Gelar Budaya Mampu Gali Potensi Budaya

IMG_9488Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan kegiatan gelar budaya dinilai sangat positif karena mampu menggali potensi budaya, seni, dan ekonomi kreatif. Terlebih lagi sekarang ini Pemerintah Daerah DIY, juga sangat memberikan perhatian kepada kelompok-kelompok seni tradisional yang ada di seluruh wilayah DIY. 

“Saya berharap kegiatan gelar budaya dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga kelompok-kelompok seni dapat terus mengaktualisasikan kesenian-kesenian tersebut sehingga nantinya dapat menarik wisatawan baik dari manca negara maupun dosmetik, sehingga nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Wedomartani khususnya dan Kabupaten Sleman umumnyam” kata Sri Purnomo ketika menghadiri gelar budaya dalam rangka Festival Desa Budaya 2014 di Balai Desa Wedomartani, kemarin.

Sementara Sugeng Raharjo, Ketua Desa Budaya Desa Wedomartani menyampaikan bahwa kegiatan gelar budaya ini diikuti oleh 28 kelompok seni, 25 kelompok kuliner, 15 stand kerajinan, dan juga dimeriahkan dengan gerobag sapi.  Seluruh kelompok tersebut berasal dari 25 dusun yang ada di Desa Wedomartani.




Dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara di TMII Bregada Bathok Bolu Sleman Raih Juara Umum

rekondisiSleman – Bregada Bathok Bolu asal Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman yang mewakili DIY dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara tahun 2014 berhasil meraih sebagai Juara Umum atau Penyaji Terbaik sehingga berhak meraih Piala Bergilir dari Panglima TNI. Selain Piala Bergilir juga memperoleh uang pembinaan sejumlah Rp 10 juta dari Manajemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Prestasi tersebut diperoleh setelah berlaga melawan provinsi lain se Indonesia pada Minggu, (12/10) di Taman Mini Indonesia Indah. Demikian antara lain disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (13/10). Ayu juga mengungkapkan bahwa keberhasilan Bregada Bathok Bolu dalam festival skala nasional tersebut merupakan keberhasilan kolektif yang patut dibanggakan sehingga menambah deretan prestasi yang diperoleh Kabupaten Sleman.

“Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran, kerjasama dan kerja keras dari berbagai pihak, diantaranya Disbudpar Sleman yang senantiasa memberikan penguatan, pemberdayaan dan fasilitasi kepada kelompok-kelompok seni budaya sehingga lebih berdaya dan berkualitas,” kata Ayu.

Selain itu lanjutnya juga peran para bregada prajurit Bathok Bolu, para penari, pengiring/ penabuh gamelan serta tim produksi Bregada Bathok Bolu yang terdiri atas penanggungjawab Tugiran selaku Kepala Desa Purwomartani, sutradara dan penata tari Eko Feryanto SSn, penata iringan Gandung Jatmiko, penata busana Sunarni.

Selama pementasan yang menampilkan fragmen  dengan judul “Mustikaning Katonggo” maupun kirab sejauh kurang lebih 3 kilometer kontingen Bregada Bathok Bolu memukau pengunjung yang memadati kawasan TMII Jakarta.  Dalam fragmen tersebut tokoh yang memerankan Pangeran Ganti diperankan oleh Yusko, dan Ratu Ayu oleh Bellinda Ayu dan Marietha Hevi. Sedangkan penari berasal dari Sanggar Kembang Sakura Mesan Sinduadi Mlati Sleman.

Fragmen “Mustikaning Katonggo” menggambarkan cerita kepahlawanan Pangeran Ganti yang merupakan keturunan Hamengkubuwono IV, yang berjuang melawan berbagai binatang buas dan makhluk halus penghuni hutan Katonggo demi kesejahteraan rakyatnya. Melihat masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, Pangeran Ganti berusaha membuka Hutan Katonggo untuk dijadikan lahan pertanian guna meningkatkan taraf hidup rakyatnya.

Namun niat baik tersebut ternyata banyak menghadapi rintangan yang menghadang, yang disimbolkan dengan raksasa dan makhluk halus penghuni Hutan Katonggo yang dipimpin oleh Ratu Ayu utusan Ratu Pantai Selatan. Dengan gagah berani, semangat pantang menyerah dan rela berkorban, Pangeran Ganti berhasil mewujudkan cita-citanya dalam meningkatkan taraf hidup rakyatnya.

Hal ini disimbolkan dengan sebuah kendi yang berisi “air perwita sari” sebagai lambing kemakmuran. Kisah ini hingga sekarang masih tetap dinalurikan oleh masyarakat Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman DIY dalam upacara adat Bathok Bolu yang dilaksanakan setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa.

Kontingen Sleman yang mewakili DIY berhasil menyabet 3 piala penghargaan sekaligus yaitu Penyaji Atraksi Terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Tata Rias dan Busana Terbaik dari Kepala Pusat Sejarah Tentara Nasional Republik Indonesia dan Penyaji Unggulan dari Direktur Utama TMII sehingga atas dominasi penghargaan tersebut kontingen ini berhak menyandang sebagai Juara Umum atau Penyaji Terbaik dari Panglima TNI dan berhak atas piala bergilir dari Panglima TNI.




Verifikasi Penghargaan Kesatria Bhakti Husada Bagi Bupati Sleman

Sleman – Dukungan Bupati Sleman terhadap pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan diapresiasi Tim Verifikasi Penghargaan  Kesatria Bhakti  Husada  dari Kementrian Kesehatan RI. Tim bertugas memverifikasi data yang disampaikan oleh Bupati dan dicocokkan dengan melihat langsung praktek dilapangan. Hal inilah yang akan menjadi pertimbangan Tim apakah Bupati dapat diberi penghargaan Penghargaan  Kesatria Bhakti  Husada dari Menkes atau tidak.

Penghargaan yang diberikan kepada kepala Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan apresiasi kepada Bupati dalam memotivasi dan menggerakkan kegiatan dalam bidang kesehatan. Kegiatan ini menurut Ketua Tim Verifikasi, dr Asjikin Iman Hidayat Dahlan MHA, Sekretaris PPSDM Kementrian Kesehatan RI, dilaksanakan dalam rangka kegiatan Hari Kesehatan Nasional 12 November mendatang.

Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dalam paparannya di hadapan tim menyampaikan 3 kegiatan yang menjadi prioritas dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yakni meningkatkan kelompok peduli upaya penanggulangan penyakit menular DBD dengan memfasilitasi pembentukan tim pemantau jentik dalam kelompok TABO (Tanggap Bocah), anak-anak peduli jentik untuk memberantas penyakit DBD, dimulai dari Desa Caturharjo tahun 2012 dan diikuti desa lain di Kecamatan Sleman  serta dilanjutkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Sleman.

“Sehingga saat ini sudah terbentuk di 8 Kecamatan lain yakni Gamping, Godean, Moyudan, Depok, Kalasan, Ngaglik, Pakem dan Turi,” kata Sri Purnomo ketika menerima Tim Verifikasi Penghargaan Kesatria Bhakti Husada dari Kementrian Kesehatan RI di Pemkab Sleman, Senin (13/10).

Dijelasklan Sri Purnomo bahwa sebagai Bupati juga membuat kebijakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan persalinan untuk memfasilitasi pembuatan akte kelahiran bagi semua bayi yang lahir di sarana tersebut sehingga begitu bayi dibawa pulang ke rumah juga sudah membawa akte kelahiran dalam waktu 3 hari.  Sejak dilaunching 1 Januari 2014 per Oktober 2014 telah diterbitkan akte kelahiran sebanyak buah dari jumlah bayi lahir bayi.

Sri Purnomo juga memberikan perhatian terhadap pelayanan psikolog di Puskesmas dengan menjalin kerjasama dengan Fakultas Psikologi UGM pada tahun 2005 – 2013 dan telah menerbitkan rekomendasi Bupati untuk pengadaan tenaga psikolog  tahun 2013 melalui rekruitmen pegawai BLUD non PNS di Seluruh Puskesmas (25 tenaga) dan 1 tenaga di Dinas Kesehatan Slleman.

Konsultasi Psikolog klinis mencakup upaya promotif, preventif, kuaratif dan rehabilitative di 25 puskesmas antara lain calon pengantin, ibu hamil, deteksi tumbuh kembang balita dll. Jugakonseling tes sukarela untuk deteksi HIV AIDS dan penyakit menular seksual dengan psikolog klinis sebagai pendamping.

Acara juga dilanjutkan dialog tim dengan Bupati Sleman yang dipandu oleh Kepala Dinas kesehatan Sleman dr Mafilidati Nuraini  MKes yang didampingi Kepala Bappeda dan Ketua Forum Kabupaten Sehat Kab Sleman  dan peninjauan lapangan ke TABO desa Caturharjo Sleman, dan Pelayanan akte kelahiran di Puskesmas Rawat Inap Mlati dan pelayanan Psikolog di Puskesmas.