Sleman – Bregada Bathok Bolu asal Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman yang mewakili DIY dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara tahun 2014 berhasil meraih sebagai Juara Umum atau Penyaji Terbaik sehingga berhak meraih Piala Bergilir dari Panglima TNI. Selain Piala Bergilir juga memperoleh uang pembinaan sejumlah Rp 10 juta dari Manajemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Prestasi tersebut diperoleh setelah berlaga melawan provinsi lain se Indonesia pada Minggu, (12/10) di Taman Mini Indonesia Indah. Demikian antara lain disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (13/10). Ayu juga mengungkapkan bahwa keberhasilan Bregada Bathok Bolu dalam festival skala nasional tersebut merupakan keberhasilan kolektif yang patut dibanggakan sehingga menambah deretan prestasi yang diperoleh Kabupaten Sleman.
“Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran, kerjasama dan kerja keras dari berbagai pihak, diantaranya Disbudpar Sleman yang senantiasa memberikan penguatan, pemberdayaan dan fasilitasi kepada kelompok-kelompok seni budaya sehingga lebih berdaya dan berkualitas,” kata Ayu.
Selain itu lanjutnya juga peran para bregada prajurit Bathok Bolu, para penari, pengiring/ penabuh gamelan serta tim produksi Bregada Bathok Bolu yang terdiri atas penanggungjawab Tugiran selaku Kepala Desa Purwomartani, sutradara dan penata tari Eko Feryanto SSn, penata iringan Gandung Jatmiko, penata busana Sunarni.
Selama pementasan yang menampilkan fragmen dengan judul “Mustikaning Katonggo” maupun kirab sejauh kurang lebih 3 kilometer kontingen Bregada Bathok Bolu memukau pengunjung yang memadati kawasan TMII Jakarta. Dalam fragmen tersebut tokoh yang memerankan Pangeran Ganti diperankan oleh Yusko, dan Ratu Ayu oleh Bellinda Ayu dan Marietha Hevi. Sedangkan penari berasal dari Sanggar Kembang Sakura Mesan Sinduadi Mlati Sleman.
Fragmen “Mustikaning Katonggo” menggambarkan cerita kepahlawanan Pangeran Ganti yang merupakan keturunan Hamengkubuwono IV, yang berjuang melawan berbagai binatang buas dan makhluk halus penghuni hutan Katonggo demi kesejahteraan rakyatnya. Melihat masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, Pangeran Ganti berusaha membuka Hutan Katonggo untuk dijadikan lahan pertanian guna meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Namun niat baik tersebut ternyata banyak menghadapi rintangan yang menghadang, yang disimbolkan dengan raksasa dan makhluk halus penghuni Hutan Katonggo yang dipimpin oleh Ratu Ayu utusan Ratu Pantai Selatan. Dengan gagah berani, semangat pantang menyerah dan rela berkorban, Pangeran Ganti berhasil mewujudkan cita-citanya dalam meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Hal ini disimbolkan dengan sebuah kendi yang berisi “air perwita sari” sebagai lambing kemakmuran. Kisah ini hingga sekarang masih tetap dinalurikan oleh masyarakat Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman DIY dalam upacara adat Bathok Bolu yang dilaksanakan setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa.
Kontingen Sleman yang mewakili DIY berhasil menyabet 3 piala penghargaan sekaligus yaitu Penyaji Atraksi Terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Tata Rias dan Busana Terbaik dari Kepala Pusat Sejarah Tentara Nasional Republik Indonesia dan Penyaji Unggulan dari Direktur Utama TMII sehingga atas dominasi penghargaan tersebut kontingen ini berhak menyandang sebagai Juara Umum atau Penyaji Terbaik dari Panglima TNI dan berhak atas piala bergilir dari Panglima TNI.