Tim Terpadu Lakukan Operasi Pasar Awasi Penggunaan Zat Berbahaya Untuk Makanan

Sleman – Selama ini masih banyak penggunaan zat dan bahan berbahaya untuk makanan, terutama makanan yang tidak tahan lama, seperti bakso, mie basah, dan jenis jajanan yang lain. Untuk mencegah dan mengurangi bahkan penghilangkan bahan pengawet untuk makanan olahan tersebut Dinas Perindakop Kabupaten Sleman mengadakan  pengawasan terpadu penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan, Rabu (3/12).

Aksi pengawasan dengan menyusuri Pasar Sambiregi Maguwoharjo dan Pasar Prambanan Ikut melakukan pengawasan di ketiga pasar tersebut antara lain Kepala Dinas Perindakop Drs Pustopo,  Kepala Bidang Perdagangan Drs Slamet Riyadi, sedang dari Badan POM Sri Yuniati dan Umi Nurjanah.

Tim dalam melaksanakan tugas pengawasan  terpadu tersebut mengacu pada peraturan bersama Menteri dalam negeri daan Kepala Badan POM nomor tahun 43 tahun 2013, dengan kewenangan sampai dengan pemberian sangsi. Tetapi mengingat tim pengawas tersebut belum memiliki perangkat legal untuk menindakllanjuti apabila ada temuan di lapangan, maka untuk sementara ini tindak lanjutnya sebatas pada Berita Acara Pemeriksaan dan Surat Pernyataan.

Pustopo disela sela pelaksanaan mengatakan bahwa pengawasan tersebut diantaranya untuk mencegah penggunaan baahan dan zat kimia berbahaya untuk makanan, dengan harapan masyarakat Kabupaten Sleman tidak mengkumsumsi bahan dan makanan  yang berbahaya. Memang diakui bahwa dampak dari makan dan zaat berbahaya tersebut tidak bisa dirasakan dalam jangka pendek, namun efeknya dalam jangka panjang sangat berbahaya bagi manusia.

Dari hasil pengawasan baik di Pasar Sambilegi dan Pasar Prambanan  masih dijumpai bahan makan dan makanan yang mengandung zat yang berbahaya. Misalnya mie basah yang mengandung dan menggunakan bahan pengawet  formalin dan pewarna Rodomin maupun Mletanil Yellow. Disamping itu konsumen harus jeli dalam membeli barang dan makanan karena masih juga dijumpai makanan yang sudah kedaluwarsa ikut dijual, belum lagi kemasannya sudah rusak.

 Sedang di pasar Prambanan dengan mengambil sampel mie basah positif menggunakan formalin, cendol dawet yang berwarna merah juga positif menggunakaan pewarna, sementara untuk kue bangun solo, buah apel dan anggur tidak menggunakan pengawet, sedang slondok yang berwarna merah ternyata menggunakan pengawet.




Anjungan Sleman Tampil Dengan Kedepankan Unsur Bambu

Sleman – Pemkab Sleman pada tahun 2014 ini kembali mengikuti Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) di Alun-alun Utara Jogja. Kali ini, dengan lokasi yang sama yaitu sebelah barat Panggung Kesenian.  Anjungan Sleman tampil beda dengan mengedepankan unsur bambu dalam konstruksi anjungannya.

PMPS yang berlangsung selama 40 hari tersebut telah dibuka sejak Jumat 28 November 2014. “Bambu dipakai sebagai tampilan utama karena Sleman ingin mewujudkan komitmennya untuk memanfaatkan bambu untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Endah SW dikantornya, Rabu (3/12).

Menurut Endah dalam anjungan Sleman ditampilkan beberapa UKM kerajinan dan industri makanan olahan, tak ketinggalan makanan khas jadah tempe Kaliurang serta desa wisata. UKM kerajinan yang ditampilkan pada 10 hari pertama yaitu kerajinan kulit ikan pari, kerajinan tas dari Gamplong dan kerajinan lukis.

Sedangkan yang cukup menarik yaitu gudeg dalam kemasan kaleng, kripik rumput laut serta kripik belut. Desa wisata yang mengisi anjungan Sleman kali ini yaitu desa wisata Pulesari dan Candi Abang. Asosiasi pasar tani (ASPARTAN) juga tampil dengan berbagai makanan olahan, pangan lokal serta produk pertanian seperti sayuran segar dan buah salak.

Sebagai upaya untuk memperkenalkan motif batik Sleman yaitu Parijotho Salak, Paguyuban batik juga mengisi anjungan Sleman dengan produk-produk batiknya. Sementara itu mengisi taman anjungan yaitu Mitra Tani pimpinan Sudihartono dengan berbagai macam tanaman hias serta tanamab buah dalam pot yang menyemarakkan anjungan Sleman.

“Jika masyarakat tertarik untuk melihat potensi Sleman, kunjungilah Anjungan Sleman dalam PMPS 2014 di Alun-Alun Utara hingga 4 Januari 2014,” kata Endah.




Wagub Panen Padi di Ngaglik Sleman

Sleman – Wakil Gubernur DIY, Sri Paku Alam IX melakukan panen padi varietas Menur dengan sistem SRI dengan tapak macan yangberlangsung di Padukuhan Dukuh Dessa Sinduharjo Kecamatan Ngaglik Sleman, Selasa (2/12). 

Pada kesempatan tersebut Paku Alam memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada kelompok tani Ngudi Makmur, Dukuh, Sinduharjo, Ngaglik yang telah mengembangkan padi Menur dengan sistim SRI dan tapak macan dan diharapkan menjadi produk padi unggulan di DIY dan menjadikan kemakmuran bersama.

Sedangkan Bupati Sleman yang diwakili oleh Asisten Bidang Pembangunan, Dra Hj Suyamsih MPd mengatakan bahwa Pemkab Sleman juga terus berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan, dengan berbagai program dan kegiatan. Peningkatan produksi tanaman pangan memiliki peran yang sangat strategis dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan, sementara pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga kebutuhan panganpun menjadi terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Padi adalah salah satu produksi pangan andalan di Sleman. Meskipun sempat menurun, produktifitas padi pada tahun 2013 yaitu dari 67,94 GKP/Ha menjadi 63,85 kuintal GKP/Ha namun Pemkab Sleman masih mampu mempertahankan surplus beras, yang pada  tahun 2013 surplus sebanyak ,58 ton. Kondisi ini menurun  3,10% dibandingkan tahun 2012 yang  mampu mewujudkan surplus sebanyak  ton,” kata Suyamsih.

Upaya mempertahankan surplus tersebut lanjutnya tidak dapat dilepaskan dari peran dan kinerja berbagai pihak,  baik Dinas Pertanian, Perikanan  dan Kehutanan Kabupaten Sleman, BPTP DIY, berbagai perguruan tinggi, lembaga-lembaga penilitian bidang pertanian, BUMN, serta kesadaran para petani dalam menerapkan teknologi dan mengendalikan hama untuk meningkatkan produksi padi.

Di Sleman konsumsi beras perkapita pertahun juga tidak mengalami perubahan dari tahun 2008 hingga tahun 2013 yaitu 63,70 kg/kapita/tahun yang jauh lebih rendah dari konsumsi beras nasional. Satu upaya untuk mendukung ketahanan pangan di Sleman, Pemkab Sleman mengembangkan potensi pangan lokal,  yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Upaya tersebut dilakukan dengan menggalakan kebijakan pengembangan pangan lokal dalam upaya penganekaragaman pangan. Selain itu juga dengan kampanye penggunaan bahan makan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Sleman. Menurut Suyamsih ajakan tersebut diawali dari lingkungan pemkab Sleman sendiri yang telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Nomor 531/00876/2009 tanggal 18 April 2009 tentang penggunaanpangan lokal dalam pertemuan/rapat/ ini dimaksudkan agar semua SKPD didalam melakukan jamuan konsumsi kegiatan menggunakan bahan pangan lokal.

Untuk akselerasi ketahanan pangan di Sleman juga diupayakan pengembangan Desa Mandiri Pangan. Sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 sudah terbentuk Desa Mandiri Pangan sebanyak 6 desa yaitu 2 desa di Kecamatan Tempel, 1 desa di Kecamatan Prambanan, 1 desa di Kecamatan Minggir, 2 desa di Kecamatan Seyegan. Pada tahun ini juga direncanakan terbentuk 1 desa mandiri pangan di kecamatan Sleman.

Ketua Kelompok tani Ngudi Makmur, Dukuh Sinduharjo Ngaglik, Sunaryo  melaporkan panen padi varietas Menur ini hasilnya sangat menggembirakan, dan panen padi dengan sistim SRI (System of Rice Intensification) jumlah penanaman kali ini seluas 20 ha, padi Varietas menur ini mempunyai umur yang sangat pendek bila dibandingkan dengan varietas yang lainnya untuk saat ini dan jumlah rumpun dalam satu rumpun bisa mencapai 30 batang dan angka bulir satu tangkai bisa 200 butir.

Menurut petugas pengubin dalam kesempatan tersebut mengubin dengan ubinan bisa mencapai yang paling tinggi 10,3 atau bisa mencapai 10,3 ton per hektar dan yang paling rendah bisa mencapai 6,9 ton per hektar atau dalam pengubinan tersebut bisa menghasilkan 7,7 kg atau 7,2 kg gabah kering giling.