Pasar Belut Alternatif Wisata Kuliner Khas Sleman

Sleman – Pusat Kuliner Belut Godean terus didorong agar dapat menjadi ikon wisata kuliner khas dan alternatif wisata makanan di wilayah barat Kabupaten Sleman.

“Pusat Kuliner Belut Godean  diharap dapat menjadi ikon baru wisata kuliner di Sleman,” kata Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani di Sleman, kemarin. Menurut dia, Pusat Kuliner Belut Godean ini memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi berbagai hasil olahahan belut secara nyaman dan aman.

“Ini juga akan menjadi ikon pusat oleh-oleh khas Godean,” kata Tri Endah.

Tri Endah menambahkan  dengan tersentralnya penjualan hasil olahan belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung,” katanya.

Sentra kuliner belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.
Sentralisasi pemasaran komoditas ini juga diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Ditambahkan Tri Endah bahwa inovasi diharapkan dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

“Penganekaragaman pangan ini menggarisbawahi upaya untuk meningkatkan porsi produk olahan buatan dalam negeri,” tutur Tri Endah.

Selain itu, katanya, guna semakin meningkatkan kualitas produk kripik belut, ke depan akan dilakukan `grading` kripik belut sehingga pembeli dapat membedakan kualitas kripik belut.




Awal Maret 2015, Sleman Bakal Dibanjiri 1.000 Toyota Land Cruiser

Sleman – Awal Bulan Maret 2015 mendatang, tepatnya tanggal 7–8 Maret 2015 Kabupaten Sleman  bakal menjadi ajang penyelenggaraan Jambore Internasional Toyota Land Cruiser untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama diselenggarakan pada tahun 2013 di Bali. Beberapa negara yang akan hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Perancis, Jepang, Australia, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Demikian antara lain yang terungkap pada saat acara audiensi Panitia Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Jumat (9/1).

Dwi Budi Santosa yang memimpin rombongan Panitia Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 tersebut mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 adalah sebagai ajang silaturahmi antar negara dan antar chapter seluruh Indonesia, sebagai wadah kompetisi dan adu kreatifitas dengan menjunjung tinggi sportifitas serta diharapkan dapat memberikan hiburan bagi masyarakat dan edukasi tentang otomotif khususnya Toyota Landcruiser.

Sehubungan dengan hal tersebut demi kelancaran dan kesuksesan jamboree dimaksud pihaknya membutuhkan dukungan dari pihak pemerintah daerah di antaranya Kabupaten Sleman. Saat ini persiapan sudah dilakukan secara matang dengan melibatkan berbagai pihak dan berbagai stakeholder diantaranya pemerintah daerah dan pihak swasta.

Dikatakan bahwa penyelenggaraan Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 akan dipusatkan di Kompleks Candi Prambanan. Menurut Budi, Jogja  merupakan salah satu tempat yang sangat stretegis untuk penyelenggaraan event berskala interenasional tersebut mengingat Jogja merupakan destinasi wisata popular dunia yang diharapkan akan memberikan kesan mendalam bagi para peserta jamboree.

Jambore Internasional Toyota Land Cruiser dikemas secara fun dengan berbagai aktifitas otomotif maupun social yang ditujukan bagi member TLCI, keluarga maupun masyarakat umum dan wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan pada saat event berlangsung.

Diantaranya aktifitas tersebut adalah pemecahan rekor MURI mobil Toyota Land Cruiser dalam satu lokasi kegiatan, konfigurasi mobil Toyota Land Cruiser yang diatur membentuk alphabet TLCI, kontes ketangkasan melewati berbagai rintangan dengan Toyota Land Cruiser, donor darah bekerjasama dengan PMI DIY, bakti social untuk panti asuhan, lomba foto, aneka fun games dan hiburan, bazaar multi produk dan food court area.

Diungkapkan Budi untuk kepesertaan hingga saat ini yang sudah konfirmasi berjumlah 300 peserta, sehingga diharapkan para calon peserta dari berbagai daerah agar secepatnya mendaftarkan diri ke panitia atau melalui email  @.

Sementara  Kepala Dinas Kebudayaan dan Paraiwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Sekretaris Dinas Dra Endah Sri Widiastuti MPA mengatakan bahwa pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan event Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 di wilayah Kabupaten Sleman. Sehingga diharapkan event bertaraf internasional tersebut akan memberikan kontribusi positif terhadap dunia kepariwisataan di DIY khususnya Kabupaten Sleman.

Ayu menambahkan bahwa Kabupaten Sleman yang memiliki lokasi yang strategis dengan dukungan destinasi wisata yang sangat beragam membuka peluang yang luas bagi penyelenggaraan event-event bertaraf internasional, seperti halnya Jambore Internasional Land Cruiser ini. Terlebih lagi pengemasan event tersebut dikaitkan dengan konsep-konsep sosial, lingkungan, budaya dan pariwisata.***




Desa Wisata Ngremboko Andalkan Perikanan

NgrembokoSleman – Setelah sempat terhenti selama dua tahun, aktivitas pariwisata di Desa Wisata Ngremboko di Dusun Bokesan Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman mulai bangkit kembali. Pengelola dan warga setempat mulai membenahi dan melengkapi berbagai penunjang bagi pengembangan desa wisata.  

Saptono, selaku Ketua pengelola Desa Wisata Ngremboko Bokesan menceriterakan kesiapannya mengelola Desa Wisata Ngremboko dengan telah mempersiapkan maket rencana pembangunan wilayah seluas 25 hektar. Diceritakan Desa Wisata Ngremboko mengandalkan pariwisata berbasis perikanan. Selain ikan konsumsi seperti nila, lele, dan gurame, ikan hias pun dibudidayakan di sana.

“Dari luas total wilayah kami, 60 persennya adalah kolam ikan,” kata Saptono, baru-baru ini. Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Ngremboko sendiri, dipaparkan Saptono, telah ada sejak tahun 1985 dan dikukuhkan pemerintah pada dua tahun berikutnya.

“Awalnya memang perikanan, lalu kami sering dikunjungi para relasi dan digunakan untuk lokasi outbond dan studi banding,” ungkap Saptono.

Masyarakat setempat kemudian merasakan manfaat dari kedatangan pengunjung. Mereka kalau outbond bisa tiga sampai empat hari, jadi butuh penginapan dan jasa cuci baju.

“Orang-orang kami juga banyak yang dibutuhkan jadi pemandu,” tutur Saptono.

Saptono melanjutkan, para pengunjung banyak yang ingin membawa pulang oleh-oleh. Warga jadi terdorong berwirausaha aneka olahan ikan untuk oleh-oleh. Ikan-ikan hias juga bisa dijual sebagai suvenir. Diceritakan Saptono, Dusun Bokesan telah menjadi Desa Wisata Ngremboko sejak tahun 2002. Sayangnya, dua tahun belakangan, aktivitas pariwisata di Bokesan tersebut seakan mati suri.

“Waktu itu pengelolaannya kurang fokus. Tahun ini pokdarwis (kelompok sadar wisata) mulai bangkit lagi. Kami mencoba menata lingkungannya, tanpa keluar dari konsep perikanan,” kata Saptono.

Tamu – tamu di Desa Wisata Ngremboko kebanyakan berasal dari kalangan perguruan tinggi dan instansi pemerintah.

“Ini sekarang sudah ada pasar ikan. Kami rencana akan kembangkan home stay yang letaknya di pinggir sungai dan beberapa joglo untuk tempat bersantai,” urai Saptono.

Saptono juga menunjukkan kolam kecil di depan rumah salah satu warga. Dengan bangga dia lalu mengungkapkan, partisipasi warga dalam pengembangan Desa Wisata Ngremboko mencapai 90 persen. Namun, hasilnya juga bisa membuat warga semakin sejahtera.

Omset untuk budi daya ikannya saja tahun lalu mencapai Rp 11 miliar perikanan bisa dikembangkan jadi pariwisata dengan manajemen yang tepat. Kegiatan pemijahan dan panen ikan saja sudah menarik.

“Tinggal bagaimana penataan lingkungan dan paket wisatanya. Home stay juga harus dibuat sesuai standar,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir Ayu Laksmidewi TP MM.

Menurut Ayu, potensi Desa Wisata Ngremboko masih perlu digali usulkan kegiatan tahunan. Potensi budaya, seni, dan perikanan bisa digabung dalam satu konsep.




Desa Siaga Bencana Sleman Perlu Lumbung Sosial

Sleman – Pembentukan desa siaga bencana di Kabupaten Sleman perlu diikuti dengan pembuatan lumbung sosial untuk mengantisipasi kebutuhan darurat saat terjadi musibah.

“Setiap desa siaga bencana diperkuat dengan lumbung sosial yaitu kelengkapan kebutuhan dasar seperti lauk pauk, kebutuhan kaum perempuan dan anak, serta kebutuhan dasar lainnya,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman. Drs Julisetiono Dwi Wasita, Jumat (9/1).

Menurut Julisetiono, desa siaga bencana bukan slogan semata, namun warga desa tersebut yang berdomisili di suatu daerah yang dianggap rawan terhadap bencana, agar masyarakatnya memahami dan dapat meminimalisasi serta mengantisipasi dampak bencana tersebut sejak dini.

“Warga di daerah Desa Siaga Bencana harus siap menghadapi berbagai bencana alam di daerahnya karena mereka juga dilatih bagaimana untuk menyelamatkan diri,” kata Julisetiono.

Ia mengatakan, mitigasi bencana diharapkan dapat menjadi kearifan lokal masyarakat di kawasan rawan bencana pada khususnya dan masyarakat Sleman pada umumnya.

“Pemkab telah melakukan Pemetaan titik rawan bencana pada musim hujan ini seperti banjir lahar dingin di kawasan sekitar sungai berhulu di Gunung Merapi, tanah dan batu longsor di kawasan perbukitan Prambanan serta mewaspadai kemungkinan terjadinya angin kencang seperti puting beliung,” katanya.

Julisetiono menambahkan, masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa. Peran masyarakat dalam mitigasi bencana lanjutnya  menjadi sangat penting, karena warga merupakan subjek, objek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan risiko bencana.

Agar memberikan manfaat yang optimal, rencana mitigasi harus mengadopsi dan meperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat.

“Hal ini dikarenakan kedua aspek tersebut merupakan faktor penentu dalam keberhasilan upaya pengurangan risiko bencana,” katanya.




90 Anak Kurang Mampu Terima Bantuan Sepeda

BantuanSleman – Sebanyak 90 anak putus sekolah dari keluarga kurang mampu yang selama ini bekerja disektor informal menerima bantuan sepeda dalam program pengurangan pekerja anak dalam mendukung program keluarga harapan Kabupatrn Sleman. Bantuan diserahkan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Aula Nakersos Sleman, Jumat (9/1) disaksikan Wakil Ketua DPRD Sleman Sofian Setyo Darmawan, Wakapolres, Kepala Dinas Nakersos, Direktur Bank Sleman dan pejabat Sleman lainnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Nakersos), Drs Untoro Budiharjo menyampaikan kegiatan ini dimaksudkan untuk mengurangi pekerja anak dan mendukung terciptanya  keluarga harapan melalui pengembalian anak ke dunia pendidikan. Sebanyak 90 anak ini selama satu bulan mendapatkan pembinaan kemudian masuk kembali ke sekolah formal dan informal sesuai keinginan mereka. Adapun rincian sekolah yakni formal 17 anak, paket A 11 anak, paket B 50 anak, paket C 3 anak dan paket C kejuruan 9 anak.

Sri Purnomo berharap, bantuan sepeda ini dapat semakin memotivasi anak untuk meneruskan pendidikan. Namun demikian yang lebih penting adalah, bantuan ini merupakan wujud dukungan bagi anak-anak untuk menggapai cita-cita yang lebih tinggi sehingga juga diharapkan dapat membantu orangtua masing-masing di masa depan.

“Anak-anak kita ini merupakan salah satu potensi masa depan bagi kemajuan daerah dan masyarakat. Untuk itu mereka perlu didorong dan diberikan motivasi serta apresisasi agar terus berprestasi serta dapat mendorong anak-anak yang lain untuk mengikuti jejaknya,” kata Sri Purnomo.

Terlebih lagi lanjutnya tanggungjawab akan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak hanya dipikul oleh pemerintah saja, melainkan tanggungjawab tersebut milik seluruh stakeholder yang ada. Hal ini dikarenakan pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntutan masyarakat.

Pada tahun 2014, bantuan sepeda untuk keberlanjutan pendidikan bagi pekerja anak di Sleman diperuntukkan bagi 90 anak yang telah diseleksi dari 115 pekerja anak. Sedangkan untuk tahun 2015 telah didata oleh Dinas Nakersos sebanyak 147 pekerja anak yang kemudian juga akan diseleksi sebanyak 90 anak untuk menerima bantuan sepeda.

Namun demikian Pemkab Sleman melalui Dinas Nakersos mencoba untuk mengusulkan anggaran tambahan agar bantuan yang diberikan juga semakin banyak.