PMI Sleman Terjunkan 150 Relawan

Sleman – Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman menerjunkan 150 relawan untuk turut bersiaga dalam pengamanan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015. Selain mengerahkan sejumlah ambulans, setiap tim relawan juga dibekali berbagai peralatan medis.

“Penerjunan relawan dijadwalkan dalam dua putaran. Pertama, pada 24-25 Desember 2014, tim disiagakan di beberapa titik, yaitu Markas PMI Sleman serta Pos Jombor, Mlati, Kentungan, Pakem, Prambanan, Kaliurang, Moyudan, dan Tempel,” kata Ketua PMI Sleman, dr Sunartono MKes, kemarin.

Menurut Sunartoni, pada putaran berikutnya, tim relawan akan bersiaga sejak 31 Desember 2014 hingga 1 Januari 2015 di Markas PMI Sleman, serta Pos Jombor, Kaliurang, dan di depan Ambarukmo Plaza.

“Titik-titik tersebut dinilai rawan keramaian dan kecelakaan,” tutur, Sunartono.

Meski disediakan beberapa pos, Sunartono mengatakan, tim relawan tidak hanya akan berjaga di pos saja. “Tim relawan akan lebih banyak berkeliling untuk memantau kondisi di sekitarnya. Kami menilai cara itu lebih efektif,” katanya menambahkan.

Sunartono yang juga bertugas sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman tersebut juga meminta relawan selalu memegang teguh tujuh prinsip dasar PMI. “Bertugas secara iklas dan totalitas, tanpa memandang latar belakangnya,” ujarnya kemudian.

Dukungan untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru 2015 juga diberikan Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas). “Secara keseluruhan, kekuatan personel Satlinmas di Sleman mencapai orang,” ungkap Kepala Satpol PP Sleman, Drs Joko Supriyanto.




Usaha Jamu Tradisional Instan Tak Takut Bersaing Dengan Jamu Olahan Pabrik

jamu ngemplak (1024 x 683)Sleman – Usaha jamu tradisional instan berskala produksi rumah tangga di Dusun Kalisoro, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak Sleman, tidak takut bersaing dengan jamu hasil olahan pabrik. Rumah milik Sri  Indiarti Mukinah di Dusun Kalisoro Desa Umbulmartani Ngemplak sudah menjadi rumah produksi jamu tradisional instan sejak 1997.

Dijelaskan Sri waktu itu, ibu-ibu di Dusun Kalisoro diajari cara membuat jamu. “Saya lalu coba-coba latihan di rumah dan berhasil,” kata Sri .

Pemasarannya, pada awalnya dicoba  di warung. Produk jamu instan ini  juga dibawa waktu ada pertemuan ibu-ibu PKK. Ternyata banyak yang bilang cocok dan bisa menyembuhkan penyakit. Saat ini, dalam satu hari, rata-rata Sri dan anggota kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Citrasari bisa membuat tiga resep jamu sebanyak tiga kilogram.

Setiap satu kilogram jamu bisa dibagi menjadi 150 bungkus. “Bahan bakunya saya menanam sendiri di rumah, tapi ada juga yang beli di pasar,” papar ibu dari enam orang anak itu.

Satu kemasan berisi lima bungkus jamu tradisional instan dijual seharga Rp hingga Rp .  Perempuan yang menjabat sebagai Ketua UPPKS Citrasari tersebut mengaku, laba yang didapat dari penjualan jamu instan memang tidak banyak, hanya sekitar Rp per bulan.

Meski demikian, Sri yakin usahanya bisa tetap bertahan. Dia bahkan tidak takut dengan produk jamu tradisional instan serupa maupun jamu pabrik. “Tidak apa-apa banyak saingannya. Semua punya rezeki sendiri,” tutur Sri.

Ada beberapa jenis jamu tradisional instan produksinya diantaranya  jamu temulawak, kunir putih, jahe, jahe merah, kunir asam, kencur, hingga jamu peluntur lemak dan minuman secang instan.

“Ini pemasarannya sudah sampai swalayan dan supermarket. Yang paling laku itu jamu peluntur lemak, kunir asam, dan jahe. Returnya paling sedikit,” ungkap Sri.




20.000 E-KTP Sleman Akan Dicetak di Kecamatan

Sleman – Sekitar Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik atau e-KTP yang belum tercetak, pencetakannya akan dilakukan secara mandiri oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sleman per 1 Januari 2015 mendatang.

Kesiapan tersebut didukung kesuksesan uji coba aplikasi pencetakan e-KTP pada pertengahan Desember ini. Demikian disampaikan Kepala Disdukcapil Sleman, Supardi SH kepada wartawan di Sleman, kemarin.

Dijelaskan Supardi  bahwa sudah ada sekitar orang yang melakukan perekaman data e-KTP dari sekitar orang wajib rekam. Namun, baru sekitar e-KTP yang tercetak.

“Kami sudah dapat wewenang dari Kementerian Dalam Negeri. Semoga masalah e-KTP segera tuntas dan tidak berlarut-larut,” tutur Supardi.

Menurut Supardi, sementara ini izin pencetakan baru dikantongi Pemkab Sleman. Namun, itu tidak menutup kemungkinan adanya pelibatan pemerintah kecamatan.

“Kalau dari Pemkab Sleman kewalahan, tentu akan merangkul kecamatan. Kami lihat dulu nanti,” tuturnya.

Meski demikian, Supardi menjamin pihak kecamatan pun sudah siap. Sebab, setiap kantor kecamatan memiliki dua operator e-KTP yang sudah mengikuti pelatihan. Selain itu, masing-masing kecamatan pun sudah dilengkapi dengan printer untuk e-KTP sejak tahun lalu. Disdukcapil Sleman sendiri memiliki dua printer e-KTP dan tiga operator. Tiga printer cadangan pun telah disiapkan.

Jika kecamatan belum diizinkan mencetak sendiri lanjutnya, sementara di Pemkab kewalahan, maka bisa saja nanti operator kecamatan yang ditarik ke kabupaten. “Teknis pelayanannya bisa diatur kemudian,” kata Supardi. “Kami sebatas pencetakannya. Perekaman e-KTP tetap di kecamatan masing-masing,” tambah Supardi.