Bupati Serahkan Bantuan Baznas Sleman Rp 77 Juta

Bantuan BasnazSleman – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW  Kabupaten Sleman dilaksanakan di Serambi Masjid Agung Dr Soediro Hoesodo, Selasa (13/1) yang diikuti oleh pejabat dilingkungan Kabupaten Sleman yang beragama Islam, karyawan-karyawati, anggota TNI-Polri, masyarakat sekitar dan pelajar disekitar kabupaten sleman. Bertindak sebagai pembicara Ustadz Drs KH Hendri Sutopo pengasuh Pondok Pesantren Al Munawir, Krapyak Jogja.

Hadir pada kesempataan tersebut antara lain Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo MSI, koordintor seksi pendistribusian dan pendayagunaan Baz Sleman Drs H Kriswanto MSc. Pada kesempatan tersebut disampaikan pula bantuan dari Baznas Kabupaten Sleman oleh Sri Purnomo kepada 8 sabillah untuk pembangunan Masjid Rp 4 juta, sarana prasarana/kegiatan

Masjid/Mushola/TPA Rp 2 juta dan Muallaf antara lain pembina muallaf  Rp 1,2 juta dan untuk ekonomi produktif Muallaf sebesar Rp 70 juta. Sementara Sri Purnomo menyampaikan bahwa Nabi Muhammad diutus dengan mengemban tugas profetik atau tugas suci menyempurnakan akhlak manusia.

Tentu saja ini tugas yang sangat berat, dan itu misi yang hampir mustahil karena mengembangkan akhlaq atau moralitas di tengah masyarakat yang sedang dalam suasana jahiliyah yang sangat mapan dengan sistem sosial yang penuh diskriminasi, dengan sistem ekonomi yang penuh penghisapan dengan sistem kekuasaan yang penuh penindasan dan sistem religinya yang penuh kemusyrikan.

“Sistem yang sudah kokoh itu yang harus dibongkar dan dirombak oleh Nabi untuk diganti dengan sistem kehidupan baru yang lebih adil, lebih manusiawi,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo karakter Nabi lainnya yang patut dicontoh adalah sikapnya yang selalu mengasihi fakir miskin dan rakyat jelata. Mampu melayani rakyat jelata sebagimana menghadapi para pembesar. Nabi sendiri memilih cara hidup yang sederhana agar bisa bergaul dan merasakan penderitaan mereka sehingga bisa memperjuangkan kepentingan mereka. Ajaran yang dibawa Nabi tentang zakat, infaq dan keutamaan sedekah adalah untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan dan kerukunan.

Hal ini sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan Pemkab Sleman, selain pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, juga dilaksanakan pentasyarufan dana Baznas Sleman dengan total Rp 77,10 juta yang digunakan untuk berbagai kegiatan dan pembangunan yang tentunya memberikan manfaat bagi seluruh umat Islam.

Sementara Ustadz Henri Sutopo dalam tausiahnya menyampaikan bahwa  kandungan yang ada dalam Al Quran tidak hanya yang tersurat saja tetapi juga yang tersirat. Dan yang lebih penting dalam memahami Al Quran jangan hanya sepotong-sepotong tetapi harus lengkap.




Pemkab Aspal Jalan Kandangan Sayegan

JalanSleman – Pengembangan jalan Padukuhan Kandangan, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan memasuki tahap pengaspalan, Selasa (13/1). Untuk mendukung warga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memberi bantuan berupa aspal curah sebanyak 23 drum. Jalan tersebut merupakan akses utama bagi warga menuju Godean maupun Seyegan dan wilayah vital lainnya.

“Dulu saat masih tanah liat, banyak pengendara terjatuh karena licin. Lalu sekitar tahun 1990, kami aspal. Sebagai pengembangan, mulai akhir tahun 2014 kami lakukan pengerasan di bahu sehingga lebar jalan menjadi 8 meter. Mulai hari ini proses pengaspalan,” kata Dukuh Kandangan, Agus Sulistiyanto di lokasi pembangunan.

Ditambahkan Agus, pengembangan jalan Kandangan membutuhkan dana sebesar Rp 32 juta dimana dana tersebut murni dihimpun dari kas dusun dan iuran warga setempat. Dana digunakan untuk membeli material berupa batu, pasir, upah tenaga khusus dan sewa alat berat.

“Total panjang jalan ini mencapai 1,5 km. Pengembangan jalan ini untuk memberi kenyamanan masyarakat. Apapun kendaraannya bisa leluasa berpapasan. Tujuan lain agar jalan ini lebih bersih dan rapi,” ujar Agus.




Masyarakat Dihimbau Kelola Sampah Secara Mandiri

Sleman  – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sleman mengharapkan kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan pengelolaan sampah. Terutama dengan menanyakan kepada petugas pengangkut sampah, dimana sampah-sampah rumah tangga dibuang.

Menurut Kabid Kebersihan dan Pertamanan BLH Sleman, Indra Darmawan, sekarang ini sebagian besar masyarakat menyerahkan urusan sampah kepada jasa petugas. Setiap bulan masyarakat membayar retribusi kepada petugas dengan perjanjian sampah-sampah rumah tangga tersebut diambil secara periodik.

“Bisa ditanyakan kepada petugas pengambil sampah tersebut, sampahnya dibawa kemana. Apakah dibuang ke depo atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) resmi pemerintah atau ditempatkan di tempat pembuangan sampah liar. Bahkan bisa jadi hanya dibuang asal ke sungai, sehingga mencemari lingkungan,” katanya, kemarin.

Indra juga mengungkapkan, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) sudah dibuat aturan lebih jelas mengenai penanganan sampah. Salah satunya dengan Pengelolaan Sampah Mandiri (PSM). Melalui PSM, masyarakat mulai dari tingkat RT, RW hingga dusun mulai membentuk PSM. Sebab permasalahn sampah pada dasarnya lebih ke perilaku masyarakat.

Masyarakat cukup membentuk kelompok. Dimana nantinya sampah mereka kelola secara mandiri dan dikumpulkan jadi satu. Selanjutnya mereka dapat menghubungi petugas di BLH. Selanjutnya petugas kami yang akan mengambil sampah tersebut sesuai dengan kesepakatan. Melalui langkah tersebut, masyarakat tidak perlu khawatir sampah mereka akan dibuang secara liar. Sebab pasti akan ditempatkan di TPA atau depo resmi,” jelas Indra.

Pengusaha Jasa Pengelola Sampah (PJPS) resmi yang terdaftar di BLH Sleman ada sekitar 50 pengusaha. Sedangkan petugas seperti gerobak yang mentransfer sampah ke depo resmi ada sekitar 225 petugas. Beberapa kali petugas BLH memergoki mobil pick up pengangkut sampah rumah tangga yang membuang sampahnya ke tempat pembungan sampah liar atau sungai. Jika begitu, mereka seringnya lantas mendaftarkan menjadi petugas pengangkut sampah resmi pemerintah.

Jika masyarakat merasa sungkan untuk mempertanyakan langsung kepada sopir mobil pengangkut sampah milik mereka, dapat mencatat nomor kendaraannya. Selanjutnya ditanyakan ke BLH apakah petugas yang sehari-hari mengambil sampah itu resmi atau tidak.

“Bisa juga dengan melihat kuintansi ketika membayar. Jika ada cap dari BLH berarti itu resmi,” kata Staf Seksi Kebersihan BLH, Tohari.