Pemenuhan Kebutuhan Pangan Hadapi Tantangan Berat

IMG_9097Sleman – Di masa mendatang upaya pemenuhan kebutuhan pangan akan menghadapi tantangan semakin berat karena alih fungsi lahan dan pasar bebas. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan lahan pertanian, iklim dan pemasaran sangat berpengaruh besar terhadap keberlanjutan kehidupan manusia. Hari Pangan Se dunia memiliki makna penting mengingatkan kembali bahwa perwujudan ketahanan pangan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, pihak swasta maupun masyarakat yang harus dilaksanakan. 

Demikian  disampaikan Ir Widi Sutikno MSi, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman  pada puncak peringatan Hari Pangan Se Dunia di Halaman Kantor Dinas  Pertanian dan Kehutanan Sleman, Kamis (9/10).

Dalam acara ini diadakan sarasehan pentingnya kemasan dan strategi pemasaran produk olahan pertanian menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia dengan nara sumbe dari Pusat Kemasan UKM Yogyakarta dan Disperindakop Sleman, Pameran/bazar yang diikuti 23 kelompok usaha yang tergabung dalam 10 asosiasi, aneka lomba olahan basah dan olahan kering berbahan baku ubi jalar, lomba olahan daging kelinci, lomba jajanan sehat anak sekolah dan lomba kudapan dan menu balita dari ikan gurami.

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSi pada kesempatan tersebut  mengatakan Tema peringatan hari pangan kali ini adalah ”Pertanian Bioindustri Berbasis Pangan Lokal Potensial” sangat tepat bagi masyarakat Sleman yang memiliki banyak potensi pangan lokal yang sangat potensial yang dapat ditanam di sekitar tempat tinggal.

“Masalah dan tantangan yang dihadapi Kabupaten Sleman untuk mencapai status ketahanan pangan yang mantap masih cukup berat,” kata Sri Purnomo.

Bagi Kabupaten Sleman upaya yang harus ditempuh untuk memantapkan ketahanan pangan mencakup aspek kuantitatif maupun kualitatif. Pola konsumsi pangan penduduk masih terdominasi beras, padahal ketergantungan yang berlebihan terhadap satu jenis komoditas sangatlah rawan.

Dalam kesempatan tersebut Sri Purnomo juga menyempatkan meninjau dan mencicipi masakan hasil lomba olahan daging kelinci dan gurameh serta meninjau bazar aneka produk hasil pertanian Sleman bersama Ketua DPRD Sleman, Kepala Dinas Pertanian dan juga Direktur Utama Bank BPD DIY yang menyumbang 1 set tenda untuk kegiatan pasar tani.




Bregada Bathok Bolu Wakili DIY dalam Karnaval Keprajuritan di TMII

Sleman – Untuk kesekian kalinya Kabupaten Sleman akan mewakili Provinsi DIY dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara tahun 2014 yang akan diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu (12/10) mendatang. Perwakilan tersebut dilakukan oleh Bregada Bathok Bolu asal Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman yang beranggotakan 70 bregada prajurit, 12 penari dan 8 pengiring/penabuh gamelan.  Selain melakukan karnaval prajurit Bregada Bathok Bolu juga akan menampilkan fragmen dengan judul “Mustikaning Katonggo”.

Adapun tim produksi Bregada Bathok Bolu terdiri atas penanggungjawab Tugiran selaku Kepala Desa Purwomartani, sutradara dan penata tari Eko Feryanto SSn, penata iringan Gandung, penata busana Sunarni. Sedangkan tokoh Pangeran Ganti diperankan oleh Yusko, dan Ratu Ayu oleh Bellinda Ayu dan Marietha Hevi. Sedangkan penari berasal dari Sanggar Kembang Sakura Mesan Sinduadi Mlati Sleman.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa event karnaval Keprajuritan Nusantara ini merupakan ajang yang cukup strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi dikalangan pelaku seni budaya maupun bagi masyarakat secara umum. “Seni dan budaya memiliki peran yang cukup signifikan dalam membangun peradaban manusia menuju peradaban yang adiluhung,” kata Ayu di Sleman, Kamis (9/10).

Dalam hal ini lanjut Ayu, pemerintah tidak bisa secara terpisah melakukan upaya pelestarian seni budaya tanpa adanya peran aktif dari para stakeholder dan masyarakat umum. Pemerintah, stake holder dan masyarakat perlu secara terpadu dan sinergis membangun peradaban melalui pelestarian seni dan budaya yang ada di masing-masing daerah.

Ayu menambahkan bahwa dalam hal pengiriman kontingen Bregada Bathok Bolu dalam event Karnaval Keprajuritan Nusantara 2014, kejuaraan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bahwa makna kejuangan dan kewiraan dalam mempertahankan ibu pertiwi benar-benar tertanam dan terinternalisasi dalam bregada prajurit tersebut. Yang pada gilirannya juga akan tertanam kepada generasi berikutnya. Mengingat kontingen Sleman yang dalam hal ini membawa nama Propinsi DIY, maka benar-benar diambilkan dari bregada yang memang eksis dan bukan bentukan sesaat hanya untuk mengikuti event tersebut.

Sementara fragmen “Mustikaning Katonggo” menggambarkan cerita kepahlawanan Pangeran Ganti yang merupakan keturunan Hamengku Buwono IV, yang berjuang melawan berbagai binatang buas dan makhluk halus penghuni hutan Katonggo demi kesejahteraan rakyatnya.

Melihat masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, Pangeran Ganti berusaha membuka Hutan Katonggo untuk dijadikan lahan pertanian guna meningkatkan taraf hidup rakyatnya.  Namun niat baik tersebut ternyata banyak menghadapi rintangan yang menghadang, yang disimbolkan dengan raksasa dan makhluk halus penghuni Hutan Katonggo yang dipimpin oleh Ratu Ayu utusan Ratu Pantai Selatan.

Dengan gagah berani, semangat pantang menyerah dan rela berkorban, Pangeran Ganti berhasil mewujudkan cita-citanya dalam meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Hal ini disimbolkan dengan sebuah kendi yang berisi air perwita sari sebagai lambang kemakmuran. Kisah ini hingga sekarang masih tetap dinalurikan oleh masyarakat Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman dalam upacara adat Bathok Bolu yang dilaksanakan setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa.




REKOMPAK Akan Selesaikan Rencana Aksinya Akhir Tahun 2014

REKOMPAK Akan Selesaikan Rencana Aksinya Akhir Tahun 2014

Sleman – Sesuai dengan Rencana Aksinya, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sector perumahan dan pemukiman pascaerupsi Merapi 2010 telah dilaksanakan. Pada Rabu, 8 Oktober 2014 REKOMPAK bersama Pemda Sleman melakukan Rapat Koordinasi Teknis di Ruang Rapat Lantai 3 Setda Sleman. Hadir dalam kesempatan ini Bupati Sleman, Asisten Sekda Bidang Pembangunan, Dra. Suyamsih, , dan Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Kementrian PU, Ir. Adjar Prayudi, MCM, MCE.

Dalam laporannya Ir. Adjar Prayudi, MCM, MCE. menyampaikan bahwa dari data rumah rusak berat dan hancur pasca erupsi 2010 sejumlah divalidasikan sejumlah rumah di 21 desa di lereng Merapi. Dari jumlah tersebut telah dibangun rumah tahan gempa yang telah dilengkapi dengan aliran listrik. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan 383 titik infrastruktur tersier dan prasarana untuk kebutuhan pengurangan resiko bencana. Dari jumlah tersebut bari rumah yang telah dihuni.

Oleh karena itu tantangan selanjutnya adalah memindahkan masyarakat yang masih berada di kawasan rawan bencana ke daerah hunian tetap yang telah disediakan. Hal ini membutuhkan kerja sinergis antara REKOMPAK dan Pemda Sleman. Hingga September 2014, masih 607 KK lagi yang belum difasilitasi pembangunan rumahnya karena belum bersedia ikut kegiatan relokasi. Mereka masih tinggal di kawasan rawan bencana, dengan infrastruktur permukiman dan fasilitas pengurangan risiko bencana yang kurang memadai.

Pembangunan rumah tersebut didanai dengan dana bantuan rumah sebesar Rp. 61,2 M ditambah dengan kontribusi swadaya masyarakat sebesar Rp. 19.5 M. Hal ini cukup menggembirakan karena local wisdom masyarakat Merapi menciptakan pola partisipatif pemberdayaan sehingga memudahkan pemerintah dalam membangun kawasan huntap yang layak huni. Menanggapi hal ini, Bupati Sleman berharap agar masyarakat yang masih menghuni kawasan rawan bencana dapat segera berpindah ke lokasi huntap yang telah disediakan  sehingga resiko bencana di masa-masa mendatang dapat diminimalisir.