Siaga Bencana, Sleman Sediakan Dana Tak Terduga Rp 15,6 M

Sleman – Kabupaten Sleman menyediakan anggaran untuk dana tak terduga sebesar Rp 15,6 miliar dan dana bantuan sosial tak direncanakan Rp 741,75 juta. Hingga saat ini, dana tersebut belum digunakan karena belum ada pengajuan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Kabid Belanja Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD), Aisyah Inayati Suryani SE MSi mengatakan, dana tak terduga ini bisa dicairkan jika ada penyataan tanggap darurat dan SK penggunaan dari Bupati. Sedangkan dana bansos tak direncanakan bisa dicairkan atas pengajuan dari SKPD untuk korban bencana.

“Dana tak terduga itu bisa dicairkan jika ada kejadian luar biasa dan ada pernyataan tanggap darurat. Tapi kalau bansos tak direncanakan, bisa untuk memberikan bantuan bagi korban banjir, tanah longsor, rumah roboh dan angin kencang,” kata Inayati di ruang kerjanya, kemarin.

Dana tak terduga pada tahun 2015 sebesar Rp 15,6 miliar dan dana bansos sebesar Rp 741,75 juta. Untuk dana tak terduga itu disesuaikan dengan perkiraan potensi bencana sehingga besarnya tidak sama atau lebih kecil dari tahun sebelumnya. Sedangkan, dana bansos tak direncanakan, setiap tahunnya meningkat, yakni pada tahun 2013 hanya sekitar Rp 350 juta dan tahun 2014 Rp 500 juta.

“Kalau dana tak terduga itu tergantung ada siklus 4 tahunan atau tidak, jika ada siklus Merapi jelas akan lebih besar. Tapi untuk dana bansos sesuai permintaan dari SKPD yang meminta,” ujarnya.




Tunjangan Kinerja PNS, Disesuaikan Kemampuan Pemda

Sleman – Sistem pemberian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sleman tidak bisa disamakan dengan DKI Jakarta.

“APBD Jakarta saja sampai Rp 70 trilyun, sementara Sleman hanya sekitar Rp 2 trilyun. Seperti langit dan bumi, jadi tidak bisa disamakan,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Senin (16/2).

Sri Purnomo juga menambahkan, dengan sistem tunjangan berdasar prestasi yang membuat gaji PNS bisa sampai puluhan juta, beban gaji pegawai dalam APBD DKI Jakarta bahkan belum mencapai 20 persen.

“Sedangkan alokasi gaji pegawai dalam APBD kita sudah 50 persen. Kekuatan ekonominya kan juga berbeda,” ungkapnya.

Menurut Sri Purnomo, selain prestasi pegawai, TKD juga harus disesuaikan dengan kemampuan setiap pemerintah daerah.

“Kalau kinerjanya bagus, kita berikan reward sesuai kemampuan Pemkab. Yang penting, pendapatannya sesuai dengan kondisi wilayah kerja,” ujarnya.




Wahana Sindu Kusuma Edu Park Diresmikan Bisa Jadi Destinasi Wisata Unggulan Baru

Pemukulan GongSleman – Dengan diresmikannya wahana permainan bagi keluarga yaitu Sindu Kusuma Edu Park (SKE) yang berlokasi di Jl Jambon Desa Sinduadi Mlati Sleman bisa menjadi destinasi wisata unggulan baru di DIY khususnya di Sleman. Demikian antara lain sambutan Gubernur DIY yang dibacakan Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi DIY, Dr Ir Didik Purwadi MSe ketika meresmikan atau grand opening wahana permainan Sindu Kusuma Edu Park, Senin (16/2).

Selanjutnya Gubernur menyampaikan bahwa dengan keberadaan wahana permainan Sindu Kusuma Edu Park ini diharapkan dapat memberdayakan para pelaku wisata, kelompok sadar wisata dan masyarakat sekitar untuk menjadi wisata unggulan di DIY. Menurut Gubernur sektor wisata ini dapat berfungsi multi guna bukan hanya memberikan keuntungan bagi agen wisata, tetapi juga bermafaat bagi daerah dan juga masyarakat setempat untuk meningkatkan perekonomiannya.

“Ke depan diharapkan wahana ini menjadi tempat wisata yang menjadi tujuan kunjungan favorit wisatawan,” kata Didik yang membacakan sambutan Gubernur.

Disisi lain Gubernur juga menyampaikan bahwa dengan dikembangkannya destinasi wisata maka industri wisata tidak mengenal batas wilayah dan ruang sehingga diharapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman dan DIY untuk saling sharing dalam mengemas wisata yang ditawarkan dengan baik sehingga bisa mendatangkan wisatawan untuk berkunjung.

Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI sebagai kabupaten yang terletak cukup strategis, Sleman memiliki berbagai potensi kewilayahan yang sangat menarik di berbagai sektor usaha, yang didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dan terdidik, aksesibilitas yang memadahi, serta ketersediaan prasarana dan sarana yang mendukung tumbuh kembangnya investasi.

Selain hal tersebut, Kabupaten Sleman juga memiliki keunggulan komparatif yang strategis, terletak pada jalur ekonomi regional dengan daya tarik jalur wisata utama di DIY yaitu Candi Prambanan, Borobudur, dan Kraton Yogyakarta.

“Hal ini menjadikan Kabupaten Sleman sebagai penghubung aktivitas pariwisata tidak hanya di Jawa Tengah dan DIY tetapi juga di Indonesia,” kata Sri Purnomo.

Salah satu potensi ekonomi masyarakat yang strategis di kembangkan dan didayagunakan untuk tingkatkan peluang kerja, adalah pada sektor pariwisata. Untuk itu Pemkab Sleman selalu berupaya untuk meningkatkan dan mengintensifkan promosi, mengembangkan destinasi dan menjalin kemitraan.

Selain program-program promosi rutin, pada pertengahan tahun 2014 yang lalu, Pemkab Sleman memperoleh fasilitasi rumah pariwisata yang diberikan Alam Mayang, Pekan Baru Riau, sebagai pusat informasi tentang Kabupaten Sleman. Rumah wisata ini diharapkan menjadi embrional wujud partnership alam mayang dengan institusi Pariwisata Daerah lain.

Dijelaskan Sri Purnomo, program dan kegiatan di sektor pariwisata yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman  mampu meningkatkan kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman pada tahun 2014 sebesar 5,03%, dengan jumlah wisatawan sebesar  wisatawan. Penambahan jumlah wisatawan tersebut juga didukung adanya peningkatan jumlah sarana wisata di tahun 2014, seperti hotel dan sarana wisata lainnya.

Untuk itu lanjut Sri Purnomo, Pemkab Sleman dan masyarakat Sleman menyambut baik keberadaan obyek wisata Sindu Kusuma Edu Park. Sebab Sindu Kusuma Edu Park dapat memperkaya destinasi wisata di Kabupaten Sleman pada khususnya dan DIY pada umumnya, serta dapat mendukung kemajuan pariwisata daerah.

“Keberadaan Sindu Kusuma Edupark ini tidak hanya sebagai wahana wisata keluarga saja, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan wahana wisata dengan konsep edukasi yang mencerminkan budaya DIY,” tutur Sri Purnomo.