Wisata Sleman Fokus ke Produk Lokal

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tahun 2015 ini berupaya meningkatkan lagi jumlah pengunjung wisatawan di Sleman. Adapun upaya tersebut adalah peningkatan potensi produk-produk kreatif dari desa wisata yang ada di Sleman. Kepala Bagian Humas Sleman, Dra Sri Winarti mengatakan bahwa pihak pemerintah mendukung masyarakat Sleman untuk mengembangkan produk khas desa, salah satunya adalah buah salak.

Dengan memperkenalkan produk-produk berbahan dasar salak tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk ke depannya.

“Sekarang fokusnya ke produk yang utamanya berbahan dasar salak yang menjadi khasnya Kecamatan Turi, seperti asinan, manisan, dan kopi dari biji salak,” jelas Sri Winarti, Rabu (21/1).

Diakui Sri Winarti bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Sleman pada libur akhir tahun 2014 ada penurunan disejumlah tempat wisata bila dibandingkan liburan tahun sebelumnya. Oleh karenanya, berbagai upaya terus dilakukan demi memajukan potensi wisata Kabupaten Sleman dan menarik lebih banyak pengunjung.




Tahun 2015 Pembangunan Pasar Prambanan dan Sleman Ditarget Selesai

Sleman – Dinas Pasar Kabupaten Sleman menargetkan pembangunan Pasar Prambanan dan Sleman ditargetkan selesai tahun 2015 ini. Setelah selesai dibangun kedua pasar tradisional tersebut diharapkan bisa segera dioperasikan para pedagang dan ikut mengangkat perekonomian wilayah setempat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani MSi kepada wartawan, Rabu (21/1). Menurut Endah sebenarnya terdapat enam pasar tradisional besar dan potensial yang diprioritaskan segera dibenahi. Di antaranya Pasar Godean, Tempel, Pakem, Gamping, Sleman, dan Prambanan.

“Secara bertahap akan dibenahi sesuai kondisi yang ada. Sebagai tahap awal, saat ini kami fokus membenahi Pasar Prambanan dan Sleman,” Endah.

Pasar Prambanan diakui Endah memang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Karena itu sangat wajar kalau para pedagangnya banyak yang dari luar Sleman. Menurut Endah, roda perekonomian memiliki prinsip borderless. Jadi, tidak masalah jika geliat ekonomi di Pasar Prambanan jugadigerakkan oleh pedagang luar daerah.

“Jadi, borderless itu maksudnya tidak melihat batas wilayahnya. Hal terpenting adalah bisa mengangkat perekonomian di wilayah sekitar pasar tersebut,” tutur Endah.

Soal tahap pembangunan, 2015 adalah tahun ketiga bagi pembangunan Pasar Prambanan dan tahun kedua bagi Pasar Sleman. Anggaran untuk Pasar Prambanan sebesar Rp 30 miliar sementara Pasar Sleman butuh Rp 14 miliar.




Pemkab Sleman Awasi Pemanfaatan Air Tanah

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman terus mengawasi pemanfaatan air tanah oleh pribadi atau warga masyarakat maupun badan serta pihak swasta.

Upaya untuk menjaga kelestarian air tanah, serta dalam rangka mewujudkan kemanfaatan air tanah yang seimbang, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan, Pemkab Sleman mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Air Tanah. Demikian antara lain disampaikan Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Dinas SDAEM Sleman, Fauzan Darmadi, kemarin.

Selanjutnya dikatakan Fauzan pemakaian air tanah dalam rangka memenuhi kebutuhan air minum, rumah tangga, kegiatan usaha maupun pembangunan di wilayah Kabupaten Sleman akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan kegiatan pembangunan.

“Kondisi seperti ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah yang dapat merugikan apabila tidak dilakukan pengelolaan secara bijaksana,” kata Fauzan.

Menurutnya, dalam pengelolaan air tanah, Pemkab Sleman berlandaskan pada tiga pilar yaitu, konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak. Pengendalian penggunaan air tanah dilakukan dengan cara menjaga keseimbangan antara pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah dan menerapkan perizinan dalam penggunaan air tanah.

Ditambahkan Fauzan, selain itu pengendalian air tanah juga dengan membatasi penggunaan air tanah dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, mengatur lokasi dan kedalaman penyadapan akuifer, mengatur jarak antar sumur pengeboran atau penggalian air tanah, serta mengatur kedalaman pengeboran atau penggalian air tanah dan menerapkan tarif progresif dalam penggunaan air tanah sesuai dengan tingkat konsumsi.

“Setiap orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan pemanfaatan air tanah wajib memiliki izin, yang terdiri Izin Pemakaian Air Tanah, Izin Pengusahaan Air Tanah, Izin UsahaPerusahaan Pengeboran Air Tanah dan Izin Juru Bor,” katanya.

Setiap orang pribadi atau badan lanjutnya, jika tidak memenuhi ketentuan perizinan yang telah ditetapkan tersebut dikenakan sanksi administrasi. Sanksi administrasi tersebut dalam bentuk peringatan tertulis, penyegelan, tindakan paksa untuk mengajukan izin, penghentian sementara, sebagian atau seluruh kegiatan pemanfaatan air tanah, ganti rugi dan melakukan pemulihan air tanah.




Wisata Kebun Koleksi Salak Nusantara Alami Penurunan Kunjungan

Sleman – Selama beberapa tahun terakhir ini angka kunjungan wisatawan Kebun Koleksi Salak Nusantara di Dusun Candi Desa Bangunkerto Kecamatan Turi Sleman mengalami penurunan. Padahal di kebun koleksi salak tersebut terdapat puluhan jenis salak dari beberapa daerah di Indonesia. 

Seperti diungkapkan Mulyono, pengelola Kebun Koleksi Salak Nusantara mengungkapkan terdapat sekitar 19 jenis tanaman salak yang jadi koleksi. Hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp , pengunjung bisa mengelilingi kebun salak seluas satu hektare.

“Pengunjung bisa melihat banyak jenis tanaman salak. Salak pondoh saja sudah ada beberapa jenis. Selain itu juga ada salak condet, kembang arum, nonduri, bali, salak hitam dan lainnya,” kata Mulyono kepada wartawan, kemarin.

Pengunjung pun dibebaskan untuk memetik dan makan salak sepuasnya. Jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, pengunjung pun bisa membeli salak segar dengan harga standar. Pada dasarnya lanjut Mulyono wisata kebun koleksi nusantara ini untuk mendukung Agrowisata. Tetapi karena di Agrowisata kurang terawat dan sepi pengunjung, diakui Mulyono wisata kebun salam nusantara ini kena imbasnya sepi kunjungan.

Meski demikian Mulyono optimis Kebun Koleksi Salak Nusantara tetap masih diminati sebagai obyek wisata edukasi. Sebab, mayoritas pengunjung adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, pengelola Agrowisata, Sugito mengakui memang banyak fasilitas yang tidak terawat bahkan rusak. Misalnya saja jembatan penghubung antar gazebo yang ada di atas embung. Jembatan yang terbuat dari kayu itu sudah rapuh bahkan ada bagian yang terputus. Beberapa wahana permainan air pun tampak terbengkalai.

Hal itu membuat kurang menarik bagi wisatawan. Sugito memaparkan, Agrowisata yang beroperasi sejak 1989 tersebut mulai dikelola investor pada tahun 2000. Awalnya,kunjungan di Agrowisata yang dilengkapi dengan wahana kolam renang dan taman anggrek tersebut sangat ramai. Namun, karena kurangnya manajemen, Agrowisata jadi tidak berkembang dan mulai ditinggalkan wisatawan.

Pengelolaan oleh investor akhirnya dihentikan pada 2007. Agrowisata kemudian diambil alih oleh Pemerintah Desa Bangunkerto. Namun, langkah pengembangan Agrowisata tetap saja terbentur biaya.




Sekda: Pariwisata Jadi Sumber Daya Alam Yang Tidak Akan Habis

Sleman – Sekda Sleman, dr Sunartono MKes mengatakan kedepan tidak hanya di Kabupaten  Sleman sumber daya alam akan habis. Apalagi sumber daya alam di Sleman sangat terbatas karena itu harus bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

“Sumber daya alam yang tidak akan habis adalah pariwisata,” kata Sunartono ketika mengadakan media ghatering dengan wartawan di Sleman, Selasa (20/1).

Karena itu Sunartono berharap instansi terkait dengan pariwisata untuk melakukan perbaikan. Tidak perlu membangun pariwisata baru tatapi cukup memoles atau merehap pariwisata yang sudah akan menjadi wisata yang menarik.

“Untuk pariwisata ini setelah dipoles sedikit saja akan jadi ikon yang sangat berharga dan bisa menarik wisatawan,” kata Sunartono.

Apalagi lanjut Sunartono, jika melihat ke depan, orang-orang dituntut untuk bekerja keras sehingga bisa mengakibatkan stres. Dengan demikian sektor pariwisata akan menjadi sumber daya yang tidak akan habis. Diakui Sunartono, pengembangan wisata memang ada dampak positif dan negatifnya.

Karena itu Pemkab akan segera menyusunregulasi untuk mengurangi dampak negatif pengembangan pariwisata ini. Sunartono juga berharap Sleman ke depan mampu mengelola pariwisata ini menjadi industri wisata. Saat ini yang perlu didorong bahwa pariwisata tidak hanya sekedar sebagai sambilan tetapi wisata ini harus didorong menjadi industri dan bisa jadi ikon wisata.

Ditambahkan Sunartono bahwa berbicara masalah pengembangan pariwisata ini juga telah disampaikan dalam pertemuan Java Promo yang beranggotakan 16 Kabupaten/Kota di DIY dan Jateng.

“Saya sebagai ketua Java Promo juga telah menyampaikan permasalahan pariwisata ini dalam pertemuan  anggota Java Promo di Magelang hari ini (Selasa, 20/1),” tutur Sunartono.

Pada kesempatan tersebut juga diadakan pisah sambut Kabag Humas Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA digantikan Dra Sri Winarti.