Sleman Miliki Berbagai Potensi Menarik Sektor Usaha

Sleman – Kabupaten Sleman, yang terletak pada kawasan strategis memiliki berbagai potensi kewilayahan yang  menarik di berbagai sektor usaha dan investasi. “Kondisi ini juga didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dan terdidik, aksesibilitas yang memadahi, serta ketersediaan prasarana dan sarana yang mendukung tumbuh kembangnya investasi di Sleman,” kata Staf Ahli Bupati Bidang Keuangan Sleman, Dra Sudarningsih MSi, kemarin.

Menurut Sudarningsih, selain hal tersebut, Kabupaten Sleman juga memiliki keunggulan komparatif yang strategis, terletak pada jalur ekonomi regional dengan daya tarik jalur wisata utama di DIY yaitu Candi Prambanan, Borobudur, dan Kraton Yogyakarta. “Kabupaten Sleman menyimpan beragam potensi yang masih belum banyak digali dan dikembangkan. Oleh karena itu, Sleman sangat terbuka dan berpotensi bagi pengembangan usaha-usaha ekonomi kreatif, baik sebagai pendukung kepariwisataan maupun untuk pemenuhan permintaan pasar dalam negeri,” katanya.

Ditambahkan Sudarningsih bahwa  jumlah perusahaan yang berizin di Kabupaten Sleman pada 2013 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya meningkat 5,03 persen menjadi perusahaan mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). “Jumlah ini meningkat 5,10 persen menjadi perusahaan mempunyai Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan meningkat 9, 48 persen atau menjadi 127 perusahaan mempunyai TDG, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai orang,” tambah Sudarningsih.

Dijelaskan Sudarningsih, program dan kegiatan di sektor pariwisata juga mampu meningkatkan jumlah wisatawan di Kabupaten Sleman pada 2013 sebesar 5,71 persen. “Penambahan jumlah wisatawan tersebut juga didukung adanya peningkatan jumlah sarana wisata di pada 2013, seperti hotel berbintang meningkat 13,04 persen, hotel melati meningkat 2,13 persen, dan sarana wisata lainnya,” katanya.

Sementara, berdasarkan perhitungan angka sementara pertumbuhan pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga konstan menunjukkan peningkatan dari Rp 7,069 juta per kapita per tahun menjadi Rp7,471 juta per kapita per tahun dan pertumbuhan ekonomi menjadi 5,69 persen dibanding 5,45 persen pada 2012.




Sholat Idul Adha di Masjid Agung

Sleman – Salah satu ciri khas ketakwaan , yang dijanjikan akan masuk surga Allah, adalah berinfak baik dalam keadaan suka maupun duka. Pengorbanan vertikal dalam rangka beribadah kepada Allah SWT bererti pula pengorbanan horizontal menjadi ibadah insalah dan alamiah. 

Daging merupakan sesuatu yang paling disukai oleh masyarakat Arab, yang hingga sekarang masih belum bisa dilepaskan dari karakteriktiknya sebagaai masyarakat agraris. Dengan memberi daging kepada masyarakat, melalui kurban, berarti  memberikan yang terbaik yang disukai oleh seseorang. Itulah keiklasan, namun dimikian persoalannya tidak hanya sampai disini.

Hal tersebut disampaikan  Prof Drs Yudian Wahyudi MA Ph.D saat khotbah Idul Adha di Masjid Agung Dr Wahidin  Sudirohusodo Sleman, Minggu (5/10). Lebih lanjut disampaikan bahwa boleh menjadikan hewan sebagai simbol keiklasan, tetapi jangan sampai merusak keseimbangan, apalagi memusnahkan alam. Itulah  sebabnya mengapa hewan yang akan disembelih harus jantan dan sudah powel, sebab jika hewan yang disembelih itu betina, apalagi masih muda maka dikawatirkan akan memusnahkan hewan tersebut, karena di Arab tidak ada Air.

Jadi salah satu hikmah dari larangan menyembelih hewan betina, apalagi masih muda, adalah dalam rangka menjaga kelestarian hewan itu sendiri. Karena yang disembelih hewan jantan, apalagi sudah powel maka reproduksi hewan tersebut terjaga. Sedangkan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bertempat di Dusun Gondanglegi Hargobinangun Pakem pada Minggu (5/10)  melakukan serah terima distribusi daging kurban kepada 2500 KK bagi penerima manfaat . Daging tersebut dari  Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang meluncurkan Program Global Qurban 2014.

Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo  menyambut baik partisipasi ACT yang telah peduli pada sesama yang perlu mendapat bantuan. Apapun bantuannya yang jelas akan bermanfaat terutama bagi mereka yang kurang mampu. Bantuan tersebut diserahkan oleh Kepala Cabang ACT Jogja,  Awal Purnama ST dan diterima Bupati Sleman Drs Sri Purnomo, selanjutnya diserahkan kepada masyarakat yang membutuhkan.




Masyarakat Diminta Waspadai Toksoplasma dan Cacing Hati

Sleman – Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi meminta masyarakat  untuk waspada terhadap penyakit toksoplasma pada kambing dan cacing hati pada sapi pada saat menyembelih hewan kurban. Apalagi dalam hari raya Idul Adha diperkirakan ada sekitar hewan kambing dan sapi yang disembelih. 

“Hewan yang terkena toksoplasma ini jika dikonsumsi bisa mengganggu reproduski manusia. Sedangkan cacing hati juga bisa membahayakan bagi tubuh jika dalam memasak kurang sempurna,” kata Widi.

Oleh karena itu  masyarakat diminta  waspada terhadap hewan yang terkena toksoplasma dan cacing hati. “Jika saat menyembelih hewan kurban menemukan hati sapi ada cacing supaya hatinya dibuang saja. Tapi dagingnya tetap bisa dikonsumsi,” tambah Widi.

Untuk memantau hewan kurban, dinas telah menerjunkan sekitar 184 petugas dari dinas dan Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Petugas mulai kerja sejak beberapa waktu lalu hingga penyembelihan hewan kurban.




Pasar Tradisional di Sleman Butuh Penataan Ulang

Sleman – Saat ini, keberadaan pasar tradisional di Sleman semakin terdesak dengan menjamurnya pasar modern, seperti super market dan mal. Agar mampu bersaing dan tidak ditinggalkan masyarakat, pasar tradisional membutuhkan penataan ulang. Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani, kemarin mengakui, penataan pasar tradisional menjadi fokus perhatiannya.

Saat ini ada 41 pasar kabupaten dan 36 pasar desa di Kabupaten Sleman. Namun, pembenahan dan penataan ulang tidak bisa bisa dilakukan serentak, salah satunya karena keterbatasan anggaran. Endah mengatakan, proses dilakukan bertahap dengan menerapkan skala prioritas.

Berdasarkan hasil kajian Dinas Pasar Sleman, terdapat enam pasar besar dan potensial yang diprioritaskan segera dibenahi. “Tujuannya tentu agar pasar tersebut dapat ikut mengangkat perekonomian wilayah,” kata Endah. Enam pasar tradisional yang dimaksud adalah Pasar Godean, Tempel, Pakem, Gamping, Sleman, dan Prambanan.

“Secara bertahap akan dibenahi sesuai kondisi yang ada. Misalnya, apabila tanahnya sudah jadi milik Pemda, itu yang dibangun dulu,” kata Endah. Sebagai tahap awal, Dinas Pasar Sleman saat ini tengah membenahi Pasar Prambanan dan Pasar Sleman. Tahun ini merupakan tahun kedua pembangunan Pasar Prambanan, sedangkan Pasar Sleman memang dimulai tahun ini.

“Ada pedagang di Pasar Prambanan dan pedagang di Pasar Sleman. Selama proses pembangunan, pedagang Pasar Prambanan direlokasi ke Pasar Darurat Pelemsari,” kata Endah.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI juga sempat meninjau pembangunan di Pasar Sleman beberapa waktu lalu. “Pembangunan gedung dua lantai ini akan memberikan tempat bagi pedagang tumpahan Pasar Induk Sleman. Jumlahnya mencapai 400 pedagang, belum termasuk klitikan dan unggas,” ujarnya.