Awal Musim Hujan, Warga Diminta Waspada DBD

DSC_0401Sleman – Diawal musim hujan ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman meminta warga mewaspadai penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya awal musim hujan menyebabkan penyakit ini akan meningkat, masyarakat juga diminta meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes di Sleman, Rabu (12/11).

Dikatakan Linda berdasarkan catatan yang ada di Dinas Kesehatan hingga akhir bulan Oktober 2014 tercatat ada 432 kasus DBD. Jumlah ini 4 penderita diduga meninggal karena DBD.  Para korban masing-masing 2 orang di wilayah Kecamatan Berbah dan Godean.

“Kami memprediksi kasus BDB pada tahun ini bisa bertambah sampai akhir tahun 2014 dan terbanyak kasus DBD ada di Kecamatan Gamping, Depok, Godean, Mlati dan Kalasan. Namun demikian dibanding tahun 2013 jumlah kasusnya menurun dan pada tahun 2013 tercatat ada 736 kasus,” kata Linda.

Linda juga mengingatkan bila ada anggota keluarga khususnya anak-anak mendadak panas tinggi harus segera dibawa ke dokter karena perkembangan nyamuk ini sangat cepat. Selain itu, membersihkan tempat penampungan air minimial dilakukan 2 kali dalam seminggu sehingga akan memutus rantai perkembangan DBD.




Desa Wisata Brayut Siap Jadi Tempat Pementasan Ngayog – jazz

Sleman –  Desa Wisata Brayut Desa Pendowoharjo Kecamatan Sleman untuk yang keduakalinya siap menjadi tempat pementasan musik jazz tingkat internasional yang dikemas dalam Ngayog – jazz dan akan berlangsung pada tanggal 22 November 2014.

“Berbagai persiapan sudah kami lakukan untuk mensukseskan pentas musik jazz yang akan menampilkan artis musik jazz nasional maupun internasional,” kata pendiri Desa Wisata Brayut, Budi Utomo didampingi beberapa tokoh masyarakat setempat kepada wartawan di Pres Room Pemkab Sleman, Rabu (12/11).

Dikatakan Budi, Desa Wisata Brayut hanya ditunjuk sebagai tempat pementasan sehingga yang dipersiapkan adalah adalah tata panggung agar pementasan musiknya menjadi lebih menarik dan unik dengan dukungan lingkungan alam di Desa Wisata Brayut. Sedang penyelenggaranya adalah seniman Jogja Jaduk Ferianto dan kawan – kawannya. Menurut Budi, selain menyiapkan panggung dan lainnya masyarakat juga sangat antusias menyambut penyelenggaraan Ngayog – jazz ini dengan memperbaiki jalan Dusun, mengelola tempat parkir yang aman sehingga penonton tidak terlaku jauh dengan lokasi panggung.

Selain itu masyarakat Brayut juga bisa memanfaatkan even ini untuk berjualan sehingga bisa membantu menambah perekonomian masyarakat. Disamping itu homestay sebanyak 110 kamar juga siap untuk disewa pengunjung yang akan menikmati musik jazz dari siang hingga malam. “Sudah dua kali ini Brayut ditunjuk untuk pementasan Ngayog – jazz, yang pertama pada tahun 2012 dan kedua tahun 2014 ini,” tutur

Budi seraya menambahka bahwa dengan pementasan ini bisa menambah kunjungan wisata di Brayut. Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM menyambut baik atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Wisata Brayut untuk pementasan even musik jazz internasional. Dan ini membuktikan Brayut menjadi desa wisata mandiri yang mampu bekerjasama dengan pihak itu Ayu minta Brayut bisa mengemas pementasan musik tersebut lebih kreatif dan bisa dinikmati semua penonton.




239 Sertifikat Tanah Huntap Diserahkan

Sleman – Sebanyak 239 sertifikat tanah huntap (hunian tetap) Kuwang dan Randusari telah diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI  di Barak Pengungsian Randusari Cangkringan, Rabu (12/11). Hadir pada penyerahan sertifikat tersebut antara lain Kepala BPBD DIY Ir Gatot Saptadi, Kepala BPN Sleman Drs Suwito SH MKn, Plt Camat Cangkringan Mustadi SSos MM, Kepala Desa Argomulyo Darjono, Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto.

Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sebanyak 239 sertifikat untuk warga huntap Kuwang dan Randusari serta warga Kecamatan Turi dan Tempel yang telah diserahkan tersebut berarti tanah tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum.

“Dengan diserah-terimakannya sertifikat tanah ini, warga masyarakat memiliki kepastian hukum akan hak-hak atas kepemilikan tanah yang dimilikinya. Dengan dimilikinya dokumen sertifikat tanah, maka status kepemilikan tanah menjadi jelas karena memiliki kekuatan yuridis dalam perlindungan hak kepemilikannya,” kata Sri Purnomo.

Selain itu program pensertifikatan ini juga merupakan upaya untuk menertibkan administrasi pemerintahan khususnya dibidang pertanahan serta  mengendalikan laju perubahan peruntukan lahan, khususnya lahan pertanian.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa sertifikat tanah tersebut diharapkan untuk dapat menyimpan dengan baik, dan dapat memaksimalkan aset tanah pertanian tersebut untuk  kesejahteraan keluarga.

“Terlebih saat ini banyak terjadi pemalsuan dokumen pertanahan yang dapat merugikan pemilik lahan asli. Pergunakanlah lahan tersebut untuk kegiatan-kegiatan yang produktif,” pesan Sri Purnomo. Keberadaan sertifikat ini lanjutnya diharapkan juga mampu memacu petani dan pengusaha kecil dalam mendayagunakan lahannya, karena sertifikat ini nantinya juga dapat dijadikan agunan untuk peminjaman modal usaha. Untuk tahap selanjutnya, sudah saatnya untuk melangkah lebih maju dengan memikirkan kelanjutan dari pensertifikatan tersebut.

Setelah pemilik tanah memiliki hak penuh atas tanahnya, maka masyarakat pemilik tanah perlu didorong dan dimotivasi agar dapat memberdayakan tanah yang dimiliki tersebut untuk meningkatkan kesejahteraannya. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat akan tanah, sebagai rumah tempat tinggal, tempat usaha dan dan jasa, penataan kepemilikan dan pengelolaan tanah  merupakan suatu keharusan.

Selama ini, Pemkab Sleman telah berusaha mengendalikan perubahan lahan pertanian, salah satunya dengan memasang papan pengumuman tentang pelarangan pengalihan fungsi lahan. Namun demikian, upaya Pemerintah ini tidak artinya jika tidak didukung oleh masyarakat. Masyarakat diharapkan turut serta aktif  dalam mengawasi peruntukan lahan khususnya pertanian.

“Jika ada pihak-pihak yang melanggar termasuk beberapa pengembang yang nekat membangun tanpa izin. Jika masyarakat mengetahui hal ini, diharapkan segera melaporkan kepada aparat di tingkat Kecamatan  Pemkab Sleman,” tutur Sri Purnomo.

Sedangkan Kepala BPBD DIY Ir Gatot Saptadi maupun Kepala BPN Sleman Drs Suwito SH MKn antara lain menyampaikan bahwa sertifikat huntap Kuwang dan Randusari yang diserahkan sebanyak 237 bidang yang berjumlah 260 KK. Sedang dua diantaranya telah diserahkan pada HUT UUPA pada tanggal 24 September 2014. Disamping penyerahan sertifikat untuk Huntap Kuwang dan Randusari, pada kesempatan tersebut juga diserahkan sertifikat Prona bidang dan Petani 500 bidang.




Bupati Sleman Harapkan APJI Siap Hadapi MEA

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengharapkan Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) Kabupaten Sleman untuk lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai diberlakukan pada akhir 2015.

“Diharapkan para pengurus Asosiasi Perusahan Jasaboga Indonesia yang telah dilantik mempunyai dedikasi yang kuat untuk membawa pelaku-pelaku usaha jasa boga yang lebih berdaya saing bukan saja secara lokal, tetapi juga siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diberlakukan akhir 2015,” kata Sri Purnomo usai menghadiri pelantikan pengurus APJI Sleman di Rumah Dinas Bupati Sleman, kemarin.

Menurut Sri Purnomo, dengan dilantiknya kepengurusan periode 2014-2019 tersebut keberadaan APJI Sleman ke depan bisa lebih baik lagi. “Selain itu dalam berkiprah dalam usaha tata boga/katering organisasi dapat mengawal anggota dan para pelaku usaha boga dan catering untuk tidak menggunakan bahan pengawet, higenis, dan juga bersaing secara sehat,” katanya.

Dikatakan Sri Purnomo bahwa untuk memberikan pelayanan yang baik dan prima serta untuk memenuhi selera konsumen yang sangat variatif dapat ditawarkan menu-menu berbahan organik yang saat ini sudah mulai menjadi pola konsumsi sebagaian dari masyarakat. “Sangat diharapkan agar para pengusaha jasa boga lebih memanfaatkan produk pangan berbahan dasar lokal yang dari sisi nilai gizi maupun produk hidangannya tidak kalah dengan produk dari luar,” tambah Sri Purnomo.

Pengurus APJI Sleman periode 2014-2019 telah dilantik oleh Ketua APJI DIY Lusi Anny Yuniningsih dan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara dan penyerahan Surat Keputusan secara simbolis kepada ketua DPC APJI Sleman terlantik. Selain itu dilakukan penyerahan bendera dari Ketua DPD APJI DIY kepada Ketua DPC APJI Sleman, juga pembacaan ikrar oleh ketua APJI Sleman diikuti seluruh anggota APJI Sleman. Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo sebagai Dewan Pembina juga mengukuhkan DPC APJI Sleman.

Pengurus yang dilantik antara lain Ketua Hj Sriwahyuni Dewi SE, Sekretaris Hj Herwatie, Wakil Sekretaris Iwan Susanto, Sri Rudatiningsih Spd, Bendahara Intan Kusuma dan Tri Cahyaningtyas, dan dilengkapi beberapa bidang.