukung program ASI eksklusif. Salah satu bentuk dukungannya adalah menyediakan fasilitasi khusus untuk menyusui atau memerah ASI.

Belum adanya fasilitas ruang laktasi yang memadai di lingkungan Pemkab Sleman diakui Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini Mkes. Alasannya, saat ini pihaknya masih fokus ke penyediaan ruang khusus merokok.

“Memang belum dan sedang diusahakan, tapi kalau di tempat umum sudah lumayan banyak,” ucap Linda.

Linda mengatakan pihaknya telah melakukan pembinaan melalui kampanye kepada masyarakat mengenai tempat kerja yang harus menyediakan ruang laktasi.

“Tempat-tempat yang banyak pekerja wanitanya itu biasanya sudah ada. Di Pasar Godean juga disediakan,” ungkapnya.