Sandal Buatan Gakin Berbah Tembus Hotel Berbintang

2402 SLEMAN SANDALSleman – Siapa menduga sandal untuk tamu yang nyaman dipakai disetiap kamar di hotel berbintang Bandung dan Semarang adalah produksi kelompok keluarga miskin (gakin) di Dusun Berbah Desa Tegaltirto Kecamatan Berbah Sleman. Meski suasana di Dusun Berbah agak sepi dan tidak banyak hilir mudik kendaraan, namun dari dusun tersebut memiliki potensi luar biasa yang bisa membantu mengangkat kemiskinan di Berbah.

Disebuah rumah kecil di dusun tersebut, nampak beberapa orang sedang duduk di teras rumah dengan kesibukan masing-masing. Terlihat dua perempuan paruh baya sedang menggunting bahan spon matras mengikuti pola telapak kaki secara manual dan dua orang pria berkutat dengan lem untuk menempelkan bahan yang tersedia dihadapannya.

Ya Sunaryo (43) sang pemilik rumah sekaligus workshop (bengkel kerja) Kelompok Mitra Mandiri, terlihat hilir mudik memeriksa hasil pekerjaan orang-orang yang ada di kediamannya itu. Sunaryo yang juga Ketua kelompok itu mengatakan saat ini terdapat sepuluh orang perajin yang tergabung dalam kelompok tersebut. Kesepuluh perajin itu berasal dari kalangan keluarga miskin yang ada di sekitar workshop.

“Kelompok ini merupakan binaan dari TPK (Tim Penanggulangan Kemiskinan) Kecamatan Berbah dan Desa Tegaltirto. Anggotanya merupakan keluarga miskin yang ada di Desa Tegaltirto,” papar Sunaryo, Selasa (24/2).

Menurut Sunaryo sandal dengan bahan baku spons merupakan produk utama, khususnya sandal spon untuk hotel. Tidak main-main, produk sandal spon dari Kelompok Mitra Mandiri ini berhasil menembus lobi hotel di Semarang dan Bandung.

“Untuk wilayah Bandung, ada 4 hotel yang menjadi rekanan kami, sedangkan Semarang ada satu hotel yang rutin memesan. Namun untuk wilayah Jogja, kami memang tidak memasok karena pasar dari kelompok binaan TPK lainnya,” ungkap Sunaryo.

Meskipun baru berjalan sekitar 2 tahun namun order yang harus dipenuhi cukup besar. Sedikitnya 30 ribu hingga 40 ribu pasang sandal dalam sebulan untuk wilayah Semarang dan Bandung. Untuk harga sandal spon ini antara Rp 5 ribu hingga Rp 12 ribu.

“Untuk mengejar target ini, setiap perajin di sini harus membuat 500 pasang sandal setiap harinya. Terlebih jumlah perajin sangat terbatas, sehingga beban kerjanya cukup besar,” katanya.

Sunaryo menjelaskan guna menunjang eksistensi kelompok, pihaknya tidak hanya memproduksi sandal pesanan hotel saja. Namun juga sandal spon untuk sehari-hari.

“Untuk produk sandal di luar order hotel, kami memasarkannya di lokal Jogja. Seperti Malioboro maupun pasar Beringharjo. Karena produksinya terbatas, kami belum berani melayani pasar di luar Jogja,” ujarnya.

Ketika ditanya omsetnya, Sunaryo mengatakan omset penjualan produk sandal kelompok binaannya bisa mencapai Rp 80 juta. Selain memproduksi berbagai macam sandal juga memproduksi kerajinan keset dan tepung ubi.

Untuk kerajinan keset, bahan yang digunakan adalah bahan sisa kaos yang dibeli dari pengepul dengan harga Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu per kilogramnya. Untuk pemasaran keset hanya dipasarkan di toko dan pasar yang dekat dengan tempat produksi dengan harga jual Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.




BPBD Sleman Serahkan Bantuan Pada Warga yang Rumahnya Rusak

Sleman – Rumah milik Sugiyatno (60) warga Sembuhan, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, ambruk bagian atapnya setelah diguyur hujan deras, Senin (24/2) sore. Diduga lantaran lapuk, atap rumahnya tidak kuat menahan derasnya hujan.

Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman yang meninjau lokasi, Selasa (24/2) pagi langsung menyerahkan bantuan logistik kepada keluarga korban. Beruntung tidak ada korban dalam kejadian tersebut.

Menurut Sugiyatno, atap rumahnya yang terbuat dari bambu ambruk setelah hujan deras mengguyur lingkungan rumahnya sekitar pukul WIB. Pada saat kejadian, anggota keluarganya sedang berada di teras rumah.

“Tiba-tiba ada suara kretek-kretek, kemudian atap rumah ambruk,” paparnya.




Sleman Masih Kekurangan Armada Pelayanan Sampah

Sleman – Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, dr Sunartono Mkes mengakui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman masih kekurangan armada pengangkut sampah. Akibatnya secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas pelayanan persampahan yang belum merata di seluruh wilayah Sleman.

“Saat ini jumlah armada pengangkut sampah yang ada sebanyak 25 unit truk dan satu unit motor roda tiga. Armada truk yang beroperasi dalam dua kali sehari itu baru mampu melayani 30 jalur dan 12 transfer depo,” kata Sunartono, kemarin.

Dengan armada yang ada tersebut lanjut Sunartono, pelayanan persampahan baru bisa menjangkau instansi pemerintah, sekolah, perumahan, dan sekitar wilayah perkotaan. Sehingga dikatakan Sunartono masih ada beberapa wilayah di Sleman yang belum terlayani dan akibatnya keadaan ini juga menyebabkan pembuangan sampah liar dibeberapa wilayah di Sleman.

Menghadapi masalah persampahan ini Sunartono mengungkapkan, Pemkab Sleman terus berusaha menanggulangi pembuangan sampah liar dengan mencoba bersinergi dengan masyarakat dan melakukan patroli sampah.

“Selain itu, jika terjadi penumpukan sampah liar di suatu lokasi, masyarakat diharapkan proaktif mengevakuasinya atau melaporkan kepada pemerintah agar kami bisa menindaklanjutinya,” kata Sunartono.