Pasar Tradisional di Sleman Butuh Penataan Ulang

Sleman – Saat ini, keberadaan pasar tradisional di Sleman semakin terdesak dengan menjamurnya pasar modern, seperti super market dan mal. Agar mampu bersaing dan tidak ditinggalkan masyarakat, pasar tradisional membutuhkan penataan ulang. Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani, kemarin mengakui, penataan pasar tradisional menjadi fokus perhatiannya.

Saat ini ada 41 pasar kabupaten dan 36 pasar desa di Kabupaten Sleman. Namun, pembenahan dan penataan ulang tidak bisa bisa dilakukan serentak, salah satunya karena keterbatasan anggaran. Endah mengatakan, proses dilakukan bertahap dengan menerapkan skala prioritas.

Berdasarkan hasil kajian Dinas Pasar Sleman, terdapat enam pasar besar dan potensial yang diprioritaskan segera dibenahi. “Tujuannya tentu agar pasar tersebut dapat ikut mengangkat perekonomian wilayah,” kata Endah. Enam pasar tradisional yang dimaksud adalah Pasar Godean, Tempel, Pakem, Gamping, Sleman, dan Prambanan.

“Secara bertahap akan dibenahi sesuai kondisi yang ada. Misalnya, apabila tanahnya sudah jadi milik Pemda, itu yang dibangun dulu,” kata Endah. Sebagai tahap awal, Dinas Pasar Sleman saat ini tengah membenahi Pasar Prambanan dan Pasar Sleman. Tahun ini merupakan tahun kedua pembangunan Pasar Prambanan, sedangkan Pasar Sleman memang dimulai tahun ini.

“Ada pedagang di Pasar Prambanan dan pedagang di Pasar Sleman. Selama proses pembangunan, pedagang Pasar Prambanan direlokasi ke Pasar Darurat Pelemsari,” kata Endah.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI juga sempat meninjau pembangunan di Pasar Sleman beberapa waktu lalu. “Pembangunan gedung dua lantai ini akan memberikan tempat bagi pedagang tumpahan Pasar Induk Sleman. Jumlahnya mencapai 400 pedagang, belum termasuk klitikan dan unggas,” ujarnya.




Ribuan Orang Sholat Idhul Adha di Denggung Sleman

Sleman – Ribuan umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Sabtu (4/10). Pelaksanaan Sholat Idhul Adha di Lapangan Denggung  dengan  Imam dan Khotib Prof Dr HM Amin Rais MA. 

Dalam khotbahnya Amin Rais menyampaikan bahwa sebagai pemimpin harus mempunyai aklak, iman, dan taqwa yang baik agar mampu menjadi tauladan. Lebih lanjut disampaikan perbedaan Hari Raya Idul Adha tahun 1435 H tidak perlu dipermasalahkan, semua harus menghargai perbedaan dan semuanya baik, dan tidak mengklaim bahwa yang benar adalah tanggal yang 4 atau 5 Oktober 2014.

“Islam menghargai perbedaan, tetapi yang terpenting adalah keiklasan, ” kata Amin Rais. Disampaikan pula seperti dalam berkorban, yang sampai pada Allah bukan daging atau darahnya hewan kurban  tetapi iman dan taqwanya. Pada kesempatan tersebut Amin Rais memberikan infaq dari honor sebagai Imam dan Khatib masih ditambah uang dari pribadinya yang jumlahnya lumayan.

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang  menjadi imam dan khatib sholat Idul Adha di Lapangan Desa Balecatur Gamping antara lain menyampaikan pada hakekatnya perintah kurban sudah ada sejak jaman Nabi Adam dimana Habil dan Qobil diperintahkan untuk berkorban. Dan perintah Kurban ini sangat tegas diperintahkan bagi yang mampu dalam Surat Al Kautzar. Dan tidak ada amal yang dicintai Alloh pada hari raya Idul Adha kecuali menyembelih kurban.

Kurban juga mengandung makna untuk mendekatkan diri kepada, memupuk keiklasan dan berfungsi sosial kepada masyarakat disekitarnya yang masih belum bisa makan daging setiap harinya. Karena di Sleman masih ada sekitar 12 % warga miskin yang butuh bantuan untuk mengangkat derajat meraka dengan infak, sodakoh dan zakat, sehingga harta benda yang dimikilik akan barokah dan menyelamatkan baik di dunia maupun di akherat.

Usai menjadi imam dan Khatib di Lapangan Balecatur Gamping Sri Purnomo melaksanakan pemotongan hewan kurban di Jaban Tridadi Sleman, di tempat tersebut Bupati dan warga setempat melaksanakan pemotongan hewan kurban sebanyak 6 ekor api dan 4 ekor ambing. Daging kurban tersebut sebagian didistribusikan keluar kepada masyarakat yang membutuhkan seperti ke Wonosari.

Menurut ketua panitia kurban Sudiharto daging kurban tersebut yang dibagikan ke warga untuk 400 KK masing-masing akan menerima daging sekitar 1,8 kg bagi Umat Muslim, sedangkan bagi masyarakat Non Muslim akan menerima setengahnya ( 9 ons).




Imam dan Khotib Idul Adha 1435 H

Sleman – Hari Raya Idul Adha 1435 H yang jatuh pada hari Sabtu 4 Oktober 2014/Minggu 5 Oktober 2014 dilaksanakan di berbagai tempat, hanya saja sebagian umat Islam ada yang melaksanakan Sholat Idul Adha pada hari Sabtu dan ada yang pada hari Minggu. Hingga untuk pelaksanaan Sholat Idhul Adha diberbagai tempat tidak sama. Sedangkan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI melaksanakan Sholat Idul Adha di Lapangan Balecatur Gamping Sabtu 4 Oktober 2014 sekaligus bertindak sebagai Imam dan Khatib.

Sedang Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu SS MHum melaksanakan Sholat Idul Adha di Masjid Pugeran Maguwoharjo Sleman Minggu 5 Oktober 2014. Sementara itu pelaksanaan Sholat Idul Adha di Lapangan Denggung  bertindak sebagai Imam dan Khatib Prof. Dr. HM. Amin Rais MA. Sedangkan di Masjid Agung Dr. Sudirohusodo Sleman pelaksanaan Sholat Idul Adha pada hari Minggu 5 Oktober 2014 dan bertindak sebagai Imam dan Khatib Prof Dr Yudian Wahyu PHD.

Untuk jadual  Imam dan Khatib  disejumlah tempat di Kabupaten Sleman yang melaksanakan Sholat Idul Adha hari Sabtu 4 Oktober 2014  antara lain  untuk Lapangan Golf Cangkringan bertindak sebagai Imam dan Khatib  Rustamhaji, Lapangan Argomulyo  H Tuyahmin.  Halaman Mapolda DIY  Dr H Tasman Hamami. Lapangan Balecatur  Gamping : Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo, MSI. Lapangan Sidorejo Godean  Drs Hidayaturrahman, Masjid Babussalam Godean H. Zaelani, Mpdi.

Lapangan  PT Tamanwisata Candi Prambanan dan Ratu Boko Supriyono Mpdi. Sementara di Lapangan Sendangmulyo Minggir sebagai Imam dan Khatib  H Habibullah. Halaman TV RI Yogyakarta Drs MA. Macanan Bimomartani Ngemplak H Muntadhir.  Halaman Masjid Attaqwa Pakem  Drs Asep Syaifudin MSi.

Pada hari  Minggu 5 Oktober 2014 Bupati Sleman melakukan serah terima distribusi daging Qurban kepada 2500 KK bagi penerima manfaat di Dusun Gondanglegi, Hargobinangun Pakem. Bantuan tersebut dari  Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang meluncurkan Program Global Qurban 2014.




Usai Pimpinan Dilantik, Ini Agenda DPRD Sleman

Sleman – Setelah pengambilan sumpah jabatan, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman harus segera menetapkan Tata Tertib Dewan dan membentuk alat kelengkapan (alkap)  Dewan, antara lain Badan Anggaran, Badan Musyawarah, Badan Legislasi, Badan Kehormatan, serta Komisi A, B, C, dan D.


Rapat Paripuna Istimewa pelantikan pimpinan DPRD Sleman periode 2014-2019 digelar Rabu (1/10) lalu. Haris Sugiharta dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi dilantik sebagai Ketua DPRD Sleman periode 2014-2019.

Adapun Sukaptana dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Inoki Azki Purnomo dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) juga diambil sumpah jabatannya sebagai Wakil Ketua DPRD Sleman.

Dikatakan Haris, Jumat (3/10) bahwa pembentukan alat kelengkapan dewan menjadi target pertama yang ingin dituntaskan. Pihaknya akan menyurati setiap fraksi untuk mengirimkan nama personil yang akan ditempatkan pada masing-masing alkap.

“Tanpa alkap, kami tidak bisa menjalankan tugas,” ucap Haris. Alat kelengkapan dewan ditargetkan Haris selesai pekan depan. Dia mengaku ingin langsung membahas APBD Perubahan yang harus segera dicairkan.

“Segera kami lakukan rapat pimpinan untuk membahas masalah ini,” imbuhnya kemudian.




Kemenag Resmi Tarik Buku SKI

Sleman – Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman secara resmi menarik buku Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dari Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selanjutnya buku tersebut dikumpulkan di Kantor Wilayah (Kanwil). Demikian disampaikan Kepala Kemenag Sleman, Lutfi Hamid, kemarin. Menurut Lutfi penarikan buku telah dilakukan sejak pekan lalu. Selanjutnya untuk pelajaran SKI bagi siswa kelas VII MTs, akan menggunakan buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang lama.

“Buku SKI sudah kami tarik dari seluruh MTs yang ada di Kabupaten Sleman. Baik negeri maupun swasta. Guru juga telah kami larang untuk menggunakan buku tersebut sebagai pegangan. Kami akui dalam buku tersebut memang banyak informasi yang kurang tepat,” kata Lufti.

Selain makam wali yang sempat mengundang protes banyak pihak, diakui Lutfi dalam buku tersebut terdapat sejumlah hal yang kurang sesuai dengan ajaran Islam. Seperti dipaparkannya orang Madinah suka berperang hingga keberadaan Rasul ke Madinah yang untuk mencari pasukan.

“Hal tersebut mengesankan jika orang Islam suka berperang. Padahal maksudnya tidak demikian” ujarnya.

Ditambahkan Lutfi, meski siswa kelas VII MTs kini harus menggunakan buku kurikulum KTSP, dia yakin tidak akan mengganggu proses pembelajaran. Ketika disinggung apakah sudah ada buku pengganti SKI yang Kurikulum 2013 Lutfi mengaku belum ada. “Sementara menggunakan kurikulum KTSP tidak masalah,” jelasnya.