Waspada, Gejala Leptospirosis Mirip dengan Gejala Flu Biasa

Sleman, InfoPublik – Selain mudah menular melalui hewan di sekitar lingkungan tempat tinggal, kewaspadaan masyarakat terkait leptospirosis juga sangat diperlukan. Hal itu mengingat gejala penyakit ini mirip dengan penyakit flu.

Sehingga, korban yang sudah terinfeksi leptospirosis seringkali tidak menyadari bahwa dirinya telah terjangkit penyakit tersebut.

Influenza like syndrome atau memiliki gejala seperti influenza pada umumnya, bersin, pusing dan demam, biasanya disertai kejang otot betis. Tapi banyak yang mengabaikan karena dikira flu biasa, padahal jika dibiarkan dapat berakibat fatal,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Senin (23/2).

Jika penyakit ini tidak segera mendapatkan penanganan medis dan daya tahan tubuh penderita lemah, maka dapat mengakibatkan gagal ginjal dan liver. Kondisi kritis bahkan sampai berujung pada kematian.

Untuk itu bagi masyarakat yang merasakan flu mendadak dan tiga hari tidak sembuh, segera memeriksakan diri ke pelayanan medis. Terutama bagi masyarakat di daerah endemis, perlu dilakukan repites, sehingg tidak terlambat penanganannya,” ujarnya.

Data dari Dinkes Sleman sebanyak 21 kasus leptospirosis terjadi pada 2013. Pada 2014 terjadi 12 kasus leptospirosis dan dua pasien di antaranya meninggal dunia. Peta penyebarannya meliputi Moyudan, Minggir, Kalasan, Ngaglik, Mlati, dan Sleman.

Untuk 2015, terdapat dua kasus di Mlati dan Moyudan. Satu penderita bahkan sempat mengalami gagal ginjal namun berhasil ditangani dan saat ini sedang proses menyembuhan,” ungkap Hindarti Wiludjeng, Kasi Pemberantasan Penyakit P2PL Dinkes Sleman.




PMI Sleman Ikut Lakukan Pantauan Jentik

Sleman – PMI Sleman ternyata bukan hanya bertugas dalam urusan donor darah dan pertolongan pada kecelakaan namun  lebih luas lagi yakni dalam ikut serta mencegah terjangkitnya nyamuk demam berdarah. Hal ini ditunjukkan PMI Sleman bersama Dinas Kesehatan Sleman dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di wilayah Cokrowijayan Banyuraden Gamping, Minggu (21/2). Dalam kesempatan ini PMI Sleman melibatkan pula KSR (Korp Sukarelawan Remaja) Poltekes Jogja.

Kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) diawali dengan penyerahan Abate kepada Kadus Modinan-Cokrowijayan Wagiyo dan penyerahan peralatan pemantau kepada KSR oleh Ketua PMI Sleman dr Sunartono MKes. Selanjutnya dilakukan pemantauan dari rumah ke rumah yang didampingi oleh kader setempat.

Sunartono mengemukakan sebenarnya sudah banyak kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam memerangi penyakit Demam Berdarah seperti penyuluhan, sosialisasi, pembagian Abate, bantuan pengobatan pada penderita DB, kegiatan PSN, foging,  maupun yang terakhir kerjasama dengan UGM untuk menciptakan nyamuk yang berwolivia yakni nyamuk yang mengandung virus untuk mengurangi vertilitas dan tidak menyebabkan demam berdarah bila menggigit.

Sunartono juga menyampaikan bahwa keberadaan pemerintah hanya memberikan motivasi dan trigger kepada masyarakat, namun tindak lanjutnya tergantung kepada masyarakat sendiri untuk mengontrol perkembangan nyamuk dan memperhatikan lingkungannya. Demam berdarah sebenarnya bisa dibasmi dan dihentikan namun sangat tergantung dengan kepedulian masyarakat sendiri untuk memperhatikan kebersihan lingkungannya.

Kebersihan lingkungan tidak hanya diukur dengan menyapu lantai dan  halaman setiap hari, membersihkan rumput dan sampah namun yang lebih penting dengan kegiatan  membersihkan sarang nyamuk untuk meniadakan tempat bagi nyamuk berkembang biak,  seperti genangan air di botol-botol bekas, pot bunga, kulkas, tempat minum burung, bak mandi, tonggak bambu dan lainnya.

“Apabila kepedulian ini sudah terbangun maka masyarakat tidak perlu panik  bila terjadi sesuatu karena masyarakat sudah paham dengan kebersihan lingkungannya,” kata Sunartono.

Dari hasil pantuan 173 rumah terdapat 37 rumah positif ada jentiknya sehingga baru mencapai 78,6 % dari angka bebas jentik 95 %. Hasil ini menunjukkan masih potensial untuk perkembangan nyamuk Aides Aigypti dan diperlukan kepedulian serta kesadaran masing-masing rumah tangga untuk menguras bak mandi dan memperhatikan hal-hal yang dapat memungkinkan jentik nyamuk berkembang.




ABJ di Gamping dan Godean Masih Rendah

Sleman – Angka Bebas Jentik (ABJ) baik di wilayah Kecamatan Godean maupun Gamping ternyata masih rendah. Hal tersebut sesuai hasil monitoring yang dilakukan di Dusun Sentul , Sidoagung Godean, Jumat (20/2). 

“ABJ nya masih 81,4 % sesuai hasil monitoring di 156 rumah/KK, 29 rumahnya masih dijumpai adanya jentik baik yang ada di bak mandi, tempat penampungan air, bekas kaleng maupun ban bekas,” kata Hindarti Wilujeng BSc dari Dinkes Sleman usai melakukan evaluasi monitoring jentik, kemarin.

Sementara tim jumantik yang monitoring di Dusun Banyumeneng, Banyuraden Gamping dari 106 KK/rumah, 34 rumah juga masih dijumpai jentik hingga ABJ nya hanya 67,9 %.

“Di dua tempat tersebut masih jauh dari target yaitu 95 %,” kata Hindarti.

Monitoring yang melibatkan berbagai instansi tersebut antara lain Dari Dinkes Sleman sebagai leading Sektor, Polres Sleman, Kodin Sleman, Polsek , Koramil, dan Jumantik masing -masing Kecamatan, Desa dan dusun. Dengan rendahnya ABJ tersebut menunjukkan bahwa ancaman DB masih cukup tinggi, untuk itulah peran serta semua pihak  sangat diperlukan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

Ditambahkan  Hindarti bahwa  rendahnya ABJ tersebut dimungkinkan belum rutinnya masyarakat  menguras tempat  air/bak mandi yang dua kali seminggu, untuk itu masyarakat diharapkan secara rutin menguras tempat air tersebut. Disamping itu juga banyaknya sampah bisa berupa kaleng bekas, ban bekas maupun pot bunga yang tergenang air, dan itu perlu diwaspadai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bekas potongan bambu yang digenangi air.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menguraangi kasus DB perlu digerakkannya jumantik baik yang ada di Kecamatan, Desa maupun dusun . Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mencapai target AJB tidak harus dengan fogging, karena disamping fogging biayanya cukup tinggi juga kurang efektif, karena yang mati hanya nyamuknya sementara jentiknya tidak. Termasuk justru binatang yang lain bisa mati seperti cicak, padahal cicak adalah predator nyamuk.




Angka Pengangguran di Sleman Turun

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berhasil menekan jumlah pengangguran di wilayah Sleman melalui berbagai upaya penambahan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat.

“Angka pengangguran di Kabupaten Sleman, pada 2014 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka pengangguran pada 2014 sebanyak atau 6,17 persen dari total angkatan kerja sebanyak orang,” kata Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Narkersos Sleman, Sutiasih, kemarin.

Menurut Sutiasih jumlah tersebut menurun dibandingkan 2013, jumlah pengangguran orang atau 6,47 persen dari angkatan kerja sebanyak orang.

“Sedangkan pada 2012 angka pengangguran tercatat sebanyak orang atau 6,74 persen dari jumlah angkatan kerja orang,” katanya.

Sutiasih mengatakan, setiap tahun jumlah pengangguran di Kabupaten Sleman selalu menunjukkan angka yang menurun.

“Namun memang hingga saat ini, jumlah pengangguran di Sleman masih tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di DIY karena jumlah penduduk dan pendatang di Sleman cukup banyak,” tutur Sutiasih.

Sutiasih mengatakan, data angka pengangguran yang dimiliki Dinas Nakersos Kabupaten Sleman berbeda dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman karena adanya perbedaan teknis pendataan. Pendataan Dinas Nakersos Sleman berdasarkan data dari desa-desa, sedangkan BPS pendataan secara sampling.

“Hal ini mengakibatkan angka pengangguran yang kami miliki berbeda dengan BPS, data angka pengangguran kami lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPS,” katanya.




Kecamatan Berbah Terus Gencarkan Pengentasan Kemiskinan

Sleman – Jumlah Kepala Keluarga (KK) miskin di Kecamatan Berbah tergolong masih tinggi. Pasalnya, jumlah KK yang masih dibawah garis kemiskinan mencapai lebih dari 10 persen dari jumlah KK keseluruhan yang mencapai sekitar 14 ribu KK.  Bahkan data dari Kecamatan Berbah tercatat, jumlah KK miskin di wilayah tersebut mencapai KK atau 14,5 persen dari jumlah KK keseluruhan sesuai dengan versi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Sementara menurut versi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah KK miskin di Kecamatan Berbah mencapai KK atau 16,3 persen dari keseluruhan KK.

Demikian diungkapkan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Berbah, Setiharno kepada wartawan, Jumat (20/2). Menurut Setiharno, meski jumlah KK miskin di Berbah tergolong tinggi namun berbagai upaya pengentasan kemiskinan sudah gencar dilakukan oleh pemerintah termasuk Pemerintah Kecamatan Berbah.

“Upaya pengentasan kemiskinan di Berbah dilakukan melalui dua cara, yakni melalui bantuan fisik dan pemberdayaan masyarakat,” kata Setiharno.

Untuk fisik, Kecamatan Berbah menggandeng Pemkab dan intitusi swasta dalam bantuannya. Namun bantuan ini bersifat stimulan untuk bangkit dari kemiskinan. Program pengentasan kemiskinan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat miskin melalui kelompok usaha. Kelompok usaha pemberdayaan masyarakat ini bergerak di bidang ekonomi kreatif. Kelompok ini sendiri sudah ada di beberapa desa seperti Tegaltirto dan Sendangtirto.

Pembinaan dilakukan dengan memberikan pelatihan usaha, untuk kemudian akan menjadi modal KK miskin untuk keluar dari kemiskinan asal mau berkembang. Kendati demikian, yang menjadi kendala dari usaha pengentasan ini justru dari mental KK miskin untuk mau bangkit. Sebab biasanya warga yang tadinya tergolong miskin, saat kehidupannya sudah masuk kategori tidak miskin lagi, tetap minta diperlakukan seperti sebelumnya.

Dicontohkan Setiharno, mereka tetap minta adanya bantuan dan hal-hal lain yang mestinya mereka sudah tidak berhak lagi.

“Karena itu, sekarang kami sedang melakukan pendataan untuk update data KK miskin di Berbah. Termasuk mensinkronkan antara data Pemkab dan BPS. Dengan begitu nantinya angka pasti KK miskin hanya ada satu. Sehingga untuk bantuan nanti benar-benar tepat sasaran,” kata Setiharno.