Olah Susu Kambing Etawa Omset Capai Ratusan Juta Tiap Bulan

PRODUK SUSU  ETAWA AGRO PRIMA (1024 x 680)Sleman – Kelompok Etawa Agro Prima, sebuah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Dusun Kemirikebo Desa Girikerto Kecamatan Turi, Sleman mengolah susu kambing peranakan etawa menjadi aneka olahan, seperti susu bubuk, permen karamel dan sabun. UMKM Etawa Agro Prima berdiri sejak 1999. Sebelumnya, beberapa warga setempat memang memiliki ternak kambing.

“Pada awalnya ternak biasa saja, tidak ada pemanfaatan. Lalu waktu itu ada 7 orang yang dapat pembinaan dari BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jogja). Usaha terus berkembang hingga sekarang sudah punya 35 karyawan,” kata Poniman, koordinator Kelompok Etawa Agro Prima, dirumahnya, Senin (26/1).

Diceritakan Poniman, setidaknya sekarang ada 150 orang peternak yang menyuplai susu kambing untuk diolah Etawa Agro Prima. Sekali suplai, masing-masing peternak yang berasal dan sekitar Turi dan Kaliurang tersebut umumnya menyuplai 2-5 liter.

“Setiap kali menyuplai, susunya akan kami tampung dan diakumulasikan jumlahnya. Nanti di awal bulan, baru kami berikan gajinya sesuai jumlah susu yang disuplai,” kata Poniman.

Setiap hari lanjutnya, Etawa Agro Prima mampu mengolah hingga 300 liter susu cair menjadi 200 kemasan susu bubuk. Varian rasa yang ditawarkan ada lima, yaitu rasa original, cokelat, strowberi, vanila, dan jahe. Satu kemasan berisi 250 gram susu bubuk kemudian dijual seharga Rp . Sekarang ini fokus Etawa Agro Prima adalah produksi susububuk. Kalau permen dan yang lainnya itu tergantung permintaan yang diutamakan susu bubuk dulu untuk diproduksi rutin.

Meski demikian, Poniman mengaku, pihaknya masih terkendala dalam perizinan produk. Hal itu membuat produk susu bubuk belum bisa dipasarkan melalui toko-toko moderen.

“Masih ada yang belum lolos. Sertifikasi produk organik dan P-IRT sudah, tapi sertifikat MD (Merek Dagang) belum. Susah karena biayanya terlalu banyak karena ada standar khusus,” katanya.

Kendati demikian pemasaran susu kambing bubuk milik Etawa Agro Prima sudah menjangkau wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya.

“Kami jual secara online dan masih sering diajak ikut pameran oleh pemeritah. Walau kapasitasnya masih kecil, tapi ini sudah sampai luar Jawa,” tutur Poniman.

Melihat luasnya pemasaran, tidak heran jika omset bulanan Etawa Agro Prima bisa mencapai Rp 100 juta hingga  Rp 150 juta. Sebelum lebaran tahun lalu malah sampai Rp 200 juta.

“Tapi itu omset kotor, bersihnya sekitar Rp 30 juta,” ungkap Poniman.




Sleman Terkendala Moratorium Penambahan Guru PAI

Sleman – Kepala Bidang Pelaksana Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman, Samsul Alam mengatakan untuk penambahan guru PAI, pihaknya terkendala moratorium yang diberlakukan Pemerintah Pusat. Padahal, setiap tahunnya banyak guru PAI yang masuk usia pensiun sehingga jumlahnya semakin berkurang.“Beberapa guru harus merangkap mengajar di sekolah yang berbeda. Hal ini terpaksa dilakukan untuk meminimalisasi dampak kekurangan guru. Jika tidak, pembejarannya tidak optimal,” kata Samsul, kemarin.

Kondisi dipersulit dengan jumlah guru PAI yang semakin berkurang lantaran pensiun.

“Misalnya, pada tahun ini akan ada 35 guru PAI yang akan pensiun. Kami tidak dapat berbuat banyak karena adanya kebijakan moratorium,” papar Samsul.

Sementara itu, kekurangan guru juga terjadi pada pendidikan agama Katholik. Menurut Pengawas Pendidikan Agama Katholik Kemenag Sleman, Dimin, kekurangan tersebut sudah lama terjadi. Guna mengatasi hal itu, di sekolah yang membutuhkan guru agama Katholik akan diperbantukan dengan guru dari sekolah lain.

“Kekurangan ini bahkan sebelum ada kebijakan moratorium dari pusat. Namun hingga saat ini belum ada penambahan,” tambahnya.




Pembangunan Pasar Sleman Molor Setahun

Sleman – Pembangunan Pasar Sleman  dipastikan tidak dapat selesai pada 2015. Hal ini lantaran kelanjutan pembangunan gagal dilakukan pasca rekanan yang menangani pembangunannya tidak dapat menyelesaikan target. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Sleman, Nurbandi mengatakan dari target yang ditentukan dalam pembangunan tahap I, pengembang hanya dapat menyelesaikan 60 persennya saja.

Padahal, proyek pasar terpadu tersebut akan dibangun dalam dua tahap yaitu tahap I yang diselaisakan pada 2014 dan tahap II pada 2015.

“Dengan adanya pekerjaan yang belum selesai pada tahap I, otomatis kami harus menyesaikannya terlebih dahulu baru kemudian melanjutkan tahap berikutnya. Namun, pengerjaannya terkendala teknis yakni dengan adanya lelang,” kata Nurbandi, Senin (26/1).

Menurutnya, lelang tidak dapat dilakukan lantaran sisa anggaran tahap I sudah menjadi Sisa Lebih Pengunaan Anggaran (SILPA) dan hanya bisa digunakan pada APBD Perubahan saja. Sementara, APBD Perubahan baru disahkan pada September dan dapat digunakan pada Oktober.

“Bagaimana akan menyelesaikan tahap II, tahap I saja belum dapat diselesaikan. Sehingga paling mungkin proyek dapat diselesaikan pada 2016,” paparnya.

Kemoloran pembangunan tersebut akan berdampak pada mangkraknya bangunan pasar dalam jangka waktu yang panjang.

“Pasti akan diselesaikan, hanya mengalami kemoloran. Namun meskin belum dapat diteruskan pembangunannya, kami berupaya bangunan yang sudah ada tidak terbengkalai,” kata Nurbandi.




Pekan Depan Kurikulum 2006 Berlaku Lagi

Sleman – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman memberikan waktu selama sepekan bagi sekolah untuk menerapkan kembali kurikulum 2006. Masa transisi itu guna mempersiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang dibutuhkan pada kurikulum kini.Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono SH mengatakan masa transisi tersebut diberlakukan menyusul adanya surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 233/c/kr/2015. Dengan demikian, sekolah non-piloting yang sebelumnya menerapkan kurikulum 2013 harus kembali ke kurikulum 2006.

“Persiapan ini diperlukan karena penerapan kurikulum 2006 sudah vakum selama satu semester,” papar Arif, Minggu (25/1).
Menurutnya, sejumlah persiapan yang harus dilakukan oleh sekolah antara lain seperti penyesuaian jam pelajaran. Hal ini lantaran perbedaan yang paling kentara terjadi pada jam pelajaran.

“Jam pelajaran pada kurikulum 2013 cenderung lebih banyak dibandingkan kurikulum 2006. Ini penting dilakukan agar guru bisa menyesuaikan,” katanya

Disisi lain  Arif juga meminta sekolah untuk mengatur ulang jadwal ajar guru. Hal tersebut menyusul penerapan kembali kurikulum 2006 pada pekan depan. Sejumlah persiapan yang harus dilakukan oleh sekolah antara lain seperti penyesuaian jam pelajaran.

Selain untuk mempermudah guru pada saat mengajar, penyesuaian jam pelajaran tersebut juga diperlukan untuk memenuhi jam pelajaran yang harus dipenuhi oleh guru, yaitu 24 jam pelajaran selama seminggu. Untuk itu, Arif juga meminta sekolah agar menyesuaikan struktur tugas guru.

“Sehingga jam mengajarnya akan seimbang dan memenuhi jam pelajaran yang harus diampu di sekolah masing-masing. Jika ada guru yang jam mengajarnya kurang, dapat memenuhinya di sekolah lain,” kata Aris.

Arif juga menjelaskan dengan demikian akan diketahui guru-guru yang jam mengajarnya tidak dapat terpenuhi di sekolah tempatnya bertugas. Hal tersebut kemudian akan dibahas di tingkat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Setelah itu, guru-guru yang belum terpenuhi jam mengajarnya tersebut akan diusulkan kepada Disdikpora untuk diberikan surat tugas mengajar di sekolah lain.

“Jadi selain mengajar di sekolah tempatnya bertugas, guru bersangkutan juga akan mengajar di sekolah lain yang sudah ditentukan. Langkah ini dilakukan agar guru dapat memenuhi syarat sertifikasi,” ungkapnya menjelaskan.




Mayoga Adakan Penguatan Bahasa Inggris Menginap 14 Hari di Pulesari

Sleman – Kemampuan bahasa asing, hhususnya Bahasa Inggris  merupakan masalah umum bagi sekolah atau madrasah. Penyebanya antara lain yaitu kurangnnya latihan dan minimnya pembiasan dalam berkomunikasi Bahasa Inggris dan komunitas pengkodisian lingkungan yang ada disekitarnya. 

Dan MAN Jogja III (Mayoga) mengadakan kegiatan  penguatan Bahasa Inggris yang bekerja sama dengan FEE Pare Kampung Inggris Kediri dan Desa Wisata Pulesari Sleman dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Demikian disampaikan Didik Irwanto, selaku menajeman Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi Sleman, Minggu (25/1).

Dikatakan Didik, kegiatan penguatan kapasitas dalam upaya menunjang mutu pendidikan pelajar Mayoga akan dilaksanakan di Desa Wisata Pulesari Sleman mulai dari tanggal 26 Januari Sampai 8 Februari 2015 dengan jumlah peserta 233 pelajar dan dibagi menjadi dua gelombang.

“Kegiatan ini adalah kegiatan yang luar biasa karena ini adalah tamu yang paling lama menginap ditempat kami selama berdirinya Desa Wisata Pulesari dengan harapan warga juga menjadi semangat dalam upaya pengembangan pariwisata di desa,” kata Didik.

Pentingnya Bahasa Inggris lanjutnya, merupakan bagian dari persyaratan kuliah di perguruan tinggi favorit ketika mau melanjutkan kuliah, banyak kesempatan mengikuti program beasiswa belajar (s2) diluar negeri mempersyaratkan skor toefl dan kemampuan berbahasa inggris, tuntutan duni kerja karena persaingan global demikian yang menjadi gagasan kenapa kegiatan ini dilaksanakan yang bertujuan untuk menguatkan kembali pendidikan karakter melalui komunikasi Bahasa Inggris.

Kegiatan penguatan ini dilaksanakan di Desa Wisata Pulesari yang kedua kalinya yang tahun lalu dilaksanakan pada tahun 2014.

“Ditahun 2015 Mayoga mengadakan kegiatan yang sama lagi, itu sebagai motivasi bagi kami atas kepercayaan yang telah diberikan kepada pengelola Desa Wisata dalam membantu kelancaran kegiatan tersebut dan bentuk pelayanan yang baik dalam melaksanakan amanah yang telah diberikan,” tutur Didik.

Target yang dilakukan antara lain menguasai vocabulry dasar sebagai bekal percakapan sehari-hari, menguasai grammar dasar sebagai bekal percakapan sehari-hari, berani mampu mengunakan bahas inggris dalam berkehidupan dalam proses belajar mengajar serta mampu memahami Bahasa Inggris di Madrasah dengan baik dan benar sesuai dengan kurikulum nasional.