Kemenag Sleman Desak Penarikan Buku SKI

Sleman – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mendesak Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Agama menarik buku pegangan guru untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam bagi siswa kelas VII MTs. Kepala Kantor Kementerian Agama Sleman, Luthfi Hamid mengatakan buku yang digunakan untuk guru ini mengandung isi yang menyesatkan.

“Salah satunya adalah menyebut bahwa berhala modern adalah makam wali,” kata Luthfi kepada wartawan, kemarin.

Menurut Luthfi, pernyataan itu bertentangan dengan kondisi yakni kebiasaan masyarakat Islam baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Ia menambahkan makam para wali di banyak negara dibangun dengan indah misalnya makam Syaikh Abdul Qodir Jaelani, makam Abu Hanafi dan sebagainya.

Di buku ini pula, lanjut Luthfi, juga terdapat teks yang isinya mengarah bahwa penyebaran Islam selalu dengan peperangan. Ini bisa menimbulkan persepsi lain dan tidak sesuai dengan kebenaran. Sementara itu dalam pengecekan terhadap buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa kelas VII MTs juga terdapat banyak kesalahan. Diantaranya menyebutkan isteri Nabi Ibrahim adalah Siti Hawa.

Dengan banyaknya kesalahan pada buku yang dibuat sesuai dengan Kurikulum 2013 itu, Kepala Kantor kementerian Agama Kabupaten Sleman mendesak agar buku itu ditarik dari peredaran dan dokumennya pun dimusnahkan.




Pemkab Fasilitasi Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Sleman – Asisten II Bidang Pembangunan, Dra Sutyamsih MPD mengatakan bahwa dalam memberikan fasilitas pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus, Kabupaten Sleman mengacu pada Peraturan Mentri (Permen) Nomor 70 Tahun 2009, tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan atai bakat istimewa. 

“Pada dasarnya dalam Permen tersebut mengamanahkan bahwa seluruh anak usia sekolah mempunyai hak yang sama untuk mendapat pendidikan yang layak,” kata Suyamsih ketika menerima kunjungan kerja Dewan Pendidikan Kota Metro Lampung di Aula Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, Kamis (18/9).

Rombongan Dewan Pendidikan Kota Metro Lampung dipimpin oleh Drs H Nasrianto Efendi MAP, sebagai ketua I Dewan Pendidikan Kota Metro beserta 8 anggotanya berkunjung di Kabupaten Sleman. Sedang maksud dan tujuannya berkunjung di Sleman khususnya Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman adalah untuk menimba pengalaman tentang bagaimana  pendidikan Inklusif di Sleman dan tentang Bosda, Wajar 12 tahun serta beasiswa yang ada di Sleman, sehingga bisa sebagai pembanding antara Kota Metro denganKabupaten Sleman.

Selanjutnya Suyamsih mengatakan bahwa Sleman telah melakukan penerapan kurikulum yang menyesuaikan dengan potensi peserta didik. Sekolah membuat dua criteria ketuntasan minimal yaitu untuk anak regular dan bagi anak berkebutuhan khusus menyesuaikan dengan kondisi serta potensi anak berkebutuhan khusus tersebut. Secara fluktuatif menyesuaikan dengan dinamika usia didik anak berkebutuhan khusus yang bersekolah, jumlah sekolah inklusif di Kabupaten  Sleman terdapat 40 sekolah yang terbagi dalam tingkatan sekolah dasar, SMP maupun SMA.

Standar minimal yang diterapkan di Sleman adalah sekolan inklusif minimal satu sekolah tingkat SD dan SMP tiap Kecamatan, dan untuk SMA/SMK minimal satu  sekolah untuk Kabupaten. Lebih lanjut  Suyamsih menambahkan bahwa sekolah tidak boleh menahan ijazah seseorang anak didik dengan alasan apapun dan apa bila sampai menahan ijazah tersebut sekolah tetap tidak dibenarkan.




Distribusi Buku Alami Kendala Proses Pembelajaran Siswa di Sleman Tidak Seperti Yang Diharapkan

Sleman – Kurikulum 2013 memang sudah mulai dilaksanakan untuk tahun 2014/2015 ini baik itu ditingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Meski sejak awal sudah dilakukan persiapan sedemikian rupa ternyata pemberlakukan kurikulum 2013 ini masih banyak mengalami kendala terutama untuk pendistribusian buku tematik yang menjadi pegangan belajar siswa belum diterima siswa terutama untuk siswa SMP, SMA dan SMK.

“Kami memang mengakui kurikulim 2013 ini masih ada beberapa masalah terutama untuk pendistribusian buku tematik untuk pegangan siswa sehingga dampaknya proses pembelajaran siswa di Sleman terutama untuk siswa SMP, SMA dan SMK tidak seperti yang diharapkan,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Sleman, Arif Haryono SH kepada wartawan di Pres Room Pemkab Sleman, menanggapi keluhan para orangtua siswa SMP, SMA dan SMK terkait belum diterimanya buku tematik tersebut, Kamis (18/9).

Dikatakan Arif,  terkendalanya pendistribusian buku tematik ini tidak hanya dialami oleh sekolah – sekolah di Sleman saja tetapi juga dialami oleh sekolah lain diseluruh Indonesia. Hal ini disebabkan buku tematik tersebut didistribusikan langsung dari Kementrian Pendidikan. Dijelaskan Arif bahwa buku untuk siswa SD di Sleman sudah dapat didistribusikan 100 persen.

Sementara untuk SMP baru didistribusikan pada 6 sekolah yang dijadikan pilotsing untuk kurikulum 2013 sedang sekolah lainnya belum mendapatkan distribusi buku tersebut. Sedang untuk SMA dan SMK di Sleman dari 42 SMA dan 55 SMK baru 35 persennya yang didistribusikan sehingga kekurangannya masih cukup banyak.

“Sebenarnya untuk mengatasi hal ini dari Kementrian sudah membuat surat edaran ke sekolah – sekolah yang belum mendapat buku diminta untuk foto copy dari CD yang telah dibagikan melalui guru – guru yang mendapat pelatihan dan yang dicopy disarankan sesuai kebutuhan saja atau per tematik,” jelas Arif.

Disisi lain lanjut Arif, kepada orangtua siswa juga diharapkan mengambil materi buku tematik tersebut dari internet. Hanya saja yang menjadi kendala karena terlalu banyak yang mengakes internet menjadi sangat lambat.

“Untuk membantu orangtua siswa lebih mudah mengakses internet maka Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Hubkominfo) menawarkan pada Dinas Pendidikan agar materi buku tematik ini bisa dilokalkan sehingga untuk mendownloadnya lebih cepat dan mudah,” kata Kabid Kominfo, Eka Surya.

Terhadap penawaran ini, Arif Haryono menyambut baik sehingga diharapkan dapat membantu siswa. “Harapannya kerjasama ini bisa dilaksanakan secepatnya sebelum Ulangan Tengah Semester yang tinggal sebulan lagi berlangsung,” tutur Arif.




Pemkab Sleman Siap Kosongkan KRB III

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyatakan siap menjalankan Peraturan Presiden RI No70/2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

“Kami akan terus melakukan pendekatan dengan warga yang masih tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Ini masih ada waktu tiga tahun untuk sosialisasi,” kata Sri Purnomo, kemarin.

Sri Purnomo mengakui saat ini masih terdapat ratusan kepala keluarga yang enggan pindah dari KRB III.

“Ada ratusan KK di tiga dusun. Saya selama ini juga sudah sering mengingatkan warga di KRB III agar mempertimbangkan relokasi,” paparnya. Tiga dusun yang dimaksud Sri Purnomo adalah Dusun Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul yang ada di Desa Glagaharjo, Cangkringan.

Bantuan dalam upaya membujuk warga KRB III agar bersedia direlokasi dari segala pihak pun akan disambut baik oleh Pemkab Sleman. “Pemerintah Provinsi katanya siap membantu. Tentu akan kami sambut dengan baik,” tambah Sri Purnomo.




Penyerahan Penghargaan Atlet dan Pelatih Warnai Upacara Haornas

HaornasSleman – Upacara Hari Olah Raga Nasional (Haornas) ke XXXI Kabupaten Sleman tahun 2014 dilaksanakan di lapangan Pemda Sleman, Rabu (17/9) sekaligus dilakukan penyerahan penghargaan bagi pelatih dan atlet berprestasi tingkat nasional yang berasal dari Kabupaten Sleman. 

Penghargaan berupa uang pembinaan tersebut diserahkan oleh Sekda Sleman dr Sunartono MKes dan Ketua DPRD Sleman Hj Muslimatun dan didampingi Ketua KONI Sleman Ir Pramono dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Raga kabupataen Sleman Arif Haryono SH Pelatih dan Atlit berprestasi tingkat nasional yang berasal dari kabupaten Sleman tersebut Muh Sholikhin cabang atletik dari SD Mlati, Dwi Muragil Handayani cabang atletik dari SMPN 2 Tempal, Riko Amanda Pratama cabang Voli dari SMPN 4 Gamping, Wahyu Dwi Prakosa cabang Voli dari SMPN 4 Sleman, Kaula Nur Hidayat cabang Voli dari SMPN 3 Kalasan, Ari Fitri Prasetyo cabang atletik dari SMPN 2 Tempel, Fauziah Putri Denastra cabang renang dari SDN Puren Depok, Anak Agung Ngurah Arya RW cabang renang dari SMPN 4 Depok, Faizira Ma’rufa cabang renang dari SMPN3 Sleman, Nica Beta Ayu Pancariksa cabang atletik dari SMAN 1 Gamping, Awang Putra Sembada cabang catur dari SMAN 1 Godean, Eka Kartika Sari cabang Voli dari SMAN 1 Seyegan, Fatikah Adibah cabang voli dari SMAN 1 Seyegan, Adinda Narulita Sari cabang voli dari SMAN 1 Seyegan, Norma Gupita Mustika M cabang voli dari SMAN 1 Ngaglik, Dian Permata Sari cabang pencak silat dari SMAN 2 Ngaglik, Sukri pelatih atletik dari SMPN 2 Tempel, Wijaya Wira Setiyawan pelatih Voli dari SMPN3 Sleman, Dede Wahyudi pelatih renang dari SMP Nudi Mulia Dua dan Bagas Iswanto pelatih atletik dari SMPN 2 Tempel.

Sedangkan Menpora dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sunartono antara lain menyampaikan bahwa Peringatan HAORNAS XXXI tanggal 9 September 2014 merupakan momentum yang tepat untuk kembali mengingatkan semua untuk membangun budaya olahraga. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga merupakan slogan yang harus terus diimplementasikan secara baik dan benar di kalangan seluruh masyarakat.

Dalam sambutanya Menpora juga mengajak kepada semua pimpinan lembaga, instansi di pusat, kepala daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk menggerakkan masyarakat dan pihak swasta ikut berpartisipasi dalam mewujudkan pembudayaan olahraga melalui penyediaan sarana dan prasarana, pendanaan serta menggalakkan event-event olahraga baik rekreasi, pendidikan maupun prestasi.

Pemerintah maupun pemerintah daerah menjadi penggerak dan fasilitator dalam mewujudkan aktivitas olahraga di masyarkat sebagai gaya hidup (life style) dengan menganjurkan kegiatan-kegiatan olahraga di hari jumat atau hari libur lainnya di instansi-instansi pemerintah, sekolah-sekolah dan masyarakat.

Sementara itu Pramono Ketua KONI Sleman dalam kesempatan HAORNAS 2014 memberikan apresiasi kepada atlet Sleman yang telah berprestasi di tingkat nasional dan berharap kepada atlet lainnya untuk dapat meningkatkan prestasi. Pembinaan olahraga akan terus dilakukan namun juga diperlukan adanya kebersamaan dan adanya kepedulian dari pengambil kebijakan di Kabupaten Sleman untuk suksesnya program pembinaan olah raga di Kabupaten Sleman.

Hal ini mengingat untuk melakukan pembinaan olahraga dan melakukan event-event olahraga diperlukan biaya yang tidak sedikit dan ini perlu dukungan anggaran dari pemerintah daerah. Pramono juga mengharapkan agar Cabang olahraga tetap semangat dalam melakukan kegiatan karena olahraga membutuhkan persiapan baik fisik maupun non fisik, berlatih dan terus berlatih, persiapan teknis maupun latih tanding untuk dapat meraih prestasi pada event olahraga di tingkat DIY maupun tingkat nasional. Dengan persiapan yang matang yang dilakukan sejak dini Pramono optimis Sleman akan kembali menjadi juara umum pada Porda DIY.