2014, Tingkat Pengangguran Turun Jadi 4,21 Persen

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan peningkatan kesejahteraan masyarakat, di dukung dengan upaya penurunan prosentase KK miskin, penurunan pengangguran, peningkatan perlindungan masyarakat (sosial, keamanan, ketertiban dan bencana).

Peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan upaya untuk menurunkan persentase KK miskin yang pada tahun 2014 menjadi 11,85%, menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 13,89%. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 4,21% atau sebanyak orang, yang pada tahun 2013 yaitu 6,27%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman masih rendah yaitu 5,81%, masih lebih rendah jika dibandingkan rata-rata nasional yaitu 6,25%.  

“Tantangan yang tidak dapat dielakkan pada penghujung tahun 2015 ini adalah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015,” kata Sri Purnomo di Sleman, Rabu (28/1).

Untuk mensikapi hal tersebut, diperlukan perubahan mindset serta culture-set masyarakat guna menghadapi persaingan bebas, dari produk fisik, jasa, maupun kesiapan tenaga kerja masyarakat Sleman. Oleh karena itu Sri Purnomo berharap SKPD di Sleman melakukan perencanaan dan kegiatan pembangunan dengan lebih cermat, taktis dan antisipatif di segala aspek. Tidak hanya pada aspek fisik semata, namun juga perlu memperhatikan aspek sosial, serta dampak lingkungan.

“Aspek sosial dan dampak lingkungan seringkali muncul akibat dampak dari kegiatan pembangunan yang lain. Permasalahan sosial dan lingkungan tidak muncul tiba-tiba, oleh karena itu setiap melakukan perencanaan ekonomi, fisik dan sebagainya harus dimasukan pertimbangan antisipasi  permasalahan yang mungkin muncul,” tambah Sri Purnomo.




Forum “Jogja Ngangeni” Blusukan ke Destinasi Wisata

Sleman – Dalam rangka untuk melihat secara langsung tentang kualitas dan kesiapan destinasi wisata di DIY, forum Jogja Ngangeni melakukan program blusukan. Kegiatan ini lebih dimaksudkan untuk mengeksplorasi destinasi wisata yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten/ Kota di DIY.Demikian disampaikan Humas Jogja Ngangeni, Wasita SS MAP saat berkunjung ke Desa Wisata Tanjung Donoharjo Ngaglik Sleman, Rabu (28/1). Dikatakan Wasita untuk pertama kalinya komunitas ini melakukan eksplorasi ke beberapa destinasi wisata di Kulonprogo “Tour de Menoreh”, yaitu Air Terjun Sidoarjo, Kopi Kang Rohmat di Samigaluh dan Goa Kiskendo di Girimulyo pada tanggal 20 Januari 2015 lalu.

“Untuk tahap selanjutnya akan diagendakan kunjungan ke Kabupaten/ Kota yang lain di wilayah DIY,” katanya.

Sementara itu Ketua Forum “Jogja Ngangeni” yang juga sebagai Ketua Himpunan Pramuwisata DPD DIY, Imam Widodo menjelaskan bahwa Forum Jogja Ngangeni merupakan sebuah komunitas informal yang beranggotakan para praktisi pariwisata di DIY, diantaranya pramuwisata, tour operator, PR travel agent, PR hotel dan restoran, PR lembaga kepariwisataan baik swasta dan pemerintah, event organizer, dan lainnya yang memiliki komitmen tinggi untuk memajukan kepariwisataan di DIY.

Menurutnya, terbentuknya forum ini diinisiasi oleh komunitas pramuwisata di DIY yang menganggap pentingnya jalinan silaturahmi yang kuat dan dinamis antara pelaku pariwisata di DIY. Forum ini diawali dengan sebuah grup online Whatsapp “Jogja Ngangeni” yang dioperasionalkan sejak awal tahun 2014. 

Forum ini juga berupaya membangun dinamika harmonis antara anggota forum sehingga bisa saling asah asih dan asuh serta mengembangkan kemampuan, ketrampilan dan semangat dalam membangun pariwisata. Yang terpenting bagi anggota komunitas adalah aksi nyata dalam membangun dan menggairahkan kepariwisataan di DIY.

Bukan NATO (No Action Talk Only) tetapi upaya praktis yang dilakukan oleh masing-masing anggota yang berasal dari berbagai macam latar belakang pekerjaan dengan core pariwisata. Kedepan diharapkan melalui forum informal ini berbagai persoalan terkait dengan kepariwisataan di DIY dapat didiskusikan antar pelaku pariwisata dengan pihak pemerintah daerah untuk selanjutnya dicarikan solusi yang terbaik.




Satpol PP Sleman Terus Galakkan Penambang Liar Merapi

Sleman – Satpol PP Sleman terus melakukan operasi dalam pengendalian penambangan liar di lereng Gunung Merapi. Pasalnya, jika tidak ada pengendalian, maka dikhawatirkan akan berdampak pada kerusakan alam.Kepala Satpol PP Sleman, Drs Joko Supriyanto, mengatakan penertiban penambangan liar terus dilakukan hingga saat ini termasuk melakukan patroli di wilayah-wilayah yang disinyalir masih terdapat penambangan liar. Selain itu, pihaknya juga melakukan penyisiran di wilayah penambangan untuk mengantisipasi penambangan dengan alat penambangan yang tidak dilengkapi surat izin.

“Aktivitas penambangan ditindak dinilai ilegal karena di wilayah bukan area penambangan. Sementara untuk di wilayah penambangan harus dilengkapi surat izin, jika tidak ada maka dianggap ilegal,” kata Joko, Rabu (28/1).

Menurut Joko, kesulitan yang dihadapi petugas justru warga pemilik lahan yang menutup-nutupi keberadaan penambangan. Padahal hal tersebut dapat merugikan warga sendiri beserta lingkungannya.

“Bagi penambang sanksinya jelas, berupa kurungan 10 tahun dan denda sebesar Rp 10 miliar sesuai Perda Nomer 4 Tahun 2013. Sementara bagi warga, kami akan lakukan pendekatan dan pembinaan bahwa menyewakan lahan untuk penambangan pasir itu ilegal,” ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Dinas SDAEM Sleman, Sapto Winarno, menjelaskan pihaknya juga segera melakukan pemetaan ulang kawasan penambangan pasir dan galian C yang ada di kawasan lereng Gunung Merapi. Hal ini menyusul maraknya kegiatan penambangan ilegal yang bermunculan di kawasan tersebut. Pemetaan tersebut dilakukan untuk memperjelas area mana saja yang boleh dilakukan penambangan maupun area yang terlarang.

“Terlebih kondisi lingkungan penambangan sudah berubah, ada material yang masih melimpah ada juga yang sudah sangat menyusut. Perlu dilakukan penyesuaian di masing-masing wilayah penambangan. Sehingga dampak penambangan berupa kerusakan lingkungan dapat dicegah,” paparnya.




Awal Tahun Sudah Ada 27 Kasus Demam Berdarah di Prambanan

Sleman – Hujan yang mengguyur wilayah DIY beberapa hari terakhir ini berdampak pada merebaknya penyakit Demam Derdarah Dengue (DBD). Terkhusus untuk wilayah Sleman bagian timur, RSUD Prambanan setidaknya menangani 27 pasien yang mengidap DBD. Data tersebut diperoleh terhitung dari 1 Januari hingga 25 Januari 2015 lalu.Maryadi selaku Kasi Pelayanan Medis RSUD Prambanan menuturkan kendati data pasien DBD terbilang tinggi, hal itu juga merupakan suatu indikasi bahwa kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD juga meningkat. Dia menilai saat ini masyarakat lebih cepat tanggap dalam mendeteksi gejala DBD.

“Bila penanganan dilakukan secara cepat, tingkat kesembuhan pasien juga akan meningkat,” jelas Maryadi, kemarin.

Ditambahkannya, dari data yang didapat  bahwa DBD di tahun 2015 ini akan diprediksi meningkat secara jumlah. Dijelaskannya, penyakit yang disebarkan nyamuk Aedes Aegepty dan mengakibatkan menurunnya trombosit darah merah pada penderita adalah penyakit langganan ketika datanya musim penghujan.

Meskipun dalam kurun waktu dua tahun, rumah sakit mendata ada penurunan kasus DBD, yaitu tahun 2013 sebanyak 280 kasus, sedang tahun 2014 ada 250 kasus, Maryadi menuturkan untuk tahun 2015 trennya justru akan mengalami peningkatan.

“Hal ini dilihat dari awal tahun ini saja sudah tercatat 27 orang yang dirawat,” jelasnya.