Pengunjung RSUD Sleman Kini Tak Lagi Bosan Menunggu

rsudSleman – Lama berada di rumah sakit, memang cukup menjemukan. Entah sedang menunggu periksa, antre obat di apotek ataupun menunggu pasien yang menjalani rawat inap. Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan guna mengusir perasaan bosan tersebut. Salah satunya membaca buku. Kegiatan itulah yang sejak setahun terakhir dapat dilakukan pengunjung yang datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman.

Ya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di RSUD Sleman telah ribuan koleksi buku dari berbagai jenis. Mulai dari agama, novel hingga anak-anak ada di TMB yang berada di lantai dua RSUD Sleman. Dalam waktu dekat, TMB hasil kerjasama Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sleman dengan RSUD Sleman tersebut akan bertambah koleksi buku lagi.

“Kita dapat hibah dari Dikti sebesar Rp 150 juta. Akan kita belanjakan buku semua agar koleksinya bisa bertambah dan beragam,” kata Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Dra Hj Kustini Sri Purnomo, kemarin.

Meski berada di lingkungan rumah sakit, namun berdasarkan data, ternyata yang datang ke TBM tidak hanya pengunjung, penunggu pasien atapun pasien RSUD. Melainkan warga sekitar yang didominasi pelajar. Tingkat kunjungan juga terus mengalami peningkatan. Tingginya animo masyarakat ini, membuat Kustini berinisiatif untuk memperluas ruang.

“Nanti menunggu pembangunan gedung baru selesai. Kita sudah sampaikan ke Dirut RSUD untuk menyediakan satu ruangan lebih lebar untuk dijadikan TBM dan ternyata disetujui. Kita berharap keberadaan TBM bisa ikut andil dalam mencerdaskan warga,” kata Kustini.

Ada tiga lokasi bagi pengunjung untuk dapat membaca buku. Di dekat ruang tunggu, ruang cuci darah dan pusatnya di lantai II. Desi Tri Ramawati (18) dan Ibnu Saputro (22) pengelola TBM RSUD Sleman mengatakan, untuk pagi hari mereka berjaga di pojok TBM di ruang tunggu. Baru siang harinya mereka naik ke lantai atas untuk menunggu di ruang utama.

Mengenai jumlah pengunjung baik yang datang sekedar membaca ataupun meminjam, per hari rata-rata 30-50 orang. Baik masyarakat sekitar, keluarga pasien, karyawan RSUD maupun pasien itu sendiri. Namun dari semua pengunjung didominasi anak-anak sekolah. Peminjam tidak dikenakan biaya termasuk ketika terlambat mengembalikan, juga tidak ada denda.

“Penimjam kita batasi tiga hari. Kalau telat, biasanya kita sms atau telepon. Pernah ada kejadian bukunya hilang. Kalau ada yang demikian, mereka kita haruskan untuk mengganti buku. Tidak harus dengan judul yang sama,” kata Desi.




Pemkab Punya PR Kurangi Lahan Kritis di Sleman

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu SS Mhum mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama seluruh elemen masyarakat masih mempunyai pekerjaan rumah besar untuk mengurangi lahan kritis di Sleman. Untuk itu Pemkab Sleman terus berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian hutan.

“TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi) merupakan daerah resapan air yang tidak hanya diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air warga Sleman, melainkan juga seluruh wilayah Kota Jogjadan Bantul,” kata Yuni di Sleman, kemarin.

Menurut Yuni di Sleman saat ini tercatat ada ribuan hektar lahan di lereng Gunung Merapi wilayah Sleman dalam kondisi kritis. Disebutkan secara umum di Sleman masih ada lahan kritis dan sangat kritis dan lahan berpotensi kritis seluas hektar.

Erupsi Gunung Merapi 2010 lalu telah merusak tanaman di TNGM dengan luas sekitar hektar. “Baru 300 hektar yang berhasil ditanami lagi,” katanya.




Pemkab Dorong UMKM Siap Hadapi MEA 2015

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus mendorong Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Di antaranya dengan meningkatkan baik manajemen maupun produk usahanya. Demikian antara lain disampaikan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman, Drs Pustopo dikantornya, Senin (24/11).

Dikatakan Pustopo, bahwa produk dari UMKM yang ada di Sleman saat ini telah memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing dengan produk dari daerah lain bahkan luar negeri. “Namun di beberapa sektor masih perlu perhatian yang serius dari pelaku usahanya. Karena itu, UMKM harus menambah pengetahuan manajemen usaha serta pengetahuan pemasaran,” kata Putopo.

Karena itu sebagai dukungan terhadap pengembangan UMKM di Sleman maka Pemkab Sleman secara aktif menggelar pelatihan dan workshop bagi pelaku UMKM. Materi pelatihan dan workshop pengembangan disesuaikan dengan pasar bebas yang akan dihadapi mulai tahun depan.

“Termasuk menyamakan persepsi dan tindak lanjut program kebijakan Pemkab. Sehingga produk Sleman dapat bersaing di pasar ASEAN,” tuturnya.

Keberadaan UMKM sendiri di Sleman juga sangat penting, terutama dalam hal kesejahteraan. Baik dalam progam kemiskinan maupun penyerapan tenaga kerja. Termasuk memberikan sumbangan besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Karena itulah UMKM memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian.




Dinkes Terus Himbau Masyarakat Waspadai Penyebaran DBD

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman terus mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada musim hujan ini. “Dalam menghadapi musim hujan ini sangat rawan terhadap penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), untuk itu diimbau agar masyarakat meningkatkan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Senin (24/11).

Menurut Linda, setidaknya diperlukan inspeksi dua minggu sekali untuk memantau keberadaan jentik-jentik yang dapat tumbuh menjadi nyamuk penyebab DBD. “Kasus panas pada seseorang terutama anak-anak secara mendadak juga patut diwaspadai,” katanya. 

Ia mengatakan jika ditemukan adanya kasus panas tinggi secara mendadak akan lebih baik jika diperiksakan ke puskesmas terdekat atau dokter. “Lebih baik jika ada warga mengalami panas secara mendadak untuk lebih cepat diantisipasi dengan diperiksakan ke puskesmas atau dokter,” tutur Linda.

Mafilindati mengatakan pada tahun 2013 di Kabupaten Sleman terdapat 736 kasus DBD dengan koran meninggal empat orang. “Sedangkan pada tahun 2014 menurun menjadi 432 kasus dengan terduga meninggal empat jiwa karena masih dalam proses uji klinis apakah yang bersangkutan benar-benar meninggal karena DBD atau sebab lainnya,” tambahnya.

Linda juga mengatakan seluruh wilayah di Kabupaten Sleman merupakan daerah endemis DBD sehingga masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Wilayah yang paling rawan DBD meliputi, Kecamatan Depok, Kalasan, Gamping dan Kecamatan Mlati.