KLH Sleman Tunggu Hasil Laboratorium

Sleman – Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Sleman belum dapat memastikan kandungan apa yang terdapat dalam tumpukan material yang mengeluarkan asap di Dusun Kranggan Baru Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Sleman. Uji laboratorium masih dilakukan dan hasilnya baru bisa diketahui dua pekan kedepan. 

Kepala KLH Sleman, Dra Ephipana Kristiyanti mengatakan hal tersebut kepada wartawan dikantornya, kemarin. Menurut Ephipana koordinasi tengah dilakukan, antara KLH Sleman, BLH Jogja, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP) Jogja dan pemerintah desa setempat. Pihaknya juga akan mengecek sumur milik warga untuk memastikan kondisi air seperti apa.

“Akan kita pastikan apakah setelah kejadian ini airnya tercemar atau tidak. Ini kita lakukan agar masyarakat tidak khawatir dengan adanya kejadian ini,” katanya.

Ephipana mengungkapkan, jika sisa pembakaran batu bara dalam tumpukan tersebut masuk dalam kategori B3 yang mengadung ‘button ash’ atau ‘fly ash’ jelas berbahaya karena sangat mudah terbakar. Namun kalau hanya sisa ‘blotong’ biasa, maka aman-aman saja.

“Blotong merupakan sisa pembakaran bahan baku pembuat gula. Sedangkan B3 merupakan sisa dari pembuatan sipiritus sehingga sangat berbahaya. Sekarang yang harus kita tahu kenapa tumpukannya bisa ada disini. Termasuk kita akan mencari informasi ke Pabrik Gula Madukismo. Sebab informasi yang kita terima, materialnya didapat dari Madukismo,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ephipana berpesan kepada masyarakat agar hati-hati ketika meminta tanah urug. Harus dipastikan terlebih dahulu dari mana asal serta tumpukannya apa saja. Aman atau tidak. Kalau murni pasir pasti aman.***




Bambu Jadi Hasil Hutan Bukan Kayu Unggulan Sleman

Sleman – Bambu sekarang ini sudah menjad hasil hutan bukan kayu unggulan Kabupaten Sleman, hal ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sleman No 306/ tanggal 29 Agustus 2013.

“Dengan keputusan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengembangan bambu sebagai tulang punggung perekonomian Kabupaten Sleman. Dan kedepannya bambu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani dan pengusahanya,” kata Joko Cahyono dari BP DAS (Daerah Aliran Sungai) Serayu Opak Progo kepada wartawan di Pres Room Pemkab Sleman, Rabu (5/11).

Menurut Joko yang didampingi kepala SKPD terkait dan pata pelaku bambu di Sleman, untuk mendukung program penanaman bambu di Sleman dari hulu sampai hilir ini akan dilakukan pengukuhan kelompok Asosiasi Sentra Bambu Sembada Kabupaten Sleman oleh Bupati Sleman bersamaan dengan workshop Temu usaha bambu Sleman untuk meningkatkan peluang pasar di UC Hotel UGM, Kamis (6/11).

Dikatakan Joko setelah bambu dijadikan hasil hutan bukan kayu unggulan Sleman selanjutnya Sleman akan membuat sentra penanaman bambu yang akan dikelola oleh Asosiasi Sentra Bambu Sembada Kabupaten Sleman dengan usaha penanaman bambu dari hulu sampai hilir. Sementara menurut Kabid Kehutanan dan Perhutani, Rofik Andriyana yang menjadi permasalahan industri bambu masih mengalami kekurangan bahan baku sehingga harus mendatangkan bambu dari luar Sleman.

Untuk tahap pertama penanaman bambu dikatakan Rofik, sudah dilakukan pada tahun 2013 lalu dengan luas lahan 30 hektar, kemudian tahun 2014 ini akan dikembangkan penanaman bambu di lahan 50 hektar. “Untuk selanjutnya targetnya bisa melakukan penanaman bambu seluas 500 hektar,” kata Rofik.

Ditambahkan Rofik, penanaman bambu ini selain untuk memenuhi kebutuhan industri, budidaya bambu juga bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Bambu merupakan tanaman dengan pertumbuhan cepat. Rumpun bambu hanya membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk menutup tanah. Penggunaan bambu sebagai furnitur dan bahan bangunan juga mengurangi kebutuhan kayu.