Kawasan Wisata Kaliurang Butuh Dikemas Ulang

Sleman – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan kawasan wisata Kaliurang membutuhkan pengemasan ulang untuk menarik wisatawan berkunjung. Untuk pengemasan kawasan wisata Kaliurang ini dikatakan Ayu, pihaknya mengaku juga sudah membicarakan rencana tersebut dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

“Selama ini Kaliurang mengandalkan wisata outdoor. Akibatnya, aktivitas pariwisata sering kali terhambat saat musim hujan. Jadi, kami mempertimbangkan pengembangan wisata indoor. Saya pikir itu memang perlu, tapi ini masih dalam pembahasan,” kata Ayu kepada wartawan, kemarin.

Sebenarnya lanjut Ayu, pembenahan dan pengemasan ulang kawasan wisata Kaliurang sudah direncanakan sejak 2013. Antara lain dengan membuat taman labirin, taman kupu-kupu, taman bermain air, dan penambahan sejumlah fasilitas pendukung di Tlogo Putri.

Pengembangan wisata sore dan malam hari juga akan masuk dalam pembahasan rencana pengembangan dan pengemasan ulang kawasan wisata Kaliurang. Kendala wisata malam itu misalnya soal keamanan dan transportasi. “Kami juga ada wacana bagaimana agar suasana sore dan malam di Kaliurang juga menarik bagi wisatawan,” tutur Ayu.




Sleman Dikunjungi 398.589 Wisatawan Selama Libur Natal dan Tahun Baru 2015

Sleman – Selama libur Natal 2014 dan tahun baru 2015 berbagai destinasi wisata di Kabupaten Sleman dikunjungi sebanyak wisatawan. Jumlah tersebut melampaui target sebesar 122,64% dari angka yang ditetapkan sebanyak wisatawan. Demikian dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA  Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Rabu (7/1).

Menurut Ayu pencapaian tersebut dicatat selama 15 hari sejak tanggal 21 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015. Hal ini cukup menggembirakan meskipun ternyata selama liburan tersebut banyak terjadi turun hujan. Ini tentu memberikan pengaruh yang positif terhadap angka kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sleman. Akumulasi angka kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru 2015 silam dihitung selama 15 hari sejak tanggal 21 Desember 2014 – 4 Januari 2015 di berbagai destinasi wisata.

Penyebaran kunjungan wisatawan tersebut meliputi kunjungan ke obyek wisata Kaliurang sebanyak wisatawan (diantaranya Taman Nasional Gunung Merapi/ TNGM , Taman Rekreasi Anak , Jeep Wisata Kaliurang , Museum Ullen Sentalu ).

Kemudian kunjungan Volcano Tour Cangkringan (pengguna Jeep Wisata Cangkringan , kendaraan roda dua , roda empat , dan roda enam/ bus 151), Candi Prambanan  ( wisnus/wisatawan nusantara dan wisman/wisatawan mancanegara), Candi Ratu Boko  ( wisnus dan 171 wisman), Monumen Jogja Kembali , Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Museum Affandi  ( wisnus 136 wisman), dan ke desa wisata sebanyak wisatawan, yang diantaranya berkunjung ke desa wisata Pulesari (termasuk pengunjung dalam agenda pentas seni dalam upacara adat Pager Bumi), Pentingsari 433, Tanjung 287, Gamplong 150, dan Grogol 300 wisatawan.

“Dari data kunjungan tersebut Candi Prambanan, Kaliurang dan Volcano Tour Cangkringan, masih menjadi destinasi unggulan, disusul Monjali, Museum Gunungapi Merapi (MGM) dan desa wisata,” kata Ayu.

Pada tahun ini lanjutnya beberapa desa wisata sudah menjadi alternatif pilihan yang cukup menakjubkan angkanya. Kedepan diharapkan desa wisata akan lebih banyak lagi menarik wisatawan baik untuk aktivitas live-in, outbond maupun aktivitas belajar seni dan budaya lokal setempat.




Bupati Minta Warga dan Pengembang Dialog

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, meminta warga untuk mengedepankan dialog dalam menyikapi adanya pembangunan apartemen. Hal tersebut disampaikan pasca munculnya penolakan pembangunan apartemen yang dilakukan oleh warga Gadingan, Desa Sinduharjo Ngaglik.

Sri Purnomo mengatakan perlu adanya pemahaman bersama antara warga dengan pengembang apartemen sehingga dicapai titik temu. Sehingga masyarakat bisa memahami pertumbuhan perekonomian akan membawa dampak hal positif untuk kesejahteraan masyarakat.

“Ada investasi jangan dihambat. Harus bisa dipahami lebih jernih dan luas, sehingga ada titik pemahaman bersama,” kata Sri Purnomo, kemarin.

Kendati demikian, menurutnya Pemkab tetap mengedepankan kontrol dalam pertumbuhan apartemen dengan peraturan yang ada, yaitu melalui penerapan peraturan daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Karena itu untuk pelaksanaannya tidak boleh menyimpang dengan ketentuan tersebut.

“Sehingga bila dari sisi tata ruang terpenuhi, maka diperbolehkan. Termasuk harus dikomunikasikan dengan baik. Untuk itu, pengembang harus menaati regulasi perizinan tersebut,” katanya.

Sri Purnomo menjelaskan untuk perizinan juga hanya akan memproses bagi yang lengkap persyaratan dan sesuai dengan prosedur yang ada. Bila hal itu tidak terpenuhi, pengajuan izinnya tidak akan memprosesnya.

“Sebaliknya jika aturan sudah dipenuhi dan tidak bertentangan dengan Perda tata ruang dan wilayah, maka tidak bisa menolaknya. Sehingga, dengan langkah ini diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan,” katanya menjelaskan.




62 Sekolah di Sleman Tak Lanjutkan K13

Sleman – Sebanyak 62 sekolah yang ada di Kabupaten Sleman tidak melanjutkan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013 (K13). Sebagian besar sekolah yang tidak melanjutkan K13 lantaran tidak siap dalam penerapannya. 

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Arif Haryono SH mengatakan kendala yang dihadapi oleh sekolah cukup bervariasi. Namun secara garis besar, masalah yang dihadapi oleh sekolah terjadi pada pendekatan pembelajaran dan penilaian siswa.

“Sebelumnya sudah kami sampaikan, bagi sekolah yang baru menerapkan K13 selama satu semester, diperbolehkan untuk melanjutkan ataupun kembali ke kurikulum lama (2006). Hingga saat ini berbagai keberatan dari sekolah yang tidak melanjutkan sudah kami tampung dan akan dievaluasi,” kata Arif, Rabu (7/1).

Menurut Arif, data Disdikpora Sleman, dari 716 sekolah, sebanyak 654 sekolah yang tetap melanjutkan K13. Jumlah tersebut terdiri dari 463 SD, 99 SMP, 36 SMA, dan 56 SMK. K13 sendiri diterapkan bagi siswa kelas I,II,IV dan V di tingkat SD, kelas VII dan VIII di tingkat SMP, serta kelas X dan XI di tingkat SMA dan SMK.

Selanjutnya, kata dia, Disdikpora akan melakukan pendampingan terhadap sekolah terkait kelanjutan penerapan kurikulum ini. Khusus bagi sekolah yang tidak melanjutkan K13, pihaknya akan mengintensifkan pendampingan terutama pada pemecahan permasalahan yang menjadi kendala penerapan kurikulum ini.

“Untuk itu, kami kami pilah permasalahan yang dihadapi sekolah dan guru, apakah kesulitan dalam pendekatan pembelajarannya, atau pada penilaian siswa, bahkan bisa jadi keduanya,” tutur Arif.