5 Candi Direvitalisasi, Jumlah Kunjungan Justru Meningkat

Sleman – Meski masih dalam proses revitalisasi, 5 Candi di Sleman tetap beroperasi. Proses perawatan ini justru menarik perhatian pengunjung. Tampak dari jumlah kunjungan yang terus meningkat, Hingga akhir tahun 2014, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berencana melakukan revitalisasi di Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kalasan, Candi Barong, dan Candi Ijo. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan proses revitalisasi tidak menghambat aktivitas pariwisata di candi dan sekitarnya. Bahkan, jumlah kunjungan wisatawan justru meningkat.

“Dari catatan di buku pengunjung, warga yang mendatangi candi-candi itu sudah sangat banyak. Misalnya di Candi Ijo, rata-rata ada pengunjung dalam sebulan,” kata Ayu, kemarin.

Angka kunjungan yang tercatat tersebut, belum termasuk pengunjung yang lupa tidak mengisi buku pengunjung. Ayu optimistis dengan angka kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, akan semakin banyak saat revitalisasi selesai. Meski demikian, Ayu menyadari promosi wisata bagi candi-candi kecil di Sleman perlu ditingkatkan.

“Kami sedang giat mengenalkan candi-candi kecil agar wisatawan tidak hanya tahu Candi Prambanan dan Ratu Boko saja,” ungkapnya.

Candi Ijo alam sebulan tidak kurang dikunjungi sekitar 3000 pengunjung, meski sekarang ini komplek candi ijo terus dilakukan pembenahan.




BPBD Sleman Pantau Lahar Hujan dengan 8 EWS

Sleman– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah menyiapkan delapan ‘Early Warning System’ (EWS) untuk memantau aktivitas di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Semua EWS tersebut dalam kondisi baik dan siapa jika harus digunakan sewaktu-waktu.

Kabid Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sleman, Heru Saptono, Kamis (30/10) mengungkapkan bahwa dari delapan EWS tersebut mayoritas ditempatkan di sepanjang Kali Gendol dan Opak yang memang penumpukan materialnya berada di dua sungai tersebut. Untuk titik-titiknya seperti Turgo II, Kemiri, Pulowatu, Kliwang atau Teplok, Bronggang, Jaranan, Kejambon Lor dan Ngerdi.

“Sebenarnya secara keseluruhan kita memiliki 13 EWS. Namun dari jumlah tersebut, hanya delapan yang dikhususkan untuk mengamati banjir lahar hujan. Sedangkan sisanya yang empat untuk awan panas. Keempat EWS untuk awan panas, berada di Dusun Kalitengah Lor, Srunen, Tangkisan dan Huntap Batur. Sedangkan satu EWS di Turgo I untuk penakar curah hujan kondisinya rusak” katanya.

Heru menuturkan, EWS tersebut dipasang dalam sejenis tower dengan ketinggian antara 12-24 meter. Sementara itu bentuk mitigasi bencana yang telah dilakukan BPBD Sleman bersama masyarakat dan relawan salah satunya dengan cara melakukan gladi lapang serta simulasi.




Sleman Terus Kendalikan Pertumbuhan Penduduk

DSC_0090Sleman – Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX membuka Kegiatan Jambore Kader IMP dan Penyuluh KB Tingkat DIY, Kamis (30/10). Acara dilaksanakan di halaman Monumen Gunung Api Merapi (MGM) diiikuti sekitar 800  Kader IMP & Penyuluh KB se DIY. Dalam kesempatan tersebut Wakil Gubernur didampingi Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dan Direktur Bina Lini Lapangan BKKBN Pusat melepaskan burung Manyar sebagai tanda pembukaan Jambore dan penyerahan bibit pohon mahoni dan sengon untuk ditanam di wilayah Pakem. 

Sri Purnomo juga menginformasikan bahwa kesadaran masyarakat Sleman dalam melaksanakan program KB semakin tinggi. Berdasarkan pendataan bidang keluarga berencana pada tahun 2013 jumlah jiwa dalam setiap keluarga yaitu 3,3 jiwa. Jumlah tersebut memang menurun dari tahun 2012 yaitu 3,7. Namun demikian Sleman tetap berupaya untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk mengingat tantangan dalam mengendalikan jumlah penduduk di Sleman ini tidaklah ringan.

Lebih lanjut Sri Purnomo menyampaikan sasaran program KB tak hanya pada kaum ibu namun juga pada kaum pria. Pada tahun ini hingga bulan Agustus, peserta KB baru mencapai 80%, dan pencapaian peserta KB aktif telah mencapai 100%. Keberhasilan pelaksanaan program KB di Sleman tersebut tidak terlepas dari peran para kader yang notabene merupakan kaum ibu/kaum perempuan termasuk PPKBD 86 desa dan sub PPKBD yang berjumlah yang telah aktif memotivasi masyarakat baik kaum wanita maupun kaum pria untuk ber-KB.

Oleh karena itu Sri Purnomo meminta kepada seluruh kader IMP, Penyuluh KB, Anggota PIK R dan  bersama-sama mendorong masyakat untuk mengefektifkan dalam mendidik dan melakukan pengawasan pada anak dan remaja.  “Maraknya kenakalan remaja yang telah mengarah pada tindak kriminalitas sangat memprihatinkan. Mau tidak mau pengembalianperan keluarga sebagai pendidik utama anak harus diupayakan dan
diefektfkan kembali kembali,” kata Sri Purnomo.

Pembentukan karakter anak dan remaja saat ini perlu menjadi fokus perhatian bersama, orang tua, sekolah, pemerintah termasuk para kader IMP, Petugas dan Penyuluh KB serta masyarakat. Saat ini sudah tidak saatnya lagi ada pembatasan peran orangtua, guru dan masyarakat dalam mengawasi dan melakukan pembinaan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.  Menurut Sri Purnomo, permasalahan inilah yang saat ini menjadi tantangan dan tuntutan kader IMP dan penyuluh KB dalam melaksanakan pembinaan keluarga.

“Tugas dan Tanggung Jawab tidak saja mengendalikan jumlah penduduk namun juga bagaimana menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang berkarakter dan berkualitas,” tuturnya.