Keberadaan Linmas Miliki Peran Strategi

Sleman – Aktivitas perlindungan masyarakat (Linmas) memiliki tujuan untuk meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Oleh karena itu, penyelenggaraan rakor kasatgas Linmas merupakan momen yang sangat tepat untuk merefleksikan kembali sejauhmana upaya dalam meningkatkan perlindungan masyarakat. 

“Keberadaan Linmas memiliki peran strategis yang tidak hanya berorientasi menjaga kamtibmas, tetapi juga garda terdepan dalam memberikan bantuan keselamatan jika terjadi bencana di masyarakat,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI ketika membuka pembinaan Satlinmas di Aula Bappeda, kemarin.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa keamanan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu diupayakan bersama antara Pemerintah Daerah dan masyarakat. Terlebih lagi Sleman merupakan barometer keamanan di DIY.

“Tingginya tingkat heterogenitas di Kabupaten Sleman perlu kita sikapi dengan bijaksana karena heterogenitas ini merupaka bukti keistimewaan yang harus kita jaga agar tidak menjadi boomerang terhadap kondisi keamanan di wilayah kita,” kata Sri Purnomo.

Disampaikan pula bahwa upaya mewujudkan keamanan lingkungan harus dimulai dari lingkup yang terkecil yakni lingkungan tempat tinggal. Sri Purnomo juga mengajak seluruh masyarakat untuk menggalakkan kembali upaya pengamanan lingkungan melalui swadaya masyarakat di lingkungan masing-masing.

Sesuai dengan Peraturan Presiden No. 88 Tahun 2014 tentang pencabutan Keputusan Presiden Tahun 1972 mengenai Hansip yang berlaku sejak 1 September 2014 memiliki tujuan bahwa kedudukan Linmas saat ini adalah lebih relevan sebagai fungsi perlindungan masyarakat bukan sebagai Hansip (Pertahanan Sipil).

Oleh karenanya, kewenangan Hansip sebagai organisasi pertahanan negara dicabut agar Dirjen Pemerintahan Umum Kementrian Dalam Negeri bisa melakukan pembinaan dan penataan organisasi sipil, sehingga keberadaannya di tengah masyarakat saat ini menjadi lebih efektif oleh karenanya dengan terbitnya Peraturan Presiden tahun 2014 itu bukan membubarkan organisasinya.

Menurut Sri Purnomo, Satlinmas juga memiliki peran penting sebagai mitra Polri dalam setiap pengamanan, oleh karena itu diharapkan Satlinmas dapat menjadi pelopor terciptanya keamanan, ketentraman, ketertiban di masyarakat serta meningkatkan fungsi siskamling dalam masyarakat.

“Saya juga mengingatkan Linmas Sleman untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan dan jalankan amanat tersebut dengan sebaik-baiknya,” kata Sri Purnomo.

Sedangkan Kepala Satpol PP kabupaten Sleman Drs Joko Supriyanto mengatakan maksud dan tujuan pembinaan Satlinmas tersebut untuk melakukan inventarisasi baik personal, kesiapsiagaan personal dalaam melaksanakan tugas maupun memberikan penyuluhan dan penyegaran dalam melaksanakan tugas bagi anggota Linmas KabupatenSleman.

Peserta dalam pembinaan tersebut adalah para Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban selaku Kasatgas Linmas Kecamataan dan 86 Bagian Pemerintahan selaku kasatgas Linmas Desa. Sementara itu materi dalam pembinaan tersebut antara lain Peran Satlinmas dalam mendukung terciptanya Kamtramtibmas dengan nara sumbnert dari Polres Sleman, Wawasan kebangsaan daan kewajiban bela negara khususnya bagi anggota Satlinmas dengan nara sumber Kodim 0732 Sleman.




Penanganan Bencana Terkendala Peran Aktif Masyarakat

Sleman – Minimnya peran aktif masyarakat pascabencana membuat upaya penangan tersendat. Padahal kecepatan dan ketepatan penanganan sangat diperlukan untuk meminimalisasi dampak dari bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan mengatakan pihaknya sudah mengupayakan penanganan pascabencana secepat mungkin, namun tepat pada kebutuhan korban bencana. Upaya ini tidak dapat terlepas dari laporan masyarakat maupun pemangku wilayah pasca terjadinya bencana.

“Tanpa laporan ini, BPBD tentu akan kesulitan memetakan dampak bencana. Terlebih personil yang ada sangat terbatas,”kata Makwan, kemarin.

Menurutnya dalam penanganan bencana, BPBD Sleman selalu bekerjasama dengan jaringan relawan bencana yang tersebar hampir di seluruh wilayah. Namun jumlah relawan yang ada belum menjangkau seluruh wilayah desa di Sleman.

“Relawan yang ada baru menjangkau wilayah kecamatan, sementara untuk wilayah desa belum semuanya,” ungkap Makwan.

Dengan kondisi tersebut, Makwan mengatakan peran aktif masyarakat untuk melaporkan kejadian bencana sangat dibutuhkan. Sehingga, wilayah yang belum terkaver oleh kelompok relawan bencana dapat terpantau.

“Dengan demikian, BPBD dapat dengan cepat melakukan penanganan. Dan dampak pasca bencana dapat diminimalisasi,” katanya.

Selain peran aktif masyarakat, respon pemangku wilayah seperti Pemerintah Desa (Pemdes) juga sangat menentukan penanganan bencana. Ia menyontohkan Pemdes semestinya segera melaporkan dampak bencana yang terjadi di wilayahnya seperti rumah tertimpa pohon, dengan demikian BPBD segera dapat melakukan kajian untuk penanganannya.

“Jika rumah masuk dalam program rehab rumah tak layak huni (RTLH), maka kami akan mengajukan percepatan. Sementara jika rumah korban bencana merupakan warga miskin tapi belum masuk dalam program ini, maka akan dipihaki melalui program rehab rumah dari Baznas Sleman,” kata Makwan menjelaskan.

Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan dana stimulan yang dapat digunakan sebagai penunjangan kegiatan perbaikan rumah terdampak bencana.

“Dana stimulan ini sebesar Rp 2 juta untuk korban yang rumahnya mengalami kerusakan parah pasca bencana,” ujarnya.




Harga Beras Melambung, Harga Gabah di Sleman Tetap Rendah

Sleman – Harga beras di pasaran pekan ini sudah mencapai Rp  per kilogram. Padahal akhir pekan lalu masih sekitar  hingga per kg. Namun, kalangan petani tetap tidak mendapat keuntungan tinggi. Harga gabah panen basah (GPB) dan gabah panen kering (GPK) tetap saja rendah. Wiji Saksono, petani di Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman mengungkapkan, saat ini harga GPB untuk jenis IR 64 dan Ciherang hanya Rp per kg. Harga GPK pun tidak jauh berbeda yaitu Rp  per kg.

“Untuk menyiasatinya, saya dan petani lain biasanya tidak hanya menjual GPB atau GPK lagi. Kami juga menjual beras secara mandiri agar ada tambahan keuntungan,” ungkap Wiji di sela kegiatan panen padi, Rabu (25/2).

Selain dijual langsung ke konsumen, beras juga bisa dijual ke toko-toko sembako atau melalui tengkulak. Meski demikian, Wiji tidak bisa mematok harga yang sama dengan di pasaran pada umumnya.

“Tidak bisa dikatakan tinggi karena paling tinggi harganya sekarang Rp . Kalau lewat tengkulak malah bisa lebih rendah, cuma Rp sampai Rp saja,” paparnya.




Produk Furnitur Perajin Berbah Sampai Singapura

Sangkar BurungSleman – Siapa menyangka produk furnuture yang dikerjakan warga miskin di Kecamatan Berbah ternyata cukup bagus dan berkwalitas baik. Hal ini terbukti dengan diekspornya produk furnitur perajin kayu dari Berbah ke Singapura. 

Dan Suparno, sang pemilik usaha telah berhasil memberdayakan dan menggerakkan warga miskin disekitar tempat tinggalnya di Dusun Kemasan Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Sleman menjadi tenaga kerjanya untuk mengerjakan berbagai macam produk furnitur berupa tempat tidur, kursi, meja, sangkar burung dan lainnya.

“Sebanyak 7 orang warga miskin di sini (Berbah) menjadi tenaga kerja saya untuk membantu membuat furnitur. Dan hasilnya memang memuaskan karena kami bisa melakukan ekspor 2 kali dalam sebulan ke Singapura,” kata Suparno di bengkel kerjanya, Rabu (25/2).

Diceritakan Suparno, awal mula dirinya menekuni usaha furnitur ini setelah beberapa tahun ikut orang bekerja dibidang furniture. Kemudian sejak tahu 2003, Suparno mulai tertarik untuk membuka usaha sendiri dan kemudian berhasil membuat produk – produk furnitur dari kayu jati.

Untuk memasarkan furniturnya, Suparno membidik pasar lokal. Namun kemudian mencoba menawarkan melalui media on line hingga kemudian berhasil melakukan ekspor ke Singapura sejak tahun 2014 lalu hingga sekarang.

“Setelah ekspor ke Singapura, saya mencoba menawarkan ke pasar di Amerika dan saat ini sedang terjadi nego. Semoga bisa berjalan lancar,” kata Suparno yang memiliki omset sekitar Rp 60 juta per bulan.

Dan produk yang diekspor antara lain tempat tidur, meja dan kursi. Namun saat ini terbanyak permintaan adalah tempat tidur. Untuk bahan baku kayu diakui Suparno tidak merasa kesulitan karena bahan baku kayu jati banyak diperoleh dari Gunungkidul.

“Untuk limbah kayu, tidak saya buang tetapi saya buat menjadi sangkar burung dan ternyata banyak diminati untuk pasaran lokal,” tutur Suparno.