Kejuaraan Terbuka Grasstrack Bupati Cup I Tahun 2014

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan dunia balap motor dan memasyarakatkan olah raga otomotif di wilayah DIY dan Jawa Tengah,  masyarakat Desa Mororejo bekerjasama dengan Bronjot Racing akan menyelenggarakan kejuaraan terbuka Grasstrack Bupati Cup I Tahun 2014. Kejuaran terbuka tersebut  akan dilaksanakan pada hari  Sabtu dan Minggu tanggal 25 dan 26 Oktober 2014 dimulai pukul WIB sampai dengan selesai bertempat di Mororejo Cirkuit Park, Karanggawang Mororejo, Tempel, Sleman.

Kejuaraan terbuka diselenggarakan untuk menandai lounching Mororejo Sirkuit Park yang berlokasi di dusun Karanggawang Mororejo. Sirkuit dibangun diatas tanah kas desa,  bengkok perangkat desa seluas 1,5 ha. Keberadaan Sirkuit tersebut  menurut Kepala desa Roni Nurdiyantoro, Selasa (7/10) untuk mengembangkan perekonomian dan potensi masyarakat Desa mororejo. Sirkuit saat ini sudah bisa dipakai untuk latihan para crosser DIY dan Jateng setiap hari  Rabu, Sabtu dan Minggu pukul    WIB.

Sirkuit memiliki fasilitas yang  memadai yakni lahan parkir yang luas,  kemanan dan kenyamanan penonoton. Karena area sircuit berada di lembah dan penonton melihat dari atas, terdapat fasilitas Mushola dan Toilet.  Kedepan untuk memberikan kemudahan para croser yang sebagian besar dari luar Kabupaten Sleman akan dikembangkan homestay dengan memanfaatkan rumah penduduk, sehingga dapat memberikan nilai tambah masyarakat.

Kejuaraan terbuka Grasstrack akan melombakan 14 kelas,  mulai dari pemula hingga veteran  dengan total hadiah Rp 45 Juta. Kelas yang dilombakan meliputi  1. Bebek Standard Pemula DIY, 2. Bebek Standard Pemula Jateng, 3. Bebek Standar Pelajar pemula, 4. Mini Motor  6-12  Non SE,   Moto 12-15 Non SE,6. Mini MOTO SE. 65, 7, Bebek Modife Pemula, 8. FFA Pemula, 9 Modife Open. 10. FFA Open, 11. KLX Open, 12. Veteran 35 Th Non Pembalap , 13. Trabas Non Pembalap Non Enduro, 14. SE Open.

Lintasan yang digunakan untuk lomba sepanjang 850 meter dengan lebar 6 meter. Tujuan kegiatan antara lain, untuk mengevaluasi para pembalap motor di wilayah Jogja dan sekitarnya. Untuk menggali potensi minat dan bakat pembalap generasi muda di Jogja agar dapat penyaluran bakat dan hobinya dengan positif serta untuk menghibur masyarakat di sekitarnya.

Sedangkan sasaran dalam kegiatan tersebut adalah untuk mencari bibit-bibit yang unggul dan tangguh di Jogja khususnya di Kabupaten Sleman agar nantinya menjadi pembalap yang tangguh dan handal yang bisa membanggakan masyarakat Sleman kususnya dan Indonesia pada umumnya.

Tempat  Pendaftaran dilaksanakan di Sekretariat Dahlan Suprojo Jl. Gendol Tempel Gadingan Sumberrejo, Tempel Sleman Yogyakarta CP  dan di Sirkuit. Peserta ditargetkan 200 orang, hingga saat ini sudah terdaftar  100 orang yang siap mengikuti lomba. Peserta  minimal berumur 5 tahun dan maksimal Veteran 60 tahun. Biaya pendaftaran Rp ,- sudah termasuk asuransi.




SMAN I Turi Gelar Sarasehan Budaya

Sleman – Kepala Sekolah SMAN 1 Turi, Kristya Mintarja SPd MEd mengatakan, sarasehan budaya bertajuk ‘Menjadi pelajar berprestasi dan berkesadaran’ tersebut sebagai upaya untuk mendukung pencanangan sekolah berbasis budaya.

“Kegiatan seperti ini perlu dilakukan karena siswa dan seluruh civitas sekolah merupakan pilar utama yang cukup strategis bagi nilai-nilai peradaban. Untuk itu, kami ingin agar generasi muda ini diubah mental budayanya. Hingga menghasilkan generasi muda yang baik dan berkarakter,” kata Kristya di Sleman, kemarin.

Menurut Kristya dalam sarasehan yang digelas SMAN I Turi ini menghadirkan narasumber Wimbadi Jakaprasena, pemerhati budaya dan penulis yang juga sutradara film. Dalam kesempatan tersebut Wimbadi yang berbicara dihadapan pelajar SMAN I Turi, mengibaratkan pelajar sebagai perusahaan kecil yang harus dikelola dengan baik. Jika tidak dikontrol atau dikelola akibatnya bisa fatal dikemudian hari.

“Perusahaan kecil artinya diri kita sendiri. Sebagai contoh, jika kita menebar benih kebaikan, maka kita juga akan menuai kebaikan. Itulah hukum alam dan gravitasi,” kata Wimbadi.




Pencapaian PBB Di Sleman Baru 68 Persen

Sleman – Hingga jatuh tempo pembayaran 30 September 2014, Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) 2014 di Sleman baru tercapai 68,81 persen. Dari Rp 72,183 miliar, baru masuk Rp Rp 49,668 miliar. Dari Objek Pajak (OP), masih ada OP yang belum taat pajak dan itu setara dengan Rp 22,5 miliar. Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman, ketetapan tertinggi berada di Kecamatan Depok dengan Rp 26 miliar. Sedangkan untuk OP, tertinggi adalah PT Angkasa Pura (AP) I Bandara Adisucipto Jogja yang nilai pajaknya mencapai Rp 1,2 miliar pertahun.

“Selain bandara, perhotelan juga termasuk OP yang patuh pajak. Kendala yang kami hadapi selama ini, banyak Wajib Pajak (WP) yang berdomisili di luar Sleman. Bahkan luar Yogyakarta. Kondisi ini membuat kami kesulitan ketika menagih,” kata Kabid Penagihan dan Pendapatan Daerah Lain (PDL) Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sleman Wahyu Wibowo kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Bagi WP yang belum membayar pajak, Wahyu menghimbau segera melunasi secepatnya. Hanya saja karena sudah lewat jatuh tempo, akan terkena denda dua persen dari beban pajak perbulan. Untuk itu semakin cepat dilunasi, guna mengurangi beban denda yang harus dibayar. Hingga 31 Desember 2014, Dispenda mentargetkan jumlah OP yang membayar mencapai 80 persen. Jika hingga akhir tahun masih tetap ada OP yang belum bayar pajak, tetap akan dikejar oleh petugas.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dispenda, ketetapan terbanyak berada di Kecamatan Depok, dengan Rp 26,859 miliar. Disusul Kecamatan Mlati dengan Rp 9,702 miliar dan Ngaglik dengan Rp 8,441 miliar. Dari ketetapan itu, untuk Depok teralisasi Rp 17,464 miliar atau 65,02 persen, Kecamatan Mlati Rp 6,241 miliar atau 64,33 persen dan Ngaglik Rp 5,716 miliar atau 67,72 persen.

Sedangkan untuk kecamatan yang pembayaran PBB P2 diatas 90 persen, yakni Cangkringan dengan 96,31 persen atau Rp 588 juta dari ketetapan Rp 611 juta. Disusul Kecamatan Turi dengan 90,38 persen dari Rp 904 juta dari ketetapan Rp 1 miliar.

“Selain menghimbau kepada OP agar segera membayar pajak, kami juga melakukan pendataan ulang. Baik OP maupun WP. Tujuannya guna optimaliasai penerimaan PBB P2, sehingga target 80 persen dari ketetapan bisa tercapai atau sama dengan penerimaan PBB P2 2013 Rp 57,6 miliar,” jelasnya.




Musim Kemarau Petani Ikan Diminta Manfaatkan Air Sebaik Mungkin

Sleman – Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan pada musim kemarau seperti saat ini atau pada pancaroba air untuk pengairan kolam  debitnya sangat terbatas atau berkurang, untuk itu para petani ikan di Sleman diminta dapat memanfatkan air sebaik mungkin.

“Kolam perikanan supaya dapat memiih budidaya ikan yang tahan terhadap cuaca panas, jangan sampai menebar bibit ikan yang terlalu banyak untuk menghindari kerugian apabila sulit mendapatkan air,” kata Widi Sutikno, kemarin.

Dijelaskan Widi bahwa untuk wilayah yang melimpah debit airnya, agar dapat meningkatkan produksi hasil ikan dan menambahkan lahan kosong yang belum dimanfaatkan untuk dijadikan lahan perikanan ataupun pertanian, sehingga menambah kesejahteraan petani. Seperti diketahui pada musim kemarau dan kekeringan di wilayah Kabupaten Sleman ini selain mengakibatkan beberapa wilayah seperti di daerah Prambanan mengalami kekeringan juga berdampak merugikan petani ikan di wilayah Sleman karena pada petani ikan tidak dapatmengelola kolam ikan miliknya.

“Akibat kemarau saat ini kami mengalami kerugian hingga jutaan rupiah, karena tidak ada air untuk kolam ikan yang kami kelola,” kata petani ikan di Seyegan, Sleman, Suwarjo. Menurut dia, akibat kemarau tahun ini kolam-kolam menjadi kering dan dibiarkan kosong terbengkelai. “Biasanya jika pasokan air lancar, dan kolam tercukupi air kami bisa menabur benih ikan untuk pembesaran dengan keuntungan saat panen mencapai jutaan rupiah,” kata Suwarjo.

Dengan menabur sekitar ekor benih ikan nila, bawal atau lele maka saat panen bisa mendapatkan hasil ikan sekitar tiga setengah kuintal dengan kurun waktu tiga hingga empat bulan pemeliharaan. “Sekarang jelas tidak mungkin kami menabur benih, karena kolam kosong tidak teraliri air,” katanya. Suwarjo mengatakan, akibat tidak adanya pasokan air karenamengeringnya saluran irigasi di wilayahnya. Selanjutnya pihaknya hanya hanya bisa menunggu datangnya hujan agar kolam dapat terisi air kembali.

Ia menambahkan, karena tidak bisa mengelola kolam, para petani ikan rata-rata kehilangan pendapatan antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. “Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sementara ini kami beralih profesi dengan bekerja buruh pertanian atau bangunan,” katanya.




Petugas Temukan Cacing Hati Pada Sapi Kurban

Sleman – Petugas dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman menemukan cacing hati dalam sejumlah sapi yang dijadikan sebagai hewan kurban. Selain itu ada juga daging yang dicurigai tidak sehat, sehingga petugas menyatakan tidak layak dikonsumsi. Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Ir Suwandi Aziz mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan di Sleman, Senin (6/10).

Menurutnya, berdasarkan tim yang diterjunkan dinas guna memantau penyembelihan hewan kurban di sejumlah titik petugas menemukan adanya cacing hati. “Kami temukan ada tujuh cacing hati di sejumlah titik yang dipantau. Hati yang terkena cacing tersebut langsung kita musnahkan. Meski tidak berpengaruh apa-apa jika dikonsumsi, namun kami sarahkan untuk dimusnahkan saja karena hatinya sudah rusak,” kata Suwandi.

Jumlah tersebut menurut Suwandi masih data sementara, karena waktu penyembelihan hewan kurban masih akan dilangsungkan hingga Rabu (8/10) nanti sesuai dengan Hari Tasyrik. Namun diharapkan jumlahnya menurun. Sedangkan tahun lalu, kasus cacing hati yang ditemukan petugas mencapai 178 ekor sapi. Sedangkan, petugas lain juga mencurigai ada daging kambing yang tidak layak konsumsi. Hal tersebut berdasarkan warna dari daging yang cenderung pucat. Selain itu organ dalamnya juga bermasalah. Kondisi ini membuat petugas memutuskan jika daging kambing tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

 “Masih membutuhkan uji laboratorium untuk menentukan hewan tersebut terkena penyakit apa. Namun dari pandangan mata, memang warna daging agak pucat. Sebelum disembelih, hewan sudah diperiksa dan dari segi fisik termasuk sehat. Namun ketika disembelih dan masuk proses pengulitan baru muncul,” kata Drh Sigit salah satu dokter hewan dari DPPK Sleman.

Petugas telah menyambil sampel dari daging tersebut untuk selanjutkan dilakukan uji laboratorium. Butuh waktu cukup lama, sampai hasilnya dapat diketahui. “Untuk daging kambingnya dikubur ditanah dengan kedalaman minimal tiga meter,” jelasnya.