PMI Sleman Ikut Lakukan Pantauan Jentik

Sleman – PMI Sleman ternyata bukan hanya bertugas dalam urusan donor darah dan pertolongan pada kecelakaan namun  lebih luas lagi yakni dalam ikut serta mencegah terjangkitnya nyamuk demam berdarah. Hal ini ditunjukkan PMI Sleman bersama Dinas Kesehatan Sleman dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di wilayah Cokrowijayan Banyuraden Gamping, Minggu (21/2). Dalam kesempatan ini PMI Sleman melibatkan pula KSR (Korp Sukarelawan Remaja) Poltekes Jogja.

Kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) diawali dengan penyerahan Abate kepada Kadus Modinan-Cokrowijayan Wagiyo dan penyerahan peralatan pemantau kepada KSR oleh Ketua PMI Sleman dr Sunartono MKes. Selanjutnya dilakukan pemantauan dari rumah ke rumah yang didampingi oleh kader setempat.

Sunartono mengemukakan sebenarnya sudah banyak kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam memerangi penyakit Demam Berdarah seperti penyuluhan, sosialisasi, pembagian Abate, bantuan pengobatan pada penderita DB, kegiatan PSN, foging,  maupun yang terakhir kerjasama dengan UGM untuk menciptakan nyamuk yang berwolivia yakni nyamuk yang mengandung virus untuk mengurangi vertilitas dan tidak menyebabkan demam berdarah bila menggigit.

Sunartono juga menyampaikan bahwa keberadaan pemerintah hanya memberikan motivasi dan trigger kepada masyarakat, namun tindak lanjutnya tergantung kepada masyarakat sendiri untuk mengontrol perkembangan nyamuk dan memperhatikan lingkungannya. Demam berdarah sebenarnya bisa dibasmi dan dihentikan namun sangat tergantung dengan kepedulian masyarakat sendiri untuk memperhatikan kebersihan lingkungannya.

Kebersihan lingkungan tidak hanya diukur dengan menyapu lantai dan  halaman setiap hari, membersihkan rumput dan sampah namun yang lebih penting dengan kegiatan  membersihkan sarang nyamuk untuk meniadakan tempat bagi nyamuk berkembang biak,  seperti genangan air di botol-botol bekas, pot bunga, kulkas, tempat minum burung, bak mandi, tonggak bambu dan lainnya.

“Apabila kepedulian ini sudah terbangun maka masyarakat tidak perlu panik  bila terjadi sesuatu karena masyarakat sudah paham dengan kebersihan lingkungannya,” kata Sunartono.

Dari hasil pantuan 173 rumah terdapat 37 rumah positif ada jentiknya sehingga baru mencapai 78,6 % dari angka bebas jentik 95 %. Hasil ini menunjukkan masih potensial untuk perkembangan nyamuk Aides Aigypti dan diperlukan kepedulian serta kesadaran masing-masing rumah tangga untuk menguras bak mandi dan memperhatikan hal-hal yang dapat memungkinkan jentik nyamuk berkembang.




ABJ di Gamping dan Godean Masih Rendah

Sleman – Angka Bebas Jentik (ABJ) baik di wilayah Kecamatan Godean maupun Gamping ternyata masih rendah. Hal tersebut sesuai hasil monitoring yang dilakukan di Dusun Sentul , Sidoagung Godean, Jumat (20/2). 

“ABJ nya masih 81,4 % sesuai hasil monitoring di 156 rumah/KK, 29 rumahnya masih dijumpai adanya jentik baik yang ada di bak mandi, tempat penampungan air, bekas kaleng maupun ban bekas,” kata Hindarti Wilujeng BSc dari Dinkes Sleman usai melakukan evaluasi monitoring jentik, kemarin.

Sementara tim jumantik yang monitoring di Dusun Banyumeneng, Banyuraden Gamping dari 106 KK/rumah, 34 rumah juga masih dijumpai jentik hingga ABJ nya hanya 67,9 %.

“Di dua tempat tersebut masih jauh dari target yaitu 95 %,” kata Hindarti.

Monitoring yang melibatkan berbagai instansi tersebut antara lain Dari Dinkes Sleman sebagai leading Sektor, Polres Sleman, Kodin Sleman, Polsek , Koramil, dan Jumantik masing -masing Kecamatan, Desa dan dusun. Dengan rendahnya ABJ tersebut menunjukkan bahwa ancaman DB masih cukup tinggi, untuk itulah peran serta semua pihak  sangat diperlukan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

Ditambahkan  Hindarti bahwa  rendahnya ABJ tersebut dimungkinkan belum rutinnya masyarakat  menguras tempat  air/bak mandi yang dua kali seminggu, untuk itu masyarakat diharapkan secara rutin menguras tempat air tersebut. Disamping itu juga banyaknya sampah bisa berupa kaleng bekas, ban bekas maupun pot bunga yang tergenang air, dan itu perlu diwaspadai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bekas potongan bambu yang digenangi air.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menguraangi kasus DB perlu digerakkannya jumantik baik yang ada di Kecamatan, Desa maupun dusun . Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mencapai target AJB tidak harus dengan fogging, karena disamping fogging biayanya cukup tinggi juga kurang efektif, karena yang mati hanya nyamuknya sementara jentiknya tidak. Termasuk justru binatang yang lain bisa mati seperti cicak, padahal cicak adalah predator nyamuk.