Potensi PBB Sleman Selalu Meningkat

Sleman – Asekda Bidang Adminstrasi, Djoko Handoyo SH menyampaikan bahwa potensi PBB Kabupaten Sleman dari waktu ke waktumengalami peningkatan. Hal tersebut disampaikan Djoko ketika menerima kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa di Pemkab Sleman, Selasa (25/11). 

Dikatakan Djoko, pada tahun 2011, realisasi penerimaan PBB-P2 mencapai Rp 46,21 miliar. Sedangkan pada tahun 2012 yang lalu, penerimaan PBB-P2 mencapai Rp 48,189 miliar atau 104,04% dari target yang ditetapkan sebesar Rp 46,31 miliar dan pada tahun 2013, realisasi penerimaan PBB sebesar sebesar Rp 57,6 miliar atau 128% dari target yang ditetapkan yaitu Rp 45 miliar.

“Pada tahun 2014 ini target yang ditetapkan adalah Rp 53 miliar dan sampai dengan bulan Oktober 2014 realisasi pendapatan dari penerimaan PBB sudah mencapai Rp 56,87 miliar,” kata Djoko. Saat ini lanjutnya PBB telah menjadi bagian dari pajak daerah, yang sangat dibutuhkan sebagai modal pembangunan daerah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.

Sejak 1 Januari 2013, Pemkab Sleman telah mengelola PBB-P2 secara penuh, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sebagai tindak lanjut dari Undang-undang 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dengan Pengalihan PBB-P2 menjadi Pajak Daerah ini, diharapkan dapat memberikan tambahan yang signifikan terhadap PAD Kabupaten Sleman.

Hal ini mengingat potensi penerimaan PBB-P2 Kabupaten Sleman yang cukup besar. Dengan menjadi pajak daerah yang berarti hasil penerimaan pajak dan pengelolaannya sepenuhnya oleh daerah, tentunya realisasi penerimaan PBB-P2 dapat semakin meningkat.

Sedangkan pimpinan rombongan dari Kabupaten Minahasa yang juga Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara, Drs Denny Mangala MSi menyampaikan bahwa kunjungannya di Kabupaten Sleman dalam rangka belajar tentang pungutan pajak dan pelestarian budaya di Kabupaten Sleman. Pada kesempatan tersebut pimpinan rombongan didampingi 30 orang. Untuk kunjungan lapangan dilakukan di Kecamatan Depok.




BPBD Sleman Kekurangan Data Potensi Longsor

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman masih kekurangan data terkait potensi bencana longsor. Padahal saat ini intensitas hujan mulai tinggi dan potensi longsor di sejumlah wilayah Sleman semakin besar dan mengancam warga. 

Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelana, mengatakan kekurangan tersebut lantaran data yang dimiliki oleh Pemerintah Kecamatan (Pencam) di wilayah yang memiliki potensi bencana tanah longsor masih sangat minim. Data yang diberikan kepada BPBD hanya berupa wilayah yang pernah mengalami longsor.

“Memang titik yang pernah terjadi longsor masih memiliki potensi, namun titik rawan justru belum terdata. Kondisi ini sangat menyulitkan karena bencana longsor sulit diprediksi,” katanya kepada wartawan, Selasa (25/11). Menurutnya, wilayah yang paling sulit diprediksi terjadinya longsor adalah Kecamatan Prambanan. Kondisi tanah yang berupa lapisan batuan menyulitkan memprediksi besarnya longsor yang dapat terjadi.

“Terlebih, tipikal longsorannya tidak seperti wilayah rawan longsor pada umumnya, yakni landslide atau pergeseran permukaan tanah namun berupa pecahan batu. Sehingga besarnya longsornya tergantung patahan batunya,” paparnya.




Curah Hujan Tinggi, Kalasan Waspada Banjir

Sleman– Pemerintah Kecamatan (Pemcam) Kalasan menghimbau kepada warga untuk waspada banjir. Apalagi itensitas hujan dala beberapa waktu terakhir turun cukup tinggi, sehingga menyebabkan genangan air di sejumlah titik. Himbauan itu disampaikan Camat Kalasan, Drs Samsul Bachri Selasa (25/11).

Situasi Kecamatan Kalasan yang didominasi perumahan, ternyata berdampak banyaknya saluran air yang tertutup bangunan. Berdasarkan pengamatan Samsul, selain sampah banjir yang sering muncul kebanyakan di daerah pemukinan penduduk yang memang daerah tangkapan airnya semakin berkurang.

“Sekarang ini banyak tanah yang dijadikan jalan dan semuanya ditutup menggunakan konblok, aspal dan sebagainya. Akibatnya ketika hujan deras turun, air tidak bisa kembali lagi ke tanah. Melainkan tetap mengalir di jalan dan menimbulkan genangan. Bahkan ada juga yang masuk ke pemukiman,” katanya.

Samsul mengharapkan kepada warga agar mulai memperhatikan lingkungan. Selain tidak membuang sampah ke sungai, juga mulai diperhatikan daerah serapan air. Jika memang sedang mendirikan bangunan jangan semua ditutup. Akibatnya ketika turun hujan deras air tidak dapat kembali ke tanah, sehingga meluap ke jalan bahkan masuk ke pemukiman.

“Seperti yang terlihat di Selokan Mataram, terutama didekat Jalan Cangkringan di Dusun Nduri. Disana aliran airnya sudah semakin menyempit karena tumpukan sampah. Ketika hujan deras turun, selokan tidak mampu menampung air. Akibatnya meluap ke jalan atau sawah. Petani yang sehari-hari menggunakan air dari selokan mataram juga kami himbau ikut menjaganya,” jelasnya.

Daerah yang memang dibawahnya ada saluran air, himbau  Samsul jangan semuanya ditutup. Tapi ada yang terbuka atau diberi besi, sehingga ketika ada aliran air secara otomatis akan masuk ke saluran dengan sendirinya. Himbauan ini tidak hanya berlaku bagi warga yang tinggal di lingkungan perumahan saja. Tapi ke semua warga. Mengingat banjir dapat terjadi dimana-mana. Apalagi perilaku tidak buang sampah sembarangan, belum sepenuhnya disadari warga.

“Baik melalui jalur rapat antara pimpinan atau di beberapa acara yang kebetulan saya dapat bertemu langsung dengan warga,” tutur Samsul.




Wabup Sleman Ajak Pelajar Tak Berbuat Corat-coret

wabupSleman – Wakil Bupati (Wabup) Sleman, Yuni Satia Rahayu SS MHum mengatakan tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawabbersama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah. Sehingga orangtua tidak dapat begitu saja melimpahkan tanggung jawab ke sekolah.

“Perlu peran aktif orangtua dalam pengawasan siswa. Bukan melimpahkan tanggung jawab seluruhnya kepada sekolah,” kata  Yuni disela – sela melakukan pembersihan vandalisme di beberapa wilayah di Sleman, kemarin. Menurut Yuni kenakalan siswa yang terjadi saat ini perlu menjadi keprihatinan bersama. Pasalnya, kenakalan siswa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor lingkungan.

“Di sinilah peran aktif orangtua diperlukan. Biasanya kenakalan terjadi justru saat orang tua lengah mengawasi anaknya. Jangan acuh tak acuh,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Arif Haryono SH mengatakan kegiatan pembersihan vandalisme ini diselenggarkan agar siswa ikut menjaga lingkungan sekitarnya. Sehingga akan menggugah kesadaran siswa untuk tidak melakukan aksi vandalisme.

“Dari kegiatan ini siswa akan memahami bagaimana sulitnya membersihkan aksi vandalisme. Sehingga mereka akan ikut mengingatkan rekannya untuk tidak melakukan aksi tersebut,” kata saat mendampingi siswa dalam kegiatan pembersihan coretan liar itu.

Dalam kegiatan tersebut, Disdikpora Sleman melibatkan ratusan siswa dari sembilan SMP dan delapan SMA/SMK. Terdapat delapan titik lokasi coretan liar yang disasar dalam kegiatan tersebut, antara lain Jalan Magelang, Jalan Rajimin, Jalan Gito-gati, Jalan Letkol Subadri, Jalan Sleman-Turi, Jalan Agrowisata Pimisima, Jalan Pandowo, dan Kompleks Pemda.