Lomba Kentongan Peringati 4 Tahun Erupsi Merapi

1710 SLEMAN LOMBA KENTONGANSleman – Untuk mengingat peristiwa empat tahun erupsi Merapi dilakukan berbagai kegiatan seperti Salat Merapi (Safari Layar Tancap Merapi) dengan melakukan simulasi menghadapi bencana di beberapa tempat, seperti yang dilakukan di lapangan Kridomulyo Cangkringan, Kamis (16/10) dan lomba kentongan yang dilakukan Kami (16/10) malam. 

Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi bila terjadi bencana serupa dimasa datang, namun kita semua tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Hadir pada lomba kentongan tersebut antara lain wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu SS MHum, Plt Camat Cangkringan Mustadi, Kepala Desa Argomulyo Darjono. Lomba kentongan tersebut dibuka Wakil Bupati yang ditandai dengan pemukulan kentongan. Lomba diikuti 7 peserta/dusun yang berada di bantaran Kali Gendol, yaitu Dusun Guling. Dusun Bronggang, Dusun Jetis (2 regu), Dusun Karanglo, Dusun Jaranan, Dusun Brongkol.

Dalam lomba tersebut juga dilakukan pertanyaan tentang tata cara membunyikan kentongan tentang beberapa kejadian, karena setiap bunyi kentongan mempunyai makna sendiri-sendiri. Setelah peserta semua peserta menampilkan kebolehannya dan menjawab pertanyaan dari dewan juri maka tim juri memutuskan sebagai juara III Dusun Jetis A, juara II Dusun Jetis B dan juara I Dusun Jaranan. Para juara mendapkan hadiah berupa uang pembinaan yang disampaikan oleh Plt. Camat Cangkringan, Kepala Desa Argomulyo dan ketua PKK desa Argomulyo.

Sementara Yuni saat membuka lomba kentongan tersebut menyampaikan bahwa simulasi yang telah dilakukan pada siang harinya sebagai gambaran dan persiapan apabila bencana serupa empat tahun yang lalu terjadi, meskipun semua pihak tidak menginginkan hal tersebut.

Lebih lanjut disampaikan bahwa dengan lomba kentongan  agar masyarakat salalu nguri-uri budaya jawa , karena dengan kentongan masyarakat dapat menyampaikan pesan informasi kepada orang lain hanya dengan kode suara kentongan tertentu, misalnya bila terjadi bencana maupun kematian, sebelum ada alat komunikasi yang canggih seperti pengeras suara masyarakat dulu menggunakan suara kentongan tertentu.

Sedangkan baik Plt Camat Cangkringan maupun Kepala Desa Argomulyo memberi apresiasi dan dukungan kepada Salat Merapi dengan adanya acara lomba tersebut. Dengan lomba kentongan mengingatkan akan fungsi kentongan tersebut karena bisa dijadikan alat komunikasi yang efektif dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Bencana erupsi Merapi memang telah berlalu, namun dampak dari erupsi Merapi tersebut sampai saat ini masih terasa, terutama masyarakat yang berdampak langsung. Memang akibat erupsi tersebut banyak makna yang bisa diambil, mulai dari mereka yang merasa diuntungkan sampai mereka yang merasa dirugikan, kalau disuruh memilih, jelas mereka tidak menginginkan erupsi itu terjadi.

Disampaikan pula bahwa kedepan Desa Argomulyo akan mengadakan lomba serupa, tentu dengan kriteria dan persyaratan yang lebih baik dengan memperebutkan hadiah yang lebih besar pula.




Pemkab Sleman Audit Energi Pada Gedung Pemerintah

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan audit energi pada bangunan gedung di komplek pemerintahan setempat untuk upaya penghematan terutama energi listrik. “Kebutuhan energi terutama listrik di Kabupaten Sleman semakin meningkat, dan hal tersebut belum diimbangi dengan pasokan energi yang cukup,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Energi dan Mineral Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno di Sleman, Jumat (17/10).

Dikatakan Sapto, DIY khususnya di Kabupaten Sleman tidak mempunyai sumber energi yang besar. Oleh karena itu perlu dilakukan penghematan energi dan manajemen pemakaian energi. “Langkah-langkah menuju manajemen energi yaitu komitmen manajemen, ada penanggung jawab kelistrikan, mengadakan audit energi, implementasi program audit dan merencanakan kegiatan konservasi energi,” kata Sapto. Menurutnya, audit terhadap penggunaan energi listrik dapat mencegah pemborosan dan meningkatkan efisiensi. Audit energi ini akan dilaksanakan  di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman yang akan dilakukan oleh PT Bangun Cipta Persada.

Dijelaskan Sapto bahwa Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman akan menjadi contoh dan pioner dalam manajemen penggunaan energi di lingkungan Pemkab Sleman. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan audit terhadap konsumsi energi listrik dan kualitas listrik dengan cara memonitor dan merekam pola konsumsi energi listrik. Audit energi dilaksanakan selama 60 hari terhitung mulai 14 Oktober 2014 sampai dengan 12 Desember 2014. Dan audit energi ini dimaksudkan bukan hanya mengejar penghematan saja tetapi juga mempertimbangkan resiko yang ditimbulkan dari upaya penghematan tersebut.

“Untuk itu juga akan diperhatikan beberapahal terkait dengan pemeliharaan peralatan, perawatan, dan prosedur pengoperasian peralatan yang baik. Tidak menutup kemungkinan akan dilakukan modifikasi/penggantian/penambahan peralatan untuk mengurangi kerugian-kerugian, sehingga efisiensi dapat ditingkatkan,” tutur Sapto.

Upaya audit tesebut lanjutnya merupakan tindakan kongkrit dalam upaya konservasi energi, tanpa mengurangi kenyamanan dan kinerja pelayanan.

“Dalam melakukan audit energi ini akan dilakukan melalui beberapa tahapan pelaksanaan audit yaitu survei data lapangan, pengukuran, analisis peluang penghematan, analisis keuangan, implementasi projek audit, evaluasi dan perkembangan projek,” katanya.




Jalur Evakuasi Merapi Rusak Parah, Ini Penjelasan DPUP Sleman

Sleman – Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Sleman, Mirza Anfansury menyesalkan banyaknya truk bertonase besar melewati jalan yang diperuntukkan sebagai jalurevakuasi. Akibatnya, kondisi jalan mengalami kerusakan mulai aspal mengelupas sampai berlobang.

“Seharusnya truk-truk tersebut melewati jalanan yang memang direkomendasikan untuk dilalui. Kami berharap agar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada seperti Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air dan Mineral, Kepolisian, serta masyarakat saling bersinergi memberi perhatian penuh terhadap keberadaan jalanan yang rusak tersebut,” kata Mirza, kemarin.

Menurut Mirza jika ada kepedulian dari semua pihak tentu tidak akan terjadi kerusakan. Bahkan, sepanjang tahun 2014, ada empat ruas jalan yang ditangani bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Jika tak ada perhatian serius dari banyak pihak, kerusakan infrastruktur jalan akan semakin meluas. Akibatnya biaya perbaikan akan bertambah banyak, sementara anggaran terbatas.

Sebelumnya, Aktivitas pengerukan bahan tambang golongan C pascaerupsi Gunung Merapi tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Akibatnya, infrastruktur jalan raya yang berada di kawasan sekitar Gunung Merapi mengalami kerusakan parah.