Razia Penambangan Pasir Ilegal Bocor

Sleman – Aksi  Satpol PP Kabupaten Sleman bersama Dinas Energi Sumberdaya Air dan Mineral Kabupaten Sleman didukung Polres Sleman dan Kodim Sleman merazia tambang pasir ilegal di wilayah Kecamatan Pakem, Kamis (18/12), tidak membuahkan hasil.

Lima titik yang disasar secara bersamaan ternyata tidak ada satu pun pengambilan pasir besar-besaran apalagi menggunakan ekskavator. Di alur Sungai Boyong yang berhulu di puncak Gunung Merapi, tim hanya menemukan beberapa orang melakukan penambangan secara manual dan dalam kelompok kecil yang berisi dua atau tiga orang.

Sedangkan lokasi menuju penambangan pasir ilegal di kawasan pekarangan pribadi, banyak yang ditutup dengan memasang pagar bambu atau memasang barikade batu.

Sekretaris Dinas Energi Sumberdaya Air dan Mineral Kabupaten Sleman, Aji Wulantara kepada wartawan menjelaskan tim tidak menemukan adanya penambangan besar seperti yang diduga selama ini. “Semuanya tertib,” katanya.

Sementara Kasi Penindakan Satpol PP Sleman Sunarto juga membenarkan tidak menemukan penambangan liar. Ia menduga rencana aksi itu sudah bocor sebelumnya.




KWT “Karanglo Makmur” Berinovasi Membuat Bonggol Pisang Jadi Kripik

1812 SLEMAN KRIPIK BONGGOLSleman – Siapa yang menyangka bonggol pisang yang biasanya hanya teronggok menjadi sampah dan tidak bermanfaat, ternyata bisa diolah jadi camilan yang lezat dan renyah. Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Karanglo Makmur’ Dusun Karanglo Desa Sukoharjo Kecamatan Ngaglik, bonggol pisang yang biasanya dibuang itu dimanfaatkan menjadi camilan kripik.

Ketua KWT ‘Karanglo Makmur’ Ny Hadi Purnomo menuturkan, awalnya memang tak ada yang menyangka kalau bonggol bisa bisa diolah jadi makanan. Ceritanya pada tahun 2009, usai mendapat pelatihan, mendapat inspirasi untuk coba mengolah bonggol pisang.

Berkali-kali dicoba ternyata bisa mengolah bonggol pisang jadi keripik. Namun saat akan ditawarkan ke tetangga untuk mencicipinya, ternyata tak ada yang mau.

“Mereka takut, jangan-jangan malah keracunan kalau makan keripik bonggol pisang ini. Namun lama kelamaan akhirnya ada yang berani mencoba dan setelah merasakan enaknya keripik tersebut, mulailah kripik bonggol pisang ini diproduksi,” kata Ny Hadi di rumahnya, kemarin.

Namun demikian, tidak sembarang bonggol pisang bisa diolah jadi camilan. “Kami hanya menggunakan bonggol pisang kluthuk dan kepok saja. Selain teksturnya lebih lembut dan tidak banyak serat, rasanya juga lebih enak,” tambah Ny Hadi.

Saat ini, produksi kripik bonggol pisang sudah cukup banyak sekitar 50 kg tiap bulannya. Selain untuk pasar lokal, juga sudah menembus Lampung sampai Kalimantan.

Dengan harga kripik sekitar Rp perkilogramnya, omzet kelompok tani ini sudah mencapai hampir Rp 1 juta perbulannya. Padahal, kelompok ini juga memproduksi kripik pisang, kripik kenikir dan kripik daun singkong.




Bupati Resmikan Jembatan Mlinting Tempel

Sleman – Jembatan Mlinting sebagai penghubung antara padukuhan Tempel dengan pedukuhan Lodoyong di Desa Lumbungrejo Tempel secara resmi telah diresmikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatangan prasasti, Kamis (18/12). 

Hadir dan ikut mendampingi Sri Purnomo adalah Muspika Kecamatan Tempal, yaitu Camat Tempel Wildan Solichin SIP MT, Kapolsek Tempal, Danramil Tempel serta Kepala Desa Lumbungrejo Imam Suhadi serta masyarakat setempat. Jembatan yang diresmikan Bupati merupakan jembatan yang dibangun oleh Pemkab Sleman dengan biaya Rp 440,893 juta dan dibanguan dalam waktu tiga bulan.

Usai meresmikan jembatan Sri Purnomo menyempatkan diri meninjau jembatan tersebut didampingi Camat Tempel. Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo menyampaikan bahwa dengan dibangunnnya jembatan tersebut akan membuka akses jalan dan roda perekonomian warga setempat.

Dengan diresmikannya jembatan tersebut Sri Purnomo berharap agar jembatan dirawat dengan baik agar nilai pemakaiannya akan lebih lama, mengingat biaya untuk membangun jembatan tersebut tidak sedikit. Disampaikan pula bahwa untuk membangun memang lebih mudah dibanding dengan merawat bangunan tersebut.

Termasuk jembatan tersebut harus bebas dari vandalisme, seandainya ada coretan pada jembatan tersebut maka diharapkan segera dibersihkan, dan semua pihak diharapkan peduli dengan kebersihan termasuk kebersihan lingkungan, tidak terkecuali bangunan baik milik pemerintah maupun perorangan diharapkan bersih dari vandalisme.

Terlebih Lumbungrejo termasuk desa yang bersih, hal tersebut harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. “Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat maupun tingkat kebersihan air bersih maka kedepan akan dibangun ipal-ipal komunal.

Dengan dibangunnya ipal komunal tersebut tingkat kesehatan masyarakat akan lebih meningkat,” kata Sri Purnomo. Diharapkan semua masyarakat di Kabupaten Sleman peduli akan kebersihan lingkungan, salah satu kepedulian tersebut tidak membuang sampah sembarangan di tempat yang tidak semestinya.

Termasuk yang marak saat ini membuang sampah di jembatan dana beberapa sungai, kalau hal tersebut dibiarkan maka kondisi kali akan tercemar.

“Dengan kondisi rumah di pedusunan yang sudah sangat padat, maka diharapkan masyarakat bisa membuat septic tank secara  terpusat, artinya satu dusun maupun lebih bisa membuat septic tank secara bersama-sama,” katanya.

Kalau setiap rumah membuat septic tank sendiri sendiri maka letak antara sumur dan septic tank akan terlalu dekat dan kondisi tersebut tidak sehat, mengingat kondisi tanah yang berpasir, maka air akan mudah meresap dan itu sangat tidak baik dari segi kesahatan.

Sedangkan Camat Tempel Wildan Solichin melaporkan bahwa jembatan Mlinting dibangun untuk menghubungkan kedua dusun agar lebih memudahkan akses perekonomian dan silaturahmi.

Lebih lanjut disampaikan masyarakat khususnya Lumbungrejo agar peduli dengan lingkungan dan kesehatan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan, karena akhir-akhir ini banyak masyarakat yang membuang sampah dekat dengan kantor Kecamatan Tempel, padahal tempat tersebut bukan tempat pembuangan sampah.***